Wednesday, October 2, 2013

Hongkong Day 3: Tram & Lamma Island

9 Agustus 2013

Kalau ada yang bilang Bulan Agustus adalah low season untuk pariwisata di Hongkong, jangan percaya! Awalnya saya pikir bener, karna Agustus itu Hongkong lagi panas-panasnya. Buktinya, waktu mau extend 1 malam di YesInn Hostel, saya disuruh nunggu 1 jam. Sambil tunggu kepastian dari resepsionis hostel, saya jalan-jalan di sekitar Causaway Bay. Ternyata hostel tempat tinggal saya deket banget sama Hongkong Times Square. Karena masih pagi, mall-nya belum buka, tapi udah ada dua Gundam gede banget berdiri di halamannya. Satu warna putih, gagah, yang satu lagi warna pink, ceweknya mungkin. 

Gundam di Times Square Hongkong


Saya kemudian iseng-iseng naik tram keliling kota. Cara paling murah keliling Hongkong adalah naik tram yang merupakan public transport pertama di Hongkong. Umurnya sudah lebih dari 100 tahun, untuk operasionalnya menggunakan listrik, dan satu-satunya tram dengan double decker exclusive di dunia. Tidak perlu bingung dengan rutenya, karena tram akan berhenti di halte yang sama. Pembayarannya bisa menggunakan Ocopus Card.

Lalu Lintas di Hongkong (Tram yang Warna Kuning)
Setelah berkeliling kota, saya kembali ke hostel dan sialnya, semua kamar udah full-booking hari itu. Saya terpaksa check out dan mencari penginapan yang lain di gedung yang tersohor di kalangan traveler Indonesia, Chungking Mansion. Letaknya strategis sekali, dekat dengan Tsim Tsa Shui MTR Station dan Avenue of Stars. Di dalam gedung yang sudah kelihatan tua ini ada sekitar 80-an budged hotel, money changer, restaurant, dan penjahit. Iya, penjahit. Dan penjahat tentunya. Tempatnya rame banget, rata-rata yang datang kesini orang India dan Arab. Saya sempat masuk dan nyari penginapan di beberapa lantai, tapi semuanya penuh. Akhirnya saya pindah ke gedung yang jaraknya hanya 100 meter dari Chungking Mansion dan ketemu dengan Garden Hostel, hanya 80 HKD untuk dormitory.

Urusan akomodasi emang gampang-gampang susah di Hongkong. Rata-rata budget hotel mematok harga di atas 200 HKD /malam. Kamarnya kecil-kecil, dan sebagian besar tidak memiliki jendela. Hostel dengan dormitory masih belum banyak. Garden Hostel mungkin penginapan yang paling murah di seluruh Hongkong. Tapi jangan dibayangin bagusnya seperti apa. Kondisi lorongnya kotor dan banyak pipis kucing. Kamarnya ber-AC, tapi siang harus dimatikan, dan pakai kipas angin. Dormitory cowok dan cewek dipisah, satu kamar berisi 3 bunkbed (6 orang). Kasurnya keras, tapi seprei dan sarung bantalnya selalu diganti. Kamar mandinya cukup bersih , lengkap dengan air panas dan dingin. You get what you pay!

Setelah dapat penginapan, saya kemudian naik ferry dari Ferry Central pier 4 ke Yang Tsue Wan, Lamma Island. Tujuan saya adalah berburu kincir angin raksasa seperti di Pagudpud, Filipina. Apa yang istimewa dari pulau ini? Di pulau yang nggak lebih besar dari Batam ini nggak ada satu pun kendaraan bermotor. Mungkin karena alasan inilah banyak ekspatriat yang tinggal di Lamma Island karena udaranya yang bersih. 

Larangan Kendaraan Bermotor di Lamma Island
Karena pulaunya yang cantik dan udaranya yang bersih, banyak ekspatriat yang menjadikan Lamma Island sebagai tempat tinggal. Suasananya jauh berbeda dengan Hongkong pada umumnya. 

Rumah-rumah di Lamma Island
 Aktivitas yang bisa dilakukan di Lamma Island adalah hiking, naik sepeda, dan berenang di pantai. Saya lebih memilih hiking, karena untuk naik sepeda dibutuhkan tenaga ekstra naik-turun bukit. Saya sempat mampir di pantai Hung Shin Yah, dengan pasir putih-kekuningan. Untuk sampai kesini cukup mudah, karena papan petujuk ada dimana-mana.

Hung Shin Yah Beach, Lamma Island
Dari pantai saya mengikuti petunjuk menuju ke Lamma Wind, yang jaraknya masih 1km dari pantai dan jalannya mendaki. Kalau mau kesini harus bawa bekal snack dan air minum, karena saya jamin pasti haus, keringetan, ngos-ngosan. 

Jalan Menuju ke LammaWind
Setelah perjalanan yang melelahkan selama setengah jam, akhirnya saya sampai di puncak Lamma Island dan bisa ngeliat Lamma Winds dan pulau-pulau di sekitarnya. Tidak seperti Bangui Windmills di Filipina, disini kincirnya cuma ada satu dan nggak terlalu besar. Fungsinya sama-sama sebagai pembangkit tenaga listrik.

Lamma Wind
Menjelang sore, saya kembali ke Ferry Central dan sempat jalan-jalan di sekitar Promenade dan Avenue of Stars. Karena kecapekan, saya pulang ke hostel dan tidur cepat. Untuk makan malam, seperti biasa, saya memilih jajanan street food di sekitar Nathan Road.

Pemandangan dari Avenue of The Stars di Sore Hari
 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BUDGET:
Sarapan di 7-11 : 16 HKD
Jajan di Lamma Island 20 HKD
Hostel : 80 HKD
Topup Octopus Card : 100 HKD
Makan malam + snack : 26 HKD
TOTAL : 242 HKD = Rp 326.700,00
 

2 comments :