Saturday, May 23, 2015

Pekerjaanku di Australia (Part 4)

Saat meninggalkan William Creek Hotel karena dipecat, saya dan Suzi akhirnya jalan-jalan ke Coober Pedy kemudian lanjut ke Alice Springs. Di Alice Springs saya sempat ikut tour ke Ayers Rock, Kata Tjuta, dan Kings Canyon selama 3 hari. Sepulang dari tur 3 hari, akhirnya saya buka-buka Gumtree lagi dan mulai mencari kerja di wilayah Northern Territory (NT). Gayung bersambut, hanya butuh satu hari untuk deal pekerjaan dengan seseorang bernama Lynda. 

Perjalanan ke Ayers Rock

Dua hari kemudian, saya dijemput di Alice Springs oleh seorang lelaki botak bernama Greg yang belakangan saya tahu adalah manager Wauchope Hotel, tempat kerja saya di NT. Sesuai dengan namanya, Wauchope Hotel letaknya di daerah bernama Wauchope (dibaca Wokap), berada 500 km dari Alice Springs dan 900 km dari Darwin. 

Wauchope hotel ini adalah satu-satunya bangunan dalam radius 17 km ke selatan dan 113 km ke utara. Kebayang kan betapa sepinya daerah sekitar hotel ini. Terus yang nginap siapa? Yang mampir siapa? Yang minum di bar siapa? Jadi begini: Karena ini hotel jaraknya jauh banget dari kota, jadi yang mampir adalah orang-orang yang melakukan perjalanan darat (roadtrip) dari Darwin ke Adelaide atau sebaliknya. Jangan dikira hotel ini sepi ya, setiap hari pengunjungnya banyak banget sampai stafnya pada mau jungkir balik. Wauchope Hotel juga dikenal dengan nama Devils Marbles Hotel karena lokasinya berada sangat dekat dengan Devils Marbles, salah satu obyek wisata di wilayah Northern Territory. 

Devils Marbles, Northern Territory

Tapi sebanyak-banyaknya orang roadtrip, pelanggan utama kami adalah orang-orang Aborigin yang berdomisili di bush (padang belantara) di sekitar hotel. Tapi sumpah, sampai masa tugas saya berakhir, saya nggak pernah ngeliat satupun tempat tinggal mereka. Orang-orang Aborigin ini adalah hiburan tersendiri buat kami para staf hotel. Mereka itu nyebelin, suka bikin onar, kerjaannya mabuk melulu.
Di Wauchope Hotel ini saya baru tahu kalau para Aborigin ini sangat diperhatikan oleh pemerintah NT. Mereka punya yang namanya Basic Card, yang setiap minggu diisi oleh pemerintah sebesar $400. Kartu ini berlaku seperti ATM, bisa digunakan untuk membeli apa saja kecuali alkohol dan tembakau/rokok. Para Aborigin ini sebagian besar tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi mereka selalu punya duit diluar dari Basic Card, entah didapatkan dari mana. Menurut manager saya, mereka mempunyai tanah di wilayah NT yang dikelola oleh badan swasta untuk pertambangan. Sebagai gantinya, pihak yang mengelola pertambangan memberi ganti rugi setiap minggu atas tanah mereka. Duit ganti rugi inilah yang digunakan untuk membeli bir.
Pemerintah NT dan hotel tempat saya bekerja menetapkan peraturan yang ketat untuk pembelian alkohol untuk orang Aborigin. Bukan bermaksud diskriminatif, tetapi ini untuk kebaikan mereka juga karena konon daya tahan tubuh mereka untuk alkohol sangat lemah. Kalau orang normal minum bir 4.5% alkohol berkaleng-kaleng nggak mabuk, mereka minum 2 kaleng aja langsung mabuk. Kalau orang normal hari ini mabuk besoknya seger kembali, Aborigin ini butuh berhari-hari untuk pemulihan. Atas dasar inilah maka pemerintah menetapkan batas maximum pembelian bir untuk Aborigin adalah 6 kaleng per hari dan mereka tidak diperkenankan membeli Spirits (wisky, gin, vodka, dll). Untuk membeli bir mereka harus menunjukkan ID card, dan kami mencatatnya di sebuah buku beserta nomor plat kendaraan mereka. Jika tidak memiliki kendaraan, kami tidak boleh memberi alkohol. Setiap 2 hari sekali polisi lokal datang memeriksa buku ini.
Tapi orang Aborigin selalu punya akal untuk membeli bir lebih dari 6 kaleng setiap hari. Misalnya, si Tony datang jam 10 pagi membawa ID card-nya sendiri membeli 6 kaleng. Siangnya dia datang lagi dengan isterinya, menggunakan ID card isterinya. Setelah itu dia datang lagi dengan adiknya, tetangganya, sepupunya, temannya. Begitu seterusnya sampai kami memutuskan tidak akan memberinya bir lagi walaupun dia datang dengan 10 orang yang berbeda. Tapi bukan Aborigin namanya kalau menyerah begitu saja. Kalau saya bilang tidak, dia akan marah-marah dan minta dipertemukan dengan Greg, manager hotel. Cuih! Lagak lo kayak orang penting aja!
Di Wauchope Hotel, saya bekerja 7 hari dalam seminggu, setiap hari minimal 8 jam tapi saya tidak pernah merasa lelah. Ada satu minggu saya bekerja hingga 70 jam, namun saya tidak mengeluh karena bayaran yang saya dapat juga setara. NT adalah wilayah bagian Australia yang rate gajinya paling tinggi. Mungkin karena wilayahnya kaya dan nggak banyak orang yang mau bekerja disini. Di minggu-minggu pertama, saya dibayar $27,5 untuk Senin – Jumat dan $52 untuk weekend. Disini saya menyesal, kenapa nggak dari dulu pindah ke NT. Setelah Natal, manager saya yang satu lagi bernama Lynda resign, digantikan oleh Greg dan akhirnya gaji saya turun ke $22 Senin – Jumat dan $30 untuk weekend. Rupanya selama beberapa minggu Lynda salah memasukkan rate gaji saya ke dalam sistem pembayaran hahahahaha...
Tepat tanggal 1 February, saya memutuskan resign dari Wauchope Hotel untuk roadtrip selama sebulan. Sebenarnya saya masih bisa bekerja sebulan lagi dan mengumpulkan paling sedikit $5000 bersih, tapi apalah artinya uang kalau tidak dinikmati untuk jalan-jalan. Australia ini luas, sayang banget kalau saya hanya tinggal dan bekerja hingga visa Work and Holiday ini habis.
Roadtrip!
 Selesai sudah perjuangan saya mengumpulkan pundi-pundi Dollar di Australia. Menggosok gelas di Perth, jadi Hotel Allrounder di Perenjori, jadi Au Pair selama semingu di Melbourne, bekerja sambil main snowboarding di gunung salju, naik pesawat pribadi di William Creek, hingga berkawan dengan Aborigin di Wauchope. Saya cukup beruntung. Dan yang paling penting, berangkat WHV jomblo, pulangnya dilamar. Ehem!
Selesai.

No comments :

Post a Comment