Saturday, August 24, 2013

Wisata Tricycle di Ilocos Norte

Masih 5 Agustus 2013

Perjalanan dari Vigan ke Laoag hanya berlangsung 2 jam dan saya menghabiskan waktu di bus dengan tidur. Bangun tau-tau udah di terminal Laoag. Saat itu saya bener-bener nggak tau mau ngapain, sampai seorang sopir tricycle menghampiri saya dan menawarkan jalan-jalan keliling kota ke beberapa tempat wisata. Awalnya dia minta 700 PHP untuk 4 jam, dan setelah tawar-menawar akhirnya sepakat di 600 PHP. Mahal ya? Tapi dia udah nggak mau turunin harga lagi gimana dong?

Sebelum memulai perjalanan, seperti biasa, orang Filipino selalu memulai kegiatannya dengan mencium rosario. Tujuan pertama adalah Paoay Sand Dunnes, sebuah padang gurun di luar kota Laoag, yang menjadi atraksi utama disini. Dalam perjalanan, akhirnya saya tau kenapa dia minta harga yang mahal. Tempatnya jauh banget! Di jalan, saya ngeliat gereja yang bagus, dan minta berhenti. Ternyata itu adalah Ilocos Norte Convention Centre, bukan gereja .

Ilocos Norte Convention Centre
Setelah puas berfoto, perjalanan dilanjutkan melewati jalan sempit berkerikil, tanpa aspal, hutan di kiri-kanan. Akhirnya sampai juga di padang pasir yang tersohor itu. To be honest, nggak ada yang istimewa dengan padang pasir ini. Orang-orang menawari saya untuk mencoba naik 4WD Jeep atau sandboarding. Di tengah padang pasir yang panasnya nggak wajar ini? No, thanks. Saya kembali ke tricycle dan minta dianterin ke tempat wisata lain yang lebih adem.

Paoay Sand Dunnes
Dan tempat yang adem menurut sopir tricycle adalah sebuah gereja tua. Yup, another old church. Paoay Church, salah satu UNESCO heritage site. Gereja ini masih digunakan untuk misa setiap hari hingga sekarang.
Paoay Church
Karena waktu itu saya datang di siang bolong, gerejanya ditutup dan hanya dibuka pada sore dan pagi hari saat orang-orang datang untuk berdoa. Kemudian saya dibawa ke sebuah tempat seperti museum. Di tempat ini tubuh Ferdinan Marcos, mantan presiden Philippines, teman baik Soekarno, disimpan dan diawetkan. Yap, tubuh beneran. Di dalam ruangan yang gelap itu saya bisa ngeliat mantan presiden yang seperti sedang tidur, diiringi lagu kebangsaan Filipina. Menakutkan. Oiya, masuk kesini nggak diperbolehkan membawa kamera, jadinya saya hanya bisa fotoin bagian luar bangunan.
Marcos Museum & Masoleum
Tujuan selanjutnya adalah Malacanang of The North, sebuah taman yang konon katanya sangat cantik. Sayang sekali, udah jauh-jauh kesana, ternyata tiap hari Senin mereka tutup. Akhirnya saya pulang dan hanya bisa mampir di sebuah danau yang cantik, Paoay Lake.

Paoay Lake
Kincir Raksasa Kelihatan dari Jalan
Perjalanan saya dengan tricycle berakhir, dan selanjutnya saya nggak tau mau ngapain. Akhirnya saya minta dianterin ke terminal bus, dan menuju ke Pagudpud sore itu. Beruntung, saya sampai di terminal di waktu yang tepat, saat bus udah mau berangkat. Busnya seperti kopaja, non AC, dan yang naik semua orang lokal, kecuali bule yang duduk persis di depan saya. Dari gelagatnya, sepertinya dia juga mau ke Pagudpud, dan sepertinya dia nggak punya rencana yang matang. sama! We could be a perfect travel-buddy. Saya memutuskan akan mengikuti bule ini dimanapun dia turun.

Setelah satu jam perjalanan, akhirnya saya bisa ngeliat dari jauh kincir angin raksasa yang udah lama saya impikan. Ya, karena kincir inilah saya jauh-jauh ke Philippines. Rasanya udah pengen berhenti dan turun dari bus, tapi karena bule di depan saya nggak menunjukkan tanda-tanda mau turun, dengan susah payah saya menahan diri.

Setelah 2 jam perjalanan akhirnya bus berhenti dan semua penumpang turun, termasuk saya dan bule tadi. Berdua, kita bengong di pinggir jalan dengan masing-masing backpack gede di punggung dan tas kecil di depan.

where are you going?” tanya saya 

"I’m not sure. Walking around to find cheap hotel. You?"

“Me too"

Akhirnya kita jalan kaki nyari penginapan murah. Baru jalan beberapa langkah, sopir tricycle dateng nawarin tumpangan. Karena katanya penginapan yang murah dan pantai masih jauh, akhirnya kami naik juga ke tricycle yang sempit itu. Gara-gara backpack yang sama-sama gede, kita nggak bisa gerak sama sekali. Sempit! Saking sempitnya, tulang-tulang saya sampai sakit kepentok besi tricycle tiap kali ada lobang di jalan atau jalannya nggak rata. Sumpah, sakit banget.

Kita turun di sebuah homestay yang murah banget, hanya 250 PHP per malam, tapi karena lokasinya yang jauh dari pantai, akhirnya saya dan Michael, by the way, memutuskan jalan untuk nyari penginapan murah dekat pantai. Mungkin kalau saya sendirian, saya udah ambil tuh penginapan saking murahnya, nggak peduli lokasinya seperti apa. Karena menurut saya, lokasi di pinggir pantai pasti harganya mahal banget. Ngebayangin ngangkut backpack yang beratnya total 16kg udah males banget. Tapi ngeliat Michael yang begitu optimis, saya ikutan semangat. 

Kami datengin satu-persatu penginapan di pinggir pantai. Yang pertama kemahalan, yang kedua resepsionisnya menghilang entah kemana, yang ketiga kemahalan, dan akhirnya yang keempat, mulai ketemu titik cerah.

Nortridge Beach Resorts
Awalnya pemilik hotel ngasih harga 800 PHP untuk double room. Kami harus menjelaskan berkali-kali kalau mau ambil 2 kamar terpisah dengan harga yang lebih murah. Setelah nego yang alot oleh Michael, akhirnya sepakat di 500PHP per kamar. WOW! Dengan senyum penuh kemenangan, kami masuk ke kamar masing-masing dan 10 menit kemudian udah berenang di pantai.

Penginapan ini namanya Nortridge Beach Resort, dan terdaftar di Lonely Planet. Lokasinya persis di tepi pantai (Saud Beach), dan dari sini saya bisa ngeliat kincir angin raksasa yang berderet-deter di kejauhan. Ohh..saya begitu tergila-gila dengan kincir raksasa itu.
Kincir Raksasa dari Kejauhan
Karena dateng disaat low season, pantai disini sepi banget, dan tamu di resort hanya kami berdua. Pantai serasa milik sendiri. Ada beberapa orang yang berenang, yang belakangan diketahui sebagai staf resorts dan hotel di sekitar pantai. Saking sepinya, mereka jadi nggak ada kerjaan dan memilih berenang atau main voli pantai. 
Saud Beach
Malam harinya, saya dan Michael candle light dinner di pinggir pantai untuk merayakan kesuksesan kami hari ini. Harga makanannya emang agak mahal, tapi nggak masalah, sekali-sekali ini. Oiya, karena dia English teacher, setiap kali saya salah ngomong langsung dibenerin,hahah...

Hari yang melelahkan, karena dalam sehari saya berada di Vigan, Laoag, dan Pagudpud, malakukan tur kesana-kemari, perjalanan dengan bus berbagai rute dan tricycle. Banyak yang menganggap budget traveling hanya sekedar hambur-hamburin duit yang nggak seberapa dan menyiksa diri sendiri. Tapi dari menyiksa diri ini, saya belajar banyak hal: pantang menyerah, kerja keras, negosiasi, berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain .

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Budget


Breakfast : 10 PHP
Tour Vigan : 250 PHP
Lunch : 80 PHP
Bus Vigan – Laoag : 137 PHP
Tour Laoag : 600 PHP
Snack : 100 PHP
Bus Laoag – Pagudpud : 60 PHP
Dinner : 225 PHP
TOTAL : 1.462 PHP = Rp 402.050,-

No comments :

Post a Comment