Wednesday, August 12, 2015

Kehidupan Setelah WHV

Tanyakan kepada para pejuang WHV (Work and Holiday Visa) Australia bagaimana berharganya waktu selama satu tahun. Setelah melepaskan karir di Indonesia, baru lulus kuliah, baru membangun rumahtangga dan kemudian berjuang di negeri orang, akhirnya semua harus kembali ke Tanah Air. Berat pastinya meninggalkan keteraturan di Australia kembali ke kesemrawutan. Yang biasanya adem ayem di jalanan kembali harus macet-macetan. Tadinya senang dengan transportasi umum yang bersih dan wangi  akhirnya kembali naik transportasi umum yang awut-awutan. Tadinya nyetir di jalan umum dengan tenang, sekarang harus berlomba-lomba dengan para pengendara gila.  Tadinya nyari kerja, resign, kemudian nyari pekerjaan baru lagi gampang banget, akhirnya harus kembali mencari pekerjaan beneran. Yang tadinya dibayar perjam kembali lagi menunggu gaji bulanan. Yang tadinya bebas menikmati udara bersih sekarang harus menghirup asap rokok buangan orang lain yang nggak merasa bersalah sama sekali. Iya, asap rokok adalah salah satu hal yang membuat saya selalu ingin pergi dari Indonesia. Sepele memang buat orang lain, tapi tidak bagi saya.
 
Bingung menentukan arah dan tujuan

Berbicara soal pekerjaan, yang masih muda-muda banget sepertinya bukan masalah untuk mulai membangun karir lagi dari nol. Anggap saja habis internship selama setahun di Australia. Kalau usia nanggung (antara 25-28) mungkin sedikit bermasalah karena saat meninggalkan pekerjaan, pengalaman kerja formal masih sedikit sehingga saat kembali dari WHV harus mulai lagi dari entry level. Masalahnya, hampir semua lowongan pekerjaan di Indonesia membatasi usia pelamarnya dibawah 25 tahun untuk entry level. Yang sudah diatas 30 tahun, anggap saja baru kembali dari break. Dengan pengalaman kerja sebelumnya yang sudah lebih dari 5 tahun, bukan hal yang terlalu sulit mencari pekerjaan baru. Tapi masalahnya, apa masih mau digaji Rupiah setelah merasakan enaknya berburu Dollar?
 
Lalu bagaimana dengan saya? Saya berada di titik usia nanggung dan belum siap kembali ke dunia kerja dan nggak rela memulai lagi dari awal. Capek. Jadi saya ngapain aja setelah pensiun WHV?
 
Leyeh-leyeh di rumah
Setelah banting tulang bekerja fisik selama setahun, saya merasa  layak menghabiskan waktu tanpa melakukan apa-apa. Ini sebenarnya cita-cita saya dari dulu. Tapi dulu kan saya kalau leyeh-leyeh ntar nggak bisa makan karena nggak ada duit.
 
Ketemu teman-teman baru
Entah bagaimana awalnya, saya bisa ketemu dengan teman-teman yang hobinya jalan-jalan murah di sekitar rumah. Ke area sawah yang banyak karst, ke bendungan yang airnya hampir kering, ke pantai, ke semak-semak, pokoknya kalau mereka mengajak kemana saja saya pasti ikut. Saya jadi lebih mengenal daerah asal saya berkat teman-teman baru ini.
 
Bersama teman-teman baru di Rammang-Rammang, Sulawesi Selatan
Mendekatkan diri dengan Mamak
Sebenarnya saya mendekatkan diri sama Mamak karena ada maunya: pengen diajarin menjahit. Setelah diajari berkali-kali, akhirnya saya menyadari kalau menjahit bukanlah bidang yang akan saya tekuni. Tapi Mamak saya nggak menyerah, saya diajarin hal lain yang masih berhubungan dengan keterampilan anak perempuan, yaitu membuat tas. Sepertinya yang ini berhasil karena saya bisa menyelesaikan satu tas yang cantik.
 
Salah satu hasil kerajinan saya
Traveling
Karena udah punya duit, sayapun melanjutkn jalan-jalan ke tempat yang dari dulu saya impikan tapi belum kesampaian karena kebanyakan kerja dan nggak pernah liburan. Saya ke Jepang, Korea, dan Sri Lanka. Sebenarnya saya pengen lanjut ke Eropah, tapi belum waktunya aja. Duit sih ada. Tapi tau sendiri kan, regulasi pengurusan visa di negeri kita yang harus melampirkan surat keterangan kerja.
 
Traveling ke Sri Lanka dengan teman-teman baru (photo by Om Petrus)
Sebenarnya ada satu lagi impian saya dari dulu, yaitu keliling Indonesia, terutama bagian timur Indonesia. Walau kali ini belum kesampaian, tapi saya sempat mengunjungi beberapa teman di Jakarta dan Bandung, dan berlibur ke kota favorit saya selama ini, Yogyakarta.
 
Obyek wisata Kalibiru, Yogyakarta
 
Meet Up Sana Sini
Mungkin karena tidak bekerja, saya rajin mengecek sosial media. Dimana ada ajakan bertemu, disitu saya ada. Mulai dari meet up di Makassar, Jakarta, hingga Bandung dan Yogyakarta.
 
Meet up calon dan ex WHV di Bandung (foto by Kharis)
Menyebarkan Virus WHV
Saya sangat beruntung mengenal beberapa orang yang bisa membuat saya tampil dimuka umum untuk mencaritakan pengalaman saya bekerja dan berlibur di Australia selama setahun. Tentunya ini kontras sekali dengan kepribadian saya dijaman sekolah dulu yang keringat dingin kalau harus tampil dimuka umum.
 
Bersama anak-anak SD yang sudah berhasil saya 'racuni' virus traveling.
Menulis
Menjadi pengangguran berarti saya mempunyai waktu lebih banyak untuk menulis di blog ini, menulis artikel di beberapa media Indonesia dan menulis buku. Iya, buku kisah perjalanan saya. Kapan terbitnya? Ditunggu aja yah..
Salah satu tulisan saya di Harian Republika
 
Belajar Memasak
Akhir-akhir ini entah kenapa banyak sekali resep masakan yang bertebaran di timeline Facebook saya. Sepertinya semua orang berlomba-lomba memamerkan hasil masakannya. Akhirnya saya yang jarang menyentuh dapur kecuali terpaksa ini ketularan juga. Mulailah saya belanja ke pasar atau minimarket dan meracik apa saja yang ada di dapur menjadi makanan yang bisa dimakan. Hasilnya? Nggak jelek-jelek amat. Mungkin jika terus rajin memasak, setahun lagi saya akan memberanikan diri ikut ajang Masterchef Indonesia. Saya percaya semua orang bias memasak. Yang dibutuhkan hanyalah peralatan yang memadai, waktu luang yang tak terbatas, dan orang lain yang nggak gampang sakit perut.
 
Nasi Goreng Telur Jala ala Linda Bungasalu
Kembali ke Australia
Yay akhirnya...
Sekeras apapun menyibukkan diri, saya selalu merindukan kembali ke Australia. Akhirnya saya kembali.  Jangan menuduh saya tidak cinta Tanah Air.
 
Devils Marbles, Australia.
 

No comments :

Post a Comment