Monday, July 29, 2013

Traveling Itu Menyenangkan, tapi Susah Dijalanin

Sore itu, saya ngobrol ngalor-ngidul sama salah satu teman, membicarakan tentang rencana saya jalan-jalan ke Filipin, Manila, dan Hongkong. Kebetulan, dia adalah Pinoy yang entah gimana ceritanya bisa terdampar di Lagoi ini.

“Which part of Philipines do you want to visit?” tanyanya kepo
“North Luzon” jawab saya mantap
“Which North Luzon?"
“Pagudpud. want to see the windmills"
“Windmills? How you will reach there? No public transport"
“It’s OK. I’ll rent a bike, maybe. I don’t know. Just go and see what will i do"
“Are you going by yourself?"
“yes"
“crazy"
“I know”

Selain si Pinoy ini, saya sudah bertemu dengan banyak orang yang selalu mempertanyakan perjalanan saya seorang diri.  Pertanyaan mereka pada umumnya sama: apa sih yang kamu cari sebenarnya? nggak takut? Kalo duitnya habis di jalan gimana? Nggak kesepian di jalan? Kan nggak ada temen ngobrol, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang selalu saya jawab dengan “yaa...gitu deh”. Saya bahkan sering dituduh gila. Tapi nggak sedikit juga orang-orang open minded yang mendukung perjalanan saya dan sering memberikan tips-tips traveling, dan tempat menarik di seluruh dunia untuk dikunjungi.

Kemarin, saat menumpang mobil mantan bos saya di Batam, tiba-tiba dia ngomong “Hidup kamu kayaknya enak banget ya?”. Nggak tau kenapa, saya merasa tergelitik. Hidup enak? Mungkin Bapak ini akan berubah pikiran kalau membaca pengakuan saya ini:

  • Sebagian besar waktu digunakan untuk berburu tiket murah. Bahkan, saya sering begadang demi promo nol rupiah yang sering digelar tengah malam. Namun sekeras apapun saya berusaha, nggak pernah tuh dapat yang nol rupiah. Sekalinya dapet yang murah, berangkatnya masih setahun lagi. Begitu mau berangkat, tiketnya di-cancel sama maskapainya dan saya terpaksa beli tiket baru yang harganya nggak jauh beda sama harga normal. Apes. Tapi inilah resiko tiket murah. Kapok kah saya? Nggak tuh.
  • Saya selalu pusing memikirkan alasan apa lagi yang harus dikemukakan untuk mendapatkan izin nggak masuk kerja. Saya tahu, kerja sama orang berarti harus taat pada semua peraturan dan nggak boleh izin seenaknya.  Semenyenangkan apapun perjalanannya, saya selalu dihantui ketakutan pulang dan dipecat. 
  • Sering dituduh banyak duit. Mereka mungkin nggak tahu saya sehari-harinya irit banget, belanja sendiri, masak sendiri, makan sendiri. Kalau ada tawaran dari tetangga, selalu diterima tanpa basa-basi. Ke-irit-an saya sampai-sampai udah mendekati tahap ‘pelit’. Demi apa? Demi jalan-jalan. 
    Mereka juga mungkin nggak tahu kalau saya sering tidur di bandara demi  irit ongkos menginap. Tahun ini aja udah 5 kali tidur di Changi Airport. Walaupun semua fasilitas lengkap, tetep aja tidur nggak tenang karena main kucing-kucingan sama petugas bandara. Lagi enak-enakan tidur bisa diusir karena nggak bisa menunjukkan boarding pass
    Mereka mungkin nggak tahu kalau selama traveling saya sering menahan perut yang keroncongan dan tenggorokan kering karena makanan harganya mahal-mahal. 
    Mereka mungkin nggak tahu kalau saya numpang di rumah penduduk, tidur di dipan kayu, atau paling mewah tidur di mixed dorm dengan banyak orang dalam satu kamar.

    Dipan tempat saya numpang tidur di Hanoi
  • Berjalan seharian puluhan kilometer dengan menggendong backpack seberat 7 kg itu sangat melelahkan. Bahkan, belakangan ini saya sering ngerasa bungkuk dan takut mengalami osteoporosis dini. Saya sudah membaca berbagai panduan packing light, tapi dalam prakteknya tetep aja membawa tas kegedean dan banyak barang yang sebenarnya nggak perlu dibawa. Saya sering merasa sebagai backpacker gagal karena nggak bisa packing.
  • Setiap pertengahan bulan, mimpi buruk datang: tagihan kartu kredit. Saya nggak gila belanja, tapi tagihan CC mencekik, 90%nya adalah tiket pesawat, ferry, dan akomodasi.
  • Oleh-oleh adalah momok yang menakutkan buat saya. Bukan karena pelit, tapi yahhh..masak kalian tega minta oleh-oleh dari budget traveler? Makan aja ngirit, tidur pun seadanya. Percayalah, kalo saya ada duit lebih, pasti bawa sesuatu buat orang-orang terdekat.
  • Saya kangen rumah, kangen orang tua, kangen kampung, kangen keluarga. Saya yakin, orangtua juga ngerasain hal yang sama. Lalu kenapa nggak pulang? Nggak tau. Itu juga yang sering jadi pertanyaan saya.
  • Saya takut naik pesawat, takut ketinggian, dan takut pada semua hal yang memicu adrenalin. Tiap pesawat take off, itulah saat-saat paling menegangkan dalam hidup saya. Dan saat paling indah adalah ketika pilot/pramugari mengumumkan pesawat akan mendarat beberapa saat lagi. Kencangkan sabuk pengaman, tegakkan sandaran kursi, bla..bla..bla.
  • Sejak masa sekolah, saya lemah sama yang namanya Geografi, atau ilmu bumi. Saya nggak tau ibukota Vietnam itu apa sebelum kesana. Saya nggak tau mata uang Thailand itu apa sebelum kesana. Saya nggak tau Hongkong, Macau, dan Shenzen itu masih bagian dari China sebelum merencanakan kesana. Saya selalu menyusun itinerary yang nggak efektif, harus bolak-balik utara-selatan-utara hanya karena nggak tahu letak kota-kota itu.
  • Walaupun bekerja dengan bos dan orang-orang dengan Bahasa Inggris, English saya tidak membaik sedikitpun. Setiap bertemu dengan orang-orang baru, saya selalu bingung mau berbasa-basi seperti apa. “Hello..how are you? I’m fine, Thank you. And you?”  Lalu setelah itu apa?
  • Saat melihat teman-teman saya udah punya rumah sendiri, mobil, nikah, punya anak, jujur saja saya sering galau. Saya sendiri? Gimana mau punya rumah kalau tiap punya duit dikit aja habis untuk jalan-jalan. Bahkan, kalau misalnya punya rumah, mungkin udah saya jual trus duitnya dipakai keliling dunia. Seperti yang dilakukan oleh Yasmin, teman Trinity Traveler. 
  • Lihatlah para traveler tangguh idola saya. Trinity, Claudia Kaunang, Rini Raharjanti. Juga beberapa orang terkenal di dunia travel writer lainnya: Mary Sasmiro, Sari Musdar, dan Agustinus,. Apa persamaan dari mereka semua? Ya, mereka cinta traveling, menulis, dan masih single di usia yang nggak muda lagi. Apakah saya juga akan seperti itu? Sepertinya hobi traveling dan jauh jodoh berbanding lurus.
Begitulah, traveling memang menyenangkan, tapi susah dijalani

Sunday, July 14, 2013

On Media: MyTrip Edisi 13

Cover Majalah MyTrip Edisi 13

Akhirnya perjalanan saya yang semula bertujuan mencari lelaki setengah Borneo hingga ke Vietnam berubah nge-blunder dan berakhir menjadi tulisan informatif di Majalah MyTrip Edisi 13. 

Di kolom kontributors, ada foto saya yang lagi senyum sumringah. Rasanya bangga banget.hehe.. 
Linda Bungasalu di Kolom Contributors
Lalu tulisan saya seperti apa? Pokoknya berisi tentang trip Hanoi yang murah meriah, lengkap dibahas sampai 4 halaman! Yuk intip dikit.. 
Tulisan ini berarti banyak buat saya, salah satunya adalah sebagai penanda keseriusan saya di dunia travel writing. Beli majalahnya ya teman-teman.. Semoga bermanfaat buat banyak orang, dan nantikan tulisan saya selanjutnya ;) 

Monday, July 1, 2013

Berdamai dengan Turbelensi

Hal paling menyebalkan no.2 dari traveling adalah naik pesawat. Betul? No.1 nya adalah packing. Ini menurut saya, lho. Kenapa naik pesawat menyebalkan? Yah, benar sekali. saya TAKUT KETINGGIAN. 

Tapi takut naik pesawat tidak menyurutkan langkah saya sedikitpun untuk pergi ke tempat baru, walaupun harus menahan pipis berjam-jam di pesawat atau jantung serasa mau copot tiap ada awan tebal yang mengakibatkan turbelence/turbelensi. 

Buat teman-teman yang punya ketakutan yang sama, saya ada sedikit tips nih:

  1. BERDOA. Ya, tidak ada obat penenang yang lebih manjur daripada doa. Saya ingat betul kata-kata temen saya: "naik pesawat itu seperti masuk peti mati. Lo nggak bisa ngapa-ngapain kalo ada apa-apa". Bener juga sih. 
  2. Kalo sudah berdoa dan masih takut, pikirkan tentang hal-hal seru yang akan dilakukan nanti kalo udah sampai. Ini saya alami saat penerbangan penuh guncangan dari Hanoi ke Saigon (kisahnya disini). Sepanjang jalan saya ngebayangin ketemu  calon suami temen, jalan-jalan di Saigon, mengunjungi Katedral, terus nikah disana. Idih, ngarep banget ya?
  3. Pikirkan tentang harga tiket yang mahal. Iya, kalo harga tiket pesawat yang saya naikin harganya selangit, pasti nyeselnya sampe nggak bisa lagi mikirin hal yang lain. 
  4. Pikirkan tentang pramugari. Iya, bayangin sudah berapa puluh ribu jam mereka berada di atas pesawat, dan mereka masih hidup, masih bisa tersenyum, dan masih cantik? 
  5. Berdiri, dan jalan ke toilet pesawat. Iya, benar. Ini baru saya alamin kemarin, dalam perjalanan Jakarta-Batam. Sepanjang perjalanan, lampu sabuk pengaman berkali-kali dihidupkan dan pesawatnya enjot-enjotan. Saya sampe nahan pipis saking takutnya. Akhirnya, karena nggak mau ngompol, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya melepas seat belt, berdiri, dan berjalan di dalam pesawat! Dan ternyata, getaran pesawat nggak kerasa kalo kita berjalan dalam pesawat. Serius. 
  6. Buka-buka majalah dalam pesawat. Siapa tau ketemu artikel yang menenangkan. Dalam satu perjalanan saya Makassar-Jogja, cuacanya buruk sekali. Di tengah ketakutan dan nggak bisa tidur, saya iseng-iseng buka majalah yang disediain airlines dan menemukan artikel yang judulnya sama dengan postingan ini. Berdamai dengan Turbelensi. Nggak tau kenapa, setelah membaca artikel itu, saya jadi ngerasa rileks. 
  7. Terbang lebih sering. Satu-satunya cara untuk mengatasi rasa takut adalah menghadapi rasa takut itu sendiri. 
Jadi, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa takut naik pesawat. Jangan jadikan ketakutanmu menjadi penghalang untuk melihat dunia lebih luas. ;)