Sunday, March 29, 2015

Seluk Beluk Pembuatan Visa Jepang di Makassar


Berita paling menggemparkan dunia backpacker Indonesia pertengahan tahun 2014 adalah dibebaskannya visa kunjungan turis Indonesia ke Jepang. Tapi pembebasannya setengah hati, karena hanya berlaku untuk pemilik elektronik paspor (e-paspor). Saya yang punya paspor non elektronik mulai bimbang: haruskah paspor yang baru seumur jagung ini diganti demi visa Jepang gratis? Biaya pembuatan e-paspor Rp 600.000 dan biaya pembuatan visa Jepang Rp 320.000. Jadi saya pilih yang mana? Tidak usah ditanya lagi.

Mulailah saya membuka website Konsulat Jepang http://www.id.emb-japan.go.jp/visa_7.html untuk mencari tahu syarat pembuatan visa Kunjungan Wisata dengan Biaya Sendiri. Syaratnya ada banyak:

Paspor  
Formulir permohonan visa dan pasfoto terbaru ukuran 4.5 x 4.5 cm dengan latar putih 
Fotokopi KTP
Fotokopi Kartu Mahasiswa dan Surat Keterangan Belajar (bila masih sekolah)
Bukti pemesanan tiket masuk dan keluar Jepang
Jadwal perjalanan dengan form yang bisa di-download dari website Kedutaan Jepang
Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon (Akte kelahiran, Kartu Keluarga dll) bila pemohon lebih dari satu
Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan 

Karena pembuatan visa Jepang harus sesuai dengan wilayah yuridiksi, jadi saya yang berKTP Sulawesi Selatan ini hanya bisa mengajukan permohonan visa di Konsulat Jepang di Makassar (Alhamdulilah, dekat rumah).

Mencari kantor Konsulat Jepang di Makassar itu gampang-gampang susah. Alamatnya di website sih Jalan Jendral Sudirman nomor 31. Saya lupa, kalau sistem penomoran di Makassar (dan hampir seluruh Indonesia) itu amburadul. Saya jalan kaki dari ujung Jalan Jendral Sudirman dengan bangunan bernomor 2. Penomeran bangunan itu kan biasanya ganjil di sebelah kiri, genap di sebelah kanan atau sebaliknya. Jadi logikanya, saya jalan melewati 15 bangunan pasti ketemu rumah nomor 31. Pas ketemu masjid dengan nomer 33 saya panik, pasti gedung konsulat Jepang sudah lewat. Tapi disebelahnya hanya ada lapangan bola Angkatan Udara, di depannya ada gedung yang tersegel, dan diseberang jalan hanya ada jejeran warteg. Sempat tanya mas-mas AD, katanya jalan lurus lagi. Yaudah deh, apa kata masnya. Jalan lurus lagi, ketemu bangunan nomer 26 di jalan yang sama, gedung nomor 39, gedung nomor 34 yang tidak berurutan. Duh, Indonesah!

Setelah jalan kaki hampir 1 km, akhirnya ketemu juga bangunan putih dengan bendera Jepang besar di halamannya. Pasti ini gedungnya. Seperti prosedur masuk ke gedung kedutaan lainnya, disini pengunjung dilarang membawa HP dan barang yang tidak ada kepentingannya dengan tujuan datang ke Kedutaan Jepang.

Sampai di loket pembuatan visa, ternyata ada 3 syarat tambahan yang sedikit berbeda dari websitenya:

Fotokopi Kartu Keluarga (walau pemohon berangkat ke Jepang sendiri)
Fotokopi Akte Kelahiran (walau pemohon berangkat ke Jepang sendiri)
Surat Keterangan Kerja (oh no!)

Oiya, ada satu momok paling menakutkan buat saya yang tidak punya pekerjaan tetap ini setiap melihat persyaratan permohonan visa: Surat Keterangan Kerja dari kantor atau SIUP bagi pengusaha. Saya bukan mbak-mbak kantoran bukan pula bos-bos CEO jadi nggak bisa buat salah satunya. Sempat posting di grup Facebook para backpacker dunia untuk masalah ini, tapi ada yang menyarankan bikin surat keterangan kerja palsu. Duh! Ngakunya udah keliling dunia tapi mentalnya masih beginian.

Karena saya traveler bertanggung jawab dan nggak suka bohong, daripada buat surat keterangan palsu yang nantinya bisa bermasalah, lebih baik jujur aja kalau saya tidak punya pekerjaan tetap. Toh, bukti keuangan menunjukkan dana saya lebih dari cukup untuk liburan selama 15 hari di Jepang nan super mahal itu. Iya, duit hasil kosek-kosek WC di Australia selama setahun

Karena nggak bawa fotokopi Akte Kelahiran dan KK, akhirnya saya pulang ke rumah dan datang lagi ke kedutaan di hari berikutnya. Setelah aplikasi lengkap, saya diberi surat bukti pengambilan dokumen yang harus dibawa pada hari pengambilan visa. Proses pembuatan visa normalnya hanya 4 hari kerja, tapi karena saya datang di hari Kamis dan hari Jumat kantornya tutup untuk pindah alamat, jadinya visa saya bisa diambil dihari rabu (tepat seminggu).

Pada saat pengambilan Visa Jepang saya, kantornya sudah pindah ke alamat yang baru, jadi saya ambil visanya di Konsulat Jepang dengan alamat Wisma Kalla Lantai 7 Jalan Sam Ratulangi Makassar.

Proses pembuatan visa Jepang bisa dikatakan cukup mudah. Yang nyebelin hanya proses pencarian alamatnya. Mungkin bangsa Indonesia yang (ngakunya) pinter ini harus belajar tentang penomeran bangunan yang teratur. Kasian Pak Pos yang suka nganterin surat,apalagi kalau masih orang baru dan masih  training.

Sampai sekarang, saya masih sering buka-buka paspor dan senyum-senyum sendiri ngeliat visa Jepang tertempel manis. Japan, I’m coming !!!