Sunday, May 26, 2013

Bar-hopping di Saigon

Hal yang paling menarik ketika tinggal di dormitory hostel adalah sesi perkenalan dengan teman-teman sekamar. Saya lebih suka tinggal di mix dorm ketimbang ladies dorm. Bukan karena kegatelan pengennya tidur sekamar dengan cowok-cowok, tapi karena sesama cewek kadang suka jaim, jadinya sulit membaur. Atau ini hanya perasaan saya aja ya? 

Di Koniko Backpacker Hostel  saya bertemu dengan teman-teman baru, sebut saja Si Arek Suroboyo, Si Swedia, Si Jerman 1 dan Si Jerman 2. Bersama-sama kami makan malam di Crazy Buffalo. Ya, bangunan merah dengan gambar banteng ini adalah landmark Pham Ngu Lao District. Isinya restoran dan bar. Sambil makan, teman-teman baru saya ngobrol satu sama lain, sedangkan saya lebih banyak diam, mendengarkan, dan masih jaim. Adjusting, kata mereka.hehe.. Baru jam 9 malam dan musik di tempat ini sudah menghentak-hentak. 


Crazy Buffalo Saigon (source)
Bosan di Crazy Buffalo, kami pindah ke pinggir jalan, berbaur dengan ratusan backpacker yang nongkrong di pedestrian, duduk di kursi plastik anak-anak sambil minum bir dan gin tonic. Pemandangan seperti ini sangat biasa di Pham Ngu Lao. Disini, saya mulai ikut obrolan, satu-dua kalimat.

Setelah di pinggir jalan, kami pindah ke salah satu rooftop bar sebuah hotel yang kebetulan kami lewati ketika jalan tak tentu arah, masih di Pham Ngu Lao. Si Arek Suroboyo nggak ikut karena lebih memilih pulang cepat dan tidur. Disini, saya sudah mulai cerewet, entah karena merasa nyaman atau karena pengaruh alkohol. Di belakang meja kami, duduk beberapa orang yang ternyata juga dari Swedia. Basa-basi sebentar, mereka pamit mau ke Apocalypse. Tempat apakah itu? Dan kami, empat orang kepo ini memutuskan mencari taxi dan menuju ke tempat itu.

Nggak sampai setengah jam perjalanan, sampailah kami di depan Apocalypse, yang ternyata sebuah night club, dan masuk tanpa pikir panjang. Tempatnya nggak terlalu gede, tapi rame. Kebanyakan pengunjungnya bule tua dengan cewek-cewek Asia yang masih kinyis-kinyis. Sejauh mata memandang, yang paling keceh hanya ketiga teman baru saya ini. Serius. Buktinya, ada beberapa cewek lokal yang terang-terangan dance erotis didepan mereka, tapi ketiga pemuda ini malah melipir menjauh dan ngekek satu sama lain. Normal kah mereka bertiga? Tapi bukan cewek lokal aja, ada juga satu cewek bule yang menari seperti pole dancer profesional, yang akhirnya menarik perhatian mereka bertiga. Thanks God, mereka ternyata normal.  Tiba-tiba musik berhenti, yang artinya jam operasional Apocalypse sudah berakhir.

Kecewa, kami keluar dari Apocalypse, dan bertemu Si Pole Dancer tadi bersama kedua temannya. Mungkin karena tau ketiga pemuda ini memperhatikannya, Si Pole Dancer dan kawan-kawannya mendekat dan mengajak kami ke Lush, night club lainnya yang katanya buka sampai jam 7 pagi. Oke, kami bertujuh segera masuk ke taxi dan berangkat. Di dalam taxi, barulah kami saling memperkenalkan diri. 2 cewek dan 1 cowok yang baru bergabung itu dari Rusia. Oiya, taxi disini kebanyakan bentuknya sejenis Innova, jadi jangan heran jika daya angkutnya bisa sampai 7 orang, walaupun umpek-umpekan karena cewek rusia ini kakinya panjang-panjang. 

Akhirnya, taxi-antar-bangsa yang mengangkut 7 orang dari berbagai negara ini berhenti di depan Lush. Dari luar, bangunan ini sepertinya lebih bagus dari Apocalypse. Dan benar saja, setelah masuk, interiornya yang didominasi warna ungu sangat modern. Saya sangat merekomendasikan Lush buat para party-holic-traveler yang kebetulan sedang di Saigon. 

Interior Lush Saigon (source)
Interior Lush (source)
Belum sejam, lagi-lagi musik berhenti karena jam operasional selesai. Baru jam 3.30, ternyata kami dikibulin Si Rusia. Bah! Mungkin karena merasa bersalah, Si Rusia mengajak kami ke hotel tempat mereka tinggal untuk melanjutkan party. Dengan polosnya, kami berempat ikut aja dengan taxi dan berhenti di depan sebuah hotel mewah. Setelah ngobrol di depan hotel hampir setengah jam dan nggak ada tanda-tanda dipersilahkan masuk, kami berempat memutuskan kembali ke hostel kami yang sederhana. Di dalam taxi, kami nggak berhenti mengutuki gerombolan Rusia yang nggak bertanggung jawab itu dan sampai ke kesimpulan bahwa mereka hanya mau pamer tinggal di hotel mewah.

Akhirnya kembali ke Koniko Backpacker Hostel, saya naik ke kamar, sedangkan ketiga pamuda itu ke minimarket, nyari bir. Setelah perjuangan berat setengah sempoyongan menaiki tangga hingga ke lantai 4, sampai juga ke kamar, dan saya langsung tidur dengan tenang. Good Night, eh, Good Morning. Oiya, flight saya kembali ke Singapore 8 jam lagi. Sanggupkah saya bangun, kumpulin nyawa, dan packing dalam waktu sesingkat itu?



-- to be continued --

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Note :

  • Foto-foto saya ambil dari berbagai sumber karena saya nggak bawa kamera untuk jalan-jalan malam waktu itu
  • Nggak ada breakdown harga, karena saya sendiri lupa,hehe.. 

4 comments :

  1. Replies
    1. wow..kehormatan nih bocahpetualang mampir di blog saya.. Thanks :)

      Delete
  2. Wah asyik. Sayang ga ada foto teman-teman barunya ini ya. Hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, itu juga yang saya sesalkan sampe sekarang T.T

      Delete