Tuesday, August 13, 2013

Mabuhay Philippines!

I’m not a good planner. Apapun yang saya rencanain jauh-jauh hari sebelumnya, pasti berantakan, termasuk perjalanan saya ke Filipina. Sebelumnya, saya udah menyusun itinerary lengkap dengan rencana budget. Saya sampai di Manila jam 5 pagi, dan harusnya langsung ke Sampaloc, untuk beli tiket bus ke Pagudpud. Sebelum keluar dari Ninoy Aquino International Airport, saya ke ATM karena nggak bawa Peso Philippines, mata uang Filipina, sepeser pun. Ada tiga mesin ATM berjejer, tapi nggak satu pun yang bisa ngeluarin duit. Nah lo! Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya saya menyerah dan merelakan satu lembar USD100 ditukar dengan 4300 PHP (Peso Philippine). Tanpa sadar, berurusan dengan ATM dan money changer itu memakan waktu hampir satu jam sendiri, dan udah jam 6.30.

Ninoy Aquino International Airport (NAIA)

Menurut itinerary, saya harusnya ke Sampaloc, kemudian ke Manila Bay untuk ikut tour Corregidor Island. Tur ini dimulai jam 8, dan saya pikir waktunya nggak cukup untuk kesana. Akhirnya saya memutuskan naik bus ke Vigan pagi ini. Setelah nanya satpam, saya disarankan naik taxi ke Pasay terminal. Taxi yang recommended di NAIA (Airport Manila) adalah taxi meter yang warna kuning, di atasnya ada banner ‘it’s more fun in the Philippines’. Saya coba nanya taxi yang lain, dan sopirnya mematok harga 600 peso untuk ke Pasay.

Dalam perjalanan, pak supir nanyain tujuan saya kemana, saya jawab Vigan. Dia menyarankan terminal yang lain, karena katanya bus ke Vigan di terminal Pasay itu berangkatnya hanya malam hari. Dia menyarankan ke Cubao, dan langsung saya iya-in. Ternyata, Cubao itu jaraknya dua kali lebih jauh. Untung aja taxi di Manila murah, untuk tarif pertama 70 peso, dan setiap 1km dikenakan 14 peso. 1 peso sama dengan 275 Rupiah.

Manila, ibukota Filipina, sama persis dengan Jakarta. Bahkan banyak yang bilang Jakarta sama Manila itu saudara kembar. Laki-laki disini, menurut pengamatan saya, suka kencing sembarangan. Sehari saya bisa ngeliat dua orang ngencingin tembok atau pohon. Mungkin karena hal ini, di beberapa tempat saya menemukan Male Urinal di pinggir jalan. Cuma berupa bilik kaleng yang dicat warna pink.  Sangat primitif menurut saya. Tapi nggak sempat fotoin, takut lagi ada yang pipis trus saya ntar dikira mau ngintip.

Male Urinal (source)
Terminal bus di Manila cukup memusingkan, karena nggak ada terminal terpadu dengan berbagai bus dan jurusan. Setiap operator bus memiliki pool sendiri yang lokasinya tersebar di seluruh Manila. Jadi saran saya, setelah sampai di Manila sebaiknya udah tau tujuannya kemana, dan naik bus apa. Untuk ke Vigan, ada beberapa bus recomended, yaitu Florida Liner, Partas, dan Victory Liner. Saya memilih Partas, lagi-lagi atas rekomendasi Pak Supir taxi. Tarif dari Manila ke Vigan adalah 665 Peso, lama perjalanan 8 jam. Bus menuju Vigan berangkatnya hampir tiap jam selama 24 jam. Saya berangkat pukul 8 pagi. Bus-bus ini menaikkan dan menurunkan penumpang di sepanjang jalan, sehingga perjalanan dari Manila ke Vigan yang harusnya hanya 6 jam menjadi 8 jam.

Di depan pool Partas di Cubao, ada warung makan khas Filipina. Sebagian besar makanannya adalah pork, dengan harga yang sangat murah. Saya mencoba Lechon Paksew, yang rasanya mirip dengan masakan Batak.

Lechon Paksew

Penduduk Filipina 90% beragama Katholik, dan mereka sangat religius. Gereja-gereja bergaya arsitektur klasik tersebar di sepanjang jalan Manila-Vigan. Gereja ini pada umumnya dibuka setiap hari karena orang-orang datang dan berdoa setiap pagi. Supir bus dan asisten-asistennnya bergantian mencium rosario yang tergantung di kaca bus sebelum berangkat. Ibu-ibu yang duduk di sebelah saya dalam bus juga melakukan gerakan berdoa Katholik berkali-kali. Hal-hal kecil seperti ini yang membuat saya nyaman, karena logikanya orang religius akan takut melakukan hal-hal jahat.

Sore hari, saya sampai di Vigan, The Unesco World Heritage City. Vigan adalah kota kecil di provinsi Ilocos Sur, di bagian utara Pulau Luzon. Dari terminal bus Partas, saya mencari penginapan dengan Tricycle. Tricycle adalah alat transportasi di Filipina, yang kalau di Medan disebut becak motor. Dari sekian banyak hotel di Vigan, pilihan saya jatuh pada Vigan Hotel, karena harganya yang paling murah, 395 Peso! Kalau di-rupiah-in hanya Rp 55.000. Bangunannya kuno, tapi bersih. Lokasinya dekat banget dengan pusat kota. Jika ingin merasakan suasana Vigan jaman dulu,  menginap di beberapa hotel dengan konsep kolonial bisa menjadi pilihan, yaitu Gordian Inn dan Villa Angela. Tentu dengan membayar extra .

Sore harinya, saya berjalan kaki di sekitar hotel , yang ternyata lokasinya sangat dekat dengan Vigan Cathedral. Saat itu hari Minggu, dan sedang berlangsung misa.

Vigan Cathedral

Vigan Cathedral yang sering disebut St.Paul Metropolitan Cathedral memiliki gaya arsitektur Baroque, dibangun pada tahun 1574 dan selesai tahun 1800. Gereja ini dibangun atas perintah Juan de Saldeco, orang Spanyol pendiri Kota Vigan. Biasanya, saat mengunjungi gereja atau cathedral, saya selalu menyempatkan masuk ke dalamnya. Tapi karena sedang berlangsung misa, saya nggak bisa masuk dan foto-fotoin interiornya.

Persis di depan Vigan Cathedral ada Plaza Calcedo, sebuah taman dengan kolam di tengahnya. Malam hari, berlangsung pertunjukan musik dan air mancur di taman ini yang dinamakan Ilocos Sur Dancing Fountain, yang merupakan salah satu atraksi utama di Provinsi Ilocos Sur. Dari siang hingga malam, tempat ini begitu ramai dengan pengunjung dan penjual makanan. Saya sangat suka dengan street food di Vigan, yang harganya sangat murah.
Street food Vigan

Hanya berjalan kaki 5 menit, saya sampai  ke Calle Risologo, sebuah jalan utama bergaya Spanyol di Vigan. Dulunya, jalan ini adalah tempat tinggal bangsawan Spanyol dengan rumah-rumah megah. Sampai sekarang, jalan dan bangunan masih terawat. Bangunan-bangunan ini sekarang menjadi hotel, toko souvenir, dan restoran. Salah satu restoran terkenal adalah Cafe Leona, yang tersohor dengan Empanadas (makanan khas Vigan, mirip pastel kalo di Indonesia).

Di ujung jalan Calle Risolongo, ada sebuah salon kecantikan, dan saya memutuskan untuk potong rambut saat itu juga. Hasilnya? Sangat memuaskan. Sekarang saya nggak repot lagi nyari iket rambut setiap kepanasan, dan akan irit shampo, kondisioner, dan waktu untuk merawat rambut. Saya kembali ke hotel dan sempat ngobrol dengan beberapa penghuni hotel, yang sebagian besar adalah Filipino (sebutan resmi untuk kewarganegaraan Filipina). Bahkan ada yang menanyakan Soekarno, mantan presiden kita yang katanya teman baik Ferdinan Marcos, mantan presiden Filipina .

Menjelang malam, saya kembali ke kamar hotel murah meriah ini untuk istirahat, bersiap untuk perjalanan keliling Kota Vigan esok hari.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BUDGET:
Taxi Airport – Cubao : PHP 350
Jalan tol : PHP 20
Breakfast : PHP 45
Bus Manila – Vigan : 665 PHP
Lunch : PHP 50
Tricycle Terminal – Vigan : PHP 50
Vigan Hotel : PHP 395
Street Food : PHP 30
Potong Rambut : PHP 198
Air Mineral : PHP 20
TOTAL : PHP 1.735.00 = Rp 449.075,00

6 comments :

  1. masih suasana lebaran khan,
    jadi nggak apa2 kan kalo aku mohon dimaaafkan lahir batin kalau aku ada salah dan khilaf selama ini,
    back to zero again...sambil lirik kiri kanan nyari ketupat....salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
  2. selamat berkeliling dunia ibu,,, #kangen ngerumpi bareng,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kangen dikepangin Jumi,.. Tapi aku udah potong rambut pendek.hehe

      Delete