Monday, February 25, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 8 - Bangkok)

6 Januari 2013

Setelah melalui hari yang super-absurd kemarin, hari ini saya mengalami Hectic Day. Saya harus mengulang kembali kunjungan ke Wats (wat – wat) yang gagal kemarin dan harus belanja oleh-oleh sekaligus packing. Pagi-pagi sekali, setelah yakin semua barang sudah diamankan, saya check out dan menitipkan backpack, tripod, dan payung (dua barang terakhir bener-bener merepotkan dan nggak guna) di luggage room. Penitipan barang disini gratis dan bisa ditinggal sampai 3 bulan. Saya titip barangnya nggak selama itu sih, karena bus ke Phuket berangkat malam ini jam 21.30. Menurut perhitungan, saya harus kembali kesini sebelum jam 6 dan berangkat ke terminal sebelum jam 7 malam. Perhitungan jam ini sangat penting untuk para traveler.

Urusan check out selesai, saya segera ke Stasiun BTS National Stadium di depan hostel. Tujuan pertama adalah Grand Palace. Untuk sampai kesana, saya memilih menggunakan transportasi Chao Phraya Express Boat yang berhenti di beberapa dermaga kecil (pier). Dari National Stadium saya menuju Stasiun Sapan Taksin yang terintegrasi dengan Central Pier

Pemandangan dari Central Pier

Chao Phraya Express Boat

Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun lebih mudah dicapai dengan Chao Phraya Express Boat. Central Pier adalah pusatnya dermaga yang dilewati kapal-kapal yang melewati Sungai Chao Phraya. Sebelum naik kapalnya, perhatikan dulu bendera yang berkibar-kibar diatasnya karena nggak semua kapal berhenti di semua dermaga. Benderanya juga kecil, jadi mata harus jeli untuk dapat melihatnya. Untuk sampai ke kawasan Grand Palace, carilah kapal yang benderanya warna orange.

Rute Chao Phraya Express Boat (source)

Grand Palace

Berangkat dari Central Pier, saya turun di Tha Tien Pier. Dari dermaga, harusnya jalan kaki 5 menit udah nyampe di Grand Palace kalau ngikutin petunjuk dengan benar. Tapi dengan bodohnya saya malah ambil jalan ngiterin tembok Grand Palace yang luasnya berhektar-hektar itu untuk sampai di pintu masuknya. Capek? Banget!

Kondisi Jalan di Sekitar Grand Palace
Sampai di dalam, saya langsung bertemu rombongan tour yang sudah bisa dipastikan dari Asia dilihat dari rombongan yang jumlahnya puluhan, 50% udah uzur, dan berfoto dengan spanduk sponsor. Antrian pengunjung di loket tiket nggak banyak. Tiket masuk seharga 500 Baht (sepertinya baru aja naik) satu paket dengan peta dan sejarah singkat Grand Palace serta tiket masuk Dusit Palace.


Bagi turis independen semacam saya, agak kesulitan menjelajahi tempat ini. Alasan pertama, karena sulit nyari tukang foto gratisan. Alasan kedua, orang-orang yang datang kesini rombongan, jadi agak susah mengambil gambar objek-objek wisatanya karna pasti ada aja yang ‘bocor’. Jadi sedikit tips dari saya, datanglah di pagi hari sebelum rombongan tur menyerbu tempat ini. Sebenernya saya nggak begitu tertarik wisata ke tempat ini. Berhubung saya penganut ‘no pic is hoax’, jadi rasanya belum ke Bangkok kalau belum foto di atap kerucut emas. 


Rombongan Turis dan Turis Independen

Puas berkeliling, saya berjalan menuju pintu keluar dan sempat melihat prajurit Thailand baris berbaris. Oiya, untuk masuk ke Grand Palace pengunjung harus berpakaian sopan. Jadi short pants, rok mini, tank top sama bikininya disimpen dulu yaaa...

Tentara Thailand Sedang Latihan Baris-Berbaris
Lokasi Grand Palace bersebelahan dengan Wat Pho sehingga saya memutuskan untuk mencoba masuk (lagi) kesana. Masak sih mereka dua hari nggak punya kembalian? Kan yang datang tiap hari ratusan. Kebetulan hari itu saya nggak membawa pecahan 100 baht. Bukannya banyak duit, tapi demi pengiritan saya nggakHH belanja apa-apa dengan pertimbangan duit pecahan kecil pasti cepat pula habisnya. Di loket penjualan tiket saya ditolak lagi untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama. Terlalu! Bukan hanya saya yang kecewa, dua orang bule di depan saya juga nggak jadi masuk karena si kasir nggak punya kembalian. Buat para pengelola tempat wisata di Indonesia, jangan ditiru ya!

Akhirnya saya kembali ke Tha Tien Pier, karena saya harus berburu oleh-oleh di sekitar Siam Square. Hampir setengah jam menunggu tapi kapal bendera orange tak kunjung datang. Di dermaga sebelah banyak orang yang menunggu kapal untuk menyeberang ke Wat Arun. Saya pindah ke sebelah, ikutan antrian  menyebrang sungai. Hanya dengan 3 Baht, saya sampai ke lokasi Wat Arun.

Dermaga Menuju ke Wat Arun

Wat Arun

Wat Arun atau Temple of The Down tadinya adalah bangunan tertinggi di Bangkok, sebelum gedung-gedung pencakar langit dibangun. Seluruh dindingnya dihiasi patung cantik yang katanya berasal dari pecahan keramik China berwarna-warni. Kata orang-orang, pemandangan dari puncak bangunan sangat indah tetapi harus melewati tangga curam dan membayar tiket masuk. Karena masih trauma dengan kejadian di Wat pho tadi, saya nggak berniat sama sekali untuk masuk. 

Sedang asik foto-foto, saya diajak ngobrol Bahasa Thai oleh ibu-ibu. Lagi-lagi saya disangka orang lokal. Setelah menjelaskan bahwa saya dari Indonesia, ibu ini malah menawarkan berfoto pakai pakaian adat Thai dengan latar candi Wat Arun. Saya terima tawaran Si Ibu untuk menambah bukti otentik saya pernah ke Bangkok.
Pintu Masuk Wat Arun
Pertama-tama, saya dipersilahkan memilih warna baju. Ada shocking pink, soft pink, merah, hijau, orange, kuning, biru. Warnanya bagus-bagus. Bolah nggak bu, saya pakai bajunya pink, kainnya biru, beltnya kuning? Setelah lama memilih warna, saya memutuskan memilih biru karena kontras dengan warna rumput (ilmu warna di bangku kuliah kepake juga. Thanks, Pak Beni). Pakaian adat ini kelihatannya ribet, tapi percayalah, ini gampang banget pakainya. Saya bahkan nggak perlu copot baju. Cukup lilitkan kain, pasang belt, pakai mahkota, pakai gelang, pakai kuku palsu, dan voila! Saya jadi serupa Wolferine tapi lebih feminin. FYI, foto-foto kali ini menggunakan kamera pribadi saya, kalau pakai kamera si penyewa baju mungkin bayar lagi. 


Cocok nggak saya pakai baju Thailand? 

Setelah puas foto-foto dengan pakaian adat Thailand, saya kembali menyeberang sungai ke Tha Thien Pier dengan membayar 3 Baht. Kali ini kapal bendera orange langsung datang dan saya naik. Tujuan selanjutnya adalah belanja oleh-oleh di Siam Square dan sekitarnya. Dari Tha Thien Pier saya turun di Central Pier dan menuju BTS Sapan Taksin. Dengan BTS saya turun di National Stadium yang salah satu pintu keluarnya langsung mengarah ke MBK.


Siam Square


Puas belanja oleh-oleh di MBK, masih banyak waktu sebelum berangkat ke terminal. Ada tempat yang belum saya kunjungi, yaitu Pratunam Market dan Platinum Fashion Mall. Lokasinya masih di sekitar Siam Square yang penuh dengan mal, hotel mewah, dan restoran terkenal. Siam Square inilah kawasan bisnis terbesar di Bangkok yang dulu sempat luluh lantak dibakar demonstran berkaus merah. Sekarang kawasan ini benar-benar pulih dan menjadi surga wisata belanja. FYI, kedutaan Indonesia lokasinya di sekitar kawasan ini lho...

Saya belum yakin benar lokasi Pratunam Market ini. Saya berjalan di skywalk yang menghubungkan berbagai pusat perbelanjaan. Setiap bertanya ke orang-orang, saya selalu diberi petunjuk yang sama: go straight, and turn left. Saya selalu belok kiri setiap skywalk-nya bercabang ke kiri dan selalu berakhir di mall mewah, yaitu Siam Paragon dan Central World.






Central World (source)
Setengah jam kemudian, akhirnya sampailah saya di Platinum Fashion Mall, yaitu salah satu pusat grosir terbesar dan termurah di Bangkok. Lokasinya berada di belakang Central World, dan memang harus belok kiri dan jalan cukup jauh. Masuk ke dalam Platinum ini benar-benar terasa atmosfer belanjanya. Karena harga pakaian disini sangat murah dan bisa ditawar, orang-orang yang datang belanja disini nggak bawa kresek atau tas, tapi travel bag! Jangan heran kalau di sepanjang lorong banyak ibu-ibu dan cewek-cewek yang geret-geret Travel bag raksasa.

Platinum Fashion Mall (source)
Demi alasan penghematan saya hanya membeli beberapa barang dan kembali fokus ke tujuan utama, yaitu Pratunam. Lokasi Pratunam Market berada di seberang Platinum Mall. Bentuknya seperti pasar tradisional dengan tenda-tenda dan pedagang kaki lima. Inilah pasar terlengkap yang ada di Bangkok. Konon katanya kalau mencari barang disini dan nggak ada yang jual, berarti barang tersebut nggak akan didapatkan di seluruh Bangkok. Untuk sampai kesana saya harus lewat skywalk yang bantuknya bagus.

Jembatan Penghubung Platinum Fashion Mall dan Pratunam Market (source)
Menurut survei saya, harga di Pratunam lebih murah dari Platinum, mungkin karena yang belanja kebanyakan orang lokal. Kalau barang belanjaan sangat banyak, bisa menggunakan jasa pengiriman ke hotel tempat menginap atau langsung dikirim ke luar negeri.

Hari sudah semakin sore, saya harus segera mengambil barang di LubD dan menuju terminal. Perjalanan ke hostel benar-benar melelahkan. Sebenarnya saya bisa naik BTS dari Ratchadewi ke National Stadium, tapi lagi-lagi demi penghematan dan kesehatan (kantong) saya memilih jalan kaki.

Southern Bus Terminal


Sampai di hostel saya segera mengambil barang titipan dan melakukan re-packing. Barang-barang dikeluarkan semua dari tas dan disusun kembali dengan barang belanjaan dan oleh-oleh. Setelah beres, saya naik BTS ke Victory Monumen. Karena sudah hapal rutenya, saya dengan mantap menunggu bus no.511.



Agak repot membawa 1 backpack, 2 tas jinjing, 1 payung dan 1 tripod. Di dalam bus saya mengalami kesulitan bergerak karena takut payung saya nyolok mata orang. Ternyata dengan bus ini hanya butuh waktu 20 menit sampai ke Southern Bus Terminal. Masih setengah nggak percaya, saya segera turun dan menuju ke ruang tunggu di lantai 2. Jadi bus yang kemarin itu rutenya muter-muter Bangkok dulu ya?


Suasana di dalam Terminal (source)

Lagi sibuk-sibuknya mengatur barang bawaan, tiba-tiba dari pengeras suara ada lagu lokal berkumandang. Anehnya, orang-orang yang sedang duduk di ruang tunggu segera berdiri. Refleks. Saya hanya bengong, kebingungan dan nggak berani duduk. Menurut info orang lokal, setiap jam tertentu menjelang malam, lagu kebangsaan diperdengarkan dan orang-orang wajib berdiri dan menghentikan kegiatannya. Setiap hari. Amazing Thailand!


Voucher Makanan + Minuman

Karena bus berangkat masih lama, saya menuju foodcourt di tantai 3. Semua makanan ditulis dalam bahasa Thai, jadi saya hanya bisa mengidentifikasi makanan berdasarkan gambar dan memesan salah satu makanan di lapak ibu-ibu. Makanannya siap, dan saya memberi duit 100 Baht. Bukannya diterima, ibu ini malah ngomel-ngomel pake bahasa Thai. Kurang? Saya menambahkan 100 Baht lagi dan omelanya makin menjadi-jadi. Ditengah kebingungan saya, ada pembeli yang ngejelasin bahwa bayarnya pakai voucher elektrik yang dijual di counter khusus. Saya segera ke counter dan membeli voucher seharga 100 Baht. Voucher ini bisa ditukar dengan makanan dan minuman di  dalam area foodcourt. Canggih! Terminal bus lho ini, bukan bandara. Voucher ini bisa di top-up dan kalau ada sisanya bisa ditukar uang senilai sisa voucher.

Sekitar setengah jam sebelum waktu berangkat, saya segera ke platform. Terminal disini sangat teratur. Seperti bandara, ada beberapa platform dan gate yang diberi nomer sesuai dengan rute dan perusahan bus. Ada lebih dari 30 gate. Saya menuju gate 33 seperti yang tertulis di tiket. Wowww, busnya bertingkat, dan setiap bus ada pramugarinya. Keren! Tepat jam 21.30 bus segera berangkat ke Phuket. Saya duduk di lantai 2 bus, sebelahan dengan ibu-ibu lokal. Awalnya dia mengajak saya ngobrol dengan bahasa Thai dan saya hanya bisa menggeleng dan ‘kapunka’.

Bus ini jalannya kencang banget, mungkin sopirnya ex. Sumber Kenco*o. Untung jalanan disini mulus dan nggak ada lubang. Awalnya saya agak ketakutan karena setiap melihat keluar jendela, jalanan rasanya jauh sekali dibawah sana. Lama kelamaan saya terbiasa dan akhirnya tertidur pulas. Bye Bangkok.

Bus Bangkok - Phuket
NB: Dua orang yang tidak sengaja terfoto dalam gambar di atas berperan penting dalam perjalanan saya selanjutnya. 

-- to be continued --




Pengeluaran 6 Januari 2013
BTS National Stadium – Saphan Taksin    :  20 Baht
Central Pier – Tha Thien Pier                    :  15 Baht
Grand Palace                                          : 500 Baht
Seberangin Sungai PP                             :    6 Baht
Sewa baju Thai                                        : 200 baht
Tha Thien Pier – Central Pier                     :  15 Baht
Makan siang (KFC)                                  :   75 Baht
BTS Saphan Taksin – National Stadium     :   20 Baht
BTS National Stadium – Victory                :   40 Baht
Bus 511                                                   :   16 Baht
Makan malam                                          :   80 Baht



Total Pengeluaran 6 Januari 2013              : 987Baht = Rp 315.840,- (kurs 1 Baht = Rp 320)

Cerita Sebelumnya

2 comments :

  1. seruu bgt ke thailand, apalagi solotrip, saya juga lagi belajar nih jadi solo trip :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seruuu... Tapi ada temen kakaynya seru juga. Yukk..

      Delete