Monday, April 29, 2013

Book Review: Nomadic Heart

Cover Depan dan Belakang Buku Nomadic Heart

Belakangan ini saya punya hobby baru: membaca buku travel. Bukan hanya panduan perjalanan, tapi juga cerita-cerita nonfiksi karya travel writers. Dari sekian banyak buku itu ada yang bagus, ada yang jelek, ada yang jelek banget sampai saya nggak sanggup membacanya sampai habis. Nomadic Heart karya Ariy ini satu-satunya buku yang membuat saya tertarik me-review nya.  

'Dengan menulis saya merasa sekolah tiada henti, karena saya harus banyak membaca, banyak observasi, banyak mendengar, banyak berdiskusi, dan sebagainya.' 
Itu adalah sepenggal kalimat diawal buku yang langsung saya amini. Tidak berlebihan kalo saya mengambil highlighter dan mewarnai kalimat diatas. Itulah jawaban atas pertanyaan orang-orang bahkan saya sendiri selama ini kenapa repot-repot menulis perjalanan saya ke berbagai tempat. Buat sebagian orang mungkin itu sepele dan tidak ada artinya, tapi buat saya, menulis adalah belajar. 

Banyak cerita dalam buku ini yang begitu dekat dengan kehidupan saya, walaupun saya belum seberuntung Mas Ariy yang bisa menginap di rumah artis Thailand. Saya  juga belum se-berani Mas Ariy untuk resign dari kantor dan memilih traveling sebagai jalan hidup, walaupun saya sudah memikirkan ini sejak lama. Saya juga belum seberuntung Mas Ariy yang bisa menampung traveler dari berbagai belahan bumi di rumahnya, karena saya tinggal di tempat yang bahkan lokasinya tidak terdaftar di Couchsurfing

'mengapa hidup tidak dibikin mudah saja: lahir - sekolah - bekerja - menikah - mati.' Ah, seandainya hidup semudah itu... 


Sunday, April 28, 2013

Hanoi, Kota Seribu Danau


10 Maret 2013

Saya bangun pagi dengan excited banget karena hari ini ada agenda jalan-jalan keliling Hanoi dengan teman baru, Ben Nguyen.  Dengan badannya yang kecil, Ben begitu lincah mengendarai motor matic-nya yang gede. Vietnam terkenal dengan lalu lintasnya yang semrawut, motor dimana-mana. Yahh... sebelas-duabelas lah dengan Jakarta.  Karena lapar, kita mampir sarapan pho di warung dekat kos-kostan Ben.

Pho Bo
Pho (dibaca fe) adalah makanan khas Vietnam yang berupa mie dari beras dengan kuah kaldu jernih.  Saya memesan dengan daging sapi, namanya pho bo.  Selain menggunakan daging sapi, pho juga bisa menggunakan daging ayam (pho ga) dan daging babi (lupa namanya).  Harga seporsi pho di warung yang saya nggak tau namanya ini VND 20.000, dan berhubung Ben bersikeras mentraktir, saya menerima dengan sukarela.

Setelah perut kenyang, perjalanan dilanjutkan menuju Hoan Kiem Lake, yaitu danau yang berada di tengah-tengah kota Hanoi. Lokasinya berdekatan dengan Old Quarter, area backpacker yang terkenal di Hanoi.  Hoan Kiem Lake menyimpan legenda yang sangat penting bagi masyarakat Vietnam. Konon danau ini dihuni oleh kura-kura raksasa (Ben sempat kebingungan menjelaskan kata 'kura-kura' dalam English) Ditengah-tengah danau terdapat pulau kecil yang dihubungkan dengan jembatan merah yang namanya The Huc.  Di pulau ini berdiri Kuil Ngoc Son yang merupakan ikon Kota Hanoi.  Kuil dan jembatan merah ini biasa digunakan sebagai gambar ilustrasi di iklan pariwisata Hanoi.

The Huc (Jembatan Merah)
Pintu Masuk Kuil Ngoc Son
Kopi Vietnam
Tiket masuk Kuil Ngoc Son adalah VND 5000 (lagi-lagi saya dibayarin Ben, heheh…), dapat dibeli di loket sebelum The Huc.  Kuil buka setiap hari pukul 08.00 – 17.00.  Di dalam kuil ada beberapa altar dan tempat membakar hio. Di samping ruang utama ada kura-kura raksasa yang diawetkan.  Ternyata cerita kura-kura raksasa di Hoan Kiem Lake bukan hanya mitos.

Buat saya, Hanoi adalah kota yang sangat romantic.  Mungkin karena banyaknya taman kota yang berada disekitar Danau.  Disekitar Hoan Kiem Lake, saya menemukan setidaknya delapan pasangan yang sedang foto prewedding. Foto diatas salah satunya.

Puas berkeliling Hoan Kiem Lake, Ben mengajak saya berjalan di Old Quarter.  Ini adalah salah satu distrik dekat Hoan Kiem Lake yang menjadi tujuan backpacker.  Menurut cerita Ben, awalnya lokasi ini adalah rawa-rawa yang penuh ular dan buaya, kemudian berubah menjadi pemukiman penduduk.  Sekarang, distrik ini dipenuhi dengan took-toko dan penginapan.  Ben mengajak saya mencoba kopi Vietnam yang terkenal.  Saya bukan penggemar kopi, tapi entah kenapa, kopi Vietnam ini memang enak.

Setelah ngopi dan puas jalan-jalan di Old Quarter, Ben mengajak saya ke universitas tertua di Vietnam sekalian bertemu dengan temannya.  Dengan naik motor sekitar 10 menit, kami sampai di Van Mieu-Quoc Tu Giam.  Van Mieu atau Kuil Sastra merupakan kuil yang dibangun untuk Confucius. Di dalam kompleks kuil terdapat universitas tertua di Vietnam. Pada hari-hari tertentu kuil ramai didatangi oleh mahasiswa dari perguruan tinggi di Vietnam yang merayakan hari kelulusan.  Tiket masuk sebesar VND 5000 lagi-lagi dibayarin oleh Ben dan teman baru saya.


Saya dan Ben di depan Van Miau
Saya datang disaat yang pas, bertepatan dengan perayaan kelulusan mahasiswa di Hanoi.  Saat itulah saya terngaga melihat pemuda-pemudi Hanoi yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik.  Kalau mereka ke Jakarta mungkin udah jadi personil boyband-girlsband.


Pemuda-Pemudi Hanoi. Errr... 
Tiba jam makan siang, kami makan di sekitar Van Miew dan lagi-lagi dibayarin oleh teman-teman baru.  Rejeki solo traveler emang nggak kemana, ya?  Setelah makan, tujuan selanjutnya adalah Ho Chi Minh Musoleum.  Berempat, kami naik motor sekitar 10 menit dan sampai di museum.  Sebelum masuk, pose dulu di depan pohon palem ;)

Astagaaa...betis gue 
Museum ini buka setiap hari jam 9.00-12.00. Tiket masuk seharga VND 5000 untuk wisatawan, dan gratis untuk warga Vietnam. Karena muka saya serupa dengan orang lokal, saya masuk aja tanpa bayar, hehe,..

Entrance Ho Chi Minh Mausoleum
Mausoleum ini dibangun mengikuti Musoleum Lenin di Moscow, tetapi tetap dengan gaya arsitektur khas Vietnam, terlihat dari bentuk atapnya yang landai. Bagian luar bangunan terbuat dari granit berwarna abu-abu, sedangkan bagian dalamnya didominasi warna merah, hitam, dan abu-abu.  Di dalam bangunan inilah jenasah HoChi Minh disemayamkan dan dibalsem, dimasukkan dalam peti kaca dan diberi lampu remang-remang.

Interior Ho Chi Minh Musoleum
Hari menjelang sore ketika kami berempat keluar dari musoleum dan naik motor ke West Lake.  Hanoi memang pantas diberi gelar Kota Seribu Danau.  Ini adalah danau yang lebih besar dari Hoan Kiem, dan disekitarnya ada taman cantik yang ramai pengunjung.  Saya ketemu lagi dengan beberapa pasangan dengan baju pengantin di taman ini. Banyak orang yang memancing di danau. Lucunya, ikan hasil pancingannya digeletakin  saja di jalanan tempat orang lalu lalang. 

West Lake
Di tengah-tengan West Lake ada pulau kecil tempat sebuah pagoda berdiri, namanya Tran Quoc Pagoda.  Tran Quoc adalah pagoda tertua di Hanoi yang setiap hari ramai dikunjungi umat Budha. 

Tran Quoc Pagoda
Setelah dari Tran Quoc, teman baru saya yang namanya Tran, dan adiknya (yang saya lupa namanya) pamitan pulang. Seperti Ben, mereka berdua sangat baik.  Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, terbang beribu-ribu kilometer ke negeri orang dan saya disambuh hangat, makan-minum, hang out dengan orang asing yang seperti saudara.  Sebelum pulang, saya dan Ben mampir di coffeeshop disekitar West Lake dan lagi-lagi mencoba kopi Vietnam.  

-- to be continued --


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pengeluaran hari ini:
0. Iya, benar-benar 0.. 

Sunday, April 21, 2013

Supir Taxi Absurd di Hanoi

Setelah mengalami hujan badai dan delayed 2 jam di KLCC, akhirnya saya berangkat juga ke Hanoi jam 7 malam. Perjalanan ditempuh selama 3 jam dan waktu Hanoi lebil lambat 1 jam dari Kuala Lumpur. Jadinya jam berapa nyampe Hanoi? .... Yak, betul sekali, jam 11 malam. 

Noi Bai International Airport (source)
Melewati petugas imigrasi berwajah datar, kemudian saya jalan ke arah hall Noi Bai Airport dan mulai panik. Belum tuker duit, hp lowbat, wi-fi nggak ada, gimana caranya menghubungi teman couchsurfing calon host saya? Saya ke bagian informasi, memperlihatkan email dari Ben Nguyen (calon host saya di Hanoi) yang untungnya udah ter-capture di hp yang baterenya udah sekarat. Dengan sigap mbak-mbak informasi ini menelepon nomer yang ada di email dan kemudian ngomong bahasa planet. Ternyata Ben sudah menunggu saya di alamat yang disebutkan di email. Mbak-mbak informasi ini juga mencarikan taxi yang terpercaya untuk untuk mengantar saya ke rumah Ben. Sebelum masuk taxi, mbak-mbak informasi ini menuliskan alamat Ben dengan jelas di kertas, lengkap beserta no.hp dan tarif yang harus saya bayar. Oiya, mbak-mbak ini juga menyediakan jasa tuker duit. USD 100 dihargai VND 2.100.000. Horangkayah!!!!

Email dari Ben Nguyen

Vietnam terkenal dengan sopir taxi-nya yang nakal. Karena ini taxi pilihan mbak-mbak informasi tadi, saya naik aja tanpa banyak mikir. Kebayang kasur empuk dan makanan enak di rumah Ben yang semuanya gratis, heheheh... Di jalan tol, tiba-tiba si supir menepikan taxinya, keluar dari taxi, mencopot atribut di atas, samping, dan belakang taxinya, kemudian kembali ke dalam taxi. Seakan aksinya belum cukup membuat saya shock, dia juga melepas name-tag di bajunya. Omaigat, saya dalam bahaya! 
"what are you doing?!!" tanya saya panik.
"sorry, i don't understand" katanya sambil terus memacu taxinya. Ngebut! 

Herannya, tadi si supir ini lancar banget nawarin taxi-nya ke bule pake English. What the... Kebayang dong, perasaan saya gimana waktu itu. Tengah malam, sendirian, dengan supir taxi gila. Pelan-pelan saya buka dompet, keluarin semua duit dan menyelipkan kedalam baju Richard Bear. Masih ingat kan, Richard Bear? Si sopir, masih dengan ngebut, menelepon seseorang dalam bahasa planet. Waduh, pasti ngabarin temennya kalo udah dapet mangsa baru. Nggak ada yang bisa saya lakukan selain duduk tenang dan berdoa dalam hati. Kalo taxi masuk ke daerah sepi, saya bakalan loncat keluar. Lecet-lecet nggak apa-apa deh yang penting selamat.

Setengah jam kemudian, taxi berhenti di depan pom bensin yang lokasinya lumayan rame. Saya bingung dong, masa iya, saya dirampok di tempat serame ini? Si supir taxi kemudian menunjuk keluar, ke arah cewek yang lagi duduk di motor "that's your friend", kata dia. Oiya, itu Ben, saya ingat fotonya di couchsurfing. Saya buru-buru keluar, ngasih 250.000 VND ke supir taxi (harusnya hanya 230ribu VND). Kembaliannya ambil aja deh, maaf ya pak, udah mikir macem-macem. hihihi..

Agak canggung, saya kenalan dengan Ben dan naik motor ke rumahnya, lewat gang-gang sempit. Akhirnya sampai juga di depan bangunan 4 tingkat. Oh, ternyata ini kos-kosan. Ben mengantar saya ke kamarnya di lantai 3 dan saya kaget melihat kondisinya.

Kamar Ben
Kamarnya berukuran 3x3, dindingnya hanya semen tanpa acian trus dicat putih. Nggak ada springbed atau kasur seperti bayangan saya sebelumnya, hanya ada bale-bale kayu dengan alas tikar. Udah, segitu doang. Bahkan lemari pakaian aja nggak ada.

Yang bikin saya terharu, Ben memperlakukan saya bener-bener baik. Saya dimasakin air buat mandi, dikasih selimutnya yang paling tebel dan wangi biar nggak kedinginan. Dia bahkan mengungsi ke kamar temannya dan saya bisa tidur dengan tenang, walaupun saya nggak keberatan berbagi tempat tidur. Ben bolak-balik memastikan saya bisa tidur tenang, nggak kedinginan, dan nggak kekurangan apapun. English Ben nggak lancar, sambil ngobrol kadang-kadang dia buka kamus kalau nggak ngerti. English saya juga masih level rendah. Cocok ya kita? haha..

Sepertinya pertemuan dengan Ben adalah tamparan keras buat saya. Kenapa? Karena saya punya tempat tidur yang empuk, nggak harus repot-repot masak air tiap mau mandi air hangat, punya pekerjaan yang menyenangkan, tapi saya selalu mengeluh. Harusnya saya bersyukur. Sedangkan Ben, dia bahkan belum pernah ke ibukota negaranya sendiri karena nggak punya duit yang cukup, hidupnya sederhana sekali, tapi dia dia enjoy dengan keadaanya. Ben aktif di couchsurfing walaupun belum pernah kemana-mana dan Englishnya yang terbatas.

Traveling bukan hanya pergi ke tempat yang baru, bertemu orang-orang baru dengan pengalaman baru. Traveling kadang-kadang merubah cara pandangmu terhadap hidup.

-- to be continued --

PS:
Taxi terpercaya di Hanoi:

Mai Linh Taxi
Taxi ini biasanya berwarna putih-hijau, atau hijau polos. Sopir taxi-nya menggunakan kemeja putih dan dasi hijau. 

Taxi CP
Taxi ini berwarna putih dengan strip merah dengan tulisan 'CP' dan nomor telepon di bodi mobilnya. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pengeluaran hari pertama di Hanoi:
Taxi  : 250.000 VND = Rp 125.000


Sunday, April 14, 2013

Reuni Dadakan di Batu Caves

9 Maret 2013

Kalau ada yang bilang tidur di bandara itu nyaman, BOHONG besar! Tidur di Bandara itu sakit! Tapi setelah ini semua saya ngerasa udah 'khatam' backpacker. Sah? Sah!

Bangun dengan badan pegel-pegel, saya ngesot jalan ke check in counter Jetstar di Terminal 2. Masih jam 4 pagi tapi antrian udah panjang. Diantara wajah-wajah yang ngantri ini ada beberapa yang semaleman juga nginep di bandara. 

Pukul 05.05 pesawat take off ke Kuala Lumpur dan saya melanjutkan tidur. Lumayan, 1 jam. Merem sebentar, udah nyampe di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Dari KLIA menuju pusat kota Kuala Lumpur bisa menggunakan KLIA Express yang tarifnya 35 MYR sekali jalan dan sampai ke  KL Central dalam 28 menit. Pemandangan selama di KLIA express ini sangat membosankan. Kiri-kanan hanya ada kelapa sawit.
Richard di KLIA Express
Sampai di KL Central, saya berniat ke Batu Caves, salah satu tempat ibadah umat Hindu di KL. Untuk kesana bisa naik KTM jalur Port Klang - Sentul dan berhenti di stasiun terakhir dengan membayar 1.6 MYR. Untungnya, hari itu ada pembangunan jalur kereta baru, jadinya penumpang yang mau ke Batu Caves harus turun dari kereta, naik shuttle bus, kemudian disambung kereta lagi sampai Batu Caves.  Ribet ya? Iyah, dan ini makan waktu lebih lama. Trus kenapa saya bilang untung? Karna pemandangan dari bus lebih cantik daripada naik kereta.

Rute kereta di KL, ke Batu Caves naik yang jalur warna cokelat

1 jam kemudian akhirnya sampai juga. Masuk kesini nggak perlu bayar. Asiikk! Di pintu masuk saya disambut patung Hanoman hijau raksasa. Ini Hanoman apa Hulk ya?

Hanoman Hijau
Dibelakang Hanoman Hijau ini ada kuil tempat sembahyang yang dipenuhi orang India. Pas saya datang, mereka lagi bagi-bagi makanan. Asikkk...saya segera mendekat, tapi begitu ngeliat bentuk makanannya, saya pelan-pelan melipir ke belakang kuil.

Kuil Hindu dan Orang yang Sembahyang
Di belakang kuil ini ada jalan menuju cave. Saya masuk kesana, dan ternyata harus bayar 1 MYR. Di dalam cave ada banyak patung dewa-dewa Hindu.


Patung-patung di Dalam Cave

Percaya atau nggak, atau ini cuma perasaan saya aja yang waktu itu datang sendiri, patung-patung disini menyimpan aura mistis. Makin lama patung ini makin nyeremin.

Di sisi lain kompleks ini ada patung raksasa lainnya. Dari pintu masuk saya harus jalan 500an meter. Ada satu yang mengganggu selama disini: tempatnya bau! Saya nggak ngerti itu bau apa, pokoknya ganggu banget deh. Di dekat patung emas raksasa itulah akhirnya saya ketemu sumber baunya.

Ini nih Sumber Bau di Batu Caves
Iya, ternyata yang saya hirup dari tadi itu aroma tai burung. Kenapa sih burung-burung ini suka eek sembarangan? kenapa sih nggak ada petugas khusus yang ngebersihin eek burung ini?

Patung Murugan setinggi 42.7 m
Patung emas diatas adalah Murugan, salah satu dewa dalam agama Hindu dan di-klaim sebagai patung hindu tertinggi di dunia. Informasi buat para arsitek muda berbakat seperti saya dan pekerja konstruksi nih: Patung Murugan dengan biaya pembangunan sekitar 24 juta rupee terbuat dari 1550 meter kubik beton, 250 ton baja, dan 300 liter cat emas yang didatangkan langsung dari Thailand. Di kaki patung Murugan ada 272 anak tangga yang membawa pengunjung masuk ke salah satu cave yang berisi kelelawar. hiyyyyy... 

Puas melihat-lihat, saya akhirnya memutuskan kembali ke kota karena lapar. Di kawasan ini sebenarnya banyak penjual makanan, tapi saya nggak yakin dengan kebersihannya. Biasanya, sebagai backpacker saya bisa makan apa aja, dimana aja. Tapi aroma tai burung ini nggak bisa ditolerir. 

Saya kembali naik KTM kembali ke KL Central. Pas mau turun, tiba-tiba tangan saya ada yang narik sambil teriak nama saya. Surprise! yang narik saya ini teman baik saya dari TK sampe SMA, rumah kita bahkan tetanggaan, satu gereja, emak-emak kita dulu sering ngerumpi kalo ketemu di pasar, dan kita udah nggak ketemu selama 9 tahun. Wow! Temen saya ini datang dengan adiknya dan temen adiknya. Mereka mau ke Batu Caves. Saya nggak jadi turun, malah dengan senang hati kembali ke tempat yang bau itu, mengulangi rute yang sama. 

Teman-teman masa kecil
Setalah jalan-jalan keliling Batu Caves, kami mengambil kesimpulan: tempat ini jorok! Akhirnya kita berempat memutuskan pulang. Di stasiun KTM, saya kok ngeliat sosok yang nggak asing ya? Surprise lagi, ini adalah teman SMA saya yang lain, yang juga kebetulan dateng liburan ke KL. Kali ini saya harus bilang WOW! Dunia traveling itu memang sempit ya? Sebenernya saya udah tau mereka ada di KL dari Twitter, tapi nggak nyangka bakal ketemu kayak gini. Karena saya udah muak bolak-balik, terpaksa teman yang datang terakhir ini muter-muter Batu caves sendirian dan kita, cewek-cewek, menunggu di stasiun. 

Teman-teman SMA
Kami berlima melanjutkan reuni dadakan di salah satu restoran di KL Sentral sambil makan siang. Saya senang banget, karena teman-teman saya ini juga gila traveling. Mungkin besok-besok saya nggak perlu susah nyari travel partner.heheh.. 

Selesai makan, kami akhirnya berpisah. 3 cewek tadi mau melanjutkan perjalanan ke Bangkok, teman yang cowok mau ke Penang, dan saya sendiri sore ini ada penerbangan ke Hanoi. Dari KL Sentral menuju KLCC rutenya agak berbeda dengan KLIA. Saya harus naik KLIA Transit, turun di Stasiun Salak Tinggi dan melanjutkan dengan shuttle bus menuju KLCC. Di kereta, saya ketemu dengan orang India, karena keasikan ngobrol, dan dia ngikutin saya sampai ke KLCC, padahal tujuan dia sebenernya ke KLIA. hahaha..salah siapa coba? 

Sampai di KLCC, penerbangan saya dengan AirAsia ke Hanoi mengalamai delayed karena hujan deres banget. Gila, baru kali ini saya ngeliat bandara banjir, calon penumpang semua basah kuyup. Harusnya momen ini saya ambil gambar ya, tapi sayang kameranya. Pesawat yang harusnya terbang jam 6 ditunda sampai jam 8 malam baru berangkat. Jadinya saya nyampe Hanoi jam 11 malam. Petualangan belum berakhir,heheheh... 

-- to be continued --

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pengeluaran hari ini:
KLIA Express : 35 MYR = Rp 108.500
KLM ke Batu Caves : 1.6 MYR = Rp 4.960
KLM dari Batu Caves : 2 MR = Rp 6.200
Tiket masuk Ramayana Cave : 1 MYR = Rp 3.100
Makan siang : 19 MYR = Rp 58.900
KLIA Transit : 12.5 MYR = Rp 38.750
Shuttle bus ke KLCC: 2 MYR = Rp 6.100
Total pengeluaran hari ini : Rp 226.510

Monday, April 8, 2013

Nginap di Changi Airport

Banyak anak banyak rejeki. Itulah semboyan yang diyakini oleh orangtua jaman dulu (termasuk orangtua saya) yang langsung dipatahkan oleh pemerintah Orde Baru yang menegaskan 'Dua Anak Cukup'! Saya nggak ada rencana buat anak punya anak dalam waktu deket ini, jadi ... Banyak Teman Banyak Rejeki, itu baru bener. 

Apa hubungannya Banyak Teman Banyak rejeki dengan cerita traveling saya? Jadi begini, mbak, mas. Nggak selamanya backpacker itu nge-gembel. Nggak selamanya backpacker itu dapat kelas ekonomi dalam ber-transportasi. Nyari tiket murah, kalo bisa gratis, wajib hukumnya. Tapi mendapatkan fasilitas VIP dengan harga ekonomi? 

8 Maret 2013
Hari ini saya harus menyeberang dari Lagoi ke Singapore dengan ferry, tentu saja dengan tiket ekonomi. Karena saya ramah dan murah senyum, saya memiliki banyak teman, termasuk Mbak-mbak dan Mas-mas yang bekerja di Lounge Emerald Class di ferry terminal itu. Sebenernya mereka temennya temen saya sih. Yahh .. circle of friends gitu lah istilahnya. 

Saya yang terlalu bersemangat hari itu datang terlalu cepat dan pintu imigrasi check-in belum dibuka. Salah satu temannya teman (belibet ya?) akhirnya mempersilahkan saya menunggu di Lounge Emerald Class. Ini semacam lounge khusus VIP class gitu, nggak semua orang bisa masuk. Saya duduk manis di salah satu sudut menunggu waktu check-in. Selain dipersilahkan menunggu di dalam lounge, saya juga nggak perlu antri di imigrasi. Teman saya yang lain (ingat, saya murah senyum dan banyak teman) meminjam paspor saya dan tak lama kemudian cap imigrasi beserta boarding pas nyelip cantik di dalam paspor. 

Akhirnya tibalah waktu boarding, dan saya dipersilahkan masuk ke ferry. Keberuntungan masih berlanjut, saya dipersilahkan naik di lantai 2. Asiikkk... Di lantai 2 ini adalah kelas VIP yang lebih dikenal dengan Emerald Class. Harga tiketnya jauh lebih mahal dari kelas ekonomi (bisa dicek disini). Penumpangnya cuma ada sepasang laki-perempuan, petugas ferry, dan saya. Dengan noraknya saya langsung duduk selonjoran ngangkat kaki ke kursi. Ahhh...heaven! Oiya, perjalanan kali ini saya nggak sendirian lho, ada Richard yang setia menemani dan nggak pernah protes atas kenorakan partnernya.

Richard Bear
15 menit berlalu. Kesenangan karena mendapat kelas VIP berganti kecemasan karena saya sadar berada 6 meter tepat diatas permukaan laut yang sedang begelombang kencang dan kenyataan bahwa saya nggak bisa renang (apahhhh!!???). Ya, saya nggak bisa renang, saya takut ketinggian, dan saya mabok laut! Perjalanan Lagoi - Singapore hanya 45 menit dan 30 menit terakhir saya habiskan di dalam toilet. Nggak perlu dijelaskan lagi ngapain saya di toilet selama itu. 

Sesampainya di Singapore, saya turun dari ferry dan berjanji dalam hati nggak akan naik ke lantai 2 ferry apapun yang terjadi. Dengan riang gembira saya menuju ke penginapan saya malam ini yang sangat megah, modern, fasilitas lengkap, aman, dan gratis. Changi Airport. Apa? Nginap di Changi? lu emang kere banget ya? Nggak takut diusir satpam? Aduh, emak lu di rumah bakal ngomong apa kalo tau anaknya jadi gembel? 

Mas, Mbak, pesawat saya besok berangkat jam 5 pagi, dan saya nyampe bandara jam 11 malam. Mau nganter saya pagi buta ke bandara? Nginap di bandara adalah hal yang wajar dilakukan dikalangan backpacker. Disamping alasan pengiritan, waktu juga biasanya menjadi bahan pertimbangan. Tepat jam 12 malam Anda akan disuguhkan pertunjukan seperti ini di terminal 2:
Terminal 2 Changi Airport (source)
Nginap di Changi Airport sebenarnya tidak se-ngenes yang dibayangkan orang kebanyakan. Ada kursi-kursi panjang yang empuk (walopun nggak seempuk kasur), ada McDonald yang buka 24 jam, ada Starbucks buat ngopi-ngopi cantik sampe pagi, ada internet gratis, dan ada keran yang airnya bisa diminum.
Tips-tips tidur nyaman di bandara:

  • Bawa kaos kaki, celana panjang, dan jaket karena AC di bandara sangat dingin. 
  • Kalo jaim dan malu sama orang yang lalu lalang, bawa kaen buat nutupin muka dan ngelap iler. 
  • Tidurnya jangan jauh-jauh dari tempat check-in penerbangan kita. Misalnya kalo di tiketnya bakal pake Jetstar, jangan jauh-jauh dari terminal 1. Jadi kalo tidurnya bablas bisa buru-buru check-in, nggak perlu lari-lari antar terminal. 
  • Barang bawaan jangan jauh-jauh dari badan. 
  • Kalo mau numpang tidur di kursi McD yang empuk itu, belilah sesuatu di counternya, walaupun hanya eskrim seharga $1. 
  • Siapkan tiket dan boarding pas, buat jaga-jaga kalo ditanyain sekuriti. 
  • Buat yang transit, kalo misalnya transit hanya 1-3 jam, mending nggak usah keluar dari arrival hall. Di dalam arrival hall kursinya lebih empuk dan fasilitasnya lebih komplit. 
  • Spot-spot tidur nyaman di Changi :
 Terminal 1 : Cari petunjuk Rest Area
Petunjuk Rest Area (source)
Tempat tidur di Rest Area (source)
    Terminal 2 : McDonalds
McDonald's (source)
    Terminal 3 : Museum bandara

Happy Traveling, dan jangan ngaku backpacker kalo belum nginap di bandara!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengeluaran 8/3/2013:

Tiket Ferry PP : SGD 64.5 = Rp 506.325
Makan Malam King Burger : SGD 6.8 = Rp 53.380
total : Rp 559.705