Wednesday, May 15, 2013

Unplanned HCMC

12 Maret 2013

Setelah semaleman browsing tiket murah Hanoi-Singapore dan ternyata nggak ada, saya memutuskan berangkat ke airport pagi-pagi dan nyari langsung ke maskapainya. Yahhh...siapa tau lebih murah. 
Tapii... masalah pertama: saya belum pesan taxi. Masalah kedua: lapar, nggak bisa mikir. Persis di depan hotel ada penjual Banh Mi, yaitu roti baquette Vietnam. Roti khas Perancis ini sudah menjadi makanan sehari-hari orang Vietnam, mungkin karena mereka cukup lama dijajah Perancis. Tapi kita dijajah Belanda 350 tahun kok tetep makan  nasi ya, bukan roti-keju?

Banh Mi dan Ibu-ibu yang Jualan
Perut kenyang, saya mulai celingukan nyari taxi. Sebenernya pantang buat saya naik taxi selama traveling, tapi waktu itu lagi hujan deres dan saya nggak punya payung untuk jalan ke halte bus di sekitar Hoan Kiem Lake. Seperti membaca pikiran saya, tiba-tiba ada taxi berhenti persis di depan hotel. Oh ternyata dia mau jemput tamu yang menginap di hotel yang sama dengan saya. Melihat barang bawaan bapak-bapak (sepertinya orang Korea) ini, pasti mau ke bandara. Saya berankan diri minta tebengan, dan dikasih! Wow..hehehe...

Perjalanan dari Old Quarter ke Airport Noi Bai bisa ditempuh dalam 30 menit. Sepanjang jalan saya dan bapak-bapak Korea (iya, bener dari Korea) tadi dieeemmmm aja, bingung mau ngomong apa. Mau ngobrol, takut dikira sok akrab. Nggak ngobrol, kok kayaknya saya nggak tau terima kasih ya. Bingung. Tigapuluh menit yang awkward itu akhirnya berakhir juga, saya buru-buru turun dari taxi, dan berbasa-basi nawarin duit ke bapak Korea tadi. Dia menolak dan duitnya jatuh ke tangan supir taxi. Yeee..dobel dong bayaran dia *nggakrela.

Ah sudahlah, mungkin memang rejeki si supir taxi. Saya masuk ke hall bandara, nyari counter penjualan Tiger Airways yang biasanya paling murah untuk rute ke Singapore. Setelah muter-muter, naik-turun, nanya sana-sini, ternyata Tiger Airways nggak ada. Pilihan yang lain adalah Jetstar. Tiket Hanoi-Singapore hari itu USD170. Apahhhh!!??? Mikir Lin, mikir Lin, cepat! Karena kemahalan, saya pindah ke mbak-mbak Vietnam Airlines. Hanoi-Singapore USD210 *pingsan

Akhirnya saya kembali ke Jetstar, dengan berat hati mengeluarkan USD170. Ini akan jadi tiket pesawat termahal yang pernah saya beli. Rasanya mau nangis keluarin duit sebanyak itu. Eits, tunggu dulu!

Hanoi-Ho Chi Minh City berapa Mbak? 

USD110, berangkat 30 menit lagi. 

Oke, saya ambil yang Hanoi-HCMC, mbak. Buruan! 

Setelah tiket di tangan, saya buru-buru check-in dan berangkat. Kembali ke tujuan semula, yaitu ketemu Jangkung dan Kontet yang lagi di HCMC. Masih inget kan siapa mereka (baca disini). Traveling tanpa rencana emang kedengeran keren hanya kalo kamu banyak duit. Nggak lagi-lagi deh.

Tan Son Nhat International Airport (source)
Satu jam kemudian, saya sudah sampai di Tan Son Nhat International Airport, Saigon, di terminal domestik. Saya segera mengabari si Kontet, dan janji ketemuan di Dien Bien Funpark, tempatnya bekerja karena kehabisan duit selama traveling. Tapi sebelumnya, saya mau cari penginapan di Pham Ngu Lao, distrik para backpacker.

Ada dua pilihan menuju Pham Ngu Lao, yaitu menggunakan taxi atau bus nomer 152. Tentu saja saya lebih memilih naik bus. Tarif bus adalah VND 5000 per orang. Dikenakan tambahan VND 5000 lagi jika membawa koper atau tas besar. Jangan dibayangkan bus ini seperti Damri atau bus di Hanoi  ya, kondisinya malah kebih mirip Kopaja. Tanpa AC, agak reyot, dan sumpek karena penumpang desak-desakan.

Bus no.152 (source)
Selama perjalanan dari bandara ke Pham Ngu Lao, saya nanya ke orang-orang lokal dimana letak Dien Bien Funpark, dan nggak ada satu orang pun yang tau. Rute bus berakhir di terminal di depan Ben Tanh Market. Saya turun dan berjalan mencari Pham Ngu Lao yang tersohor itu. Ternyata jaraknya jauh banget. Lapar, panas, kaki pegel, ditambah gendong gembolan tujuh kilo, jangan ditanya lagi capeknya seperti apa. Di Pham Ngu Lao, saya mendatangi hotel dan hostel satu persatu yang kebanyakan sedang penuh. Akhirnya di hostel kesekian ada juga yang kosong. Koniko Backpacker Hostel, USD7 /night untuk dorm room. Kamar saya di lantai 4, dan nggak ada lift. Tapi capek dan pegel terbayar lunas setelah sampai ke kamar dan melihat kondisinya. Bunkbed putih bersih, lantai parkit, seprei putih, selimut merah, wallpaper bunga-bunga, dan tirai jendela merah. Cantik! Tapi kok kosong ya? Kemana penghuni yang lain?

Dorm Room di Koniko Backpacker Hostel
Saya sudah berusaha tidur, tapi kok sayang ya, tidur-tidur siang saat banyak tempat menarik menanti untuk dikunjungi? Dengan berbekal peta dari resepsionis hostel, saya berjalan-jalan ke beberapa obyek wisata. Di peta sih tempat-tempat wisata itu jaraknya deket, tapi kenyataannya jauh bangeteett.. Pasti nggak skalatis tuh peta. Saya harus jalan berkilo-kilo meter. Diperjalanan, tiba-tiba ada anak laki-laki jalan disebelah saya, dan mengajak ngobrol. Anak kuliahan, 19 tahun, orang Vietnam, dan lupa namanya. Tanpa diminta, dia mengantar saya ke Reunification Palace. Sayang sekali, saya datangnya kesorean dan tempat ini sudah tutup.

Reunification Palace

Reunification Palace yang juga dikenal dengan Independence Palace dulunya merupakan istana kepresidenan Vietnam Selatan sebelum Saigon jatuh di tangan Vietnam Utara. Di dalamnya terdapat berbagai artefak sejarah, baik yang asli maupun replika sejarah perang saudara antara Vietnam Utara dan Selatan.

Reunification Palace

Notre Dame Chatedral

Dari Reunification Palace ke Notre Dame yang jaraknya nggak lebih dari 500 meter, saya melewati taman yang dipenuhi pohon-pohon raksasa berdaun lebat. Tempat ini rame pengunjung pada sore hari. 

Taman Kota di Jalan Menuju Cathedral
Katedral ini merupakan bangunan megah yang dibangun oleh Perancis pada tahun 1863 - 1880. Ada dua menara lonceng dengan tinggi 58 meter dan patung Bunda Maria di depan Katedral. Pada tahun 2005,  patung ini dikabarkan mengeluarkan air mata, dan membuat orang berbondong-bondong datang kesana. 

Notre Dame Cathedral
Interior Katedral ini sangat mirip dengan katedral di Paris.  Saya belum pernah ke Paris sih, tapi setidaknya saya sudah kenyang mempelajari arsitektur beginian di bangku kuliah. 

Menurut informasi, awalnya seluruh material dari bangunan ini diimpor langsung dari Perancis. Namun setelah perang, banyak bagian bangunan yang rusak dan harus diganti dengan produk lokal, namun tidak mengurangi keindahannya. Katedral ini masih digunakan sampai sekarang dan waktu terbaik untuk mengunjunginya adalah saat misa yang dimulai setiap Hari Minggu pukul 09.30.

Kantor Pos Saigon

Hanya beberapa meter dari katedral, ada sebuah bangunan dengan tulisan Buu Dien yang artinya kantor pos. Kantor pos besar ini juga merupakan peninggalan Perancis. Didalamnya ramai dengan pengunjung, ada yang sedang mengirim kartu pos dan ada yang sekedar istirahat seperti saya.

Kantor Pos Saigon
Sebenarnya dari kantor pos ini saya bisa melanjutkan jalan kaki ke Reunification Museum dan War Remnant Museum, namun apa daya kaki udah nggak bisa kompromi. Saya memilih pulang dengan jalan kaki mengambil rute yang sedikit berbeda. Saya suka sekali dengan jalan-jalan di Saigon yang rapi dan tidak terlalu ramai. Pusat informasi untuk turis juga ada di beberapa titik kota.

Jalanan di Saigon
Di perjalanan kembali ke hostel, saya melewati satu taman yang ramai. Sekarang saya mengerti kenapa orang Vietnam langsing-langsing. Taman ini dilengkapi dengan alat-alat olahraga yang bisa dipakai oleh siapa saja. Tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk fitnes. 

Rahasia Kelangsingan Orang Vietnam
Di taman ini juga dipenuhi dengan orang-orang, tua-muda, lokal-bule. Ada yang bermain voli, latihan nyanyi, latihan gitar, lari sore, bengong, dan ada yang pacaran. Menyenangkan sekali berada disini. Saya duduk di salah satu bangku kosong, dan disebelah saya ada dua anak muda yang sedang latihan gitar. Tiba-tiba ada seorang bule yang lewat dan memperhatikan dua orang anak muda tadi. Si Bule meminjam salah satu gitar mereka, dan memainkan musik country sambil nyanyi. Seketika dari dua orang menjadi kerumunan kecil menonton konser tunggal si bule. Keren. 

Konser Tunggal Dadakan di Taman Kota
Hari sudah menjelang malam ketika saya memutuskan pulang ke hostel. Bagaimana kabarnya janjian ketemuan saya dengan Si Kontet? Sudahlah, mungkin hanya dia dan Tuhan yang tau Dien Bien Funpark itu dimana. 

-- to be continued --

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pengeluaran hari ini:
Sarapan Bahn Mi  : VND 10.000
Taxi hotel - Noi Bai Airport (tip untuk si supir taxi) : VND 20.000
Tiket Hanoi - Saigon : USD 110
Tan Son Nhat Airport - Ben Tanh Market : VND 5000
Hostel : USD 7
Makan Siang : VND 60.000
Total : VND 95.000 + USD 117 = Rp 1.199.950,- 

5 comments :

  1. Ditunggu lanjutannya nih mba, jadi dari HCMC balok ke jakarta pake maskapai apa dan berapa duit :D Insyallah April th depan mau kesana tapi belom punya tiket plg :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar yaa..
      Biasanya paling murah AirAsia untuk rute Jkt - HCMC pp. Tapi sayang, saya baliknya bukan ke Jakarta :(

      Delete
  2. Hahaha, jepret kutang orang ijin dulu donk *embrassed*

    ReplyDelete