Sunday, March 24, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 11 - Phuket)


9 Januari 2013

Ada pertemuan, ada perpisahan. Hari ini saya bangun dengan kenyataan bahwa harus berpisah dengan calon suami teman baru yang sangat menyenangkan dan mengakhiri perjalanan ini. Beraaaaatttt rasanya. 

Dengan terkantuk-kantuk saya menuju kamar mandi. Dormmate yang lain masih tidur nyenyak, karena masih jam 6 pagi. Sambil byar-byur (mandi),  saya mikirin perpisahan dramatis seperti apa yang akan terjadi dengan Si Jangkung. Mungkin saya akan membangunkannya, mengecup keningnya dan say goodbye. NO, drama banget! Mungkin saya akan membangunkannya, memeluknya sambil berurai air mata dan mengucapkan selamat tinggal dengan gelenjotan di pundaknya. BIG NO! ini nggak kalah drama. Mungkin saya akan panjatin bunk bed itu diam-diam, menyelipkan kertas yang isinya ucapan selamat tinggal dan nomor telepon dibawahnya dengan ucapan ‘Call Me Maybe’. Ide yang bagus, dramatis tapi nggak berlebihan.

Selesai mandi, saya kembali ke kamar dan packing untuk terakhir kalinya, memastikan semua barang masuk ke dalam tas dan nggak ada yang ketinggalan. Semuanya saya lakukan dengan lambat, berharap waktu juga melambat atau mungkin mundur kembali ke beberapa minggu yang lalu pada saat saya nggak beli tiket untuk hari ini. Seandainya itu bisa terjadi, saya akan membeli tiket pulang untuk minggu depan dan menjelajah Phuket lebih lama lagi dengannya.

Acara packing saya yang khusuk terganggu oleh Si Kontet yang tiba-tiba bangun dan grasak-grusuk ikut-ikutan sibuk. Haduh, mau ngapain lagi orang ini? Belum sempat nanya dia udah kabur entah kemana.

Setelah packing, saatnya menjalankan misi terakhir saya: minta no contact si calon suami Jangkung. Kalo dipikir-pikir bodoh ya saya ini. Dua malem-an jalan-jalan, ngobrol ini itu tapi nggak nanyain no hape atau email atau apa.  Yahh, sebenernya sih saya nungguin dia nanya duluan, gengsi dong cewek keceh nanya duluan. Tapi sampai saat ini pertanyaan-penting-untuk-masa-depan-kami itu nggak kunjung datang. Makan tuh gengsi! NYAM!!

Oke, kita mulai misi ini dengan membangunkan target. Pelan-pelan saya mendekat, memanjat bunk bed, dan menowel-nowel target (apa sih towel-towel). Target membuka matanya, menyingkap sedikit selimutnya dan “hmm…?” tanyanya kebingungan. Tiba-tiba berbagai rencana di kepala saya buyar semua dan hanya sanggup ngomong “I have to leave now. Bye” sambil melambaikan tangan, berbalik dan mengangkut backpack. No kiss, no hug. Misi mendapatkan no.hape atau email target gagal total! Ahhh…pedih.., pedih hati ini seperti disayat sembilu. Delapan, sembilu, sepuluh. Krik..krik.

Keluar dari kamar, saya bertemu Si Kontet yang baru keluar dari kamar mandi. Saya berpamitan, dan dia langsung memberikan pelukan selamat tinggal yang hangat. Ah, baik sekali dia.

Saya memesan taxi di resepsionis hostel. Sial, saya harus membayar 500 Baht karena pesannya nggak dari kemarin. Si tante segera menelepon taxi dan saya disuruh menunggu 15-an menit. Oke. Selagi menunggu taxi, Si Kontet tiba-tiba nongol dengan backpack dan ukulelenya. Halah, mau kemana ya dia? Ternyata dia mau balik ke Bangkok, ketemu teman. Terus Si Jangkung gimana? Ditinggal sendirian di hostel. Sendiri. Sekali lagi, lin, SENDIRIAN!! Bukankah ini kedengarannya menggiurkan? slrrruuuppp... 

Seketika otak saya langsung menyusun itinerary baru. Gimana kalo saya tinggal sehari lagi? Gimana kalo tiket hari ini saya batalin, trus beli tiket go show aja besoknya? Ahh, pasti menyenangkan keliling Patong hanya berdua dengan Si Jangkung. Tapi ada dorongan kuat entah dari mana yang menyuruh saya membatalkan ide gila itu.

Taxi bandara datang, dan saya segera naik. Di dalam taxi, saya nggak berhenti mengutuki diri sendiri yang sudah memesan tiket hari ini. Tapi di satu titik, akhirnya saya menyerah dan pulang dengan pasrah. Seperti kata The Script:

If one day you wake up and find that you’re missing me
and your heart starts to wonder where on this earth I could be

thinking maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
and you’d see me waiting for you on the corner of the street...

Tapi perjalanan saya ke bandara malah diiringi lagu Thai sambil si Sopir bersenandung mengikuti lagu di radio. Perjalanan 45 menit ke bandara terasa lama, dan akhirnya saya sampai di Phuket International Airport yang kecil itu. Bye Phuket, Bye Thailand. 


-- The End -- 



Pengeluaran 9 Januari:



Taxi Patong-Airport         : 500 THB = Rp 160.000,-


2 comments :