Tuesday, June 18, 2013

Review Novel #catatankaki

Kali ini saya akan mencoba peruntungan dengan mengikuti Lomba Review Novel #catatankaki oleh @endikkoeswoyo dan @sarahkarind. Hadiahnya tiket honeymoon ke Paris. Ngimpi! Hadiahnya yang bener adalah 10 buah novel untuk 10 orang pemenang.

Oke, pertama-tama yang harus dilakukan untuk ikut lomba ini adalah membeli novelnya. Tapi saya, orang yang selalu beruntung, mendapatkan novel ini sebagai bingkisan dari Diva Press saat acara Just Write 2.

Awalnya, saat ngeliat cover-nya, saya langsung tertarik. Ceria, dan ada gambar landmark favorit saya: Eiffel, Big Ben, Burj Al Dubai, Patung Liberty, dan Big Budha. Pasti isinya tentang traveling. Tapi, begitu ngeliat ada tulisan ‘novel teenlit’, saya jadi ragu buku ini bakalan cocok buat saya yang tidak termasuk kategori ‘teen’ lagi.

Novel #catatankaki
Secara garis besar, novel ini bercerita tentang seorang jurnalis kere, Bumi Setiawan, yang jatuh cinta pada shopaholic sejati yang suka traveling ke luar negeri, Tania Soebagjo. Berawal dari foto-foto di Instagram dengan hestek #catatankaki berlanjut ke Twitter, Facebook, BBM, hingga pertemuan. Bak gayung bersambut, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dan mereka akhirnya bahagia.

Ceritanya menarik, karena bisa terjadi pada siapa saja, termasuk saya *ngarep. Tapi, kayaknya ada beberapa kejanggalan yang saya temuin di buku ini:

Di halaman 17 ada kalimat: "Who said money can't buy happiness? Yes, maybe it's true, but still, money can't buy me Furla, Stradifarius, Mango, and so on that can make me happy"
Kalimat diatas bener banget, tapi ada yang aneh. Stradifarius? Did you mean Stradivarius?

Halaman 64 ada kalimat: "Dia jauh lebih senior dari aku and he teaches me a lot with his own way" Hmmm… Karena ini lagi ceritain masa lalu, kayaknya lebih pas kalau dijadiin: ‘he taught me a lot with his own way’. CMIIW.

Ketika diceritakan bahwa Tania hobi jalan-jalan dan belanja barang-barang branded, jujur, saya bertanya-tanya seberapa besar penghasilannya. Penulis memberikan clue: gajinya sebesar dua digit. Saya langsung membayangkan 30-50 juta sebulan. Namun, penulis menyebutkan bahwa harga iphone adalah setengah gajinya. Let’s say iphone termahal saat ini adalah iphone 5, harganya 9juta. Berarti gajinya ‘hanya’ sekitar 18-20 juta.
Dengan gaya hidup seperti Tania, saya rasa 20 juta sebulan tidak akan cukup. Jadi, menurut saya, tidak perlu memberi gambaran barang-barang tersebut seperberapa gaji Tania. Biarkan pembaca bertanya-tanya.


Waaahhhh…saya berbakat ya, jadi editor? Heheheh..
Overall, saya suka sekali dengan buku ini. Walaupun diberi label ‘novel teenlit’, tetap saja cocok dibaca oleh perempuan yang sudah melewati masa ‘teen’ seperti saya.

Jadi, Mas Endik Koeswoyo, saya pantes nggak dapetin hadiah novel terbaru?

Monday, June 17, 2013

Host Couchsurfing Salah Fokus

source 
Sabtu pagi,  saya udah celingak-celinguk di ferry terminal Lagoi. Kali ini bukan mau berangkat ke Singapore, tapi mau jemput surfer pertama yang saya kenal dari Couchsurfing (CS). CS adalah situs para traveler seluruh dunia untuk saling mencari dan menawarkan tempat tinggal sementara. Bisa rumah, apartemen, kamar, tempat tidur, bahkan sofa. Yang menyediakan tempat disebut Host, yang numpang tidur disebut Surfer. Jadi, kali ini, saya menjadi host untuk seorang surfer.

Namanya Philippe Wenger, dari Swiss. Di email, dia nyebutin ciri-cirinya: kulit putih, gondrong (aduh!) tapi diikat rapi (syukurlah), dan kaos hitam. Ketika orang-orang mulai keluar dari pintu arrival, mata saya nggak berkedip nyariin sosok seperti yang dideskripsikan.

Itu dia! Bule, tinggi, ganteng, baju hitam *ngeces. Tapi setelah balik belakang, kok nggak gondrong ya? Oh, ternyata bukan. Nggak lama kemudian, muncullah bule kaos hitam. Gondrong, diikat rapi ekor kuda. Gotcha! Ternyata rambutnya nggak sepanjang yang saya bayangin. Cuman sebahu, rapi pula. Ganteng? iya.

Mungkin karena dia orangnya ramah dan supel, saya jadi cepat akrab dengan Phil. Bingung mau ajak dia kemana, karena di Bintan ini banyak sekali tempat-tempat menarik.

Pertama-tama, kami menuju  ke unit housing saya. Agak bingung juga, karena kamar ada 2, tapi yang satu, yang seharusnya kamar tamu, terkunci dan kuncinya entah dimana. Terus Phil tidur dimana? Ntar aja dipikirin. Yang penting sekarang makan dulu.

Setelah makan, kami menuju ke Lagoi Bay, mengunjungi lokasi proyek tempat kerja saya. Habis dari proyek, kami ke supermarket yang jaraknya 42 km dari Lagoi. Sepanjang jalan, Phil kegirangan joget-joget dengerin house music dangdut. Saya sih nggak masalah, tapi dia nanyain semua lagu liriknya cerita tentang apa. Kan saya keblenger jadinya. 

Untuk makan malam, Phil yang di profil CSnya mengaku suka masak, mencoba buat pasta. Ini pertama kalinya ada orang lain masak di dapur saya. Cowok pula. Bule pula. Lucu aja ngeliatnya. Orang masak, sambil minum bir. Dan hasilnya? Horrible! Pokoknya masakannya kacau parah. Tapi habis juga. Laper.

Makanan habis, kami nonton tv. Film horor  stasiun tv Singapore. Tapi sehoror-horornya film Singapore, produksi Indonesia jauhh lebih serem. Sambil nonton tv, Phil cerita banyak tentang perjalanannya di banyak negara, mulai dari Amerika Selatan hingga Asia. Saya juga diajarin cara misuh-misuh dengan berbagai bahasa: Jerman, Spanyol, Perancis. Phil, seperti kebanyakan orang Swiss lainnya, bisa 3 bahasa: Jerman, English, Spanyol. Ketiganya fasih. Salut!

Dan ketika tiba waktunya tidur, disinilah ke-salah-fokus-an saya sebagai host terjadi. Kami yang lagi nonton tv, rebutan tidur di sofa.

“I’ll sleep here” katanya

“No, I sleep here” kata saya nggak mau kalah

“But that’s your bed” sanggahnya sambil nunjuk ke arah kamar

“It’s for you. You’re my guest"

“We both sleep there?” tanya Phil. Waduh, ini pertanyaan yang menjebak. Pengennya sih bilang iya.

“NO!” jawab saya, sebelum berubah pikiran

“Ok, but i’ll open the door, so the aircond can blowing outside"

Oke. Jadilah malam itu, saya tidur di sofa bolong ruang tamu dan merelakan California King Bed dan selimut Spongebob itu jadi milik Phil semaleman. Bagaimana rasanya? Pegel.

Besoknya, pagi-pagi sekali saya udah bangun. Karena masih setengah ngantuk, saya ngejatohin panci di dapur. Anjing tetangga langsung melolong nyaring. Phil bangun dengan kolor doang dan buru-buru ke dapur.

“Are you OK?” tanyanya

“I’m OK” jawab saya sambil nelen ludah. Wow, tattoonya, perutnya, kakinya... *ngeces

Siangnya, kami main kayak (dayung perahu ke tengah lautan) di lepas pantai Nirwana Gardens. Saya, yang nggak bisa renang, biasanya takut kalo diajak ke laut. Tapi nggak tau kenapa, sama Phil kok ngerasa aman-aman aja ya? Cieeeeee...Linda..cieeeee...

Main kayak berjam-jam dilanjutkan dengan voli pantai. Oke, yang ini nggak usah diceritain. Kami berdua atlit yang parah. Setelah Phil ngerasa agak gosong (dan saya gosong banget), kami berdua pulang. Untuk makan siang, Phil menantang saya bikin nasi goreng. Nasi goreng? Keciiiillllll.. Saya kemudian  masak nasi goreng sambil ikut-ikutan minum bir, ditemani Phil. Hasilnya? Kalo dari skor 1-10, dia ngasih skor 3. Thank you!

Setelah makan dan ngobrol tentang segala hal, akhirnya kami harus berpisah. Saya mengantar Phil ke BBT ferry terminal, dan berpisah dengan pelukan hangat. Ini pengalaman saya yang pertama  menjadi host CS, dan ternyata sangat menyenangkan. Mudah-mudahan host dan surfers selanjutnya se-asyik Phil. Saya bangga sudah mengenalkan keindahan Indonesia ke Phil, yang seorang jurnalis. Semoga dia terkesan, dan kembali kesini lagi. Atau seenggaknya,menceritakan ke orang-orang yang dia temui di manapun bahwa Indonesia sangat indah.

Thursday, June 13, 2013

Belajar Menulis Hingga ke Lereng Merapi

I'm a lucky bastard!

Mungkin saya orang yang paling beruntung, setidaknya diantara 915 orang. Kok bisa? Jadi begini, saat ngeliat salah satu postingan seorang teman Fb tentang pelatihan menulis, saya langsung tertarik. Bukan karena 'menulis'nya,  tapi karena lokasi pelatihannya yang diadakan di Yogyakarta, ditambah dengan jalan-jalan ke Merapi. Yah, Yogyakarta selalu menyimpan kenangan manis, dan membuat saya selalu ingin pulang kesana.

Lalu, tanpa pikir panjang, saya men-copy salah satu postingan di blog ini, dan mengirimkannya sebagai sample tulisan. Satu bulan berlalu, tidak ada kabar. Dua bulan, saya tiba-tiba ditelepon panitianya yang menyatakan saya lolos. Bagaimana perasaan saya saat itu? Biasa aja. 'Sudah sepantasnya lolos, kan ini hanya pelatihan menulis biasa. Paling yang daftar nggak banyak', pikir saya waktu itu. 

Tapi, betapa kagetnya saya ketika tau yang daftar sebanyak 915 orang dari seluruh Indonesia, dan yang terpilih hanya 30 orang. Seumur hidup, saya keranjingan ikutan kuis, dan belum pernah menang sekalipun. Sekarang saya tau bagaimana rasanya.

Dan ketika sampai di lokasi pelatihan, saya makin kaget karena peserta yang datang bukanlah penulis baru. Hampir semuanya sudah memiliki buku yang diterbitkan. Teman sekamar saya, yang lebih muda 10 tahun, baru saja menerbitkan novel bergenre K-pop. Hebat! Ada juga pengarang buku Twitter is Money yang lagi hangat-hangatnya di pasaran. Hebat! Ada cerpenis yang karya-karyanya sudah dimuat di berbagai media, termasuk di Femina edisi bulan ini. Hebat! Pokoknya, semuanya bukan orang baru di dunia tulis-menulis. Sedangkan saya? Sampai sekarang saya bahkan lupa postingan mana yang ke-copy dan dikirimkan ke panitia waktu itu. Minder? Jelas. 

Panitia juga menghadirkan Tere Liye, novelis yang terkenal itu sebagai pengisi materi. Jujur, saya belum pernah membaca satupun buku Tere Liye. Bahkan, saya menyangka dia perempuan. 

Hari yang saya tunggu-tunggu pun tiba. Tour Merapi. Jam 4.30, semua peserta sudah bangun dan naik ke jeep yang sudah disediakan panitia. Kami melewati rumah-rumah penduduk yang habis dilalap wedhus gembel. Saya, yang sedang berada di Yogyakarta pada saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010, bisa membayangkan bagaimana mereka menyelamatkan diri dan ternak mereka meninggalkan rumah yang kini menjadi puing-puing.



Kemudian jeep berhenti di salah satu view point, yang pemandangannya sangat indah. Ada satu batu besar, mereka menyebutnya Batu Alien. Katanya, bentuk batunya seperti wajah manusia bercampur alien. Ahh..mereka harus ke Lagoi dan melihat Batu Alien sesungguhnya, yang ukurannya lebih besar dari rumah dua tingkat.

Di lereng Merapi ini, saya jatuh cinta dengan bunga Edelweis yang diberi pewarna. Sayang sekali, harganya terlalu mahal buat ukuran kantong saya. Saya hanya membeli yang paling murah, seikat edelweis tanpa warna dan belum mekar. Rasanya pengen nangis, ketika edelweis yang saya selipkan di ransel dan dibawa kemana-mana selama beberapa hari, hilang di Changi Airport.

Edelweis
Di perjalanan pulang, jeep kami tiba-tiba mengeluarkan api dari persenelingnya. Korsleting, mungkin. Keempat penumpangnya segera berhamburan, takut jeep meledak seperti di film-film. Tetapi semua bisa diatasi, dan kami kembali ke tempat pelatihan dengan selamat.

Jeep yang kebakar
Selama pelatihan, saya banyak belajar tentang tulis-menulis dari panitia yang merupakan editor-editor handal. Ada sedikit rasa malu ketika tidak bisa membedakan frase dan kalimat. Sesama peserta saling bertukar pengalaman menulis. Bagaimana mengirim naskah ke editor hingga bukunya diterbitkan. Semua yang saya dapatkan adalah pelajaran penting yang mungkin tidak ada di tempat lain.

Di akhir acara, semua peserta bergandeng tangan dan menyanyikan lagu 'Kemesraan'. Suasana mengharu biru. Sedih harus berpisah dengan sahabat-sahabat baru, tetapi saya bukan orang yang gampang menitikkan air mata. Jadinya, saya hanya bisa bengong menyaksikan mereka menangis sesenggukan. 

Sunday, June 9, 2013

Betapa Berartinya 5 Menit

Jika ada yang ingin tahu betapa berartinya 5 menit, tanyakanlah pada orang yang ketinggalan ferry karena telat check-in, hanya berselang 5 menit setelah gate ditutup. Dan orang itu adalah saya. 

Semuanya berawal dari  bangun kesiangan dengan SMS (sisa mabuk semalam)karena bar-hopping dengan teman-teman baru di Saigon (Baca kisahnya disini). Biasalah, sosialita. Penerbangan jam 1 siang, dan saya bangun jam 11. Baju-baju kotor masih berserakan, handuk masih bergelantungan di sisi bunkbed, isi locker berantakan, belum mandi pula. Saya pun grasak-grusuk merapikan semuanya dengan terburu-buru dan membuat gaduh seisi kamar. 

Rencana awalnya sih, saya mau ke bandara dengan bus no.152 lagi, karena udah tau rutenya. Tapi karena kesiangan, taxi adalah pilihan paling tepat. Taxi yang terpercaya di Saigon salah satunya adalah Mai Linh. Begitu sampai, saya segera check-in, yang untungnya masih dibuka. Ada satu hal yang saya nggak ngerti sampai saat ini, kenapa petugas imigrasi Vietnam selalu memberi stempel di lembar paling belakang paspor.

Stempel imigrasi Vietnam
Perjalanan 3 jam dari Saigon ke Singapore berjalan lancar dan tiba di Changi airport pada jam 16.00 waktu jam saya. Yang terlupakan adalah waktu di Singapore lebih cepat 1 jam. Jadilah saya berjalan gontai menuju imigrasi, kemudian ke stasiun MRT di Terminal 2 Changi Airport, dan kemudian naik bus ke Tanah Merah Ferry Terminal (TMFT).

Ketika sampai di Ferry Terminal, saya heran karena tempatnya sepi. Biasanya saat last ferry, tempat ini selalu ramai. Jam baru menunjukkan pukul... 7.45 PM waktu Singapore! Sialnya, gate ditutup jam 7.40 PM, hanya 5 menit sebelumnya. Saya mencoba memelas-melas kepada petugas, tetapi mereka tidak mengizinkan saya masuk karena ferry-nya memang sudah mau berangkat. Mungkin kasihan melihat tampang saya, salah seorang petugas tiketing, perempuan cantik bernama Sue (seperti di name-tag nya) menyuruh saya datang besok pagi dan mencarinya. Lemas, saya kembali ke Changi Airport, dan lagi-lagi menginap di kursinya yang keras. Jadi, dalam seminggu saya sudah 2x menginap disini.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saya sudah sampai di TMFT dan mencari Sue. Tapi sepertinya saya kepagian karena dia belum datang. Saya mencoba berbicara dengan petugas tiket yang lain, menjelaskan bahwa saya sudah datang semalam tetapi telat 5 menit. Tetapi si petugas dengan tegas menyuruh saya membeli tiket baru seharga 45 SGD. Saya makin lemas. Lalu Sue tiba-tiba muncul dan memberikan tiket baru dan saya hanya membayar 5 SGD. Thanks Sue! Entah bagaimana berterima kasih kepadanya. Entah bagaimana cara dia menyampaikan ke manager-nya sehingga diperbolehkan memberikan keringanan buat saya. Akhirnya, saya pulang ke Lagoi dengan ferry pertama di hari itu. Sampai sekarang, jika ke TMFT, saya selalu menyempatkan diri say hello pada Sue.

-- The End --

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengeluaran :
Taxi Pham Ngu Lao – Tan Son Naht Airport : VND 230.000
Tiket pesawat Saigon – Singapore : USD 90
Makan siang Burger King : VND 65.000
Makan Malam di Kopitiam : 8 SGD

Total Pengeluaran: Rp 1.115.000,00