Tuesday, November 25, 2014

Pekerjaanku di Australia (Part 1)


Suatu hari teman kuliah saya yang udah lama tak tercium bau kentutnya nanya: 'Lu kerja apa sih di Australia?’ Kemudian dengan jujur saya jawab: kosek-kosek WC. Dan sudah pasti, teman saya ini nggak percaya. Oke, sesaat saya lupa kalau kosek WC dianggap pekerjan hina, yang nggak mungkn dilakukan oleh orang-orang yang merasa terhormat di Indonesia. No offense. Ini fakta.

Saya dulu juga beranggapan begitu. Tapi semua berubah setelah saya sampai di Australia, negara maju yang orang-orangnya menghargai setiap profesi, termasuk tukang kosek WC. Kali ini saya mau cerita pengalaman saya berjuang mencari kerja dari awal WHV. Karena ceritanya panjang, jadi saya bagi beberapa part biar nggak bosan bacanya.

Saya berangkat ke Australia di bulan Maret, bulan yang KATANYA pekerjaan mulai seret karena udah masuk musim dingin. Dengan berbekal $2000, saya tiba di Perth, dan langsung ngekost di salah satu suburb dengan $90 perweek (include bills) dan bond $100. Bond ini semacam duit pegangan bapak kost gitu, buat jaga-jaga kalau saya kabur atau ngerusakin properti .

Dan dimulailah perburuan mencari kerja. Setiap hari dari bangun pagi hingga malam menjelang tidur saya buka www.gumtree.com.au dan mengirim resume ke semua lowongan kerja yang ada di Perth. Berselang 2 hari, respon pertama datang dari sebuah restoran pancake terkenal di Fremantle. Saya datang untuk trial selama 1 jam, dan pulang dengan sekotak pancake dan janji si Owner akan menghubungi satu atau dua hari lagi. Janji ini hanya janji yang sampai sekarang tak pernah terwujud.

Dua minggu berlalu, saya trial di 8 restoran dan selalu berakhir dengan janji-janji manis dari pemilik resto. Duit menipis, saya keluar dari kost dan mencari hostel. Beruntung, ada hostel di pusat kota Perth yang sedang mencari cleaner, dan saya bisa tinggal gratis di dorm. Rutinitas saya setiap pagi bangun jam 6, bersihin toilet, kitchen, menyapu dan mengepel lantai sampai jam 8. Setelah itu saya kembali berburu pekerjaan di Gumtree. Setiap siang saya berkeliling kota, berniat menyebar resume di semua restoran. Tapi entah kenapa saya selalu berakhir makan siang di Chiliz, terus leyeh-leyeh di taman sambil tidur-tiduran sampai sore, terus pulang ke hostel dan tidur. Gimana mau dapat kerja coba.

Taman tempat leyek-leyeh tiap hari

Karena udah desperate, saya kena scam dari orang yang berpura-pura jadi pemilik kebun anggur. Modusnya, saya harus bayar $200 untuk akomodasi di farm selama 2 minggu, dan nantinya akan bekerja jadi picker (pemetik buah anggur) dengan bayaran $21.0 per jam. Setelah duitnya tertransfer, saya baru sadar kalau itu penipuan, dan atas saran dari telor teman spesial, saya buru-buru ke bank dan dengan muka memelas memohon ke CS Commbank agar duit saya dikembalikan. Beruntung, dalam seminggu duit saya kembali 100%. Oh I love Commbank.

Tapi saya nggak 100% nganggur lho. Seminggu dua kali saya datang ke rumah seorang perempuan Irish, bersihin rumahnya yang sebenanrnya udah bersih. Awalnya dia nyari orang Filipino, tapi sejak pertama kali ngebersihin rumahnya, dia jatuh cinta sama pekerjaan saya. Saya dibayar $20 per jam, dan kerja 6 jam seminggu. Tawaran cleaning dari rumah ke rumah mulai berdatangan, tapi nggak pasti. Kadang semingu 3 rumah, kadang cuma di rumah si Irish.

Dari Gumtree, saya dapat pekerjaan serabutan. Dari cleaning hingga tukang foto keliling. Iya, saya pernah dibayar $20 perjam hanya dengan keliling kota buat fotoin semua tempat parkir.

Akhirnya tepat sebulan, tawaran pekerjaan tetap mulai datang. Saya diterima bekerja di salah satu restoran fine dining, nomor 4 di TripAdvisor Perth. Senang dong ya, walaupun bayarannya hanya $18 per jam. Tugas saya di restoran ini gampang. Hanya ngelapin gelas-gelas wine. Gampang? Tunggu dulu. Jadi, pengunjung disini tuh ya, kalau wine nya habis trus dituangin lagi, gelasnya harus ganti. Saya kerja dari jam 7 sampai 11 malam, ngelapin 500-an gelas setiap malam dan harus benar-benar bersih karena ada supervisor yang ngecek setiap gelas. Kalau ada noda setitik aja, ngulang lagi. Di hari pertama setelah kerja, pergelangan tangan kanan saya bengkok dan nggak bisa dilurusin.

Saya tetap bekerja di rumah si Irish dua kali seminggu dan malamnya di restoran ngelap gelas sampai suatu hari, saya dapat telepon dari sebuah hotel di pedalaman Western Australia. Yang menelepon adalah orang Indonesia, teman dari pemilik hotel. Waktu itu menjelang paskah, dan restoran tempat saya kerja diliburkan 10 hari jadi otomatis saya ngganggur. Maka berangkatlah saya ke pedalaman Perenjori, 5 jam ke utara dari Perth.

Pekerjaan saya di Perenjori Hotel ini gampang banget. Jam 11 saya ngebersihin kamar hotel yang jumlahnya nggak seberapa, terus lanjut di kitchen sampai jam 2 trus istirahat. Sore hari dari jam 6 saya kerja bantuin chef di kitchen lagi sampai jam 8 terus beresin kitchen setengah jam. Selesai kerja, saya duduk-duduk di bar, bercengkrama dengan pengunjung bar yang tiap malam orangnya itu-itu aja. Lucunya, mereka datang setiap hari, duduk di tempat yang sama, minum minuman yang sama dan nggak pernah bosan. Oiya, disini saya dibayar $570 per minggu bersih, karena makan, beer, cider dan akomodasi ditanggung. Kerja hanya 5-6 jam sehari. Oh life is beautiful.

Kegiatan di hari libur: Berburu Kangoroo

Saya bekerja 6 hari seminggu dan saat off, selalu ada hal menarik yang bisa dilakukan di Perenjori. Mulai dari berburu kanguru, nyetirin traktor raksasa, atau jalan-jalan ke Geraldton, kota yag jaraknya 2 jam dari Perenjori.

Diminggu ke 9 bekerja di Perenjori Hotel, tiba-tiba saya pengen liat salju di New Zealand. Tapi kata bos, kalau mau liat salju nggak usah jauh-jauh ke NZ karena Australia juga punya, tepatnya di Victoria. Akhirnya setelah tepat 10 minggu bekerja di Perenjori hotel, saya berangkat ke Melbourne, Victoria, demi cita-cita melihat salju.

Sampai di Melbourne, saya baru sadar kalau ngeliat salju aja nggak cukup. Saya harus bisa ski. Maka mulailah saya nyari kerja di gunung salju melalui Gumtree. Dua minggu berlalu, duit semakin tipis, dan saya masih nganggur. Akhirnya saya menurunkan standar. Nggak harus bekerja di gunung salju, kerja apapun saya siap. Apapun.

Bersambung...

Thursday, November 20, 2014

Ayers Rock, Kata Tjuta, dan Kings Canyon


This is Anangu land and you are welcome. Look around and learn in order to understand Anangu, and also to understand that our culture is strong and alive.

Setiap orang yang datang atau merencanakan traveling ke Australia pasti sudah sering melihat gambar Uluru atau yang biasa dikenal dengan Ayers Rock, batu raksasa berwarna kemerahan yang menjulang tinggi di pedalaman Australia. Saking terkenalnya, Uluru menjadi cover Lonely Planet Australia edisi terbaru.

Saya termasuk salah satu WHV Indonesia yang beruntung bisa menikmati Uluru dan sekitarnya. Bagi saya, ke Australia belum sah kalau belum melihat ikon utamanya ini. Lokasinya yang berada di pedalaman Central Australia membuat Uluru hanya bisa dicapai jika benar-benar niat. Tiket pesawat atau moda transportasi lain ke Alice Springs, kota terdekat Uluru, harganya sangat mencekik. Tapi apa sih yang nggak bisa kalau udah niat? Pelan tapi pasti, dari William Creek, Coober Pedy, akhirnya saya sampai ke Alice Springs.

Alice Springs
Alice Springs adalah salah satu kota terbesar di Northern Territory Australia. Satu-satunya alasan kota ini menjadi ramai adalah karena menjadi base bagi wisatawan yang ingin melihat Uluru. Di Alice Springs ada banyak sekali tour operator yang menawarkan paket wisata ke Uluru dan sekitarnya:

The Rock Tour adalah salah satu yang paling terkenal, mungkin karena lokasi kantornya yang berada di pusat kota, dekat dengan terminal Greyhound Bus. Operator tur ini menawarkan perjalanan ke Uluru setiap hari, dan selalu full booked jadi harus pesan jauh hari sebelumnya.

Emu Run Tour juga salah satu yang terkenal, harganya sedikit lebih mahal dari operator lainnya dan menawarkan lebih banyak variasi tur sehingga bisa disesuaikan dengan budget dan kenyamanan.

Mulga’sAdventure, salah satu operator terbaik di Alice Springs. Harga dan paket yang ditawarkan sama dengan The Rock. Keuntungan dari Mulgas adalah pesertanya yang tidak sebanyak tur operator lain, sehingga terasa lebih privat.

Saya memilih Mulga’s atas rekomendasi salah satu teman dan rekomendasi resepsionis Alice’s Secret, salah satu backpacker hostel terbaik di Alice Springs. Harganya cukup mahal, $355 untuk 3 hari camptour. Hari pertama, saya dan peserta tur lainnya dijemput di hostel masing-masing pada pukul 6 pagi. Tadinya saya membayangkan akan ikut tur dengan orang-orang tua, seperti tur pada umumnya, namun setelah sampai di bus, ternyata ke-11 peserta lainnya masih muda-muda, kebanyakan anak WHV juga dari negara lain.

Perjalanan dari Alice Springs ke Uluru membutuhkan waktu 5 jam, dan kami berhenti beberapa kali karena kebakaran (bukan bus Mulga’s), berhenti di Camel Farm untuk melihat onta, dan berhenti di beberapa roadhouse di sepanjang perjalanan untuk sekedar membeli minuman dingin. Karena saya berangkatnya awal November, cuaca di Central Australia sudah memasuki musim panas, dengan suhu diatas 37C setiap hari.

Camels
Uluru/Ayers Rock
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan selama 5 jam dari Alice Springs, kami sampai di Yuluru. Dari kejauhan kami semua dibuat tercengang dan terharu karena batu yang hanya kami lihat di cover buku atau kartu pos selamam ini akhirnya terpampang nyata dihadapan kami. Sebelum menyentuh batunya, kami berhenti di Uluru Cultural Center untuk mempelajari sejarah Uluru dan kebudayaan suku Aborigin yang berkaitan dengan Uluru.

Peta Alice Springs, Uluru, Kata Tjuta dan Kings Canyon
Uluru adalah batu berukuran panjang 3,6km lebar 2,9km dan tinggi 348m. Ada yang bisa hitung beratnya? Eits tunggu dulu..itu baru ukuran yang menyembul di permukaan. Dua pertiga bagian lainnya tertimbun di dalam tanah. Batu besar ini dianggap sakral oleh Anangu, suku asli yang menemukan Uluru. Di Uluru Cultural Centre diceritakan tentang peran Uluru dalam kehidupan masyarakat Anangu dan bagaimana pemerintah Australia berinteraksi dengan suku Anangu untuk menjaga Uluru. Puluhan tahun yang lalu, pariwisata di Uluru sangat berkembang tanpa mengindahkan suku asli yang tinggal disana. Resorts dibangun persis di depan Uluru. Airstrip berada hanya beberapa meter dari Uluru sehingga pesawat kecil bisa mendarat tepat di samping batu sakral ini. Setelah negosiasi yang begitu lama dan panjang antara pemimpin Anangu dan pemerintah Australia, akhirnya resorts dan airstrip ditutup kemudian dipindahkan beberapa km dari Uluru.

Saya dan Uluru dari Jarak Dekat
Sore hari, peserta tur dibawa ke Uluru Sunset View. Di tempat ini puluhan bus dan ratusan pengunjung menikmati keindahan Uluru sambil menikmati snack dan wine. Inilah salah satu pemandangan paling spektakular di Australia. Uluru berganti warna ditempa cahaya matahari sore, dari jingga, kemudian berganti warna keunguan dan akhirnya menjadi kelabu setelah matahari terbenam.

 
Uluru Disaat Sunset

Kata Tjuta 
Kata Tjuta atau The Olgas mungkin tidak setenar Uluru. Tapi bagi saya pribadi, Kata Tjuta sama spektakulernya dengan Uluru, bahkan sedikit lebih menarik karena bisa dieksplor lebih dekat. Kata Tjuta adalah 36 batu raksasa berbentuk kubah yang berderet dengan beragam ukuran membentuk pegunungan. Batu tertinggi adalah The Olga, dengan tinggi 546m, jelas lebih tinggi dari Uluru.

Kata Tjuta dari Kejauhan
Untuk sampai di Kata Tjuta, kami harus bangun pagi-pagi sekali, berangkat dari campsite pukul 5 pagi dan berhenti diantara Kata Tjuta dan Uluru untuk menikmati sunrise. Sampai di Kata Tjuta, kami berjalan sejauh 4.7km melalui walking track diantara bebatuan raksasa dan menikmati pemandangan indah dari The Valley.

 
Berjalan Menyusuri Kata Tjuta

Seperti Uluru, Kata Tjuta juga dianggap sakral oleh Anangu, sehingga pengunjung tidak diperbolahkan memanjat ataupun keluar dari jalur track.

Kings Canyon  
Dihari ketiga tur, pagi-pagi sekali kami berangkat ke Kings Canyon atau Watarraka National Park. Lokasinya berada 350km dari Uluru National Park, sehingga di malam sebelumnya kami menginap di Kings Creek Station.

Sebelum memulai pendakian, pengunjung harus memastikan dirinya fit dan memiliki persediaan air minimal 3 liter karena jalur trek kali ini sedikit lebih berat dari Uluru atau Kata Tjuta. Untuk mengelilingi Kings Canyon dibutuhkan waktu 3-4 jam dan sebaiknya dimulai pagi hari saat matahari belum menyengat.

Ini bukanlah canyon pertama yang pernah saya kunjungi, tapi mungkin canyon paling besar dengan lembah dan jurang yang sangat dalam diantara tebing-tebing batu. Walaupun hanya berjalan sejauh 6.6km, tapi trekking ini lebih melelahkan karena kami harus mendaki gunung lewati lembah dan jalan di bebatuan gersang tanpa pohon satupun.

Kings Canyon

Perjalanan 3 hari menuju Uluru, Kata Tjuta, dan Kings Canyon adalah salah satu perjalanan paling menarik yang pernah saya jalanin. Bukan hanya mengunjungi tempat-tempat terkenal, tapi pengalaman tidur di Swag (sleeping bag tebal bermatras yang biasanya buat tentara) beratapkan langit di alam liar mungkin yang paling menarik dari tur ini. DI malam pertama, hampir seluruh peserta tur nggak bisa tidur nyeyan karena banyak gangguan. Tengah malam, salah satu peserta menjerit ‘Dingo! Did you see that?’ membangunkan kami semua. Beberapa menit setelah kami tertidur kembali, petir datang bersahut-sahutan dan angin kencang. Kami kembali bangun dan bergegas mengangkut Swag dan sleeping bag ke dalam barbeque area yang beratap dan menggelar swag berhimpitan karena ruangannya kecil, bahkan ada yang tidur diatas meja. Baru terlelap sebentar, tour guide datang membangunkan semua peserta tur di jam 4 pagi untuk sarapan.

Selain tidur di swag, pengalaman baru buat saya adalah makan steak kanguru dan burger onta. Ini bukanlah steak kanguru pertama saya, tapi entah kenapa rasanya beda. Tapi yang paling menarik dari semuanya adalah bertemu teman-teman baru dan saling bertukar pengalaman.

Tips:
Waktu terbaik mengunjungi Uluru adalah September – Oktober dan Maret – Juli. Di bulan-bulan lainnya cuaca terlalu dingin atau terlalu panas.

Ada beberapa orang yang tidak bisa tidur dengan swag. Pastikan menanyakan sedetail mungkin fasilitas tur sebelum membeli, karena beberapa tur menawarkan fasilitas kemping dengan tenda sederhana dengan harga yang sedikit lebih mahal.

Kalau datang di bulan September – Februari, bawa sleeping bag tipis aja. Kalau datangnya Maret – Agustus, bawa sleeping bag tebal yang khusus winter.

Bawa walking shoes yang nyaman dipakai dan botol air minum ukuran besar.