Wednesday, July 15, 2015

Republika 28 Juni 2015

Sebagai orang biasa yang punya cita-cita jadi penulis, alangkah senangnya ketika melihat tulisan kita dimuat di media nasional. Tapi sayang sekali, media yang satu ini mempublikasikan foto-foto dan tulisan saya tanpa pemberitahuan, apalagi royalti. Untung saya diberitahu teman kalau tulisan saya ada disini. Kalau nggak, mungkin saya sudah mengirimkan tulisan ini ke media lain dan dimuat dan terjadi plagiarisme dan saya dituntut. Saya nggak tahu gimana prosedur yang benar kalau tulisan kita dimuat di media, tapi yang jelas saya kecewa sama media satu ini. Saya sudah menghubungi redaksi dan sekretariatnya 2x tapi email saya nggak pernah dibalas. Tapi ya sudahlah, yang penting menulis.


My Trip Vol.18 Tahun 2014C

Cover Majalah My Trip vol.18 Tahun 2014



Thursday, July 2, 2015

Perjalanan Geisha Palsu di Kyoto dalam Satu Hari


Satu-satunya alasan saya ke Kyoto adalah ingin bertransformasi menjadi Geisha, keliling kota dengan kimono lengkap dengan make-up pucatnya dan bibir merah mungil. Sesederhana itu sehingga saya hanya meluangkan satu hari di Kyoto. Kenapa harus Kyoto? Karena konon kabarnya geisha sangat mudah ditemui di Kyoto.

Dari Hiroshima, saya menggunakan Willer Bus kesayangan saya, masih dengan 3 Days Bus Pass seharga ¥10.000. Bus berangkat dari Hiroshima jam 22.45 teng, dan tiba di Kyoto jam 7 pagi. Willer bus tidak memiliki halte di Kyoto. Tempat berhentinya hanya ditandai dengan papan warna pink bertuliskan Willer Bus persis di depan Hachijo Exit (bukan Hachiko ya) Stasiun Kyoto.

Karena sudah 2 hari belum mandi, yang pertama kali saya cari saat sampai di Kyoto Stasiun adalah shower room. Setelah bertanya ke Om Google, saya diarahkan ke tempat permandian umum Daiyokujo yang lokasinya di lantai basement Kyoto Tower. Kebetulan, Kyoto Tower letaknya persis di depan Kyoto Station.

Kyoto Tower di Malam Hari
Dengan membayar ¥750, saya boleh mandi sepuasnya di Daiyokujo. Ruang gantinya cukup luas dilengkapi loker, toilet, kaca rias, hair dryer, dan kursi pijat otomatis. Saya pikir karena masih pagi pasti suasananya masih sepi. Ternyata salah besar. Justru pada saat pagi hari tempat ini ramai oleh orang-orang yang akan berangkat kerja. Kenapa mereka mandi di permandian umum, bukannya di rumah sendiri ya? Entahlah.

Saat masuk di ruang ganti, saya sedikit kaget dengan cewek-cewek telanjang yang jalan mondar mandir dengan santainya. Oiya, di tempat ini tempat mandi antara perempuan dan laki-laki dipisah. Yang badannya gendut nggak malu dengan lemak yang kewer-kewer. Yang *emb*tnya lebat juga pede-pede saja. Saya harus susah payah menahan diri untuk nggak memelototi mereka, sambil malu-malu melepas baju satu persatu. Sampai di dalam ruang mandi, ada sebuah kolam besar yang mengambil setengah luas ruangan, dan bilik kecil-kecil untuk shower. Kalau shower disini harus duduk, dan disediakan bangku kecil.

Saya mulai beraksi setelah cukup lama diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan orang-orang. Pertama, duduk di shower kemudian basahi badan, sabunan dan shampo-an kemudian bilas hingga bersih. Daiyokujo menyediakan shampo, sabun dan kondisioner di setiap bilik shower, tetapi tulisannya menggunakan  bahasa Jepang jadi saya nggak bisa bedain yang mana shampo, sabun atau kondisioner. Mungkin saya salah menggunakan sabun di kepala dan shampo di badan. Yang penting wangi.

Setelah selesai shower-an, saya mulai turun ke kolam. Saat pertama kali menyentuh kolam, saya kaget karena airnya panas banget, bukan hangat-hangat kuku. Kok bisa ya cewek-cewek Jepang ini tahan berendam lama-lama? Namun setelah beberapa saat di dalam air sepertinya kulit saya mulai terbiasa dan akhirnya betah berlama-lama di kolam. Rasanya benar-benar segar, terutama bagi orang yang sudah berhari-hari nggak mandi. Tentu saja saya nggak punya satupun foto dari tempat mandi umum ini, tapi jika penasaran bisa dilihat di (http://japanbaths.info/kyoto/kyoto-station/kyoto-tower-daiyokujo/).

Selesai mandi, saya kembali ke Kyoto Station untuk menitipkan tas di loker dan membeli kartu transportasi. Untuk turis yang hanya punya waktu sehari bisa memanfaatkan Kyoto Sightseeing Card seharga ¥1200 untuk 1 hari dan ¥2000 untuk 2 hari, yang bisa digunakan di subway dan bus. Saya lebih memilih menggunakan Bus One Day Pass seharga ¥500 yang bisa digunakan untuk semua bus dalam waktu satu hari penuh.

Tujuan pertama saya adalah mencari tempat yang menyewakan kimono, tentu saja harus menuju ke Gion, distrik para geisha. Saya menggunakan bus nomor 100 dari Kyoto Station dan turun di Gion bus stop. Saat berjalan di Shijo Avenue (salah satu jalan utama di Gion), saya melihat iklan penyewaan kimono seharga ¥2500 di sebuah ruko. Saya naik ke lantai 5 dan disambut oleh seorang perempuan cantik. Saya diarahkan ke sebuah ruangan untuk memilih kimono yang warna dan motifnya bermacam-macam. Setelah sibuk memilih, pilihan saya jatuh ke kimono bermotif bunga kecil-kecil jingga dan bahannya sedikit tebal dengan sedikit tekstur di kainnya. Karena cantik, harga sewa kimono ini juga mahal, ¥5000. Dasarnya sudah cinta, saya tetap memilih kimono jingga ini dan melengkapinya dengan obi yang sesuai, sendal bakiak, aksesoris bunga gede di kepala, dan tas kecil. Akhirnya total biaya yang harus saya keluarkan untuk kostum ini adalah ¥6800. Mahal sekali, tapi ya sudahlah. Jika ingin ditambah make-up putih seperti geisha saya harus membayar sekitar ¥1500, jadinya saya hanya pakai make-up sendiri dengan lipstik merah menyala. Sebelum dilepas berkeliaran sebagai geisha palsu, saya foto-foto dulu di halaman belakang toko penyewaan kimono ini.
 
Udah mirip mbak-mbak geisha belum?
Dari toko kimono di Shijo Avenue, saya berjalan ke Hanami Koji Street, dimana banyak restaurant tempat para geisha bekerja. Saat pagi dan siang hari restoran-restoran disini banyak yang belum buka dan yang kelihatan hanya gaisha-geisha palsu seperti saya. Membosankan.

Akhirnya saya berjalan ke train station terdekat kemudian membeli tiket seharga ¥165 ke Fushimi Inari Station. Dari stasiun saya berjalan ke Fushimi Inari Shrine melewati lapak-lapak penjual makanan yang bikin ngeces. Fushimi Inari Shrine adalah salah satu kuil Shinto terpenting di Jepang yang dibangun untuk menghormati Inari, Dewa Beras menurut kepercayaan Shinto. Yang membuat kuil ini terkenal adalah ribuan torii berwarna orange cerah yang berjejer di sepanjang jalan setapak menuju puncak kuil. Berkunjung ke Fushimi Inari menggunakan kimono lengkap dengan bakiaknya bukanlah keputusan yang tepat karena jalannya yang menanjak.

Peta Fushimi Inari
Sebagian besar turis asing datang kesini tujuannya adalah hiking. Walau bangunan kuilnya juga menarik untuk dikunjungi, saya lebih bertarik bergabung dengan turis lain menyusuri jalan mendaki. Jalur pejalan kaki sudah dilengkapi dengan tangga beton, tetapi tetap aja melelahkan dengan sandal bakiak dan kimono. Kelelahan saya terbayar saat melihat Senbon Torii (Ribuan Rorii). Sesuai dengan namanya, tempat ini memiliki banyak sekali torii berwarna cerah yang disusun sepanjang jalur pejalan kaki. Saat memasuki torii ini, ada banyak sekali pengunjung yang berfoto di dalamnya. Termasuk saya, hehe...

Senbon Torii di Fushimi Inari
Dari Senbon Torii saya terus mendaki. Nggak sedikit orang yang menatap saya lekat-lekat saat berpapasan di jalan, mungkin pikirnya ‘gila kali ya ini perempuan, mendaki pake kimono segala’. Jalur pejalan kaki di Fushimi Inari bercabang-cabang, dan untuk yang serius melakukan trekking ada jalurnya sendiri. Setiap percabangan jalan dilengkapi dengan peta, dan selalu ada pilihan untuk kembali pulang untuk yang tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Saya terus mendaki walau kaki sakit hingga sampai di Yotsutsuji Junction yang memiliki pemandangan indah.

Pemandangan dari Yotsutsuji Junction
Sampai disini sepertinya saya harus menyerah karena jalannya semakin bercabang banyak dan treknya semakin serius. Akhirnya saya memutuskan kembali ke pintu masuk. Dalam perjalanan kembali, saya baru menyadari kalau setiap torii disini memiliki tulisan yang berbeda-bedadi bagian belakangnya. Tulisan ini adalah nama dari setiap orang atau instansi yang menyumbang untuk pembangunan kuil Fushimi Inari, lengkap dengan tanggalnya.

Tulisan di belakang setiap torii
Dari Fushimi Inari Shrine saya langsung naik subway ke Kiyomizudera Temple (turun di Kiyomizu-Gojo Station), masih dengan kimono lengkap dan bakiaknya. Ternyata dari stasiun kereta menuju temple harus jalan lagi. Seharusnya saya memanfaatkan One Day Pass dengan naik bus. Saat berjalan dari stasiun menuju ke kuil inilah saya lihat banyak orang menyewakan kimono dengan harga mulai dari ¥1500. Karena penasaran kenapa harganya bisa jauh lebih murah, saya pegang kimono ini dan nanya-nanya pemiliknya. Ternyata bahannya memang tidak sebagus kimono saya. Atau ini hanya perasaan saya aja ya, biar nggak sakit hati udah bayar jauh lebih mahal?

Baru sampai di pintu masuk Kiyomizudera, saya shock ngeliat banyaknya pengunjung yang didominasi oleh anak sekolah. Alih-alih masuk ke kuil yang termasuk salah satu situs UNESCO ini, saya malah belok ke Higashiyama, jalan kecil di sekitar Kiyomizudera Temple yang penuh dengan penjual makanan dan suvenir. Disini jalannya nggak kalah rame, tapi saya masih bisa icip-icip jajanan di kiri kanan. Sempat ketemu dengan keluarga dari Indonesia yang ikut tur Jepang, dan kabarnya mereka membayar $3500 per orang untuk tur 8 hari. Wow!

Banjir pengunjung di Higashiyama
Sebenarnya banyak sekali obyek wisata yang bisa dikunjungi di Kyoto. Ada Sanjusangendo, yaitu kuil yang berisi 1001 patung Budha dalam ukuran manusia dan berbagai ekspresi. Tadinya saya juga mau masuk ke Kyoto Manga Museum yang baru dibuka pada tahun 2006. Nijo Castle, yang merupakan kediaman shogun Kyoto zaman Edo juga tadinya masuk list untuk saya kunjungi. Tapi apa daya, kaki saya yang terbungkus kaos kaki dan bakiak terasa nyut-ntutan nggak berhenti. Berjalan juga sudah terseok-seok. Jam baru menunjukkan pukul 15:00, tapi saya menyerah dan pulang ke tempat penyewaan kimono. Kimono ini sebenarnya bisa dikembalikan jam 21:00, jadi saya bisa membaur dengan para geisha asli yang berangkat kerja pada sore hari. Tapi ya sudahlah, saya masih sayang kaki.

Adegan melepas kimono

Jadi demikianlah perjalanan singkat saya sebagai geisha palsu di Kyoto yang berantakan gara-gara bakiak. Dari Gion, saya kembali ke Kyoto Station menggunakan bus nomor 100 dan menunggu Willer Bus andalan saya untuk perjalanan malam ke Tokyo, masih menggunakan 3 Days Bus Pass seharga ¥10.000.

Pesan moral dari perjalanan saya kali ini adalah, jangan berkeliling kota dengan bakiak!


Ada yang mau undang Linda Bungasalu jalan-jalan bareng? Atau mau nanya-nanya, minta dibuatin itinerary dan lain-lain, jangan ragu-ragu kirim email ke linda.bungasalu@gmail.com. Untuk foto-foto perjalanan ayo follow Instragram @lynnbungasalu. Terima kasih.