Sunday, March 3, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 9 - Phuket)

6 Januari 2013

Eat udah. Shopping udah. Love-nya mana? Udah hari ke-9 kok belum ada tanda-tandanya? Nggak sesuai judul nih. Sabaaarrr.. Jadi begini ceritanya: Entah jam berapa, bus yang saya tumpangi berhenti di suatu rumah makan yang cukup besar dan parkirannya luas sekali karena bus-bus besar dengan berbagai rute berhenti disini untuk makan malam. Semua penumpang turun, termasuk saya yang sudah sangat berdamai dengan kondisi jalanan dan sedang mimpi indah. Di dalam rumah makan sudah ada deretan meja dan kursi yang diatur sedemikian rupa membentuk kelompok 4 – 6 orang. Saya duduk di salah satu kursi, berkelompok dengan beberapa orang yang belum saya kenal. Diatas meja sudah dihidangkan nasi dan makanan khas Thai yang sebagian besar adalah hasil laut yang dikeringkan: teri, ikan asin, sotong kering, dan hewan-laut-entah-apa yang dikeringkan.

Sebenarnya saya nggak lapar-lapar banget, jadi saya makan sambil mata melihat-lihat sekeliling. Mencari mangsa, lebih tepatnya. Siapa tau ada pemuda ganteng yang terpana oleh tatapan-setengah ngantuk saya. Disaat itulah mata saya menangkap sosok jangkung, bertopi, melintas agak jauh dari meja saya. Pernah dengan lagu Bruno Mars ‘when i see your face, the whole world stops and stares for a while ...’? Mungkin maksud si pencipta lagu seperti yang saya rasakan waktu itu. Hati saya memang selalu lemah terhadap laki-laki ganteng. Tapi gantengkah dia? (menurut teman-teman saya, setelah saya pamerin fotonya, nggak ada yg bilang ganteng). Okelah, dia memang nggak ganteng, kali ini mungkin ada yang salah dengan mata saya. Tapi saya selalu mengingat wajah yang setengahnya tertutup topi dan berjalan cepat itu. Saya melanjutkan makan dan meyakinkan diri bahwa itu hanya salah satu pemuda lokal. Lupakan!  Selesai makan, saya kembali naik ke bus dan melanjutkan perjalanan dengan tertidur pulas. 

7 Januari 2013

Jam 7 pagi bus memasuki terminal di Phuket. Dalam hati saya berdoa semoga diantara penumpang ini ada yang mau ke Patong dan bisa sharing cost taxi yang cukup mahal. Setelah menunggu lama, akhirnya saya memesan taxi sendiri menuju Patong Beach dengan ongkos 450 Baht. Mahal buat ukuran kantong ini, tapi saya terlalu malas mencari angkutan umum.

Taxi yang Mengantarkan Saya ke Hostel
Perjalanan dari terminal Phuket ke Patong Beach ditempuh kurang lebih 40 menit. Patong Backpacker Hostel saya booking secara random sesaat sebelum memulai perjalanan karena hostel yang sebelumnya nggak bisa dipindahkan hari check in-nya (Baca Kisah Awal Perjalanan). Lokasinya persis di depan Patong Beach dan dekat banget dengan Bangla Road yang terkenal itu. Setelah check in, saya menuju kamar di lantai 3. Kamar yang saya pesan adalah mix dormitory dengan 5 bunk-bed (ranjang susun). Sekilas kondisinya jauh lebih buruk dari tempat tinggal saya di Bangkok dan lebih mahal. Di dalam kamar sudah ada beberapa cewek dan cowok bule yang sedang packing. Sepertinya mereka akan check out hari ini. Setelah melempar senyum ramah yang me-representasikan keramahan wanita Asia, saya segera menyimpan tas di sebelah bunk bed saya dan mandi. Kebetulan saya dapat bed bawah.

Kondisi Dorm Patong Backpacker Hostel (source)
Keluar dari kamar mandi, sambil menggosok-gosok rambut yang masih basah, saya nyaris bertabrakan dengan cowok. Mudah-mudahan dia terpukau melihat saya dengan rambut basah seperti di telenovela. Saya berniat mengibas-ngibaskan rambut basah saya, tapi sepertinya itu terlalu berlebihan. Cowok itu tinggi, putih, dan ... hey, ini kan cowok bertopi yang di rumah makan tadi! Tapi kali ini topinya dilepas dan entah kenapa saya langsung bisa mengenalinya. Aduhhh... Rambutnya hitam, matanya hitam dan tingginya nggak wajar. Orang lokal bukan ya? Tapi posturnya dan gerak-geriknya nggak seperti orang Asia pada umumnya.  Saya hanya bisa memberikan senyum terbaik saya, sambil otak nggak berhenti mikir mau ngomong apa. Saya sengaja berlama-lama menggosok gigi di wastafel sambil memperhatikan cowok itu yang lagi sibuk entah ngapain di wastafel di belakang saya (posisi wastafel berhadap-hadapan dan ada cermin). 

Setelah mandi saya merapikan bed saya, memasang seprei (yang kebetulan adalah pekerjaan yang saya benci) lalu cowok itu masuk dan ternyata bed nya diatas saya. Oh my gosh! Hasrat pengen ngobrol nggak terbendung lagi dan saya pun memulai basa-basi dengan english level rendah saya.

“Hi, we were on the same bus from Bangkok, right?” saya hapal betul kalimat pertama saya, yang sudah dilatih sejak keluar dari kamar mandi.hehehe.. Tapi jawabannya mengecewakan.

“Really? I don’t notice you,” arrggghhh...ini adalah kalimat pembuka yang menyakitkan. “Are you from here?” tanyanya lagi. Seperti biasa, saya dikira orang lokal. Ngapain coba orang lokal sok-sok-an tinggal di hostel. 

"No, I'm From Indonesia," jawab saya.

"Really?" tanyanya takjub.

"Ya," jawab saya setengah bangga. Pasti dia salah satu pengagum panorama Indonesia yang eksotik.

"Really?" tanyanya lagi dengan ekspresi seperti mau menerkam saya.

"Ya. What's wrong?" tanya saya setengah bingung dan takut.  

"Ibu saya dari Samarinda," tiba-tiba dia bisa ngomong pake Bahasa Indonesia.  Apa? Saya nggak salah dengar nih? "Saya bisa Bahasa sedikit-sedikit," lanjutnya dengan terbata-bata seperti suaminya Melanie Ricardo.  

"Really?" Sekarang saya yang bertanya takjub.

 "Ya"

"Really?" sekarang saya yang mau menerkam dia.

Percakapan selanjutnya mengalir begitu saja, lancar dan sangat menyenangkan. Namanya Teri Si Jangkung, asal dari Swiss. Ya Tuhan, inikah jodoh saya? (Ngarep!). Tiba-tiba bumi jadi begitu sempit dan udara dalam kamar terasa pengap, jadi saya perlu udara segar. Yes, i was over excited. Saya keluar dan berjalan sendirian dengan kepala dipenuhin Si Jangkung.

Patong Beach
Saya berjalan menyusuri Patong. Tujuan saya ke Jungceylon, satu-satunya mall di Phuket ini. Dalam perjalanan saya melewati penjual paket tour Phi-Phi Island. Setelah tawar-menawar yang cukup alot, akhirnya saya dapat potongan 50% karena kata penjualnya saya mirip cewek Thai. What the... Saya memperhatikan di sekitar Patong Beach banyak penginapan sekelas hostel sampai hotel berbintang. Suasananya mirip sekali dengan Kuta, Bali. Jalanan-nya mirip dengan Legian. Setiap 5 menit muncul mobil box dengan iklan Thai Boxing dengan TOA yang berisik. 

Iklan Thai Boxing di Jalanan Patong
Penjual makanan juga bertebaran di daerah wisata ini. Tidak seperti Bangkok yang kebanyakan makanannya pork, disini lebih banyak seafood yang tentunya halal. Saya mencoba Tom Yam di salah satu warung. Rasanya ini Tom Yum paling enak yang pernah saya makan, mungkin karena resepnya masih original.  Berdasarkan harga makanan dan tarif hostel, saya menyimpulkan bahwa: Biaya hidup di Phuket jauh lebih besar dibandingkan dengan Bangkok. 

Tom Yum Asli Thailand
Setelah berjalan cukup jauh dan bertanya kiri-kanan, akhirnya saya sampai di Jungceylon yang suasananya mirip dengan Galeria Mall Denpasar dengan plaza di tengah-tengah nya. Nggak banyak yang bisa dilihat disini karena saya sudah mabok mall di Bangkok. Sometimes shit happens while you travel. Tiba-tiba sendal saya putus dan saya terpaksa merelakan berlembar-lembar Baht ke kasir demi sepasang sepatu pink  gonjreng di mall ini. Ketika berjalan kembali ke hostel, saya menyadari kalau sepatu ini belum beradaptasi dengan kaki saya. Baru setengah perjalanan, tumit saya lecet-lecet dan harus diberi plester. Sampai hostel saya langsung tidur, walaupun masih sore, tidak lupa curi-curi pandang ke penghuni bed atas yang juga sedang tidur. 

Jungceylon Phuket
Hari sudah gelap ketika kami dibangunkan oleh pemilik hostel yang tiba-tiba masuk dan menyalakan lampu kamar kami yang sangat gelap. Sebelumnya nggak ada yang menyalakan lampu karena semua penghuni kamar (saya, Si Jangkung, dan satu orang lainnya) tidur nyenyak. Si pemilik hostel memaksa kami keluar, maksudnya jalan-jalan diluar. Saya bangun dan duduk di pojokan tempat tidur sambil mikir mau makan apa dan dimana. Kota ini begitu asing dan mahal.

"Linda sudah makan?" tanya Si Jangkung yang tiba-tiba kepalanya nongol dari atas bed, masih dengan Bahasa Indonesia patah-patah ala Cinca Laura.

"Belom," jawab saya sambil berdoa dalam hati mudah-mudahan diajak makan.

Tuhan selalu mendengarkan doa umatnya yang sedang kasmaran dan dalam kesulitan keuangan. Si Jangkung mengajak saya mencari makan di sekitar hostel dan saya baru tau kalau orang satu lagi yang molor itu adalah teman seperjalanannya, namanya Janos  Si Kontet. Kami bertiga keluar dan berjalan tanpa tujuan.  Bukan pekerjaan gampang menentukan tempat dinner di first date kami ini. Errr...  Setelah berjalan cukup jauh, kami memutuskan makan di salah satu restoran seafood di pinggir pantai. 

Sambil makan, obrolan pun berlanjut dan mereka cerita bahwa sebelum ke Thailand, mereka melakukan perjalanan ke Argentina, Kanada, Brazil, dan Chile selama 4 bulan dan berlanjut ke Asia untuk waktu yang tidak ditentukan. Wowww... Secara otomatis di otak saya langsung muncul kalkulator imaginer dan menghitung berapa kira-kira biaya perjalanan mereka selama ini dan menanyakan apa pekerjaan mereka.  Dibandingkan mereka, saya hanyalah flashpacker amatiran nan kere dari negara dunia ketiga. Si Kontet malah memamerkan tas-nya yang penuh dengan bendera negara-negara yang pernah dikunjunginya. Selain tas kebanggaannya, dia juga menunjukkan ukulele yang dipelajarinya di Chile dan sekarang dibawa kemana-mana. 

Selama ini saya selalu berpikir bahwa bule-bule dengan backpack itu kere. Sekarang saya sadar, mungkin budged yang mereka keluarkan untuk backpacking selama 4 bulan sama dengan budged untuk paket liburan exclusive di Maldives selama 2 minggu, bahkan lebih. Selama ini saya terkagum-kagum dengan traveler seperti Trinity dan Claudia Kaunang yang menurut saya traveler sejati. Mereka berdua adalah role model saya. Saya tergila-gila dengan kisah mereka di bukunya masing-masing. Dan sekarang, di depan saya duduk dua orang backpacker yang sama kerennya dengan Trinity atau Claudia Kaunang. Saya membayangkan kalau kisah mereka selama backpacking dibukukan, pasti seru sekali. Oiya, Si Kontet adalah pekerja konstruksi, dan Si Jangkung adalah IT engineer (tau kan, penghasilan IT-ers di Eropa sana). Mereka juga menanyakan pekerjaan saya, dan dengan terpaksa saya mengaku sebagai arsitek. Untung saja mereka nggak menanyakan bangunan apa yang sudah saya buat, karena saya pasti bingung jawabnya.

Setelah makan, kami berjalan-jalan di sekitar Patong Beach, melihat lampion-lampion yang diterbangkan. Romantic! (kalo saja saya hanya berdua dengan Si Jangkung). Bangla Road yang tadi siang masih sepi sekarang tertutup untuk kendaraan bermotor dan menjadi terang benderang oleh bar dan night club di kiri-kanan jalan. Inilah night life Patong yang terkenal liar itu. Musik hingar-bingar, cewek-cewek yang bergelayutan di tiang besi. Sepanjang jalan kami sibuk menolak tawaran orang-orang untuk masuk ke bar-nya. 

Setelah berjalan cukup jauh dari Bangla Road, kami menemukan Hard Rock Cafe yang lebih sepi dan sepertinya enak buat nongkrong. Thanks God, akhirnya saya bisa mengistirahatkan tumit saya yang nyeri semakin menjadi-jadi. Kami bertiga masuk dan ngobrol sampai tengah malam. Mereka berdua adalah peminum beer yang handal. Tidak terhitung lagi berapa botol yang mereka habiskan, sementara saya yang nggak biasa, hanya menghabiskan 1 botol untuk berjam-jam. Mereka berdua bahkan heran mendengar pengakuan saya yang nggak biasa minum beer dan nggak merokok. Sorry dear, saya adalah wanita Asia yang taat pada adat ke-timur-an *dilemparsepatupink.  Rombongan kami bertambah 1 orang Australia yang dikenal Si Jangkung dan Si Kontet di pantai tadi siang. (Kapan mereka ke pantainya ya? Kok saya nggak diajak?).

Bangla Road (source)
Dalam perjalanan kembali ke hostel, saya kebelet dan numpang pee di salah satu bar yang kami lewati. Niat semula hanya mengantarkan saya, tapi karena pemain band-nya bagus, akhirnya kami duduk dan memesan beer lagi. Di Thailand, beer lokal yang terkenal adalah merek Singha. Rasanya manis dan sepertinya lebih keras dibanding Bintang. Menjelang pagi, setelah pemain band selesai, kami akhirnya kembali ke hostel. 

Belum pernah saya secapek ini dan seberapapun kerasnya berusaha tidur, mata ini tetap melek. Saya mendadak insomnia. Otak saya mengulang lagi kejadian-kejadian beberapa hari ini. Terlalu banyak kebetulan.  Saya kebetulan berhenti dari pekerjaan dan memutuskan berangkat lebih cepat ke Thailand. Kebetulan pesan hostel yang ini, karena hostel yang pertama nggak bisa di-cancel.  Kebetulan ditempatkan di kamar ini dari sekian banyak mix dorm yang ada di hostel ini. Insomia saya malam ini juga didukung oleh bunk bed yang saya tempati begitu ringkih. Sedikit saja bergerak, tempat tidurnya seperti mau runtuh.

Hari ini begitu menyenangkan, walaupun banyak hal yang harusnya bisa lebih indah seandainya saya tidak  grogi berhadapan dengan Si Jangkung. Harusnya saya lebih banyak bertanya tentang kehidupannya.  Harusnya saya lebih banyak tersenyum, bukannya mengerutkan dahi kebingungan setiap diajak ngobrol.  Harusnya saya bisa mengimbangi langkahnya yang panjang-panjang agar bisa berjalan di sampingnya, bukannya terseok-seok dibelakangnya karena kaki sakit kemakan sepatu sambil cekikikan dengan Si Kontet.  Harusnya saya jalan-jalan dengan pakaian lebih baik lagi, bukannya pake celana tidur bunga-bunga yang kekanak-kanakan ini, tapi apa daya celana bersih sudah habis dan saya males nge-laundry.  Harusnya saya lebih banyak berfoto dengan Si Jangkung.  

Berbagai macam pertanyaan muncul dalam pikiran saya. Seperti apa ibunya Si Jangkung yang asli Indonesia itu?  Mereka berdua gay nggak ya? Besok mereka mau kemana ya? Saya diajak jalan-jalan lagi nggak ya besok?  Bangun pagi saya harus bilang apa ya? Si Jangkung suka nggak ya sama saya? Kalo kita married dan punya anak, anak kami tetep bule nggak ya? Hahaha.. Seketika saya menyesal sudah membeli paket tour ke Phi-Phi Island untuk besok pagi.

Ya begitulah, akhirnya perjalanan saya menghasilkan sesuatu yang berarti. Saya jatuh cinta pada dua hal  sekaligus: Travelling dan Si Jangkung. Thanks to Si Jangkung and Si Kontet yang secara tidak sadar telah menginspirasi saya. Suatu hari saya pasti berkunjung ke negara kalian untuk melihat salju.

Si Kontet dan Si Jangkung
-- to be continued --

Pengeluaran Hari Ini:
Taxi                                               : 450 Baht
Hostel                                            : 1000 Baht (untuk 2 malam)
Paket Tour Phi-Phi Island              : 1400 Baht
Tom Yum + soft drink                   : 100 Baht
Total pengeluaran hari ini                : 2950 Baht = Rp 944.000,- (kurs 1 Baht = Rp 320)


No comments :

Post a Comment