Tuesday, August 6, 2013

Sweet Escape


Masih ingat postingan saya disini tentang rencana liburan ke Philipinnes, Hongkong, Shenzen, Macau? Nggak pernah saya bayangkan sebelumnya kalau rintangan untuk kesana bakalan banyak banget. Pertengahan Juli, Air Asia mengumumkan pembatalan penerbangan saya dari Singapore ke Clark dengan alasan operasional. Damn! Ini bener-bener nggak adil, karena saya harus menderita kerugian membeli tiket baru. Setelah mencari berhari-hari dan dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih Tiger untuk penerbangan Singapore-Manila tanggal 4 Agustus 2013 yang berangkat pada pukul 00.55.

Setelah membeli tiket Tiger, saya pikir masalah udah beres. Eh, ada lagi yang lain. Seminggu sebelum bulan Agustus, di kantor saya terjadi kehebohan oleh teman-teman yang akan mengajukan cuti. Saya yang terbiasa ‘just pack and go’ terpaksa mengajukan permohonan cuti. FYI, di kantor saya, libur lebaran itu hanya pas hari H, yaitu tanggal 8-9 Agustus. Karena ingin mengikuti prosedur, akhirnya saya pun mengajukan surat permohonan cuti dari tanggal 5-13. Terhitung 5 hari kerja. Tanggal 1 Agustus, tiba-tiba saya ditelepon oleh bos.

“Halo, Madam, kamu setahun dapat jatah cuti berapa hari?” tanya bos saya diseberang telepon. Dia memang kadang manggil saya Madam, nggak tau apa maksudnya.

“ Dua belas hari” perasaan saya udah nggak enak.

“Udah ambil berapa hari?"

“Hmmm...” saya mulai menghitung berapa hari kejepit yang saya manfaatkan untuk liburan. Ternyata itu dihitung cuti. Sialan.

“Enam hari. Jadi tinggal satu hari untuk cuti kamu.

“Oke"

Sehabis menutup telepon, saya langsung pulang, mengeluarkan 2 kardus gede dari kolong tempat tidur, dan mulai memasukkan barang-barang berharga: sepatu-sepatu, buku-buku, dan pakaian. Oiya, kardus ini emang saya siapin untuk saat-saat darurat seperti ini. Tidak ada lagi alasan tinggal lebih lama disini. Perusahaan macam apa yang tidak memberikan ekstra liburan untuk karyawannya di hari raya? Kalau misalnya ini perhotelan, pelabuhan, airport, bank, atau layanan kesehatan yang harus siaga 24 jam sepanjang tahun, saya masih maklum. Tapi perusahaan tempat saya bekerja ini tidak termasuk dalam kategori tersebut. Ataukah mungkin saya yang terlalu banyak maunya?

Mungkin bos saya ini nggak ngerti bahwa untuk menjalani liburan itu dibutuhkan persiapan matang, termasuk membeli tiket pesawat dan menyusun itinerary yang padat. Dan itu semua butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan tiket termurah dan itinerary yang matang. Lalu dia dengan pedenya nggak ngasih cuti.

“Hellooooo... menurut lo, gue bakal batalin tiket yang udah kebeli berbulan-bulan yang lalu? Sorry ya bos, sorry banget nih, gue lebih sayang tiket daripada pekerjaan. I quit. I Have no choice"

Keesokan harinya, saya nggak masuk kerja. Mogok kerja, ceritanya. Padahal sibuk packing. Siang harinya, dibantu oleh si Pinoy, kami ke KUA kantor pos untuk mengirimkan 2 kardus besar dan berat ke rumah saya, tentunya dengan berbagai pertanyaan: “What are you doing? Have you think about it? Do you have much money? Did you tell your parents? Will you back to Lagoi?” Ahhh, saya bakalan kangen sama laki-laki kepo ini. Jujur, saya nggak punya rencana sama sekali.  Tapi satu yang pasti, saya nggak akan kembali ke Lagoi. Kenapa? Karena masa muda saya terlalu indah untuk dihabiskan di tengah hutan belantara ini.

Saya hanya punya 2 hari untuk mengucapkan selamat tinggal kepada housing dan seisi-isinya, tempat saya makan, tidur, ngising, dan nonton tv selama 7 bulan ini. Selamat tinggal Sofa Bolong. Di sofa ini saya nonton tv, makan, menulis, membaca buku, merenung, bahkan tidur sambil ditonton tv.

Sofa Bolong
Selamat tinggal kamar tidur. Di kamar ini saya ngorok, bermalas-malasan, baca buku, dan bermimpi setiap hari. Mungkin beberapa bulan ke depan tempat tidur yang nyaman ini digantikan kerasnya kursi bandara, bus antar negara, kereta, atau bunkbed

California King Bed :)
Selamat tinggal dapur tercinta. Delapan bulan yang lalu, saya hanya perempuan muda, single, yang nggak bisa masak sama sekali. Di dapur ini saya mulai belajar memasak, dan akhirnya bisa membuat capcay, sapo tahu, sambal ati, dan nasi goreng enak. Enak menurut lidah saya sendiri, sih.

Kitchen
Selamat tinggal Meja Kreativitas. Ini sebenarnya meja makan, tapi karena saya lebih suka makan di depan tv, akhirnya ini hanya menjadi tempat untuk menaruh perintilan kecil-kecil yang nggak jelas, mulai dari majalah, peralatan merajut, dan kembang dari kertas koran buatan saya.


Meja Kreativitas
Selamat tinggal Wall of Dreams. Ini sih pintu kamar mandi biasa. Ceritanya, suatu hari saya pengen banget beli Samsung Galaxy Note II, tapi duit kok nggak ngumpul-ngumpul ya? Saking pengennya, saya menggunting iklan Samsung itu dan nempelin di pintu ini. Voila, nggak nyampe sebulan, barang yang dipengenin kebeli. Saya akhirnya memutuskan bahwa menempelkan keinginan di pintu ini bisa jadi motivasi yang kuat. Sekarang, pintu ini ditempeli iklan Just Write 2, kompetisi menulis Gagas Media dan Gramedia, kuis jalan-jalan ke Turki, dan peta Australia.

Wall of Dreams
Selamat tinggal sahabatku, dokter cantik idola laki-laki single se-Lagoi. Bu Dokter ini adalah penyelamat saya dikala lapar, karena hampir setiap hari, dengan berbagai modus, saya datang ke housing-nya untuk mencicipi masakannya. Nggak tau malu ya? Saya juga bakalan kangen banget sama masakan Bu Dokter, dan kengen makan malam di housing-nya sambil nonton film dan ngerumpi. Sebenernya masih ada dokter cantik satu lagi, tapi nasib udah berhasil membawanya meninggalkan hutan belantara ini dan hidup bahagia dengan suami tercinta di Jakarta.

Selamat tinggal teman-teman Ferry Terminal. Berkat kalian, saya yang nggak tau diri ini bisa ngerasain layanan VIP Class dengan herga ekonomi, hehe...

Akhirnya, perjalanan saya yang tak tentu arah ini dimulai. Perjalanan ini sebenernya terinspirasi dari buku Gol A Gong dan Agustinus Setiawan Wibowo. Kalau orang lain membaca novel sebagai hiburan, saya membaca novel kemudian mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sejujurnya, saya takut banget, gimana kalau perjalanan saya nggak se-indah yang diceritan Gol-A-Gong? Gimana kalau perjalanan saya nggak menghasilkan sesuatu yang berarti seperti Agustinus Wibowo? Ah sudahlah, jalanin aja dulu. Sisi baiknya, saya bisa traveling tanpa terikat waktu, kan?

2 comments :

  1. Wah, benar-benar keliling dunia nih kawan, lanjutkan, lebih cepat, lebih baik, hehehehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keliling dunia sih belum, tapi doakan semoga terjadi,hehe...

      Delete