Thursday, November 20, 2014

Ayers Rock, Kata Tjuta, dan Kings Canyon


This is Anangu land and you are welcome. Look around and learn in order to understand Anangu, and also to understand that our culture is strong and alive.

Setiap orang yang datang atau merencanakan traveling ke Australia pasti sudah sering melihat gambar Uluru atau yang biasa dikenal dengan Ayers Rock, batu raksasa berwarna kemerahan yang menjulang tinggi di pedalaman Australia. Saking terkenalnya, Uluru menjadi cover Lonely Planet Australia edisi terbaru.

Saya termasuk salah satu WHV Indonesia yang beruntung bisa menikmati Uluru dan sekitarnya. Bagi saya, ke Australia belum sah kalau belum melihat ikon utamanya ini. Lokasinya yang berada di pedalaman Central Australia membuat Uluru hanya bisa dicapai jika benar-benar niat. Tiket pesawat atau moda transportasi lain ke Alice Springs, kota terdekat Uluru, harganya sangat mencekik. Tapi apa sih yang nggak bisa kalau udah niat? Pelan tapi pasti, dari William Creek, Coober Pedy, akhirnya saya sampai ke Alice Springs.

Alice Springs
Alice Springs adalah salah satu kota terbesar di Northern Territory Australia. Satu-satunya alasan kota ini menjadi ramai adalah karena menjadi base bagi wisatawan yang ingin melihat Uluru. Di Alice Springs ada banyak sekali tour operator yang menawarkan paket wisata ke Uluru dan sekitarnya:

The Rock Tour adalah salah satu yang paling terkenal, mungkin karena lokasi kantornya yang berada di pusat kota, dekat dengan terminal Greyhound Bus. Operator tur ini menawarkan perjalanan ke Uluru setiap hari, dan selalu full booked jadi harus pesan jauh hari sebelumnya.

Emu Run Tour juga salah satu yang terkenal, harganya sedikit lebih mahal dari operator lainnya dan menawarkan lebih banyak variasi tur sehingga bisa disesuaikan dengan budget dan kenyamanan.

Mulga’sAdventure, salah satu operator terbaik di Alice Springs. Harga dan paket yang ditawarkan sama dengan The Rock. Keuntungan dari Mulgas adalah pesertanya yang tidak sebanyak tur operator lain, sehingga terasa lebih privat.

Saya memilih Mulga’s atas rekomendasi salah satu teman dan rekomendasi resepsionis Alice’s Secret, salah satu backpacker hostel terbaik di Alice Springs. Harganya cukup mahal, $355 untuk 3 hari camptour. Hari pertama, saya dan peserta tur lainnya dijemput di hostel masing-masing pada pukul 6 pagi. Tadinya saya membayangkan akan ikut tur dengan orang-orang tua, seperti tur pada umumnya, namun setelah sampai di bus, ternyata ke-11 peserta lainnya masih muda-muda, kebanyakan anak WHV juga dari negara lain.

Perjalanan dari Alice Springs ke Uluru membutuhkan waktu 5 jam, dan kami berhenti beberapa kali karena kebakaran (bukan bus Mulga’s), berhenti di Camel Farm untuk melihat onta, dan berhenti di beberapa roadhouse di sepanjang perjalanan untuk sekedar membeli minuman dingin. Karena saya berangkatnya awal November, cuaca di Central Australia sudah memasuki musim panas, dengan suhu diatas 37C setiap hari.

Camels
Uluru/Ayers Rock
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan selama 5 jam dari Alice Springs, kami sampai di Yuluru. Dari kejauhan kami semua dibuat tercengang dan terharu karena batu yang hanya kami lihat di cover buku atau kartu pos selamam ini akhirnya terpampang nyata dihadapan kami. Sebelum menyentuh batunya, kami berhenti di Uluru Cultural Center untuk mempelajari sejarah Uluru dan kebudayaan suku Aborigin yang berkaitan dengan Uluru.

Peta Alice Springs, Uluru, Kata Tjuta dan Kings Canyon
Uluru adalah batu berukuran panjang 3,6km lebar 2,9km dan tinggi 348m. Ada yang bisa hitung beratnya? Eits tunggu dulu..itu baru ukuran yang menyembul di permukaan. Dua pertiga bagian lainnya tertimbun di dalam tanah. Batu besar ini dianggap sakral oleh Anangu, suku asli yang menemukan Uluru. Di Uluru Cultural Centre diceritakan tentang peran Uluru dalam kehidupan masyarakat Anangu dan bagaimana pemerintah Australia berinteraksi dengan suku Anangu untuk menjaga Uluru. Puluhan tahun yang lalu, pariwisata di Uluru sangat berkembang tanpa mengindahkan suku asli yang tinggal disana. Resorts dibangun persis di depan Uluru. Airstrip berada hanya beberapa meter dari Uluru sehingga pesawat kecil bisa mendarat tepat di samping batu sakral ini. Setelah negosiasi yang begitu lama dan panjang antara pemimpin Anangu dan pemerintah Australia, akhirnya resorts dan airstrip ditutup kemudian dipindahkan beberapa km dari Uluru.

Saya dan Uluru dari Jarak Dekat
Sore hari, peserta tur dibawa ke Uluru Sunset View. Di tempat ini puluhan bus dan ratusan pengunjung menikmati keindahan Uluru sambil menikmati snack dan wine. Inilah salah satu pemandangan paling spektakular di Australia. Uluru berganti warna ditempa cahaya matahari sore, dari jingga, kemudian berganti warna keunguan dan akhirnya menjadi kelabu setelah matahari terbenam.

 
Uluru Disaat Sunset

Kata Tjuta 
Kata Tjuta atau The Olgas mungkin tidak setenar Uluru. Tapi bagi saya pribadi, Kata Tjuta sama spektakulernya dengan Uluru, bahkan sedikit lebih menarik karena bisa dieksplor lebih dekat. Kata Tjuta adalah 36 batu raksasa berbentuk kubah yang berderet dengan beragam ukuran membentuk pegunungan. Batu tertinggi adalah The Olga, dengan tinggi 546m, jelas lebih tinggi dari Uluru.

Kata Tjuta dari Kejauhan
Untuk sampai di Kata Tjuta, kami harus bangun pagi-pagi sekali, berangkat dari campsite pukul 5 pagi dan berhenti diantara Kata Tjuta dan Uluru untuk menikmati sunrise. Sampai di Kata Tjuta, kami berjalan sejauh 4.7km melalui walking track diantara bebatuan raksasa dan menikmati pemandangan indah dari The Valley.

 
Berjalan Menyusuri Kata Tjuta

Seperti Uluru, Kata Tjuta juga dianggap sakral oleh Anangu, sehingga pengunjung tidak diperbolahkan memanjat ataupun keluar dari jalur track.

Kings Canyon  
Dihari ketiga tur, pagi-pagi sekali kami berangkat ke Kings Canyon atau Watarraka National Park. Lokasinya berada 350km dari Uluru National Park, sehingga di malam sebelumnya kami menginap di Kings Creek Station.

Sebelum memulai pendakian, pengunjung harus memastikan dirinya fit dan memiliki persediaan air minimal 3 liter karena jalur trek kali ini sedikit lebih berat dari Uluru atau Kata Tjuta. Untuk mengelilingi Kings Canyon dibutuhkan waktu 3-4 jam dan sebaiknya dimulai pagi hari saat matahari belum menyengat.

Ini bukanlah canyon pertama yang pernah saya kunjungi, tapi mungkin canyon paling besar dengan lembah dan jurang yang sangat dalam diantara tebing-tebing batu. Walaupun hanya berjalan sejauh 6.6km, tapi trekking ini lebih melelahkan karena kami harus mendaki gunung lewati lembah dan jalan di bebatuan gersang tanpa pohon satupun.

Kings Canyon

Perjalanan 3 hari menuju Uluru, Kata Tjuta, dan Kings Canyon adalah salah satu perjalanan paling menarik yang pernah saya jalanin. Bukan hanya mengunjungi tempat-tempat terkenal, tapi pengalaman tidur di Swag (sleeping bag tebal bermatras yang biasanya buat tentara) beratapkan langit di alam liar mungkin yang paling menarik dari tur ini. DI malam pertama, hampir seluruh peserta tur nggak bisa tidur nyeyan karena banyak gangguan. Tengah malam, salah satu peserta menjerit ‘Dingo! Did you see that?’ membangunkan kami semua. Beberapa menit setelah kami tertidur kembali, petir datang bersahut-sahutan dan angin kencang. Kami kembali bangun dan bergegas mengangkut Swag dan sleeping bag ke dalam barbeque area yang beratap dan menggelar swag berhimpitan karena ruangannya kecil, bahkan ada yang tidur diatas meja. Baru terlelap sebentar, tour guide datang membangunkan semua peserta tur di jam 4 pagi untuk sarapan.

Selain tidur di swag, pengalaman baru buat saya adalah makan steak kanguru dan burger onta. Ini bukanlah steak kanguru pertama saya, tapi entah kenapa rasanya beda. Tapi yang paling menarik dari semuanya adalah bertemu teman-teman baru dan saling bertukar pengalaman.

Tips:
Waktu terbaik mengunjungi Uluru adalah September – Oktober dan Maret – Juli. Di bulan-bulan lainnya cuaca terlalu dingin atau terlalu panas.

Ada beberapa orang yang tidak bisa tidur dengan swag. Pastikan menanyakan sedetail mungkin fasilitas tur sebelum membeli, karena beberapa tur menawarkan fasilitas kemping dengan tenda sederhana dengan harga yang sedikit lebih mahal.

Kalau datang di bulan September – Februari, bawa sleeping bag tipis aja. Kalau datangnya Maret – Agustus, bawa sleeping bag tebal yang khusus winter.

Bawa walking shoes yang nyaman dipakai dan botol air minum ukuran besar.

2 comments :

  1. Linda, Ada tulisan muncul di harian Republika edisi 28 Juni 2015, tentang Hidup di bawah Tanah ala Cobeeer pedy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank om Endeng. Kayaknya itu punyaku, kemarin nulis ke Republika, tapi nggak ada notifikasi atau gimana2 gitu kalau mau diterbitin. Koran Republika online atau offline ya? Kita beli kah korannya?

      Delete