Friday, December 5, 2014

Pekerjaanku di Australia (Part 2)


Dari Perth, saya terbang ke Melbourne untuk menggapai mimpi melihat salju. Demi menghemat uang yang nggak seberapa, saya coba-coba pake Couchsurfing. Setelah mengirim beberapa request, akhirnya ada satu host yang mau menampung saya. 

Sampai di bandara Tullamarine yang jelek abis (mungkin karena pas renovasi), saya dijemput sama host CS saya yang ganteng pake mobil mewah yang khusus buat 2 orang. Saya berasa kayak Nikita Willy (nggak tau kenapa. Katrok ya?). Walaupun gratis, numpang di rumah orang itu emang nggak enak. Mungkin karena saya yang jiwanya terbiasa bebas, mau kemana aja dan pulang kapan aja nggak harus terikat dan koordinasi dengan pemilik rumah. Akhirnya saya milih pindah ke hostel.

Di backpacker hostel, rutinitas saya kembali seperti dulu: berburu pekerjaan online di Gumtree, dan jalan-jalan ke kota dengan niat menebar resume dan kemudian selalu berakhir di...perpustakaan. Karena udah winter, saya nggak bisa lagi leyeh-leyeh di taman karena dingin.

Setelah beberapa hari, saya baru sadar kalau rate gaji di Melbourne itu mengenaskan! Teman-teman WHV hanya dibayar $10 sampai $15 per jam, bahkan ada yang $9. Itupun harus bersaing sama students yang jumlahnya buanyak banget. Keinginan saya ke gunung salju masih kuat, tapi semua jalan sepertinya tertutup rapat. Sudah 2 minggu dan panggilan kerja nggak ada yang datang. Sampai akhirnya saya rela ‘melacurkan’ diri (melakukan pekerjaan yang sebenarnya saya nggak suka), menjadi Au Pair.

Flat saya selama jadi Au Pair

Kebetulan saya dapat keluarga India yang tajir. Rumahnya gede, anaknya cuman 1 cewek umur 5 tahun, dan kerjaan saya gampang banget. Saya dikasih uang saku $300 per minggu plus asuransi kesehatan plus tempat tinggal yang bagus banget. Aseekkk...mungkin ini bakalan jadi pekerjaan terakhir saya di Australia.

Tapi baru seminggu, saya sadar kalau ngurus anak kecil itu nggak gampang. Mungkin kesabaran saya yang tipis, atau emang anaknya yang terlalu manja. Tiap pagi saya harus maksain dia bangun, mandi, gosok gigi, dan berakhir dengan tangisannya yang kedengeran sampe rumah tetangga (mungkin). Saya menyerah. Di saat yang sama, tiba-tiba ada tawaran kerja dari operator ski di Mount Hotham. Dengan senang hati akhirnya saya meninggalkan keluarga India itu dan berangkat ke gunung salju. Horeee...mimpi saya terwujud.

Masa-masa bahagia Au Pair

Di Mount Hotham, saya bekerja untuk Merlin Entertainment, salah satu operator pusat hiburan dan taman bermain yang tersohor. Kerjaan saya jadi housekeeper, dibayar $22.01 per jam. Normalnya, saya bakalan kerja dengan santai kalau dibayar perjam. Tapi disini, saya selalu kerja kayak diburu setan biar cepat kelar terus main salju. Baru beberapa hari bekerja, bahkan sebelum gajian, duit saya terkuras lagi untuk beli perlengkapan snowboard. Oiya, tadinya niat saya pengen belajar ski, tapi setelah melihat medan perang, saya lebih milih snowboarding karena lebih menantang dan lebih keren.

Perlengkapan snowboarding bekas seharga $120
Yang paling saya suka di Mount Hotham adalah: fasilitas free lift dan free lesson. Jadi saya bisa ambil kursus snowboard dengan instruktor yang keren-keren kapan aja dan bisa naik lift gratis. Yang nggak saya suka? Banyaaakkkkk....

1. Sewa Rumah mahal, seminggu $300. Tapi saya beruntung, tinggal di kamar hotel, punya kamar sendiri dengan segala fasilitasnya. Dibanding staff lain yang harus berbagi 1 rumah dengan 6-10 orang dan tidur di bunkbed (I’m a lucky bastard!).

2. Udah sewa rumah mahal, harus sewa baju kerja pula $70 per minggu. Seragam ini termasuk sepatu boot khusus winter dan jaket tebal buat outdoor yang beratnya berkilo-kilo. Jadi saya kalau berangkat kerja jalannya terseok-seok saking beratnya inih seragam.

Seragam outdoor yang bikin bangkrut

3. Saya kerjanya dengan anak-anak Taiwan. Oke, nggak ada yang salah dari mereka. Tapi mereka itu kerjanya cepat banget, jadi saya merasa terintimidasi. Udah gitu mereka ngomongnya pake bahasa mandarin gitu jadi saya ngerasa terkucilkan.

Walaupun secara finansial saya nggak dapat apa-apa di Mount Hotham, tapi pengalaman disini nggak bisa ditukar dengan duit berapapun banyaknya. Disini saya belajar snowboarding, olahraga ekstrim yang nggak mungkin saya lakukan di Indonesia. Mulai dari nggak bisa sama sekali, jatuh-jatuh sampai pantat lebam, meluncur dari puncak gunung seperti robot, sampai akhirnya saya bisa meliuk-liuk dan sedikit bergaya saat diatas snowboard. Saya sampai ke level 4 dari 5 level hanya dalam 8 minggu. Keren nggak??

 

Saya berharap menjadi housekeeper di Mount Hotham ini menjadi pekerjaan terakhir saya di Australia...tapi sayangnya winter hanya bertahan selama 3 bulan dan akhirnya saya harus berhenti setelah turis mulai jarang. Di akhir masa jabatan (cieee...) saya dapat kupon gratis masuk 5 tempat wisata yang tergabung dalam Merlin Entertainment, termasuk Madam Tussaud dan Legoland di seluruh dunia. Sayangnya, kupon ini hanya berlaku sampai Desember 2014.

Saya kembali ke Melbourne dengan hati yang gembira, siap mencari pekerjaan baru. Kira-kira kemana saya selanjutnya?

Bersambung

No comments :

Post a Comment