Wednesday, November 5, 2014

Hari-hariku di William Creek, South Australia


Semua kota di Australia pasti punya pub, nggak peduli sebesar apa atau sekecil apa kotanya. Inilah alasan saya selalu mencari kerja di Gumtree dengan keyword ‘country pub’ atau ‘country hotel’. Bekerja di country pub adalah salah satu cara keliling Australia karena saya bisa pilih mau bekerja di state yang mana, dan kalau bosan, saya bisa pindah kapan saja.

Sekarang saya bekerja di William Creek, salah satu kota di South Australia dengan populasi hanya 10 orang (11 dengan saya sekarang kayaknya). Kecil-kecil begini, kota ini punya pub, hotel, motel, restaurant, pom bensin, dan bandara pesawat perintis lengkap dengan 5 pesawat Cessna kapasitas 4 orang penumpang dan beberapa pilot. Ya, William Creek adalah kota yang sangat kecil dengan atraksi yang begitu besar.

William Creek ini lokasinya di antara Adelaide dan Alice Springs. Sebelum kerja disini sebenarnya saya dapat 2 tawaran kerja di tempat yang unik. Pertama di Queensland, di sebuah pulau kecil, dan kedua di pedalaman South Australia. Entah kenapa saya lebih tertarik dengan William Creek, padahal pekerjaan yang di Queensland itu gajinya hampir 2x lipat dan dikelilingi pantai! Saya bisa snorkeling seharian (kalau nggak kerja lho ya).

Setelah memutuskan ambil tawaran pekerjaan kedua, saya mati-matian nyari bus atau transportasi umum ke William Creek dari Adelaide, tapi nggak ketemu satupun. Lha, terus gimana dong? Waktu itu manager William Creek nyuruh saya buat sertifikat untuk kunjungan ke Prominent Hill, pertambangan terbesar di Australia. Saya iya-iyain aja. Waktu buka websitenya di www.ozminerals.com saya sedikit terkejut dan antusias karena ternyata nggak semua orang bebas terbang kesana. Saya harus punya host, dan harus lulus tes untuk dapat sertifikat walaupun hanya sebagai visitor. Dengan penuh semangat, saya ikuti tesnya di Library Victoria State di Melbourne dengan berbekal komputer umum yang mati tiap 10 menit dan nggak punya headphone buat dengar penjelasannya. Setelah komputernya mati 3 atau 4 kali, sertifikatnya berhasil sampai ke tangan saya.

Proses Mendapatkan Sertifikat ke Prominent Hill

Besoknya saya langsung terbang ke Adelaide. Dari bandara di Adelaide, saya masuk ke counter check in khusus untuk pesawat kecil kapasitas 40 orang. Waktu itu saya senang banget karena naik pesawat imut-imut. Kalau biasanya kita naik pesawat diatas awan, kali ini naik pesawatnya di bawah awan, jadi daratan Australia masih kelihatan dengan jelas. Sampai burung elang yang terbang juga kelihatan dari pesawat. Fyi, Elang di South Australia gede-gede lho...

Sampai di Prominent Hill, saya disambut seorang cewek muda. Saya ingat betul kata-katanya waktu itu. ‘You don’t need a jacket because the plane doesn’t have an aircon. And we have some bags if you feel sick’ katanya sambil berjalan ke landasan pesawat, ke satu pesawat kecil kapasitas 4 orang. Langsung muka saya pucat pasi. Saking kecilnya ini pesawat, backpack saya yang beratnya 16kg harus diselipin di kursi belakang dengan susah payah. Dan akhirnya terbanglah kami ke William Creek yang jaraknya entah berapa ratus km dari Prominent Hill. Ini salah satu pengalaman terbaik saya selama di Australia.

Pesawat yang Mengantar Saya ke William Creek

William Creek mungkin membosankan bagi banyak orang. Setiap orang yang mampir ke pub selalu nanya sudah berapa lama saya disini. Sebulan! Pasti mereka kaget. Sebulan ngapain aja? Tempatnya gersang begini. Jadi sebulan itu selain kerja, saya juga:

Berenang 
Suatu hari saya diajakin renang sama teman-teman. Kebetulan panasnya sampai 40 waktu itu. Dengan semangat, saya pake sunblock, bikini terbaik, bawa pelampung cantik buat tidur-tiduran di kolam. Kami naik mobil sekitar 20 menit menembus gurun pasir dan padang rumput William Creek hingga sampai ke pantai kubangan! Iya, kubangan tempat mandi sapi-sapi, burung, anjing, dan mungkin ular! Karena udah terlanjur sampai, akhirnya ya tetap berenang juga di airnya yang berlumpur dan hitam.

Kubangan
Minggu berikutnya saya diajakin renang lagi sama teman-teman. Saya tetap semangat, walaupun renangnya bakalan di kubangan. Eh, ternyata kali ini renangnya di kolam renang beneran, di rumah bos yang punya hotel, mumpung orangnya nggak ada hehe...

Birdwatching 
Apaan sih enaknya nonton burung? Eh jangan salah, di South Australia ini banyak penjelajah yang menamakan dirinya birdwatcher. Jadi mereka keliling Australia buat nyari burung-burung yang emang warnanya keren-keren. Ada yang warna pink tapi suaranya sember, nyebelin banget kalau pagi-pagi ngajakin ribut. Ada yang putih bersih dengan jambul warna kuning. Ada yang kecil imut-imut dengan warna gonjreng kuning-hijau-biru. Burung-burung ini kadang terbang berkelompok sampai ratusan ekor kesana kemari. Jangan ditanya berisiknya kayak apa.

Naik Onta!
Waktu itu ada dua penjelajah yang mampir di William Creek. Mereka traveling dari Alice Springs ke Adelaide dengan onta yang jumlahnya kalau nggak salah 12 ekor, dari yang gede sampai anakan yang baru seminggu dua minggu. Mereka mampir di William Creek karena disini ada tanaman yang mengandung banyak air, buat persediaan makanan onta-onta ini selama beberapa minggu. Gitu aja sih, nggak bisa dinaikin ontanya. Takut yang punya marah.


Terbang
Pemandangan di sekitar William Creek ini bagus banget, tapi hanya bisa dinikmati dari udara. Nah, salah satu atraksi kebanggaan hotel tempat saya kerja ini adalah naik pesawat menikmati pemandangan Painted Hill dan Lake Eyre. Biayanya nggak murah, sejam 285 AUD. Jadi, di hari libur saya bisa nebeng turis kalau pas ada yang terbang. Gratis!

Lake Eyre

Painted Hills

Minum
William Creek pub  adalah satu-satunya pub dalam radius 165 km. Jadi kalau haus ya mau nggak mau harus mampir disini. Orang-orang sering protes ke saya kalau harga bir nya mahal. Ya lo bayangin aja ongkosnya berapa ngangkut itu minuman ke tengah-tengah padang gurun gersang seperti ini! Yang menarik dari pub ini adalah ribuan kartu nama dan barang-barang random yang ditinggalkan pengunjungnya selama bertahun-tahun. Semuanya ditempel di plafon sampai ke dinding pub dengan acak. Berantakan? Pasti. Tapi inilah salah satu ciri khas William Creek pub. Kalau country pub di kota lain malah ada yang nggantungin beha sama bikini!

William Creek Pub

Makan
Dingo Cafe satu-satunya restoran dalam radius 165 km. Makanan disini enak-enak dan gratis buat staff haha... Itu aja sih. Kalau mau kerja disini jangan deh!

Bermain dengan Dingo
Apaan itu Dingo? Dingo adalah salah satu jenis anjing tapi bukan anjing. Nah bingung kan? Bedanya apa? Saya sendiri juga nggak tau, tapi menurut keterangan teman kerja saya, dingo itu adalah salah satu jenis anjing. Sama seperti serigala yang juga adalah salah satu jenis anjing. Pokoknya gitu katanya. Disini kami punya Bert Dingo, anjing dingo yang lucu banget dan bersahabat. Kalau lagi pengen ngobrol pake Bahasa Indonesia, biasanya teman ngobrol saya ya Bert ini, soalnya hanya dia yang mengerti. Di sekitar sini masih banyak dingo-dingo yang lain, tapi rata-rata tinggalnya di peternakan sama pemiliknya.

Bermain Sambil Bekerja dengan Bert Dingo

Kerandoman Alam Sekitar
Suatu hari saya melintasi Dingo Restaurant, dan terkaget-kaget melihat satu pohon kering kerontang yang digantungi puluhan kucing mati. Sontak hati kecil saya teriak-teriak ‘siapa pelakunyaaaaa?’ Tapi begitu mendekat, oh ternyata semuanya kucing palsu sebagai properti syuting film Last Cab to Darwin yang akan rilis tahun depan.

Pussy Willow di William Creek
Pernah juga saya sama teman mau ngelaundry, tiba-tiba nongol satu ular nangkring di depan pintu. Kami langsung mengabari teman lain, dan nggak sampai satu menit mereka datang berbekal kapak dan forklift, kemudian dimulailah perburuan ular derik yang mengakibatkan ular malang itu terpotong beberapa bagian. Di hari yang lain, kami kedatangan badai yang memporak-porandakan pohon-pohon yang nggak seberapa banyaknya. Badai ini berlangsung siang-malam sampai semua aktivitas outdoor terhenti.


Jadi begitulah keseharian saya di William Creek. Kota yang sangat kecil, tapi menyimpan atraksi yang begitu besar. Disini saya belajar menghargai dan menikmati hal-hal kecil dan mengenal diri sendiri. Disini saya menjadi lebih produktif dan banyak menulis. Sekarang saya harus meninggalkan kota kecil ini. Kemana tujuan selanjutnya? Entahlah. Serius, saya nggak tau...

Kemana???

2 comments :

  1. Gimana rasanya naik pesawat sekecil itu?
    Australia segersang ini ternyata yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak kalo 1 jam 2 jam. Lebih dari itu eneg.
      Beberapa bagian Australia emang gersang banget, dan tempat ini salah satu yang tergersang.

      Delete