Thursday, December 11, 2014

Pekerjaanku di Australia (Part 3)



Sehabis kerja banting tulang dan puas main salju di Mount Hotham, saya kembali ke Melbourne dan mulai nyari-nyari pekerjaan baru. Karena merasa udah punya pengalaman, saya mulai percaya diri dan mulai picky. Kalau dulu saya ngirim resume ke semua pemasang iklan lowongan kerja di Gumtree, sekarang saya mulai tahu saya mau kerja apa, dan lokasinya dimana. Nggak asal kirim-kirim aja.

Dua lokasi kerja yang saya incar adalah South Australia dan Queensland. Kenapa? Karena saya belum pernah ke dua states itu. Kenapa nggak New South Wales atau Northern Territory? Karena rencananya saya akan ke Sidney (NSW) untuk liburan, bukan nyari kerja dan Northern Teritory terlalu jauh dan mahal. Pekerjaan yang saya incar adalah jenis pekerjaan gampang seperti di Perenjori Hotel dulu (cerita selengkapnya disini). Kenapa bukan housekeeping? Karena housekeeping itu pekerjaan yang melelahkan. Kenapa bukan au pair? Arrgggghhhh... saya benci anak kecil!

Kalau dulu saya ngirim resume ke orang dan ditolak, sekarang saya ngirim resume, dipanggil, tapi saya menolak karena berbagai pertimbangan. Oiya, karena sudah tahu mau kerja dimana dan jenis pekerjaan seperti apa, saya nyari kerja di Gumtree pakai keyword ‘hotel’ atau ‘roadhouse’ biar pencarian lebih mudah dan nggak melebar kemana-mana.

Mencari kerja di Gumtree dengan keyword 'hotel'

Akhirnya saya dapat dua tawaran kerja yang menarik. Satu di Horn Island (Queensland) dan satu lagi di William Creek (South Australia). Horn Island ini menarik, karena lokasinya di ujung utara Australia, dekat Papua Nugini. Saya bisa leyeh-leyeh di pantai setiap hari dan coklatin kulit biar dilirik bule-bule. Tapi William Creek juga menarik, lokasinya terpencil (oke, Horn Island juga terpencil) dan gersang. Horn Island menawarkan gaji yang menggiurkan, $41.658 setahun dan akomodasi & meals disubsidi, sedangkan William Creek hanya $500 per minggu. Kalau perhitungan secara finansial saya bakalan lebih kaya di Horn Island, tapi entah kenapa saya malah pilih William Creek. Saya hanya punya firasat bagus tentang William Creek, nggak tau kenapa.

Singkat cerita, saya berangkat ke William Creek dengan pesawat kecil dan disambut dengan pesawat baling-baling ala Susi Air (cerita selengkapnya disini) dan bekerja di William Creek Hotel sebagai all rounder. Jadi housekeeper iya, resepsionis hotel iya, kasir iya, barmaid iya. Saya kerja dengan 9 orang staff dan 2 manager, 5 orang diantaranya adalah pilot. Kebetulan William Creek Hotel ini punya scenic flight dengan 5 pesawat kecil. Yang bikin saya kagum, pilot-pilot ini nggak diistimewakan. Mereka juga kerja kosek-kosek WC, cuci pesawat, jaga bar, bahkan kerja di dapur. Mungkin mereka dapat penghasilan tambahan setiap kali terbang.

Baru dua hari bekerja di William Creek, tiba-tiba saya ingat kalau itu adalah hari ulang tahun saya. Sayangnya nggak ada yang tahu jadi saya nggak ngarep dapet kado. Sorenya saya diajak ke restoran (punya William Creek Hotel juga) buat makan malam. Kebetulan disana sudah ada satu grup turis, dan salah satu dari mereka berulang tahun. Semua orang tiba-tiba nyanyi Happy Birthday to You, tapi bukan untuk saya. Sedih. Lalu manager saya keluar dari dapur dengan kue ulang tahun buat grup turis itu. Tapi kok jalannya ke arah saya ya? Dan sekali lagi lagu Happy Birthday to You menggema di restoran, tapi kali ini untuk saya. Aww so sweet! Seketika itu juga saya memutuskan bahwa bekerja di William Creek adalah pekerjaan terakhir di Australia...

Sampai satu hari saya ngeliat tiket promo murah ke Tasmania dan langsung beli. Sepertinya bekerja di cherry farm di Tasmania bakalan jadi pekerjaan terakhir saya di Australia. Berangkatnya masih 6 minggu lagi, saya masih bisa kerja di William Creek sambil mengumpulkan pundi-pundi dollar sebelum ke Tasmania.

Semua berjalan lancar, sampai suatu hari tiba-tiba saya ditugaskan di dapur, membantu si Tukang Masak. Disinilah petaka mulai terjadi. Setiap hari saya dimarahin sama tukang masak ini. Begini salah, begitu salah. Oke, mungkin masalah miskomunikasi aja karena bagaimanapun English bukan bahasa ibu saya, dan si Tukang Masak ini orang Australia asli yang bahasanya entah kenapa susah diserap oleh orang dengan level English rendah seperti saya. Atau memang karena saya useless di dapur, tapi dulu waktu kerja di Perenjori Hotel nggak masalah kok. Atau memang si Tukang Masak ini yang punya masalah dengan dirinya sendiri sampai susah ramah sama orang lain. Bukan hanya itu. Tangan saya juga jadi keriput dan saking keringnya, kalau dikepal atau ditekuk langsung berdarah karena kulitnya pecah. Semua karena ditergen dan air panas. Dan saya ditugaskan di dapur setiap hari. Inilah neraka. This is the real Hell Kitchen!

Tangan kering dan berdarah-darah

Seminggu dua minggu berlalu. Saya masih bisa tahan luka di tangan dan luka batin. Tapi manusia, sekuat apapun mentalnya dan sekeras apapun hatinya pasti ada batasnya. Sampai di minggu kelima saya nggak tahan lagi dan menangis sejadi-jadinya di depan manager, minta berhenti hari itu juga. Si Manager yang baik itu membujuk saya tinggal beberapa hari lagi, dan berjanji menjauhkan saya dari dapur dan si Tukang Masak itu.

Karena William Creek ini daerah sangat terpencil yang tidak dijangkau transportasi umum, satu-satunya cara buat kabur adalah dengan menumpang mobil orang atau pesawat kecil. Kebetulan sekali bukan cuma saya yang muak dengan si Tukang Masak, tapi ada satu lagi cewek Jerman yang senasib dengan saya, dan kami memutuskan resign dan menumpang mobil orang (siapa aja yang mau menampung kami). Berhari-hari kami menyusun rencana dan menelepon semua tur guide kenalan kami yang sering mampir ke William Creek, sampai akhirnya kami mendapat tumpangan dari Wayne, tour guide dari Arid Areas Tours.



Saya dan Suzi (si Cewek Jerman) menumpang mobil Arid Areas Tours dengan gratis, bahkan dibawa berkeliling Coober Pedy dengan Wayne (cerita selengkapnya disini). Emang ya, hoki itu nggak kemana. Saya yang awalnya nggak begitu akrab dengan Suzi walaupun tinggal satu rumah dan kerja bareng selama 5 minggu tiba-tiba jadi teman perjalanan dadakan dan kompak dengan satu tujuan: Ayers Rock.

Bersambung...

No comments :

Post a Comment