Friday, May 31, 2013

Join My Trip: Philippines - Hongkong - Macau - Shenzen


Kali ini saya mau mengajak teman-teman sekalian menjadi bagian dari blog ini dengan ikut jalan-jalan bersama saya. Waktunya pas, bertepatan dengan cuti bersama untuk perayaan Idul Fitri. Biayanya juga murah banget dibandingkan dengan paket tour dari travel agen.

Budget : Rp 5.500.000

Waktu Trip

3 - 13 Agustus 2013 / 11D10N

Destinasi

FILIPINA : Clark, Laoag, Pagudpud, Manila
HONGKONG
MACAU
SHENZEN

ITINERARIES

3 Aug 2013


  • Berkumpul di Clark Internasional Airport, Filipina
  • Perjalanan dari Clark ke Laoag dengan bus Partas (AC). Perjalanan 8 jam, diperkirakan tiba di Laoag malam hari.
  • Tiba di Laoag, Check in di Pichay Lodge (AC, wi-fi, kamar mandi dengan air panas & shower)

4 Aug 2013

  • Perjalanan dari Laoag ke Pagudpud dengan Jeepney. Lama perjalanan 1 jam.
  • Tour Pagudpud (Patapat Viaduct, Blue Lagoon, Saud Beach, Bangui Windmills)
  • Tour Pagudpud (Kapurpurawan Beach, Bojedor Lighthouse)
  • Kembali ke Laoag dengan Jeepney 

5 Aug 2013

  • Tour Laoag (Suba Sand Dunnes, St. Augustine church, Sinking Bell Tower)
  • Perjalanan Laoag - Manila (dengan Philippines Airlines, perjalanan 1 jam)
  • Tiba di Manila, check di Where 2 Next Hostels (AC, wi-fi, breakfast, air panas, shower)

6 Aug 2013

  • Menuju ke Manila Bay untuk menyeberang ke Corregidor Island
  • Seharian di Corregidor Island, acara bebas hingga sore hari kembali ke Manila Bay.
  • Kembali ke hostel, acara bebas.

7 Aug 2013

  • Sightseeing di Intramuros, Rizal Park, belanja oleh-oleh. 
  • Perjalanan Manila - Hongkong 2 jam dengan Cebu Pacific 
  • Sampai di Hongkong International Airport, menuju ke Tsim Tsa Sui dengan MTR, check in di Mirador Mansion (AC, wi-fi, shower, air panas)

8 Aug 2013

  • Menuju ke Giant Budha dengan MTR, Ngong Ping 360
  • Ladies Market
  • Avenue of the Stars
  • Victoria Peak

9 Aug 2013

  • Check Out, menuju ke Shenzen dengan MTR
  • Check in di hotel (fasilitas AC, wi-fi, twin bed, shower, air panas)
  • Window of The World
  • Jalan-jalan di Lou Hu Mall (bagi pecinta shoping, ini tempat belanja grosir dan retail. Tunggu apa lagi?)
  • Ongmen Shoping Street 

10 Aug 2013

  • China Folks Cultural Village
  • Menyeberang dari Shenzen ke Macau dengan Ferry
  • A Ma Temple, Ruins of Saint Paul
  • Check in di New Nan Pan Hotel (AC, wi-fi, shower, air panas)
  • Acara bebas (bisa diisi dengan keluar-masuk kasino di Macau)

11 Aug 2013

  • Macau Tower
  • Jam 12:00 kembali ke hotel untuk check out dan menuju ferry terminal untuk menyeberang ke Hongkong. 
  • Check In di Mirador Mansion, acara bebas

12 Aug 2013 

  • Hongkong Disneyland Theme Park, seharian bermain sampai puas
  • Sore hari kembali ke hotel, acara bebas.

13 Aug 2013

  • Check out, menuju ke Hogkong Internasional Airport untuk kembali ke Indonesia. 


PAKET TERMASUK

  • Akomodasi di budget hotel selama 10 malam
  • paket tour dengan pemandu lokal di Pagudpud
  • Transportasi lokal (bus, jeepney, ferry)
  • Makan siang dan Makan malam
  • Tiket masuk Hongkong Disneyland, Window of The World, Giant Budha, NgongPing 360
  • Foto Dokumentasi Trip (Harap masing-masing peserta membawa flashdisk)

TIDAK TERMASUK

  • Tiket pesawat 
  • Airport tax
  • Keperluan pribadi
  • Kartu Octopus untuk MTR di Hongkong.
  • Visa on Arrival Shenzen senilai 168 RNB (Rp 270.000,-)
  • Tiket masuk dan aktivitas di Macau Tower

KETENTUAN
  • Yang mau daftar segera hubungi nomor digambar ya.. Pendaftaran dibuka sampai 25 Juli 2013.
  • Untuk memastikan ikut, setiap peserta harus membayar DP 50% 
  • Kuota minimum adalah 3 orang, maksimum 6 orang. Jika jumlah peserta tidak memenuhi kuota hingga hari keberangkatan, DP akan dikembalikan full ke masing-masing peserta.
  • Untuk tiket pesawat, saya bisa membantu mencari yang termurah. 
  • Jika terjadi pembatalan trip karena keadaan darurat (bencana alam, sakit, dll, semua DP akan dikembalikan. 

Wednesday, May 29, 2013

Mengukur Kemampuan cas-cis-cus Bahasa Inggris



Seberapa penting Bahasa Ingris ketika traveling ke luar negeri? Sebagai orang yang hanya mengenyam pendidikan Bahasa Inggris di bangku SMP dan SMU tanpa kursus sehari pun, saya selalu yakin bahwa inti dari percakapan itu, apapun bahasanya, adalah saling mengerti. Termasuk Bahasa Inggris. Lupakan grammer. Lupakan tenses. Maksimalkan gerakan tangan, kaki, mimik wajah, body language. Selama ini sih lumayan berhasil. Saya bisa traveling dan berbaur dengan traveler dari berbagai negara dengan Bahasa Inggris level rendah saya.

Hingga suatu titik, saya harus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya demi ... (masih belum boleh dipublikasikan). Saya harus tes TOEFL. Nggak ada waktu untuk kursus, nggak ada persiapan ini-itu. Waktunya mepet banget. Sempat tergoda untuk menggunakan calo, karena tes ini bersifat online dan akan sangat mudah sekali dimanipulasi. Tapi jika itu saya lakukan, saya hanya akan membohongi diri sendiri.

Langkah pertama adalah mendaftarkan diri di www.ets.org. ETS adalah lembaga khusus yang mengeluarkan TOEFL. Lembaga ini memiliki perwakilan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Untuk saat ini hanya tersedia Internet Based Test (iBT) untuk indonesia, yaitu tes dengan menggunakan sistem online. Sistem tes ini terbagi empat bagian yaitu : Reading, Listening, Speaking, dan Writing dengan skor tertinggi setiap bagian adalah 30. Total skor tertinggi untuk tes TOEFL iBT adalah 120. Jadi jika sekarang ada yang ngaku-ngaku skor TOEFL-nya 450, 500, 600, bahkan 677, bisa dipastikan sertifikat TOEFLnya udah expired, atau tesnya bukan oleh ETS, dan kemungkinan besar nggak bisa dipakai di luar negeri.

Selanjutnya, memilih jadwal dan tempat mengikuti tes. Saya memilih Plaza Central Jakarta karena lokasi gedung ini sangat familiar buat saya. Setelah itu membayar biaya tes sejumlah USD 175. Mahal ya? Iyah. Setelah melakukan pembayaran, pihak ETS akan memberikan admission ticket yang harus dibawa pada saat tes.

Untuk persiapan singkat, saya men-download beberapa contoh soal di website ETS. Gratis. Contoh soal ini sangat membantu, lho..  Saya juga mulai membaca novel-novel bahasa Inggris (yang hanya selesai maksimal 1 bab) dan rajin menonton Channel News Asia. Gegara keseringan nonton tv negeri tetangga, saya akhirnya tergila-gila sama drama serial jadul di Chanel 8 Mediacorp, judulnya Tofu Street. Film tentang etnis chinese di Singapore sekitar tahun 50-an.

Dan tibalah hari tes itu, tanggal 11 Mei 2013. Saya sampai di ruangan tes jam 7.30 dan sudah banyak yang hadir, termasuk rombongan orang-orang Korea. Setelah registrasi ulang dan difoto, kemudian masuk ke ruang tes.  Satu ruangan isinya 25 orang, masing-masing dengan 1 komputer dan headset.

Tepat jam 8.00, tes dimulai dengan Reading. Soal sebanyak 40 nomer dan bacaan yang panjang-panjang harus diselesaikan dalam 1 jam. Boleh kurang, nggak boleh lebih. Tema bacaannya saya lupa apa aja, yang jelas ada tentang sejarah sampai astronomi. Iya, astronomi! Komet, bintang, dan bacaan tentang benda langit yang walaupun ditulis dalam Bahasa Indonesia, saya pasti nggak ngerti. Kejam! Kenapa bukan soal tentang konstruksi atau arsitektur?

Bagian kedua, Listening. Biasa lah ini, seperti ujian Bahasa Inggris di sekolah dulu. Ada percakapan, dibantu beberapa gambar di layar komputer disusul pertanyaan. Percakapannya nggak boleh diulang. Awalnya saya pikir ini agak lebih mudah karena temanya tentang kehidupan kampus. Namun makin lama percakapannya bertema biologi hingga sastra. Mumet!

Setelah selesai tes Listening, ada jeda 10 menit. Ketika saya baru menyelesaikan tes Listening, beberapa peserta sudah memulai tes Speaking dan membuat saya langsung drop. Kenapa? Karena mereka Bahasa Inggrisnya lancar-lancar banget! Waktu istirahat 10 menit habis, saya segera mulai tes Speaking. Speaking-nya ama siapa? Ya sama komputer lah. Itulah gunanya headsead dan microphone. Soal pertama, disuruh jelasin masa-masa paling berkesan di sekolah. Gampang. Soal kedua, ditanyain lebih senang membeli online atau langsung ke tokonya? Gampang. Soal ketiga, keempat, lima, enam, saya nggak ingat lagi tepatnya apa. Lagi-lagi soal berat, entah arkeologi atau apa. Waktunya 1 jam dan untuk setiap soal diberi waktu berpikir sebelum menjawab hanya 20 detik dan waktu menjawab setiap soal bervariasi, 20-60 detik.

Dan akhirnya tibalah soal terakhir, yaitu Writing. Soalnya hanya satu biji: kenapa orang lebih banyak membeli barang bukan karena butuh tetapi karena orang lain punya? Tapi jawabannya berupa essay dengan 300 kata dan diberi waktu 1 jam. Yaelah, pertanyaan yang bisa dijawab hanya dengan satu kalimat. Setelah mengarang bebas dan mengutak-atik kata-kata selama 1 jam, akhirnya saya menyerah di 255 kata. Kurang 45 kata, bingung mau tulis apa. Setelah 1 jam, soalnya menghilang diganti ucapan terima kasih dari ETS. Dengan hati plong, saya bersiap-siap keluar ruangan dan ternyataaa... peserta yang tadinya 25 orang di dalam ruangan tinggal saya seorang. hahaha.

Pengumuman hasil tes ini akan muncul di website ETS sebelas hari setelah tes. Hasilnya? Malu ah, pokoknya lolos lah untuk salah satu syarat ... (masih rahasia).


Sunday, May 26, 2013

Bar-hopping di Saigon

Hal yang paling menarik ketika tinggal di dormitory hostel adalah sesi perkenalan dengan teman-teman sekamar. Saya lebih suka tinggal di mix dorm ketimbang ladies dorm. Bukan karena kegatelan pengennya tidur sekamar dengan cowok-cowok, tapi karena sesama cewek kadang suka jaim, jadinya sulit membaur. Atau ini hanya perasaan saya aja ya? 

Di Koniko Backpacker Hostel  saya bertemu dengan teman-teman baru, sebut saja Si Arek Suroboyo, Si Swedia, Si Jerman 1 dan Si Jerman 2. Bersama-sama kami makan malam di Crazy Buffalo. Ya, bangunan merah dengan gambar banteng ini adalah landmark Pham Ngu Lao District. Isinya restoran dan bar. Sambil makan, teman-teman baru saya ngobrol satu sama lain, sedangkan saya lebih banyak diam, mendengarkan, dan masih jaim. Adjusting, kata mereka.hehe.. Baru jam 9 malam dan musik di tempat ini sudah menghentak-hentak. 


Crazy Buffalo Saigon (source)
Bosan di Crazy Buffalo, kami pindah ke pinggir jalan, berbaur dengan ratusan backpacker yang nongkrong di pedestrian, duduk di kursi plastik anak-anak sambil minum bir dan gin tonic. Pemandangan seperti ini sangat biasa di Pham Ngu Lao. Disini, saya mulai ikut obrolan, satu-dua kalimat.

Setelah di pinggir jalan, kami pindah ke salah satu rooftop bar sebuah hotel yang kebetulan kami lewati ketika jalan tak tentu arah, masih di Pham Ngu Lao. Si Arek Suroboyo nggak ikut karena lebih memilih pulang cepat dan tidur. Disini, saya sudah mulai cerewet, entah karena merasa nyaman atau karena pengaruh alkohol. Di belakang meja kami, duduk beberapa orang yang ternyata juga dari Swedia. Basa-basi sebentar, mereka pamit mau ke Apocalypse. Tempat apakah itu? Dan kami, empat orang kepo ini memutuskan mencari taxi dan menuju ke tempat itu.

Nggak sampai setengah jam perjalanan, sampailah kami di depan Apocalypse, yang ternyata sebuah night club, dan masuk tanpa pikir panjang. Tempatnya nggak terlalu gede, tapi rame. Kebanyakan pengunjungnya bule tua dengan cewek-cewek Asia yang masih kinyis-kinyis. Sejauh mata memandang, yang paling keceh hanya ketiga teman baru saya ini. Serius. Buktinya, ada beberapa cewek lokal yang terang-terangan dance erotis didepan mereka, tapi ketiga pemuda ini malah melipir menjauh dan ngekek satu sama lain. Normal kah mereka bertiga? Tapi bukan cewek lokal aja, ada juga satu cewek bule yang menari seperti pole dancer profesional, yang akhirnya menarik perhatian mereka bertiga. Thanks God, mereka ternyata normal.  Tiba-tiba musik berhenti, yang artinya jam operasional Apocalypse sudah berakhir.

Kecewa, kami keluar dari Apocalypse, dan bertemu Si Pole Dancer tadi bersama kedua temannya. Mungkin karena tau ketiga pemuda ini memperhatikannya, Si Pole Dancer dan kawan-kawannya mendekat dan mengajak kami ke Lush, night club lainnya yang katanya buka sampai jam 7 pagi. Oke, kami bertujuh segera masuk ke taxi dan berangkat. Di dalam taxi, barulah kami saling memperkenalkan diri. 2 cewek dan 1 cowok yang baru bergabung itu dari Rusia. Oiya, taxi disini kebanyakan bentuknya sejenis Innova, jadi jangan heran jika daya angkutnya bisa sampai 7 orang, walaupun umpek-umpekan karena cewek rusia ini kakinya panjang-panjang. 

Akhirnya, taxi-antar-bangsa yang mengangkut 7 orang dari berbagai negara ini berhenti di depan Lush. Dari luar, bangunan ini sepertinya lebih bagus dari Apocalypse. Dan benar saja, setelah masuk, interiornya yang didominasi warna ungu sangat modern. Saya sangat merekomendasikan Lush buat para party-holic-traveler yang kebetulan sedang di Saigon. 

Interior Lush Saigon (source)
Interior Lush (source)
Belum sejam, lagi-lagi musik berhenti karena jam operasional selesai. Baru jam 3.30, ternyata kami dikibulin Si Rusia. Bah! Mungkin karena merasa bersalah, Si Rusia mengajak kami ke hotel tempat mereka tinggal untuk melanjutkan party. Dengan polosnya, kami berempat ikut aja dengan taxi dan berhenti di depan sebuah hotel mewah. Setelah ngobrol di depan hotel hampir setengah jam dan nggak ada tanda-tanda dipersilahkan masuk, kami berempat memutuskan kembali ke hostel kami yang sederhana. Di dalam taxi, kami nggak berhenti mengutuki gerombolan Rusia yang nggak bertanggung jawab itu dan sampai ke kesimpulan bahwa mereka hanya mau pamer tinggal di hotel mewah.

Akhirnya kembali ke Koniko Backpacker Hostel, saya naik ke kamar, sedangkan ketiga pamuda itu ke minimarket, nyari bir. Setelah perjuangan berat setengah sempoyongan menaiki tangga hingga ke lantai 4, sampai juga ke kamar, dan saya langsung tidur dengan tenang. Good Night, eh, Good Morning. Oiya, flight saya kembali ke Singapore 8 jam lagi. Sanggupkah saya bangun, kumpulin nyawa, dan packing dalam waktu sesingkat itu?



-- to be continued --

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Note :

  • Foto-foto saya ambil dari berbagai sumber karena saya nggak bawa kamera untuk jalan-jalan malam waktu itu
  • Nggak ada breakdown harga, karena saya sendiri lupa,hehe.. 

Sunday, May 19, 2013

Anak-anak Lucu di Bintan Triathlon 2013

Saya termasuk beruntung tinggal di Lagoi dimana setiap tahun ada berbagai event berskala internasional diadakan. Salah satu yang paling terkenal adalah Bintan Triathlon. Bintan Triathlon adalah acara olahraga yang diorganisasi oleh Tribob, sebuah perusahaan manajemen olahraga di Singapore yang terdiri dari rangkaian olahraga renang, bersepeda, dan lari. Pulau Bintan memang sangat pas untuk wisata olahraga karena memiliki kontur yang rata dan bergelombang dikombinasikan dengan alam hijau dan pantainya yang cantik.

Para Peserta Bintan Triathlon 2013
Bintan Triathlon 2013 ini merupakan yang ke-9 kalinya diadakan di Nirwana Gardens, Lagoi. Di acara pertandingan olahraga ini, ketahanan fisik para atlit benar-benar diuji karena harus menyelesaikan 3 cabang olahraga non-stop. Dua hari sebelum hari-H, para paserta mulai berdatangan dan membuat hotel-hotel di sekitar Bintan Resort penuh. Bagaimana tidak penuh, peserta yang ikut acara ini sebanyak 1500 orang dari berbagai negara dan sebagian besar membawa keluarga mereka. Oiya, Anindya Bakrie, anak dari Abu Rizal Bakrie juga ikut pertandingan ini lho..


Yang menarik perhatian saya disini bukan atlit-atlitnya yang sixpack dan ganteng-ganteng, bukan bokong sampai betis mereka yang kenceng (errr... *ngeces), bukan pula sepeda carbon mereka yang mahalnya ngalah-ngalahin harga mobil, tapi anak-anak kecil yang lucu luar biasa. Saat papa/mama atlit mereka menjalankan pertandingan dan menguras keringat, mereka asik bermain di Kids Club. Ada yang mandi di kolam busa, ada yang mukanya dilukis, dan ada yang rebutan lego dengan anak-anak lain.

Niatnya sih mau buat Autobot
Seperti iklan detergen ya?
Ahhhh... so cute
Saat orangtua mereka hampir mencapai garis finish, anak-anak kecil ini dengan girangnya ikut berlari hingga menyentuh garis finish. Suatu kebanggaan tersendiri bagi para orangtua menyelesaikan rangkaian pertandingan Triathlon ini bersama anak-anak tercinta.

Bahagianya punya Papa atlit

Wednesday, May 15, 2013

Unplanned HCMC

12 Maret 2013

Setelah semaleman browsing tiket murah Hanoi-Singapore dan ternyata nggak ada, saya memutuskan berangkat ke airport pagi-pagi dan nyari langsung ke maskapainya. Yahhh...siapa tau lebih murah. 
Tapii... masalah pertama: saya belum pesan taxi. Masalah kedua: lapar, nggak bisa mikir. Persis di depan hotel ada penjual Banh Mi, yaitu roti baquette Vietnam. Roti khas Perancis ini sudah menjadi makanan sehari-hari orang Vietnam, mungkin karena mereka cukup lama dijajah Perancis. Tapi kita dijajah Belanda 350 tahun kok tetep makan  nasi ya, bukan roti-keju?

Banh Mi dan Ibu-ibu yang Jualan
Perut kenyang, saya mulai celingukan nyari taxi. Sebenernya pantang buat saya naik taxi selama traveling, tapi waktu itu lagi hujan deres dan saya nggak punya payung untuk jalan ke halte bus di sekitar Hoan Kiem Lake. Seperti membaca pikiran saya, tiba-tiba ada taxi berhenti persis di depan hotel. Oh ternyata dia mau jemput tamu yang menginap di hotel yang sama dengan saya. Melihat barang bawaan bapak-bapak (sepertinya orang Korea) ini, pasti mau ke bandara. Saya berankan diri minta tebengan, dan dikasih! Wow..hehehe...

Perjalanan dari Old Quarter ke Airport Noi Bai bisa ditempuh dalam 30 menit. Sepanjang jalan saya dan bapak-bapak Korea (iya, bener dari Korea) tadi dieeemmmm aja, bingung mau ngomong apa. Mau ngobrol, takut dikira sok akrab. Nggak ngobrol, kok kayaknya saya nggak tau terima kasih ya. Bingung. Tigapuluh menit yang awkward itu akhirnya berakhir juga, saya buru-buru turun dari taxi, dan berbasa-basi nawarin duit ke bapak Korea tadi. Dia menolak dan duitnya jatuh ke tangan supir taxi. Yeee..dobel dong bayaran dia *nggakrela.

Ah sudahlah, mungkin memang rejeki si supir taxi. Saya masuk ke hall bandara, nyari counter penjualan Tiger Airways yang biasanya paling murah untuk rute ke Singapore. Setelah muter-muter, naik-turun, nanya sana-sini, ternyata Tiger Airways nggak ada. Pilihan yang lain adalah Jetstar. Tiket Hanoi-Singapore hari itu USD170. Apahhhh!!??? Mikir Lin, mikir Lin, cepat! Karena kemahalan, saya pindah ke mbak-mbak Vietnam Airlines. Hanoi-Singapore USD210 *pingsan

Akhirnya saya kembali ke Jetstar, dengan berat hati mengeluarkan USD170. Ini akan jadi tiket pesawat termahal yang pernah saya beli. Rasanya mau nangis keluarin duit sebanyak itu. Eits, tunggu dulu!

Hanoi-Ho Chi Minh City berapa Mbak? 

USD110, berangkat 30 menit lagi. 

Oke, saya ambil yang Hanoi-HCMC, mbak. Buruan! 

Setelah tiket di tangan, saya buru-buru check-in dan berangkat. Kembali ke tujuan semula, yaitu ketemu Jangkung dan Kontet yang lagi di HCMC. Masih inget kan siapa mereka (baca disini). Traveling tanpa rencana emang kedengeran keren hanya kalo kamu banyak duit. Nggak lagi-lagi deh.

Tan Son Nhat International Airport (source)
Satu jam kemudian, saya sudah sampai di Tan Son Nhat International Airport, Saigon, di terminal domestik. Saya segera mengabari si Kontet, dan janji ketemuan di Dien Bien Funpark, tempatnya bekerja karena kehabisan duit selama traveling. Tapi sebelumnya, saya mau cari penginapan di Pham Ngu Lao, distrik para backpacker.

Ada dua pilihan menuju Pham Ngu Lao, yaitu menggunakan taxi atau bus nomer 152. Tentu saja saya lebih memilih naik bus. Tarif bus adalah VND 5000 per orang. Dikenakan tambahan VND 5000 lagi jika membawa koper atau tas besar. Jangan dibayangkan bus ini seperti Damri atau bus di Hanoi  ya, kondisinya malah kebih mirip Kopaja. Tanpa AC, agak reyot, dan sumpek karena penumpang desak-desakan.

Bus no.152 (source)
Selama perjalanan dari bandara ke Pham Ngu Lao, saya nanya ke orang-orang lokal dimana letak Dien Bien Funpark, dan nggak ada satu orang pun yang tau. Rute bus berakhir di terminal di depan Ben Tanh Market. Saya turun dan berjalan mencari Pham Ngu Lao yang tersohor itu. Ternyata jaraknya jauh banget. Lapar, panas, kaki pegel, ditambah gendong gembolan tujuh kilo, jangan ditanya lagi capeknya seperti apa. Di Pham Ngu Lao, saya mendatangi hotel dan hostel satu persatu yang kebanyakan sedang penuh. Akhirnya di hostel kesekian ada juga yang kosong. Koniko Backpacker Hostel, USD7 /night untuk dorm room. Kamar saya di lantai 4, dan nggak ada lift. Tapi capek dan pegel terbayar lunas setelah sampai ke kamar dan melihat kondisinya. Bunkbed putih bersih, lantai parkit, seprei putih, selimut merah, wallpaper bunga-bunga, dan tirai jendela merah. Cantik! Tapi kok kosong ya? Kemana penghuni yang lain?

Dorm Room di Koniko Backpacker Hostel
Saya sudah berusaha tidur, tapi kok sayang ya, tidur-tidur siang saat banyak tempat menarik menanti untuk dikunjungi? Dengan berbekal peta dari resepsionis hostel, saya berjalan-jalan ke beberapa obyek wisata. Di peta sih tempat-tempat wisata itu jaraknya deket, tapi kenyataannya jauh bangeteett.. Pasti nggak skalatis tuh peta. Saya harus jalan berkilo-kilo meter. Diperjalanan, tiba-tiba ada anak laki-laki jalan disebelah saya, dan mengajak ngobrol. Anak kuliahan, 19 tahun, orang Vietnam, dan lupa namanya. Tanpa diminta, dia mengantar saya ke Reunification Palace. Sayang sekali, saya datangnya kesorean dan tempat ini sudah tutup.

Reunification Palace

Reunification Palace yang juga dikenal dengan Independence Palace dulunya merupakan istana kepresidenan Vietnam Selatan sebelum Saigon jatuh di tangan Vietnam Utara. Di dalamnya terdapat berbagai artefak sejarah, baik yang asli maupun replika sejarah perang saudara antara Vietnam Utara dan Selatan.

Reunification Palace

Notre Dame Chatedral

Dari Reunification Palace ke Notre Dame yang jaraknya nggak lebih dari 500 meter, saya melewati taman yang dipenuhi pohon-pohon raksasa berdaun lebat. Tempat ini rame pengunjung pada sore hari. 

Taman Kota di Jalan Menuju Cathedral
Katedral ini merupakan bangunan megah yang dibangun oleh Perancis pada tahun 1863 - 1880. Ada dua menara lonceng dengan tinggi 58 meter dan patung Bunda Maria di depan Katedral. Pada tahun 2005,  patung ini dikabarkan mengeluarkan air mata, dan membuat orang berbondong-bondong datang kesana. 

Notre Dame Cathedral
Interior Katedral ini sangat mirip dengan katedral di Paris.  Saya belum pernah ke Paris sih, tapi setidaknya saya sudah kenyang mempelajari arsitektur beginian di bangku kuliah. 

Menurut informasi, awalnya seluruh material dari bangunan ini diimpor langsung dari Perancis. Namun setelah perang, banyak bagian bangunan yang rusak dan harus diganti dengan produk lokal, namun tidak mengurangi keindahannya. Katedral ini masih digunakan sampai sekarang dan waktu terbaik untuk mengunjunginya adalah saat misa yang dimulai setiap Hari Minggu pukul 09.30.

Kantor Pos Saigon

Hanya beberapa meter dari katedral, ada sebuah bangunan dengan tulisan Buu Dien yang artinya kantor pos. Kantor pos besar ini juga merupakan peninggalan Perancis. Didalamnya ramai dengan pengunjung, ada yang sedang mengirim kartu pos dan ada yang sekedar istirahat seperti saya.

Kantor Pos Saigon
Sebenarnya dari kantor pos ini saya bisa melanjutkan jalan kaki ke Reunification Museum dan War Remnant Museum, namun apa daya kaki udah nggak bisa kompromi. Saya memilih pulang dengan jalan kaki mengambil rute yang sedikit berbeda. Saya suka sekali dengan jalan-jalan di Saigon yang rapi dan tidak terlalu ramai. Pusat informasi untuk turis juga ada di beberapa titik kota.

Jalanan di Saigon
Di perjalanan kembali ke hostel, saya melewati satu taman yang ramai. Sekarang saya mengerti kenapa orang Vietnam langsing-langsing. Taman ini dilengkapi dengan alat-alat olahraga yang bisa dipakai oleh siapa saja. Tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk fitnes. 

Rahasia Kelangsingan Orang Vietnam
Di taman ini juga dipenuhi dengan orang-orang, tua-muda, lokal-bule. Ada yang bermain voli, latihan nyanyi, latihan gitar, lari sore, bengong, dan ada yang pacaran. Menyenangkan sekali berada disini. Saya duduk di salah satu bangku kosong, dan disebelah saya ada dua anak muda yang sedang latihan gitar. Tiba-tiba ada seorang bule yang lewat dan memperhatikan dua orang anak muda tadi. Si Bule meminjam salah satu gitar mereka, dan memainkan musik country sambil nyanyi. Seketika dari dua orang menjadi kerumunan kecil menonton konser tunggal si bule. Keren. 

Konser Tunggal Dadakan di Taman Kota
Hari sudah menjelang malam ketika saya memutuskan pulang ke hostel. Bagaimana kabarnya janjian ketemuan saya dengan Si Kontet? Sudahlah, mungkin hanya dia dan Tuhan yang tau Dien Bien Funpark itu dimana. 

-- to be continued --

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pengeluaran hari ini:
Sarapan Bahn Mi  : VND 10.000
Taxi hotel - Noi Bai Airport (tip untuk si supir taxi) : VND 20.000
Tiket Hanoi - Saigon : USD 110
Tan Son Nhat Airport - Ben Tanh Market : VND 5000
Hostel : USD 7
Makan Siang : VND 60.000
Total : VND 95.000 + USD 117 = Rp 1.199.950,- 

Sunday, May 5, 2013

Let's Get Lost in Hanoi

11 Maret 2013

Hari ini saya harus pindah dari rumah host saya di Hanoi, Ben, ke penginapan di Old Quarter. Bukannya saya nggak betah tidur di bale-bale kayu, bukan juga karena diusir Ben. Bangun pagi, saya udah ngeliat Ben sibuk nulis-nulis sesuatu di meja dengan kamus English - Vietnam disebelahnya. Tulis apaan ya dia?  Setelah mandi dan siap berangkat, Ben memberikan secarik kertas yang isinya petunjuk naik bus umum dari kost-annya ke Old Quarter, lengkap dalam dua bahasa: English & Viet. ooo...jadi ini yang sibuk ditulis dari pagi?

Petunjuk dari Ben
Sebelum benar-benar berpisah, Ben mengajak saya makan di warung makan favoritnya yang nggak jauh dari kantornya. Saya lupa nama makanannya, yang jelas berupa mie, dengan kuah bening (bukan Pho), dan potongan daging ibab dan sayur-sayuran segar. 

Menu Sarapan dengan Ben
Setelah makan dan berpisah dengan Ben di halte bus, dimulailah petualangan dengan bus umum di Hanoi. Dengan berat hati, saya mengakui kondisi bus di Hanoi jauhhhh lebih bagus daripada bus di Jakarta. Walaupun padat, penumpang sangat tertib, naik melalui pintu depan, dan turun melalui pintu belakang. Vietnam dan Indonesia sama-sama negara berkembang, tapi kenapa... Ah, sudahlah. 

Bus di Hanoi

Untuk sampai di Old Quarter, saya harus dua kali ganti bus. Perjalanan satu jam lebih, dan saya nyasar! Setelah tanya sana-sini ke orang lokal, akhirnya saya memutuskan naik ojek sampai ke Hoan Kiem Lake. Sebelum jalan mencari hostel, saya jajan buah segar di pinggir jalan. Tapi kayaknya saya kena tipu deh. Mangga kok harganya sampe 20.000 VND. Tapi enak sih mangganya.hehehe.. 

Salah Satu Jajanan  di Sekitar Hoan Kiem Lake
Pencarian hostel di Distrik Old Quarter ini agak rumit.  Ada banyak gang yang mirip satu sama lain. Kalau nggak ada peta pasti nyasar. Saya berkali-kali keluar-masuk gang yang sama. Banyak penginapan, tapi bangunannya kecil-kecil dan memanjang ke belakang. Akhirnya pilihan saya menginap di Homey Hotel yang nggak ada kamar dorm-nya seperti hostel pada umumnya. 

Homey Hotel - 39 Hangbe Str - Hoankiem Dist - Hanoi
Web:www.homeyhotel.com
Tel : +8439352348 Fax: +8439352347
Hotline: 84 986969898

Sore hari, saya jalan-jalan di sekitar Old Quarter, dengan berbekal peta dari hotel. Menjelang malam, para pedagang mulai berjualan makanan dan mengatur kursi-kursi plastik kecil di pinggir jalan untuk para pembeli. 

Salah Satu Gang di Old Quarter

Ada satu pertunjukan wajib dilihat jika berkunjung ke Hanoi, yaitu Water Puppetry Show. Water Puppet atau boneka air adalah kesenian tradisional Vietnam yang sekarang mulai langka. Pertunjukan dilakukan dalam kolam air setinggi pinggang berukuran 4x4 meter. Pertunjukan dilengkapi dengan alat musik tradisional dan sinden. Tema yang diusung seputar kehidupan masyarakat Vietnam di pedesaan yang diberi unsur komedi. Untuk menyaksikan pertunjukan ini datanglah ke Thanglong Water Pupet Theatre yang lokasinya di sekitar Hoan Kiem Lake. Tiket masuk sebesar VND 100.000 dan dikenakan biaya tambahan untuk kamera.

Gedung Tempat Pertunjukan Water Puppet
Water Puppet Show berlangsung kurang lebih satu jam. Boneka-boneka yang lucu digerakkan oleh orang-orang dari balik tirai bambu. Di akhir acara, orang-orang yang menggerakkan boneka ini keluar dari balik tirai dan menari bersama boneka-bonekanya. 

Di Akhir Acara, Orang-orang Muncul dari Balik Tirai
Selesai pertunjukan, saya jalan-jalan di sekitar Hoan Kiem Lake. Sendirian. Saya tidak menemukan travel partner kali ini, mungkin karena tidak tinggal di dormitory. Pemandangan di sekitar Hoan Kiem Lake tidak kalah cantik dengan siang hari. 

Salah Satu Landmark Distrik Old Quarter
Setelah makan malam di sekitar hotel dan jajan makanan yang sedikit ekstrim, saya kembali ke hotel dan istirahat.

-- to be continued --
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengeluaran 11 Maret 2013
Bus 32 : 5000 VND
Bus 09 : 5000 VND
Ojek : 40.000 VND
Hotel : 7 USD
Jajan : 40.000 VND
Water Puppet Show : 100.000 VND
Makan malam : 20.000 VND
Total : 210.000 VND + 7 USD = Rp 173.950,-