Sunday, March 31, 2013

Why Vietnam?

Uncle Ho (source)
Bermula dari keisengan mencari tiket murah di sela-sela jam kerja (ya, saya adalah karyawan teladan yang multitasking) dan ketemulah tiket Singapore - Kuala Lumpur - Hanoi dengan harga murah, nggak lebih dari 600ribu rupiah. Tanpa pikir panjang saya langsung membeli dan 10 menit kemudian printer kantor memuntahkan tiket saya.  Printer kantor? Ckckckck 

Dengan penuh sukacita, saya mengabarkan penemuan ini kepada teman-teman dan membayangkan tatapan iri nan kagum dari mereka. Kenyataannya, bukan tatapan iri, bukan kagum, apalagi standing applause yang saya dapatkan atas tiket murah ini melainkan kerutan di dahi disertai berbagai pertanyaan: emang ada apa di Vietnam? Nggak takut diculik? Ih ngeri ah, Vietnam kan daerah konflik! Hellooooo... kalo Cuma pengen tau ada apa di Vietnam ngapain gue jauh-jauh kesana, googling ajah. Helooooo... kalo takut diculik, gue nggak akan kemana-mana, mending gue sembunyi aja dikolong tempat tidur seumur hidup gue. Hellooooooo... Vietnam daerah konflik? Lu kebanyakan nonton film Rambo ah. 2013 dan tontonan lu masih Rambo? 

Tapi demi menjaga hubungan silaturahmi dengan teman, kelimat-kalimat dengan tulisan miring diatas hanya saya ucapkan dalam hati. Saya akui, Vietnam emang bukan destinasi wisata favorit bagi orang-orang Indonesia. Jadi kenapa saya kesana? Why Vietnam?

  1. Beberapa tahun belakangan ini pariwisata Vietnam semakin berkibar di dunia internasional. Wisatawan dari negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia sering menjadikan negara ini sebagai tujuan utama wisata mereka, selain Thailand (Backpacking Vietnam, Olenka Priyadarsani, Elex Media Komputindo). Buktinya, calon suami Si Jangkung dan Si Kontet menjadikan Vietnam sebagai next destination mereka di Asia setelah Thailand.  Siapa Si Jangkung dan Si Kontet ini? Baca disini. 
  2. Foto-foto perjalanan yang dikirimkan oleh Si Kontet selama mereka di Vietnam membuat saya menggebu-gebu pengen kesana melihat langsung keindahan alam disana dan ehem, ketemu langsung dan memastikan calon suami  Jangkung dalam keadaan sehat. Errrr....
  3. Tiket murah penerbangan internasional ke Vietnam. Yahh...walaupun tetep aja saya merogoh kocek agak dalam untuk tiket ferry ke Singapore. Dear mr. F, penguasa Lagoi, tolong turunkan harga tiket ferry demi salah satu staff mu yang haus traveling ini. Pleasee...
  4. Bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia. Buat warga negara yang tinggal di daerah pedalaman seperti saya, sangat sulit jika harus ke Jakarta mengurus visa. Menggunakan jasa tour & travel? Mas, mbak, ini tuh hutan, kalo buka kantor tour&travel disini buat apa? Monyet-monyet mau traveling nggak butuh tiket pesawat, visa, ama paspor kok.
  5. Vietnam tidak mengenal airport tax. Penting nih! Indonesia kapan ya?
  6. Akomodasi sangat murah di Vietnam. Nggak percaya? Coba cek di Agoda atau Hostelworld. Untuk kelas dorm hanya 5-8 USD.
  7. Culinary. Seperti negara indochina lainnya, kuliner di Vietnam didominasi pork. Hmmmmm... yummy!
  8. Vietnam mempunyai objek wisata sejarah yang sangat menarik. Biaya masuknya juga sangat murah, bahkan banyak yang gratis.
  9. Nilai mata uang Vietnam sangat rendah, bahkan 2x lebih rendah dari rupiah. Jadi, kalau kita ke Vietnam berasa jadi jutawan deh.hehehe...
  10. Harga paket tour sangat murah. Tapi masih agak trauma dengan Phi-Phi Island di Thailand, saya memutuskan untuk nggak akan membeli paket tour apapun di Vietnam! Kisah Tour Phi-Phi Island 
  11. Ada yang penggemar nightlife? Psstttt... konon katanya di kawasan Pham Ngu Lao berderet ratusan bar, pub, restoran, dan mereka buka 24 jam! Backpackerrrrsss...are you ready to PARTY!?? | ay ay captain! | I can’t hear youuuuu... | Ay ay captain! Eh ini kok jadi Spongebob sih?
  12. Dari segi arsitektur (ehem, sampai hampir lupa kalo saya ini arsitek muda berbakat ) bangunan-bangunan di Vietnam bergaya Perancis. Pasti sangat menarik.
  13. Secara fisik, orang Indonesia sama Vietnam mirip-mirip lah, jadi saya bisa menikmati hobby saya selama traveling yaitu NYARU DENGAN WARGA LOKAL.

Poin-poin di atas hanya beberapa contoh alasan mengunjungi Vietnam. Masih banyak poin penting lain yang lebih bersifat pribadi. Saya selalu yakin, tidak akan pernah ada kata RUGI dalam hal mengunjungi tempat baru, apapun itu.

Jadi, tunggu cerita petualangan saya yang seru di Vietnam. Walaupun singkat, tapi banyak cerita menarik dan nggak terduga. Kisahnya dibagi beberapa bagian:


Well, if there’s someone ask me Why Vietnam? I’ll ask them back: Vietnam? Why not? 

Sunday, March 24, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 11 - Phuket)


9 Januari 2013

Ada pertemuan, ada perpisahan. Hari ini saya bangun dengan kenyataan bahwa harus berpisah dengan calon suami teman baru yang sangat menyenangkan dan mengakhiri perjalanan ini. Beraaaaatttt rasanya. 

Dengan terkantuk-kantuk saya menuju kamar mandi. Dormmate yang lain masih tidur nyenyak, karena masih jam 6 pagi. Sambil byar-byur (mandi),  saya mikirin perpisahan dramatis seperti apa yang akan terjadi dengan Si Jangkung. Mungkin saya akan membangunkannya, mengecup keningnya dan say goodbye. NO, drama banget! Mungkin saya akan membangunkannya, memeluknya sambil berurai air mata dan mengucapkan selamat tinggal dengan gelenjotan di pundaknya. BIG NO! ini nggak kalah drama. Mungkin saya akan panjatin bunk bed itu diam-diam, menyelipkan kertas yang isinya ucapan selamat tinggal dan nomor telepon dibawahnya dengan ucapan ‘Call Me Maybe’. Ide yang bagus, dramatis tapi nggak berlebihan.

Selesai mandi, saya kembali ke kamar dan packing untuk terakhir kalinya, memastikan semua barang masuk ke dalam tas dan nggak ada yang ketinggalan. Semuanya saya lakukan dengan lambat, berharap waktu juga melambat atau mungkin mundur kembali ke beberapa minggu yang lalu pada saat saya nggak beli tiket untuk hari ini. Seandainya itu bisa terjadi, saya akan membeli tiket pulang untuk minggu depan dan menjelajah Phuket lebih lama lagi dengannya.

Acara packing saya yang khusuk terganggu oleh Si Kontet yang tiba-tiba bangun dan grasak-grusuk ikut-ikutan sibuk. Haduh, mau ngapain lagi orang ini? Belum sempat nanya dia udah kabur entah kemana.

Setelah packing, saatnya menjalankan misi terakhir saya: minta no contact si calon suami Jangkung. Kalo dipikir-pikir bodoh ya saya ini. Dua malem-an jalan-jalan, ngobrol ini itu tapi nggak nanyain no hape atau email atau apa.  Yahh, sebenernya sih saya nungguin dia nanya duluan, gengsi dong cewek keceh nanya duluan. Tapi sampai saat ini pertanyaan-penting-untuk-masa-depan-kami itu nggak kunjung datang. Makan tuh gengsi! NYAM!!

Oke, kita mulai misi ini dengan membangunkan target. Pelan-pelan saya mendekat, memanjat bunk bed, dan menowel-nowel target (apa sih towel-towel). Target membuka matanya, menyingkap sedikit selimutnya dan “hmm…?” tanyanya kebingungan. Tiba-tiba berbagai rencana di kepala saya buyar semua dan hanya sanggup ngomong “I have to leave now. Bye” sambil melambaikan tangan, berbalik dan mengangkut backpack. No kiss, no hug. Misi mendapatkan no.hape atau email target gagal total! Ahhh…pedih.., pedih hati ini seperti disayat sembilu. Delapan, sembilu, sepuluh. Krik..krik.

Keluar dari kamar, saya bertemu Si Kontet yang baru keluar dari kamar mandi. Saya berpamitan, dan dia langsung memberikan pelukan selamat tinggal yang hangat. Ah, baik sekali dia.

Saya memesan taxi di resepsionis hostel. Sial, saya harus membayar 500 Baht karena pesannya nggak dari kemarin. Si tante segera menelepon taxi dan saya disuruh menunggu 15-an menit. Oke. Selagi menunggu taxi, Si Kontet tiba-tiba nongol dengan backpack dan ukulelenya. Halah, mau kemana ya dia? Ternyata dia mau balik ke Bangkok, ketemu teman. Terus Si Jangkung gimana? Ditinggal sendirian di hostel. Sendiri. Sekali lagi, lin, SENDIRIAN!! Bukankah ini kedengarannya menggiurkan? slrrruuuppp... 

Seketika otak saya langsung menyusun itinerary baru. Gimana kalo saya tinggal sehari lagi? Gimana kalo tiket hari ini saya batalin, trus beli tiket go show aja besoknya? Ahh, pasti menyenangkan keliling Patong hanya berdua dengan Si Jangkung. Tapi ada dorongan kuat entah dari mana yang menyuruh saya membatalkan ide gila itu.

Taxi bandara datang, dan saya segera naik. Di dalam taxi, saya nggak berhenti mengutuki diri sendiri yang sudah memesan tiket hari ini. Tapi di satu titik, akhirnya saya menyerah dan pulang dengan pasrah. Seperti kata The Script:

If one day you wake up and find that you’re missing me
and your heart starts to wonder where on this earth I could be

thinking maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
and you’d see me waiting for you on the corner of the street...

Tapi perjalanan saya ke bandara malah diiringi lagu Thai sambil si Sopir bersenandung mengikuti lagu di radio. Perjalanan 45 menit ke bandara terasa lama, dan akhirnya saya sampai di Phuket International Airport yang kecil itu. Bye Phuket, Bye Thailand. 


-- The End -- 



Pengeluaran 9 Januari:



Taxi Patong-Airport         : 500 THB = Rp 160.000,-


Sunday, March 17, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 10 - Phuket)

8 Januari 2013

Pernah tidur dengan 9 laki-laki? Membayangkannya pun nggak pernah, hingga pagi itu saya terbangun dan menyadari bahwa penghuni kamar ini semuanya laki-laki (kecuali saya tentunya). Dengan cueknya salah satu dari mereka berjalan menuju kamar mandi hanya dengan kolor yang isinya menggelantung lunglai. Errrr... masih terlalu pagi! Bagaimana dengan penghuni diatas saya? Oh..sopan sekali dia, tidur dengan celana training *penonton kecewa* (Baca Kisah Sebelumnya)

Pagi itu saya harus ikut tour ke Phi-Phi Island. Sebenarnya malas, karena saya adalah turis anti mainstreem, haram hukumnya beli paket tour-tour-an. Tapi berhubung salah satu pulau yang dikunjungi adalah tempat syuting film The Beach, dan saya adalah Pengagum Leonardo Dicaprio Garis Keras, dengan sangat terpaksa saya merogoh kocek agak dalam dan bangun pagi untuk tour ini. Menurut perjanjian, mobil jemputan akan datang jam 8 pagi menuju dermaga. Berat rasanya meninggalkan calon suami Si Jangkung dan Si Kontet. Sabar ya sayang, aku pasti pulang *kecupbasah*

Ternyata bukan hanya orang Indonesia yang suka ngaret. Udah jam 8 lebih 10 menit dan jemputan dari travel agen belum datang. Saya ngobrol-ngobrol dengan ibu pemilik hostel yang cerewet, yang sebenarnya ramah. Katanya jarang-jarang orang Asia menginap di hostelnya. Setelah hampir setengah 9, si penjemput datang dengan mobil van putih. Di dalam mobil ada 1 orang cowok bertampang chinese.  Saya duduk di kursi paling belakang.  Belum 5 menit mendaratkan pantat di kursi, si cowok langsung mengajak saya kenalan dan tukeran nomer hp.  Ini yang harusnya saya lakukan sejak pertama bertemu Si Jangkung! Namanya Kevin, dari Singapore.

Si sopir van masih harus menjemput 8 peserta tour lainnya. Sebelum memasuki mobil, saya sudah tau kedelapan orang itu adalah Indonesian.  Kok tau? Karena mereka bergerombol dan ngerumpi kenceng banget dengan Bahasa Indonesia. Tadinya saya ngebayangin berjemur di Maya Bay dan Phi-Phi Islands ditemani bule-bule ganteng. Pupus sudah...

Mobil van membawa kesembilan orang Indonesia dan satu Singaporean ini menuju dermaga untuk bertemu peserta lainnya. Perjalanan kurang lebih 45 menit dan masih harus menunggu sebelum tour benar-benar dimulai. Kami naik ke salah satu kapal, bergabung dengan beberapa kelompok lain dan tour guide memberikan briefing singkat dengan English lancar beraksen Thailand yang sangat khas.

Batuan Karst Segede Autobot
Tujuan pertama adalah Maya Bay. Baru 15 menit perjalanan, disekitar kami sudah kelihatan batu-batu karang segede autobot. Cantik. Kami melewati gua tempat beternak sarang burung walet yang katanya harganya selangit itu. Setelah hampir 1 jam perjalanan, akhirnya sampailah kami di Maya Bay, tempat syuting film The Beach. Kami diberi waktu 30 menit untuk turun dari kapal dan berfoto-foto.  Saya seketika terpana. Inikah pantainya? Yakin?? Nggak percaya ah...



Maya Bay 
Setelah melihat gambar-gambar diatas, udah tau kan, kenapa saya nggak percaya kalau itu pantai yang buat syuting film The Beach. Pantainya rameeeee banget, kayak mall. Di filmnya itu ya, pantainya bersih, cantik, sepi (yaiyalah, kan ceritanya ayang Leo lagi nyasar di pulau tak berpenghuni).

Setelah 30 menit, saya naik kembali ke kapal dengan menelan kekecewaan. Kapal segera bergerak menjauhi Maya Bay, dan berhenti di salah satu andaman. Waktunya snorkeling. Laut disini airnya jerniiihhhhhhh banget, sampai dasar lautnya kelihatan. Saya sebenarnya nggak suka snorkeling, bahkan berenang pun saya nggak bisa (memalukan!). Tapi karena ingin sedikit menghitamkan kulit, dengan pertimbangan bule suka kulit kecokelatan eksotis, saya terpaksa nyebur tanpa pelampung dan berusaha sekuat tenaga agar tetap mengapung. Nggak gampang, lho! 


Pasangan yang Lagi Snorkeling. Romantic!
Puas snorkeling dan bermain dengan ikan-ikan, semua peserta kembali ke kapal. Waktunya makan siang di satu pulau, saya lupa namanya.  Di pulau itu, meja-meja sudah diatur dan peserta duduk berdasarkan van jemputan. Di meja sudah disiapkan nasi goreng, spaghetti, sup seafood, sapo tahu jepang, ayam goreng, buah-buahan. Kalau salah satu makanannya habis, pelayan segera datang untuk mengisinya kembali. Teman baru saya, si Kevin juga sigap mengisi piring saya setiap makanannya tinggal sedikit. Tinggal tunjuk, makanan segera mendarat di piring. What a nice guy. Setelah ngobrol-ngobrol dengan teman semeja, ternyata salah satu dari rombongan Indonesia yang satu mobil dengan saya tadi pagi adalah orang Toraja, sama seperti saya.

Dengan perut kekenyangan, saya kembali naik ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Phi-Phi Island. Sebelum sampai ke Phi-Phi, kapal kami mampir di satu pulau yang banyak monyet. Biasa aja sih, di Lagoi juga banyak yang beginian, malah lebih gede-gede.


Monyet
Setelah puas berfoto dengan monyet-monyet yang sangat tidak menarik, kapal segera menuju ke Phi-Phi. 45 Menit kemudian, kami sudah sampai di pulau yang pasirnya bersih. Phi-Phi Island. Pulau ini adalah salah satu yang terkena dampak tsunami parah di tahun 2004. Kata si Tour Guide, waktu itu banyak turis yang jadi korban dan pulau ini porak poranda. Sekarang, sisa-sisa bencana nggak nampak sama sekali. Mereka cepat pulih. Bandingkan dengan Aceh!

Karena udara lagi panas-panasnya, saya hanya sanggup ngadem di pojokan bar dengan musik regge sambil minum-minum cantik. Lagi-lagi teman baru saya menunjukkan kesopanannya dengan mentraktir minum. Peserta tour lainnya ada yang berenang, berjemur, dan leyeh-leyeh dibawah payung.

Satu jam kemudian, kami semua kembali ke kapal dan pulang ke dermaga. Perjalanan pulang hanya 30 menit. Di dermaga, sopir dan van yang kami tumpangi tadi pagi sudah menunggu. Kami semua diantar ke hostel/hotel masing-masing. Di perjalanan pulang, kami melewati Kata Beach dan Karon Beach yang tidak kalah ramainya dengan Patong. Saya sampai di hostel jam 5 sore, langsung mandi dan tidur. Muka dan kulit seluruh tubuh rasanya panassss, kebakar matahari. Ah, pasti si Jangkung bakalan pangling melihat kulit saya yang mendadak eksotik.

Kira-kira jam 8 malam saya kebangun karena lapar. Waktunya pas, karena Si Jangkung dan Si Kontet sedang merencanakan makan malam. Tanpa pikir panjang, saya segera ikut (dengan tampang baru bangun, rambut awut-awutan nggak disisir, kulit gosong). Tujuan makan malam kali ini adalah McDonald yang jaraknya hanya sepelemparan kancut batu dari hostel. Saya sudah membayangkan nasi mcD Thailand yang pulen, dan ternyata setelah sampai, mereka nggak menyediakan nasi. Dengan sangat terpaksa, demi menjaga hubungan bilateral antara Indonesia dan Swiss, saya ikut-ikutan makan burger.

Bangla Road Dimalam Hari. Background-nya errr.....
Setelah makan, kami berjalan-jalan di sekitar Patong, mengulangi rute yang semalam, lagi-lagi melewati Bangla Road. Kami melewati bar tempat saya numpang pee di malam sebelumnya dan memutuskan masuk. Pemain bandnya masih sama, dan lagunya masih rock n roll.  Beer, rock n roll, and chit-chat. Tanpa terasa kami sudah hampir 3 jam duduk sambil ngobrol, dan pengunjung semakin banyak. Akhirnya kami keluar dan kembali berjalan di sepanjang jalan Patong.  Di salah satu sudut jalan kami melihat semacam resto & bar dengan suasana outdoor. Kami bertiga duduk di kursi yang mengelilingi bar dan memesan Pinacolada karena perut sudah kembung beer. 


Pinacolada. Segerrrrr....
Tiba-tiba Si Jangkung melepaskan kalungnya yang ada cincin menggantung-gantung. Saya udah deg-degan, berharap dilamar. Aduhhhh...jangan sekarang dong, aku belum siap, sayang.. Tapi..., ternyata dia hanya mau pamer chain and ring trick. Yah, you know lah, biasanya laki-laki selalu berusaha pamer keahlian dihadapan wanita pujaannya *dilemparcincin* 

 

Yahh, triknya serupa dengan video diatas. Sebenarnya sih udah pernah liat yang semacam itu berkali-kali, tapi demi menyenangkan hati calon suami teman, akhirnya saya berpura-pura surprised. Saya dan Si Kontet ganti-gantian mencoba triknya, dia berhasil, saya nggak. Secara teori triknya gampang banget, hanya gerakan saya yang kurang cepat. Yang menarik, 3 orang bartender yang sedari tadi sibuk mengacak-acak bar (membuat cocktail) sekarang berhenti bekerja dan memperhatikan kami. Dengan antusias, mereka satu persatu mencoba, dan semuanya berhasil. Jadi kesimpulannya: saya orang yang lambat belajar.

Lagi-lagi kami pulang ke hostel menjelang pagi, saat jalanan udah nggak seramai malam hari. Kepala rasanya berat, kaki pegel, dan ngantuk. Sialnya, besok pagi saya harus terbang kembali ke Singapore.  Sampai di kamar, saya langsung tertidur begitu kepala menyentuh bantal.

“Linda, Linda?” sayup-sayup kedengeran suara dari atas. Dengan gerakan maksimal yang bisa dilakukan kepala yang berat, saya bisa melihat kepala Si Jangkung nongol dari bunk bed atas. 

Goodnight” kata si kepala itu kemudian tiba-tiba menghilang. Errrrr....

-- to be continued --



Pengeluaran 8 Januari 2013
Makan Malam                   : 179 Baht = Rp 57.280 (kurs 1 Baht = Rp 320)
(sisanya gratisan... hahhaha. Sirik kan loe?)
 

Sunday, March 3, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 9 - Phuket)

6 Januari 2013

Eat udah. Shopping udah. Love-nya mana? Udah hari ke-9 kok belum ada tanda-tandanya? Nggak sesuai judul nih. Sabaaarrr.. Jadi begini ceritanya: Entah jam berapa, bus yang saya tumpangi berhenti di suatu rumah makan yang cukup besar dan parkirannya luas sekali karena bus-bus besar dengan berbagai rute berhenti disini untuk makan malam. Semua penumpang turun, termasuk saya yang sudah sangat berdamai dengan kondisi jalanan dan sedang mimpi indah. Di dalam rumah makan sudah ada deretan meja dan kursi yang diatur sedemikian rupa membentuk kelompok 4 – 6 orang. Saya duduk di salah satu kursi, berkelompok dengan beberapa orang yang belum saya kenal. Diatas meja sudah dihidangkan nasi dan makanan khas Thai yang sebagian besar adalah hasil laut yang dikeringkan: teri, ikan asin, sotong kering, dan hewan-laut-entah-apa yang dikeringkan.

Sebenarnya saya nggak lapar-lapar banget, jadi saya makan sambil mata melihat-lihat sekeliling. Mencari mangsa, lebih tepatnya. Siapa tau ada pemuda ganteng yang terpana oleh tatapan-setengah ngantuk saya. Disaat itulah mata saya menangkap sosok jangkung, bertopi, melintas agak jauh dari meja saya. Pernah dengan lagu Bruno Mars ‘when i see your face, the whole world stops and stares for a while ...’? Mungkin maksud si pencipta lagu seperti yang saya rasakan waktu itu. Hati saya memang selalu lemah terhadap laki-laki ganteng. Tapi gantengkah dia? (menurut teman-teman saya, setelah saya pamerin fotonya, nggak ada yg bilang ganteng). Okelah, dia memang nggak ganteng, kali ini mungkin ada yang salah dengan mata saya. Tapi saya selalu mengingat wajah yang setengahnya tertutup topi dan berjalan cepat itu. Saya melanjutkan makan dan meyakinkan diri bahwa itu hanya salah satu pemuda lokal. Lupakan!  Selesai makan, saya kembali naik ke bus dan melanjutkan perjalanan dengan tertidur pulas. 

7 Januari 2013

Jam 7 pagi bus memasuki terminal di Phuket. Dalam hati saya berdoa semoga diantara penumpang ini ada yang mau ke Patong dan bisa sharing cost taxi yang cukup mahal. Setelah menunggu lama, akhirnya saya memesan taxi sendiri menuju Patong Beach dengan ongkos 450 Baht. Mahal buat ukuran kantong ini, tapi saya terlalu malas mencari angkutan umum.

Taxi yang Mengantarkan Saya ke Hostel
Perjalanan dari terminal Phuket ke Patong Beach ditempuh kurang lebih 40 menit. Patong Backpacker Hostel saya booking secara random sesaat sebelum memulai perjalanan karena hostel yang sebelumnya nggak bisa dipindahkan hari check in-nya (Baca Kisah Awal Perjalanan). Lokasinya persis di depan Patong Beach dan dekat banget dengan Bangla Road yang terkenal itu. Setelah check in, saya menuju kamar di lantai 3. Kamar yang saya pesan adalah mix dormitory dengan 5 bunk-bed (ranjang susun). Sekilas kondisinya jauh lebih buruk dari tempat tinggal saya di Bangkok dan lebih mahal. Di dalam kamar sudah ada beberapa cewek dan cowok bule yang sedang packing. Sepertinya mereka akan check out hari ini. Setelah melempar senyum ramah yang me-representasikan keramahan wanita Asia, saya segera menyimpan tas di sebelah bunk bed saya dan mandi. Kebetulan saya dapat bed bawah.

Kondisi Dorm Patong Backpacker Hostel (source)
Keluar dari kamar mandi, sambil menggosok-gosok rambut yang masih basah, saya nyaris bertabrakan dengan cowok. Mudah-mudahan dia terpukau melihat saya dengan rambut basah seperti di telenovela. Saya berniat mengibas-ngibaskan rambut basah saya, tapi sepertinya itu terlalu berlebihan. Cowok itu tinggi, putih, dan ... hey, ini kan cowok bertopi yang di rumah makan tadi! Tapi kali ini topinya dilepas dan entah kenapa saya langsung bisa mengenalinya. Aduhhh... Rambutnya hitam, matanya hitam dan tingginya nggak wajar. Orang lokal bukan ya? Tapi posturnya dan gerak-geriknya nggak seperti orang Asia pada umumnya.  Saya hanya bisa memberikan senyum terbaik saya, sambil otak nggak berhenti mikir mau ngomong apa. Saya sengaja berlama-lama menggosok gigi di wastafel sambil memperhatikan cowok itu yang lagi sibuk entah ngapain di wastafel di belakang saya (posisi wastafel berhadap-hadapan dan ada cermin). 

Setelah mandi saya merapikan bed saya, memasang seprei (yang kebetulan adalah pekerjaan yang saya benci) lalu cowok itu masuk dan ternyata bed nya diatas saya. Oh my gosh! Hasrat pengen ngobrol nggak terbendung lagi dan saya pun memulai basa-basi dengan english level rendah saya.

“Hi, we were on the same bus from Bangkok, right?” saya hapal betul kalimat pertama saya, yang sudah dilatih sejak keluar dari kamar mandi.hehehe.. Tapi jawabannya mengecewakan.

“Really? I don’t notice you,” arrggghhh...ini adalah kalimat pembuka yang menyakitkan. “Are you from here?” tanyanya lagi. Seperti biasa, saya dikira orang lokal. Ngapain coba orang lokal sok-sok-an tinggal di hostel. 

"No, I'm From Indonesia," jawab saya.

"Really?" tanyanya takjub.

"Ya," jawab saya setengah bangga. Pasti dia salah satu pengagum panorama Indonesia yang eksotik.

"Really?" tanyanya lagi dengan ekspresi seperti mau menerkam saya.

"Ya. What's wrong?" tanya saya setengah bingung dan takut.  

"Ibu saya dari Samarinda," tiba-tiba dia bisa ngomong pake Bahasa Indonesia.  Apa? Saya nggak salah dengar nih? "Saya bisa Bahasa sedikit-sedikit," lanjutnya dengan terbata-bata seperti suaminya Melanie Ricardo.  

"Really?" Sekarang saya yang bertanya takjub.

 "Ya"

"Really?" sekarang saya yang mau menerkam dia.

Percakapan selanjutnya mengalir begitu saja, lancar dan sangat menyenangkan. Namanya Teri Si Jangkung, asal dari Swiss. Ya Tuhan, inikah jodoh saya? (Ngarep!). Tiba-tiba bumi jadi begitu sempit dan udara dalam kamar terasa pengap, jadi saya perlu udara segar. Yes, i was over excited. Saya keluar dan berjalan sendirian dengan kepala dipenuhin Si Jangkung.

Patong Beach
Saya berjalan menyusuri Patong. Tujuan saya ke Jungceylon, satu-satunya mall di Phuket ini. Dalam perjalanan saya melewati penjual paket tour Phi-Phi Island. Setelah tawar-menawar yang cukup alot, akhirnya saya dapat potongan 50% karena kata penjualnya saya mirip cewek Thai. What the... Saya memperhatikan di sekitar Patong Beach banyak penginapan sekelas hostel sampai hotel berbintang. Suasananya mirip sekali dengan Kuta, Bali. Jalanan-nya mirip dengan Legian. Setiap 5 menit muncul mobil box dengan iklan Thai Boxing dengan TOA yang berisik. 

Iklan Thai Boxing di Jalanan Patong
Penjual makanan juga bertebaran di daerah wisata ini. Tidak seperti Bangkok yang kebanyakan makanannya pork, disini lebih banyak seafood yang tentunya halal. Saya mencoba Tom Yam di salah satu warung. Rasanya ini Tom Yum paling enak yang pernah saya makan, mungkin karena resepnya masih original.  Berdasarkan harga makanan dan tarif hostel, saya menyimpulkan bahwa: Biaya hidup di Phuket jauh lebih besar dibandingkan dengan Bangkok. 

Tom Yum Asli Thailand
Setelah berjalan cukup jauh dan bertanya kiri-kanan, akhirnya saya sampai di Jungceylon yang suasananya mirip dengan Galeria Mall Denpasar dengan plaza di tengah-tengah nya. Nggak banyak yang bisa dilihat disini karena saya sudah mabok mall di Bangkok. Sometimes shit happens while you travel. Tiba-tiba sendal saya putus dan saya terpaksa merelakan berlembar-lembar Baht ke kasir demi sepasang sepatu pink  gonjreng di mall ini. Ketika berjalan kembali ke hostel, saya menyadari kalau sepatu ini belum beradaptasi dengan kaki saya. Baru setengah perjalanan, tumit saya lecet-lecet dan harus diberi plester. Sampai hostel saya langsung tidur, walaupun masih sore, tidak lupa curi-curi pandang ke penghuni bed atas yang juga sedang tidur. 

Jungceylon Phuket
Hari sudah gelap ketika kami dibangunkan oleh pemilik hostel yang tiba-tiba masuk dan menyalakan lampu kamar kami yang sangat gelap. Sebelumnya nggak ada yang menyalakan lampu karena semua penghuni kamar (saya, Si Jangkung, dan satu orang lainnya) tidur nyenyak. Si pemilik hostel memaksa kami keluar, maksudnya jalan-jalan diluar. Saya bangun dan duduk di pojokan tempat tidur sambil mikir mau makan apa dan dimana. Kota ini begitu asing dan mahal.

"Linda sudah makan?" tanya Si Jangkung yang tiba-tiba kepalanya nongol dari atas bed, masih dengan Bahasa Indonesia patah-patah ala Cinca Laura.

"Belom," jawab saya sambil berdoa dalam hati mudah-mudahan diajak makan.

Tuhan selalu mendengarkan doa umatnya yang sedang kasmaran dan dalam kesulitan keuangan. Si Jangkung mengajak saya mencari makan di sekitar hostel dan saya baru tau kalau orang satu lagi yang molor itu adalah teman seperjalanannya, namanya Janos  Si Kontet. Kami bertiga keluar dan berjalan tanpa tujuan.  Bukan pekerjaan gampang menentukan tempat dinner di first date kami ini. Errr...  Setelah berjalan cukup jauh, kami memutuskan makan di salah satu restoran seafood di pinggir pantai. 

Sambil makan, obrolan pun berlanjut dan mereka cerita bahwa sebelum ke Thailand, mereka melakukan perjalanan ke Argentina, Kanada, Brazil, dan Chile selama 4 bulan dan berlanjut ke Asia untuk waktu yang tidak ditentukan. Wowww... Secara otomatis di otak saya langsung muncul kalkulator imaginer dan menghitung berapa kira-kira biaya perjalanan mereka selama ini dan menanyakan apa pekerjaan mereka.  Dibandingkan mereka, saya hanyalah flashpacker amatiran nan kere dari negara dunia ketiga. Si Kontet malah memamerkan tas-nya yang penuh dengan bendera negara-negara yang pernah dikunjunginya. Selain tas kebanggaannya, dia juga menunjukkan ukulele yang dipelajarinya di Chile dan sekarang dibawa kemana-mana. 

Selama ini saya selalu berpikir bahwa bule-bule dengan backpack itu kere. Sekarang saya sadar, mungkin budged yang mereka keluarkan untuk backpacking selama 4 bulan sama dengan budged untuk paket liburan exclusive di Maldives selama 2 minggu, bahkan lebih. Selama ini saya terkagum-kagum dengan traveler seperti Trinity dan Claudia Kaunang yang menurut saya traveler sejati. Mereka berdua adalah role model saya. Saya tergila-gila dengan kisah mereka di bukunya masing-masing. Dan sekarang, di depan saya duduk dua orang backpacker yang sama kerennya dengan Trinity atau Claudia Kaunang. Saya membayangkan kalau kisah mereka selama backpacking dibukukan, pasti seru sekali. Oiya, Si Kontet adalah pekerja konstruksi, dan Si Jangkung adalah IT engineer (tau kan, penghasilan IT-ers di Eropa sana). Mereka juga menanyakan pekerjaan saya, dan dengan terpaksa saya mengaku sebagai arsitek. Untung saja mereka nggak menanyakan bangunan apa yang sudah saya buat, karena saya pasti bingung jawabnya.

Setelah makan, kami berjalan-jalan di sekitar Patong Beach, melihat lampion-lampion yang diterbangkan. Romantic! (kalo saja saya hanya berdua dengan Si Jangkung). Bangla Road yang tadi siang masih sepi sekarang tertutup untuk kendaraan bermotor dan menjadi terang benderang oleh bar dan night club di kiri-kanan jalan. Inilah night life Patong yang terkenal liar itu. Musik hingar-bingar, cewek-cewek yang bergelayutan di tiang besi. Sepanjang jalan kami sibuk menolak tawaran orang-orang untuk masuk ke bar-nya. 

Setelah berjalan cukup jauh dari Bangla Road, kami menemukan Hard Rock Cafe yang lebih sepi dan sepertinya enak buat nongkrong. Thanks God, akhirnya saya bisa mengistirahatkan tumit saya yang nyeri semakin menjadi-jadi. Kami bertiga masuk dan ngobrol sampai tengah malam. Mereka berdua adalah peminum beer yang handal. Tidak terhitung lagi berapa botol yang mereka habiskan, sementara saya yang nggak biasa, hanya menghabiskan 1 botol untuk berjam-jam. Mereka berdua bahkan heran mendengar pengakuan saya yang nggak biasa minum beer dan nggak merokok. Sorry dear, saya adalah wanita Asia yang taat pada adat ke-timur-an *dilemparsepatupink.  Rombongan kami bertambah 1 orang Australia yang dikenal Si Jangkung dan Si Kontet di pantai tadi siang. (Kapan mereka ke pantainya ya? Kok saya nggak diajak?).

Bangla Road (source)
Dalam perjalanan kembali ke hostel, saya kebelet dan numpang pee di salah satu bar yang kami lewati. Niat semula hanya mengantarkan saya, tapi karena pemain band-nya bagus, akhirnya kami duduk dan memesan beer lagi. Di Thailand, beer lokal yang terkenal adalah merek Singha. Rasanya manis dan sepertinya lebih keras dibanding Bintang. Menjelang pagi, setelah pemain band selesai, kami akhirnya kembali ke hostel. 

Belum pernah saya secapek ini dan seberapapun kerasnya berusaha tidur, mata ini tetap melek. Saya mendadak insomnia. Otak saya mengulang lagi kejadian-kejadian beberapa hari ini. Terlalu banyak kebetulan.  Saya kebetulan berhenti dari pekerjaan dan memutuskan berangkat lebih cepat ke Thailand. Kebetulan pesan hostel yang ini, karena hostel yang pertama nggak bisa di-cancel.  Kebetulan ditempatkan di kamar ini dari sekian banyak mix dorm yang ada di hostel ini. Insomia saya malam ini juga didukung oleh bunk bed yang saya tempati begitu ringkih. Sedikit saja bergerak, tempat tidurnya seperti mau runtuh.

Hari ini begitu menyenangkan, walaupun banyak hal yang harusnya bisa lebih indah seandainya saya tidak  grogi berhadapan dengan Si Jangkung. Harusnya saya lebih banyak bertanya tentang kehidupannya.  Harusnya saya lebih banyak tersenyum, bukannya mengerutkan dahi kebingungan setiap diajak ngobrol.  Harusnya saya bisa mengimbangi langkahnya yang panjang-panjang agar bisa berjalan di sampingnya, bukannya terseok-seok dibelakangnya karena kaki sakit kemakan sepatu sambil cekikikan dengan Si Kontet.  Harusnya saya jalan-jalan dengan pakaian lebih baik lagi, bukannya pake celana tidur bunga-bunga yang kekanak-kanakan ini, tapi apa daya celana bersih sudah habis dan saya males nge-laundry.  Harusnya saya lebih banyak berfoto dengan Si Jangkung.  

Berbagai macam pertanyaan muncul dalam pikiran saya. Seperti apa ibunya Si Jangkung yang asli Indonesia itu?  Mereka berdua gay nggak ya? Besok mereka mau kemana ya? Saya diajak jalan-jalan lagi nggak ya besok?  Bangun pagi saya harus bilang apa ya? Si Jangkung suka nggak ya sama saya? Kalo kita married dan punya anak, anak kami tetep bule nggak ya? Hahaha.. Seketika saya menyesal sudah membeli paket tour ke Phi-Phi Island untuk besok pagi.

Ya begitulah, akhirnya perjalanan saya menghasilkan sesuatu yang berarti. Saya jatuh cinta pada dua hal  sekaligus: Travelling dan Si Jangkung. Thanks to Si Jangkung and Si Kontet yang secara tidak sadar telah menginspirasi saya. Suatu hari saya pasti berkunjung ke negara kalian untuk melihat salju.

Si Kontet dan Si Jangkung
-- to be continued --

Pengeluaran Hari Ini:
Taxi                                               : 450 Baht
Hostel                                            : 1000 Baht (untuk 2 malam)
Paket Tour Phi-Phi Island              : 1400 Baht
Tom Yum + soft drink                   : 100 Baht
Total pengeluaran hari ini                : 2950 Baht = Rp 944.000,- (kurs 1 Baht = Rp 320)