Sunday, March 17, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 10 - Phuket)

8 Januari 2013

Pernah tidur dengan 9 laki-laki? Membayangkannya pun nggak pernah, hingga pagi itu saya terbangun dan menyadari bahwa penghuni kamar ini semuanya laki-laki (kecuali saya tentunya). Dengan cueknya salah satu dari mereka berjalan menuju kamar mandi hanya dengan kolor yang isinya menggelantung lunglai. Errrr... masih terlalu pagi! Bagaimana dengan penghuni diatas saya? Oh..sopan sekali dia, tidur dengan celana training *penonton kecewa* (Baca Kisah Sebelumnya)

Pagi itu saya harus ikut tour ke Phi-Phi Island. Sebenarnya malas, karena saya adalah turis anti mainstreem, haram hukumnya beli paket tour-tour-an. Tapi berhubung salah satu pulau yang dikunjungi adalah tempat syuting film The Beach, dan saya adalah Pengagum Leonardo Dicaprio Garis Keras, dengan sangat terpaksa saya merogoh kocek agak dalam dan bangun pagi untuk tour ini. Menurut perjanjian, mobil jemputan akan datang jam 8 pagi menuju dermaga. Berat rasanya meninggalkan calon suami Si Jangkung dan Si Kontet. Sabar ya sayang, aku pasti pulang *kecupbasah*

Ternyata bukan hanya orang Indonesia yang suka ngaret. Udah jam 8 lebih 10 menit dan jemputan dari travel agen belum datang. Saya ngobrol-ngobrol dengan ibu pemilik hostel yang cerewet, yang sebenarnya ramah. Katanya jarang-jarang orang Asia menginap di hostelnya. Setelah hampir setengah 9, si penjemput datang dengan mobil van putih. Di dalam mobil ada 1 orang cowok bertampang chinese.  Saya duduk di kursi paling belakang.  Belum 5 menit mendaratkan pantat di kursi, si cowok langsung mengajak saya kenalan dan tukeran nomer hp.  Ini yang harusnya saya lakukan sejak pertama bertemu Si Jangkung! Namanya Kevin, dari Singapore.

Si sopir van masih harus menjemput 8 peserta tour lainnya. Sebelum memasuki mobil, saya sudah tau kedelapan orang itu adalah Indonesian.  Kok tau? Karena mereka bergerombol dan ngerumpi kenceng banget dengan Bahasa Indonesia. Tadinya saya ngebayangin berjemur di Maya Bay dan Phi-Phi Islands ditemani bule-bule ganteng. Pupus sudah...

Mobil van membawa kesembilan orang Indonesia dan satu Singaporean ini menuju dermaga untuk bertemu peserta lainnya. Perjalanan kurang lebih 45 menit dan masih harus menunggu sebelum tour benar-benar dimulai. Kami naik ke salah satu kapal, bergabung dengan beberapa kelompok lain dan tour guide memberikan briefing singkat dengan English lancar beraksen Thailand yang sangat khas.

Batuan Karst Segede Autobot
Tujuan pertama adalah Maya Bay. Baru 15 menit perjalanan, disekitar kami sudah kelihatan batu-batu karang segede autobot. Cantik. Kami melewati gua tempat beternak sarang burung walet yang katanya harganya selangit itu. Setelah hampir 1 jam perjalanan, akhirnya sampailah kami di Maya Bay, tempat syuting film The Beach. Kami diberi waktu 30 menit untuk turun dari kapal dan berfoto-foto.  Saya seketika terpana. Inikah pantainya? Yakin?? Nggak percaya ah...



Maya Bay 
Setelah melihat gambar-gambar diatas, udah tau kan, kenapa saya nggak percaya kalau itu pantai yang buat syuting film The Beach. Pantainya rameeeee banget, kayak mall. Di filmnya itu ya, pantainya bersih, cantik, sepi (yaiyalah, kan ceritanya ayang Leo lagi nyasar di pulau tak berpenghuni).

Setelah 30 menit, saya naik kembali ke kapal dengan menelan kekecewaan. Kapal segera bergerak menjauhi Maya Bay, dan berhenti di salah satu andaman. Waktunya snorkeling. Laut disini airnya jerniiihhhhhhh banget, sampai dasar lautnya kelihatan. Saya sebenarnya nggak suka snorkeling, bahkan berenang pun saya nggak bisa (memalukan!). Tapi karena ingin sedikit menghitamkan kulit, dengan pertimbangan bule suka kulit kecokelatan eksotis, saya terpaksa nyebur tanpa pelampung dan berusaha sekuat tenaga agar tetap mengapung. Nggak gampang, lho! 


Pasangan yang Lagi Snorkeling. Romantic!
Puas snorkeling dan bermain dengan ikan-ikan, semua peserta kembali ke kapal. Waktunya makan siang di satu pulau, saya lupa namanya.  Di pulau itu, meja-meja sudah diatur dan peserta duduk berdasarkan van jemputan. Di meja sudah disiapkan nasi goreng, spaghetti, sup seafood, sapo tahu jepang, ayam goreng, buah-buahan. Kalau salah satu makanannya habis, pelayan segera datang untuk mengisinya kembali. Teman baru saya, si Kevin juga sigap mengisi piring saya setiap makanannya tinggal sedikit. Tinggal tunjuk, makanan segera mendarat di piring. What a nice guy. Setelah ngobrol-ngobrol dengan teman semeja, ternyata salah satu dari rombongan Indonesia yang satu mobil dengan saya tadi pagi adalah orang Toraja, sama seperti saya.

Dengan perut kekenyangan, saya kembali naik ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Phi-Phi Island. Sebelum sampai ke Phi-Phi, kapal kami mampir di satu pulau yang banyak monyet. Biasa aja sih, di Lagoi juga banyak yang beginian, malah lebih gede-gede.


Monyet
Setelah puas berfoto dengan monyet-monyet yang sangat tidak menarik, kapal segera menuju ke Phi-Phi. 45 Menit kemudian, kami sudah sampai di pulau yang pasirnya bersih. Phi-Phi Island. Pulau ini adalah salah satu yang terkena dampak tsunami parah di tahun 2004. Kata si Tour Guide, waktu itu banyak turis yang jadi korban dan pulau ini porak poranda. Sekarang, sisa-sisa bencana nggak nampak sama sekali. Mereka cepat pulih. Bandingkan dengan Aceh!

Karena udara lagi panas-panasnya, saya hanya sanggup ngadem di pojokan bar dengan musik regge sambil minum-minum cantik. Lagi-lagi teman baru saya menunjukkan kesopanannya dengan mentraktir minum. Peserta tour lainnya ada yang berenang, berjemur, dan leyeh-leyeh dibawah payung.

Satu jam kemudian, kami semua kembali ke kapal dan pulang ke dermaga. Perjalanan pulang hanya 30 menit. Di dermaga, sopir dan van yang kami tumpangi tadi pagi sudah menunggu. Kami semua diantar ke hostel/hotel masing-masing. Di perjalanan pulang, kami melewati Kata Beach dan Karon Beach yang tidak kalah ramainya dengan Patong. Saya sampai di hostel jam 5 sore, langsung mandi dan tidur. Muka dan kulit seluruh tubuh rasanya panassss, kebakar matahari. Ah, pasti si Jangkung bakalan pangling melihat kulit saya yang mendadak eksotik.

Kira-kira jam 8 malam saya kebangun karena lapar. Waktunya pas, karena Si Jangkung dan Si Kontet sedang merencanakan makan malam. Tanpa pikir panjang, saya segera ikut (dengan tampang baru bangun, rambut awut-awutan nggak disisir, kulit gosong). Tujuan makan malam kali ini adalah McDonald yang jaraknya hanya sepelemparan kancut batu dari hostel. Saya sudah membayangkan nasi mcD Thailand yang pulen, dan ternyata setelah sampai, mereka nggak menyediakan nasi. Dengan sangat terpaksa, demi menjaga hubungan bilateral antara Indonesia dan Swiss, saya ikut-ikutan makan burger.

Bangla Road Dimalam Hari. Background-nya errr.....
Setelah makan, kami berjalan-jalan di sekitar Patong, mengulangi rute yang semalam, lagi-lagi melewati Bangla Road. Kami melewati bar tempat saya numpang pee di malam sebelumnya dan memutuskan masuk. Pemain bandnya masih sama, dan lagunya masih rock n roll.  Beer, rock n roll, and chit-chat. Tanpa terasa kami sudah hampir 3 jam duduk sambil ngobrol, dan pengunjung semakin banyak. Akhirnya kami keluar dan kembali berjalan di sepanjang jalan Patong.  Di salah satu sudut jalan kami melihat semacam resto & bar dengan suasana outdoor. Kami bertiga duduk di kursi yang mengelilingi bar dan memesan Pinacolada karena perut sudah kembung beer. 


Pinacolada. Segerrrrr....
Tiba-tiba Si Jangkung melepaskan kalungnya yang ada cincin menggantung-gantung. Saya udah deg-degan, berharap dilamar. Aduhhhh...jangan sekarang dong, aku belum siap, sayang.. Tapi..., ternyata dia hanya mau pamer chain and ring trick. Yah, you know lah, biasanya laki-laki selalu berusaha pamer keahlian dihadapan wanita pujaannya *dilemparcincin* 

 

Yahh, triknya serupa dengan video diatas. Sebenarnya sih udah pernah liat yang semacam itu berkali-kali, tapi demi menyenangkan hati calon suami teman, akhirnya saya berpura-pura surprised. Saya dan Si Kontet ganti-gantian mencoba triknya, dia berhasil, saya nggak. Secara teori triknya gampang banget, hanya gerakan saya yang kurang cepat. Yang menarik, 3 orang bartender yang sedari tadi sibuk mengacak-acak bar (membuat cocktail) sekarang berhenti bekerja dan memperhatikan kami. Dengan antusias, mereka satu persatu mencoba, dan semuanya berhasil. Jadi kesimpulannya: saya orang yang lambat belajar.

Lagi-lagi kami pulang ke hostel menjelang pagi, saat jalanan udah nggak seramai malam hari. Kepala rasanya berat, kaki pegel, dan ngantuk. Sialnya, besok pagi saya harus terbang kembali ke Singapore.  Sampai di kamar, saya langsung tertidur begitu kepala menyentuh bantal.

“Linda, Linda?” sayup-sayup kedengeran suara dari atas. Dengan gerakan maksimal yang bisa dilakukan kepala yang berat, saya bisa melihat kepala Si Jangkung nongol dari bunk bed atas. 

Goodnight” kata si kepala itu kemudian tiba-tiba menghilang. Errrrr....

-- to be continued --



Pengeluaran 8 Januari 2013
Makan Malam                   : 179 Baht = Rp 57.280 (kurs 1 Baht = Rp 320)
(sisanya gratisan... hahhaha. Sirik kan loe?)
 

10 comments :

  1. Ah.. si Mbak.. bisa aja bikin saya mupeng :P

    ReplyDelete
  2. "Bangla Road Dimalam Hari. Background-nya errr....."
    ahahahha....ada ada aja...

    ReplyDelete
  3. bikin kecewa ya...coba gak banyak kapal dan orangnya pasti sebagus di filmya deh tu pantai...

    ReplyDelete
  4. endingnya baru denger sekarang tuh *satualisterangkat

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya dia ngomong apa gitu, tapi aku nggak denger.hahaha..

      Delete
  5. aaaaww.. keren nih perjalanannya. :D

    ReplyDelete
  6. Wonderful Phuket :D
    ada tips-tips kalok mau pergi ke sana ? Kalok pergi Thailand apa aja ya yang perlu diperhatikan?
    Salam kenal ya

    http://travelshroom.blogspot.com

    ReplyDelete