Wednesday, May 29, 2013

Mengukur Kemampuan cas-cis-cus Bahasa Inggris



Seberapa penting Bahasa Ingris ketika traveling ke luar negeri? Sebagai orang yang hanya mengenyam pendidikan Bahasa Inggris di bangku SMP dan SMU tanpa kursus sehari pun, saya selalu yakin bahwa inti dari percakapan itu, apapun bahasanya, adalah saling mengerti. Termasuk Bahasa Inggris. Lupakan grammer. Lupakan tenses. Maksimalkan gerakan tangan, kaki, mimik wajah, body language. Selama ini sih lumayan berhasil. Saya bisa traveling dan berbaur dengan traveler dari berbagai negara dengan Bahasa Inggris level rendah saya.

Hingga suatu titik, saya harus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya demi ... (masih belum boleh dipublikasikan). Saya harus tes TOEFL. Nggak ada waktu untuk kursus, nggak ada persiapan ini-itu. Waktunya mepet banget. Sempat tergoda untuk menggunakan calo, karena tes ini bersifat online dan akan sangat mudah sekali dimanipulasi. Tapi jika itu saya lakukan, saya hanya akan membohongi diri sendiri.

Langkah pertama adalah mendaftarkan diri di www.ets.org. ETS adalah lembaga khusus yang mengeluarkan TOEFL. Lembaga ini memiliki perwakilan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Untuk saat ini hanya tersedia Internet Based Test (iBT) untuk indonesia, yaitu tes dengan menggunakan sistem online. Sistem tes ini terbagi empat bagian yaitu : Reading, Listening, Speaking, dan Writing dengan skor tertinggi setiap bagian adalah 30. Total skor tertinggi untuk tes TOEFL iBT adalah 120. Jadi jika sekarang ada yang ngaku-ngaku skor TOEFL-nya 450, 500, 600, bahkan 677, bisa dipastikan sertifikat TOEFLnya udah expired, atau tesnya bukan oleh ETS, dan kemungkinan besar nggak bisa dipakai di luar negeri.

Selanjutnya, memilih jadwal dan tempat mengikuti tes. Saya memilih Plaza Central Jakarta karena lokasi gedung ini sangat familiar buat saya. Setelah itu membayar biaya tes sejumlah USD 175. Mahal ya? Iyah. Setelah melakukan pembayaran, pihak ETS akan memberikan admission ticket yang harus dibawa pada saat tes.

Untuk persiapan singkat, saya men-download beberapa contoh soal di website ETS. Gratis. Contoh soal ini sangat membantu, lho..  Saya juga mulai membaca novel-novel bahasa Inggris (yang hanya selesai maksimal 1 bab) dan rajin menonton Channel News Asia. Gegara keseringan nonton tv negeri tetangga, saya akhirnya tergila-gila sama drama serial jadul di Chanel 8 Mediacorp, judulnya Tofu Street. Film tentang etnis chinese di Singapore sekitar tahun 50-an.

Dan tibalah hari tes itu, tanggal 11 Mei 2013. Saya sampai di ruangan tes jam 7.30 dan sudah banyak yang hadir, termasuk rombongan orang-orang Korea. Setelah registrasi ulang dan difoto, kemudian masuk ke ruang tes.  Satu ruangan isinya 25 orang, masing-masing dengan 1 komputer dan headset.

Tepat jam 8.00, tes dimulai dengan Reading. Soal sebanyak 40 nomer dan bacaan yang panjang-panjang harus diselesaikan dalam 1 jam. Boleh kurang, nggak boleh lebih. Tema bacaannya saya lupa apa aja, yang jelas ada tentang sejarah sampai astronomi. Iya, astronomi! Komet, bintang, dan bacaan tentang benda langit yang walaupun ditulis dalam Bahasa Indonesia, saya pasti nggak ngerti. Kejam! Kenapa bukan soal tentang konstruksi atau arsitektur?

Bagian kedua, Listening. Biasa lah ini, seperti ujian Bahasa Inggris di sekolah dulu. Ada percakapan, dibantu beberapa gambar di layar komputer disusul pertanyaan. Percakapannya nggak boleh diulang. Awalnya saya pikir ini agak lebih mudah karena temanya tentang kehidupan kampus. Namun makin lama percakapannya bertema biologi hingga sastra. Mumet!

Setelah selesai tes Listening, ada jeda 10 menit. Ketika saya baru menyelesaikan tes Listening, beberapa peserta sudah memulai tes Speaking dan membuat saya langsung drop. Kenapa? Karena mereka Bahasa Inggrisnya lancar-lancar banget! Waktu istirahat 10 menit habis, saya segera mulai tes Speaking. Speaking-nya ama siapa? Ya sama komputer lah. Itulah gunanya headsead dan microphone. Soal pertama, disuruh jelasin masa-masa paling berkesan di sekolah. Gampang. Soal kedua, ditanyain lebih senang membeli online atau langsung ke tokonya? Gampang. Soal ketiga, keempat, lima, enam, saya nggak ingat lagi tepatnya apa. Lagi-lagi soal berat, entah arkeologi atau apa. Waktunya 1 jam dan untuk setiap soal diberi waktu berpikir sebelum menjawab hanya 20 detik dan waktu menjawab setiap soal bervariasi, 20-60 detik.

Dan akhirnya tibalah soal terakhir, yaitu Writing. Soalnya hanya satu biji: kenapa orang lebih banyak membeli barang bukan karena butuh tetapi karena orang lain punya? Tapi jawabannya berupa essay dengan 300 kata dan diberi waktu 1 jam. Yaelah, pertanyaan yang bisa dijawab hanya dengan satu kalimat. Setelah mengarang bebas dan mengutak-atik kata-kata selama 1 jam, akhirnya saya menyerah di 255 kata. Kurang 45 kata, bingung mau tulis apa. Setelah 1 jam, soalnya menghilang diganti ucapan terima kasih dari ETS. Dengan hati plong, saya bersiap-siap keluar ruangan dan ternyataaa... peserta yang tadinya 25 orang di dalam ruangan tinggal saya seorang. hahaha.

Pengumuman hasil tes ini akan muncul di website ETS sebelas hari setelah tes. Hasilnya? Malu ah, pokoknya lolos lah untuk salah satu syarat ... (masih rahasia).


No comments :

Post a Comment