Tuesday, January 28, 2014

Wajah Pariwisata Indonesia

Sumber: AAP Journey
Pasir putih, langit biru diselingi awan putih, dan air laut gradasi 3 warna membuat siapapun mengagumi keindahannya. Saking cantiknya, liputan pantai diatas sempat muncul dalam salah satu artikel LIONMAG edisi Januari. Ada yang tau lokasi pantainya?

Biar nggak penasaran, langsung saya bisikin jawabannya nih: gambar diatas adalah Pantai Pasir Putih Tanjung Bira, letaknya di Sulawesi Selatan, Indonesia.

Apa? Belum pernah dengar tentang Tanjung Bira??
Apa? Ada yang jawab gambar diatas adalah salah satu pantai di Thailand???
Ter...la...lu...

Tapi saya ngerti sih kalau Tanjung Bira yang berpasir putih sehalus tepung terigu itu masih kurang dikenal. Kenapa? Berdasarkan pengalaman saya nih ya, ada beberapa hal mendasar yang ‘menenggelamkan’ kecantikan Tanjung Bira:

Terminal
Kalau mau ke Tanjung Bira ya harus ke Makassar dulu. Dari Makassar, pergilah ke Terminal Malengkeri. Disana bakalan ada angkutan umum ke Bira. Tapi eits, tunggu dulu! Tidak segampang itu. Terminal ini nggak ada papan namanya. Jadi kalau mau kesana, mesti nanya sana-sini sambil celingukan dulu baru ketemu. Persis di luar terminal, tepatnya di pinggir jalan raya, sudah berjejer angkutan ‘liar’ dengan supir yang siap menarik tangan setiap penumpang yang turun dari angkot/pete-pete/taxi. Masuklah ke terminalnya kalau mental kamu kuat. Kuat menepis tawaran puluhan supir taxi dengan pertanyaan yang sama ‘mau kemana?’. Bahkan yang jaraknya ratusan meter juga berteriak sambil melambaikan tangan, kalau tidak berlari mendekat.

Terminal Malengkeri

Cari loket pembelian tiket bus? Nggak bakalan ketemu. Yang bakalan kamu dapati adalah genangan air seluas kolam renang raksasa, angkutan ‘liar’ yang lebih banyak lagi, tumpukan sampah, supir, dan preman. Nggak ada gedung tempat menjual tiket seperti layaknya terminal.

Di tempat seperti inilah para wisatawan lokal dan mancanegara harus datang untuk mengunjungi Tanjung Bira yang cantik menawan.

Transportasi
Kami, para wisatawan, tidak mengharapkan duduk manis dalam limousin mewah untuk sampai ke Tanjung Bira. Kami hanya mengharapkan transportasi yang layak. Jika mobil dirancang untuk kapasitas 8 orang, tolong jangan paksakan hingga 12 orang.

Mobil juga butuh perawatan, seperti halnya manusia. Saya bukan ahli otomotif, tapi saya tau seperti apa mobil yang layak jalan, mana yang nggak. Sayang sekali, sebagian besar angkutan ini menurut pengamatan saya nggak layak dan nggak nyaman. Dan kalau nggak layak jalan, mobil bisa membahayakan penumpangnya. Walaupun saya jobless, kere, dan jomblo, saya nggak pengen mati muda!

Mental (Oknum) Supir
Ini dia yang bikin saya gemes pengen nyekik orang. Karena kita para penumpang nggak ada pilihan, si oknum supir ini seenak jidatnya aja molor-molorin waktu. Berangkat jam berapa pak? Setengah jam lagi... Setengah jam kemudian nyalain mesin mobil, tapi bukannya duduk dibelakang setir malah mondar mandir nyari penumpang lain, padahal di mobil udah ada 5 orang. Setelah puas bercengkrama dengan sesama sopir dan udah capek ngegaet penumpang, akhirnya mobil jalan, sambil naikin penumpang di sepanjang perjalanan walaupun mobilnya udah penuh. Logikanya nih Pak Supir ya, kalau lo berangkatnya nggak pake molor, dijalan ngambil penumpang juga, bakalan lebih cepat nyampe tujuan. Lebih cepat lo balik ke rumah bawa duit buat anak isteri, terus leyeh-leyeh di rumah. Efektif.

Oiya, oknum sopir ini juga banyak tipu muslihat. Segala cara dilakuin buat menggaet penumpang. Bilangnya mau nganterin sampai ke Tanjung Bira, eh ternyata diturunin di terminal terus dipaksa nyambung angkutan yang lain.

Kondisi Angkutan Umum
Turis mana yang sudi membayar 20ribu untuk angkutan ngenes seperti diatas kalau bukan karena terpaksa? Udah gitu mobil ini sebenarnya untuk nganterin barang. Tapi karena pengen nyari duit tambahan, si oknum supir juga ngangkut manusia. Karena lagi-lagi nggak punya pilihan, penumpangnya digabungin aja sama sayur-sayuran, daging mentah, telur, sama box-box yang entah isinya apa. Baunya? Jangan ditanya deh, bayangin aja sendiri. Tapi anggap aja penumpang hidungnya mampet semua, nggak bisa nyium apa-apa. Partner saya sampe pucat pasi ngeliat darah dari daging ayam yang berceceran di lantai mobil.

Mental Penumpang
Kita, para penumpang, nggak bisa milih mau semobil dengan siapa. Kalau dapat yang beradab dan tau sopan santun sih oke. Tapi kemarin saya lagi sial, sebelahan dengan bapak-bapak yang rokoknya nggak berhenti-berhenti. Seakan belum cukup penderitaan ini duduk sempit-sempitan, panas-panasan karena AC nggak idup, dan polusi udara dari jalanan di luar yang berdebu. Tapi resiko tinggal di Indonesia yang memanjakan para perokok, harus terima nasib. Toh yang ngerokok kalah jumlah dari yang nggak ngerokok.

Check Point dan Retribusi
Saya dan partner saling bertanya-tanya ketika memasuki kawasan wisata Tanjung Bira dan ditagih 10ribu rupiah serta 20ribu untuk partner  yang turis mancanegara. Kami udah ngebolang ke banyak pantai di Asia Tenggara, dan ini pertama kalinya dikenakan retribusi semacam ini. Tapi berpikir positif aja deh, mungkin duitnya buat menjaga kebersihan pantai biar tetap cantik, dan semua orang tau kalau cantik itu mahal.

Makanan
Menurut ilmu yang saya dapat disekolah, kebutuhan pokok manusia adalah sandang, pangan, dan papan. Tapi di Tanjung Bira, sulit sekali rasanya memenuhi kebutuhan pangan. Restoran jarang banget yang buka. Bahkan ada satu restoran keren, bentuknya seperti kapal phinisi raksasa, tapi sayangnya selalu tutup. Nggak mungkin kan bisa kenyang hanya dengan memandangi lautan dan hamparan pasir putih sehalus tepung terigu?

Sampah

Sampah di Pantai Tanjung Bira
Kecantikan Pantai Bira seperti di LIONMAG sayangnya tertutupi oleh sampah, mulai dari ranting kayu hingga botol plastik. Bukan hanya di pantainya, tapi juga sepanjang jalan dari jalan utama hingga ke penginapan. Lalu kemana larinya duit retribusi yang dibayar oleh setiap pengunjung? Kalau sudah begini siapa yang harus disalahkan? Pengunjung, penduduk lokal, dinas kebersihan, dinas pariwisata, atau pengelola pantai?

Bukan hanya sampah, kios-kios penjual makanan dan souvenir yang nggak terurus juga merusak pemandangan. Yang bikin sebel, kios makanan ini udah nampang di tempat yang nggak semestinya, tutup pula! Useless banget. Udah gitu posisinya persis di bibir pantai pula. Coba kalau kios-kios ini digantikan payung sewaan warna-warni sama kursi-kursi pantai, mungkin lebih bagus. Kiosnya dilokasikan agak jauh dari bibir pantai aja. Seperti gambar di bawah, yang pantainya nggak lebih bagus dari Bira tapi kelihatan cantik karena warna-warni. Pengunjungnya juga lebih banyak.

Salah Satu Pantai di Hongkong sebagai Perbandingan
Pengunjung
Ini nih yang bikin saya sering malu sebagai Bangsa Indonesia. Di lokasi wisata, selalu aja ada gerombolan anak muda yang tiap liat bule bawaannya pengen poto bareng. Udah gitu mintanya nggak sopan. Ada yang sambil cekikikan, dorong-dorongan nggak jelas, tunjuk-tunjuk si bule, bahkan teriak dari jauh. Dimana budaya bangsa Indonesia yang beradab? Yah saya ngerti sih kalau mereka terlalu excited karena mungkin baru pertama ngeliat bule secara langsung. Tapi pikir dong, gimana perasaan kamu kalau diperlakukan nggak sopan, diajak foto kayak hewan langka di kebun binatang? Gimana mau sering-sering ngeliat bule kalau mereka pada ogah datang ke negara kita karena diperlakukan kayak gitu?


Saya menulis ini semua bukan karena mau menjelek-jelekkan pariwisata bangsa sendiri. Bukan. Saya hanya peduli. Saya pengen pariwisata Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan lebih berkembang dan lebih dikenal oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara. Syukur-syukur kalau ada supir angkot, calon wisatawan, pengelola obyek wisata, atau mungkin orang dari dinas pariwisata yang membaca tulisan saya ini dan mau melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Saya sendiri nggak bisa apa-apa selain menulis dan berdoa agar industri pariwisata kita semakin maju.

No comments :

Post a Comment