Tuesday, February 19, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 7 - Bangkok)

5 Januari 2013

Ini adalah hari ter-absurd dalam hidup saya.. Kalo diceritain mungkin agak panjang, bisa satu buku. Tapi kalo ada yang saya lewatin sayang. Jadi jangan bosan ya kalau ceritanya agak panjang,hehehe...

Southern Bus Terminal

Hari ini diawali dengan bangun pagi-pagi sekali, dengan tujuan ke Southern Bus Terminal, beli tiket buat ke Phuket besok. Dari hasil browsing semaleman, ternyata terminal itu letaknya jauh di pinggir kota dan banyak sumber yang bilang terminalnya susah dijangkau dengan transportasi umum. Tapi ada informasi yang nyempil dari salah satu blog bahwa ada bus dari Victoria Monumen yang menuju kesana. Bus nomer 511, warna orange.

BTS National Stadium persis di depan Hostel
Jam 8 pagi, saya ke Stasiun BTS National Stadium yang berada persis di depan hostel. Saking deketnya, saya yakin koprol dari kamar juga nyampe. Ini pertama kalinya saya ke stasiun BTS dan nggak ada kesulitan mempelajari rutenya dan cara mendapatkan tiketnya. Tujuan saya kali ini adalah Stasiun Victory Monumen, harganya 40 baht. Oiya, mesin tiket BTS ini hanya terima uang koin. Tiketnya juga lucu-lucu, tapi sayang nggak bisa dibawa pulang L

15 menit kemudian saya sudah turun di Stasiun Victory Monument. Secara random saya memilih keluar di pintu kiri dan berharap langsung ketemu halte bus. Nggak jauh dari pintu keluar ini ada halte bus, saya segera kesana dan duduk manis menunggu bus nomer 511. Tapi kok insting saya mengatakan bus nya nggak lewat halte ini ya? Akhirnya saya memutuskan bertanya ke salah satu bapak yang lewat. Bertanya kepada orang lokal di Bangkok ini gampang-gampang susah ya, karena jarang yang bisa English. Dan terjadilah percakapan dalam English level rendah saya :

excuse me, do you know how to get to Sai Tai Thaling Can terminal?” tanya saya dengan senyum semanis mungkin. Nama terminalnya udah saya hapalin dari semalem. Sai Tai Thaling Chan itu adalah nama lokalnya Southern Bus Terminal.

Si Bapak menjawab dengan bahasa yang nggak saya ngerti. Sepertinya dia tau maksud saya, tapi agak susah ngomongnya. Akhirnya dia keluarin hp dari sakunya, dan ngetik sesuatu trus diliatin ke saya. Dan tulisan apa itu? Angka 28. Sambil ngeliatin layar hapenya ke saya, bapak itu nunjuk-nunjuk ke seberang jalan, agak jauh. 

Tiket BTS

Bus twenty eight?” tanya saya nggak yakin. Bapak itu ngangguk-ngangguk.

So i have to pass the road?” tanya saya lagi. Bapak itu anggukannya makin kenceng. Sipp. Sebelum menyeberang jalan, saya mengucapkan ‘kapunka’ sambil merapatkan kedua tangan di depan dada, tanda ucapan terima kasih dalam bahasa Thai. Gesture ini menjadi gaya andalan saya selama di Thailand, baik itu kenalan dengan orang baru, minta maaf, terima kasih, flirting terselubung, dan bahkan untuk pesen makanan.

Saya segera menyeberang jalan. Ternyata dari sisi jalan yang ini Monumen Victorianya kelihatan, dengan bus-bus yang ngetem di sekitarnya. Saya berjalan agak cepat dan sampai di depan Victoria Monumen. Disana udah banyak bus dan orang-orang yang sedang menunggu bus. Setelah menunggu agak lama akhirnya dateng juga nih bus no 28. Kondisi busnya mirip kopaja yang udah nggak keurus. Semua bus di Thailand ini pake huruf cacing, jadi saya nggak pernah tahu rutenya kemana aja kalo nggak nanya orang lokal. Saya memastikan dulu ke sopir ini bus bener-bener ke Southern Terminal kemudian duduk cantik. Bus melaju.

Victory Monument (source)
20 menit pertama di dalam bus saya sangat menikmati perjalanan. Melihat secara langsung kondisi kota Bangkok dan tempat wisata mana aja yang dilewatin bus ini. Setelah lewat 20 menit saya mulai gelisah, mata tetep awas mencari-cari terminal dengan atap hijau menjulang seperti yang kelihatan di Google. Makin lama gedung-gedung tinggi makin jarang, sepertinya ini udah jauh banget dari kota. Pasrahlah saya kalo nyasar, tinggal naik taxi ke stasiun BTS terdekat. 40 menit berlalu, dan bus sepertinya makin jauh keluar kota. Hampir 1 jam, akhirnya kelihatan juga si atap hijau. Saya bersiap-siap turun di halte berikutnya, tapi ternyata bus ini masuk ke terminal dan berhenti diantara bus-bus sejenisnya. Jadi rute terakhir bus ini di terminal? Yahhh..tau gitu kan tadi santai-santai aja saya, pak!

Southern Bus Terminal  (source)
Petunjuk di terminal ini sangat jelas. Penjualan tiket ada di lantai 2 gedung. Terminal bus ini ada di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Hebat, nunggu bus bisa sambil shopping,hehe.. Sampai di lantai 2 saya bingung karena yang jualan tiket banyak banget, dengan rute yang berbeda-beda. Saya langsung menuju loket yang ada tulisan PHUKET gede-gede di depannya, dan membeli tiket kelas 1 seharga 794 Baht. Sebenarnya masih ada tiket yang lebih murah, tapi saya mau sedikit memanjakan diri dengan sedikit kenyamanan dalam perjalanan kali ini. Backpacker juga berhak nyaman.

Tiket sudah di tangan, satu beban hilang. Sebelum pulang saya makan di luar terminal. Pork, pork, and pork,hehehe... Setelah makan saya menunggu bus di halte depan stasiun. Tujuan berikutnya Chatucak Market. Nggak nyampe 5 menit, bus no 511 dateng, dan tanpa pikir panjang saya segera naik. Duduk di kursi kosong saya tenang-tenang aja sampai kondekturnya nyamperin.

Bus di Thailand (source)
“Victoria Monumen!” kata saya sambil ngasih duit 20 baht.

Si ibu kondektur ngucapin sesuatu dalam bahasa Thai yang intinya nyuruh saya turun dan menyeberang jalan, naik ke bus dengan nomer sama tapi arah sebaliknya. Oke, saya turun di dekat jembatan penyeberangan dan nggak bayar,hehehe.. Saya turun, menuju halte di seberang jalan. Nggak lama kemudian bus 515 dateng dan saya naik. Bus penuh sesak dan saya berdiri desek-desekan. Karena nggak yakin bayar berapa untuk bus ini, saya nanya ke cewek yang berdiri persis di sebelah saya. 17 Baht, kata dia.

Ditengan perjalanan, bus ngelewatin sebuah kantor pos, dan cewek di sebelah saya nyolek temennya yang duduk sambil ngomong “itu ada kantor pos!"

Apa? Dia bilang kantor pos apa saya yang salah denger ya? Saya makin menajamkan kuping. Nggak lama kemudian mereka ngobrol pake Bahasa Indonesia. Amazing! Coba pikir: ada berapa persen kemungkinan kamu naik bus di Thailand, desek-desekan, dan ngobrol dengan orang asing disebelah kamu, yang ternyata orang Indonesia? Tanpa pikir panjang saya langsung nanya “Indonesia ya? “ dan akhirnya percakapan terjadi.

Kebetulan luar biasa kemudian yang terjadi adalah mereka mau ke Chatucak Market, sama seperti tujuan saya. Mereka adalah saudara sepupuan, yang satu mahasiswa di Bangkok dan satunya lagi sedang liburan. Mereka dateng berempat, dan dua temannya duduk di  bus bagian belakang. Sampai di Victoria Monumen kami segera turun dan saya berkenalan dengan dua orang lainnya. Dari Victoria Monumen kami naik BTS menuju Chatucak Market dan turun di Stasiun Mo Chit. Jalan sedikit, dan sampailah kami di Weekend Market terbesar di Asia. Luasnya aja 18 hektar, dan katanya nyari barang apa aja di pasar ini pasti ada.

Narsis dengan teman-teman baru 

Chatucak Weekend Market

Sesampai di Chatucak, kami nggak langsung belanja karena teman-teman baru saya belum sarapan. Dua orang diantaranya adalah muslim, dan mereka sudah hapal letak warung makan yang ada logo halalnya. Setelah perut kenyang, kami segera masuk kedalam pasar. Barang yang dijual disini bermacam-macam, dan toko-tokonya dikelompokkan berdasarkan jenis barang yang dijual. Biasanya di pintu masuk sudah ada peta yang disediakan buat pengunjung.

Peta Chatucak Weekend Market

Saking asiknya cuci mata, saya kehilangan jejak teman-teman baru ini. Karena belum sempat tuker-tukeran no.hape, nggak banyak yang bisa dilakukan. Saya memutuskan menjelajah pasar sendirian. Kalau jodoh pasti ketemu lagi ama cewek-cewek itu. Karena nggak bawa peta, saya mengalami disorientasi dan hampir frustasi karena udah capek  muter, tapi balik lagi balik lagi ke titik yang udah dilewatin. Saran saya, kalau naksir barang disini, langsung beli aja, karena kemungkinan besar setelah muter-muter tokonya nggak akan ketemu lagi. Nggak usah berharap toko sebelah lebih murah, karena harganya hampir seragam.

Puas belanja, saya membeli jajanan khas Thailand: nasi ketan + mangga. Perpaduan yang aneh ya? Tapi sumpah, ini enak banget. Sambil makan saya ngaso di taman yang ada di lokasi Chatucak. Di taman ini orang-orang cuek aja gelar tiker, piknik. Banyak ibu-ibu yang menawarkan sewa tiker, tapi demi penghematan saya duduk aja diatas rumput, tanpa tiker, sambil menghitung-hitung belanjaan. Walaupun disini banyak yang piknik, duduk-duduk, nggak ada satupun sampah yang bertebaran. Katanya disini banyak scammer yang menawarkan makanan burung. Tapi scammers itu nggak ada yang nyamperin saya, mungkin karena muka saya lokal abis.


Taman Chatucak
Saya meninggalkan Chatucak menuju ke Stasiun MRT yang berada dekat pintu keluar. Tujuan selanjutnya adalah Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun. Saya turun di Stasiun Hualampong dan agak-agak nggak yakin naik bus nomer berapa ke Grand Palace. Setelah nanya orang lokal, saya disarankan naik bus no.25. Bus ini kondisinya kira-kira seperti Kopaja di Jakarta. Bus ini berhenti persis di depan Wat Pho. Grand Palace dan Wat Arun ada disekitarnya. 

Karena lalu lintas yang padat, mungkin karena lewat Chinatown yang rame banget dan adanya konstruksi jalur skytrain yang baru, perjalanan ke Wat Pho memakan waktu lebih dari 1 jam. Sesampainya di Wat Pho saya nggak bisa masuk karena biaya masuknya 100 Baht, dan saya ngasih duit pecahan 500 Baht, dan mereka NGGAK ADA KEMBALIAN! What??? Saya nggak jadi masuk. Kebetulan sudah sore dan Grand Palace juga udah tutup, jadi saya berniat kembali ke Stasiun Hualampong dan naik tuk-tuk ke Khaosan Road. Ada apa disana? Nggak ada apa-apa sih, tapi konon katanya jangan mengaku bakpacker kalo ke Bangkok dan nggak menginjakkan kaki di Khaosan.

Chao Praya Pier

Saya kebingungan nyari halte bus deket kawasan Wat Pho karena di Bangkok kita nggak bisa menyetop bus sembarangan. Nggak jauh dari pintu keluar Wat Pho, saya ngelewatin papan petunjuk Chao Praya Pier. Pier adalah alat transportasi di Bangkok yang melalui sungai, Chao Praya adalah nama sungainya, kondisinya nggak bersih-bersih amat, tapi lebih baik lah dari Sungai Ciliwung. Karena penasaran, saya belok dan mengikutin papan petunjuknya dan sampailah di dermaga. Nggak lama menunggu, ada satu kapal kecil yang berhenti. Saya naik aja, dan nggak kebayang mau turun dimana nanti. Kalau nyasar paling naik taxi ke MBK, pikir saya waktu itu. Tapi Tuhan selalu beserta orang-orang nekad. Pier ini berhenti di beberapa titik, dan di titik entah keberapa, ibu-ibu kondekturnya teriak nyaring: Khaosan, Khaosan! Saya dan sebagian besar penumpang kapal turun disini.

Chao Praya River

Khaosan Road

Setelah nanya beberapa orang, akhirnya sampailah saya di Khaosan Road yang terkenal itu. Jaraknya cukup jauh dari dermaga pier. Saya membeli tiket Siam Niramit di salah satu tur agen yang saya lewati. Saya juga sempat makan Thai Pad, makanan khas Thailand yang kalau di Jawa mungkin sejenis lotek.

Khaosan Road
Udah sore banget, saya nggak lama-lama di Khaosan karena jam 8 show Siam Niramit dimulai. Dari Khaosan Road, saya jalan agak jauh ke Democracy Monument, dan setelah nanya orang-orang saya disarankan naik bus no. 35 ke Stasiun Hualampong. Di perjalanan menuju Hualampong jalanan macet parah. Lebih parah dari Jakarta, mungkin karena jam pulang kerja dan pembangunan skytrain. Lewat jam 7 dan bus masih stuck di jalan entah dimana, akhirnya saya turun dan mencari ojek. Tukang ojek disini gampang dikenali karena pakai rompi kuning. Saya menyetop salah satu rompi kuning ini, dan saya diantarkan ke stasiun Hualampong dengan 50 Baht. Menyetop ojek ini adalah pilihan yang tepat, karena jarak dari tempat stuck bus tadi dengan Hualampong masih jauh banget.

Siam Niramit

Dari Hualampong saya naik MRT ke Stasiun BTS Thailand Cultural Center. Keluar melalui Pintu 1, di depan stasiun sudah ada shuttle Siam Niramit yang akan mengantar kita ke lokasi show, gratis. Sesampainya di lokasi show saya menukar tiket di pintu masuk, kemudian saya diberi bros bunga, stiker nama, dan foto dengan resepsionis. Hasil fotonya bisa dibawa pulang dengan membayar 200 baht.

Show Siam Niramit ini adalah pertunjukan teater terbesar di dunia, dengan 1200 performer dan teknologi canggih, berlangsung setiap malam jam 8, tujuh hari seminggu, dan tercatat di Guinness Record.

Siam Niramit
Menurut saya, shownya emang sangat menarik, teknologinya juga canggih, ceritanya tentang kehidupan masyarakat Thailand. Ditengah-tengah pertunjukan bahkan ada gajah Thailand yang fashion show diantara penonton. Kebayang nggak, lagi duduk-duduk nonton pertunjukan tiba-tiba ada gajah yang lewat disebelah? Perasaan saya agak tergelitik ketika para performer menampilkan permainan angklung. Iya, angklung yang khas Indonesia ada dipertunjukan ini, seakan-akan angklung adalah berasal dari Thailand, dan kita, rakyat Indonesia malah membenci Malaysia karena mau mengklaim si angklung ini. Maksud saya, kenapa kita nggak meributkan Thailand, kan secara nggak langsung mereka sudah mengklaim angklung ini? Ah sudahlah...

Semua tentang Siam Niramit ini sangat menarik, kecuali satu hal: pertunjukannya lama banget, 90 menit! Saya sempat tidur di setengah jam terakhir pertunjukan saking ngantuk dan capeknya dan kebangun pas show angklung itu. Setelah pertunjukan benar-benar berakhir, saya kembali naik shuttle bus ke Stasiun BTS ... dan melanjutkan ke Stasiun National Stadium dan membeli jajanan untuk makan malam. Sesampainya di Lub D Hostel saya langsung tidur, tanpa ganti baju dan cuci muka.

-- to be continued --


Pengeluaran 5 Januari 2013:

BTS National Stadium – Victoria Monument         :  40 Baht
Bus 28                                                                                    :    6 Baht
Tiket Bangkok – Phuket                                                 : 794 Baht
Makan + mineral water                                                 : 122 Baht
Bus 515                                                                                 :   17 Baht
BTS Victoria Monumen – Mo Chit                             :   25 Baht
Makan siang                                                                       :   60 Baht
MRT Mo Chit – Hualampong                                       :   40 Baht
Bus 25                                                                                   :     6 Baht
Pier                                                                                        :   10 Baht
Siam Niramit                                                                      : 1000 Baht
Bus 35                                                                                   :    14 Baht
Ojek                                                                                      :    50 Baht
MRT Hualampong – BTS Mo Chit                               :    34 Baht
BTS Mo Chit - Thailand Cultural Center                  :    20 Baht
BTS Thai Cultural Centre – National Stadium       :    20 Baht
Makan malam                                                                   :    30 Baht

Total pengeluaran                                              : 2288 Baht = Rp 732.160,- (1 Baht = Rp 320,-)
Belanja nggak dihitung yaa...

8 comments :

  1. salut banget kalo bisa solobackpak .... sampai saat ini gw masih males kalo jalan sendirian, demen nya rame2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya pengen rame-rame, tapi susah cocokin jadwal sama temen-temen.

      Delete
  2. Thailand ya, seru tuh, september ada tiket oneway ke singapore, semoga nanti bisa nyasar sampe thailand :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sikaaaaatt...kalo ke Thailand jangan lewatkan Thai Girls Show di Phuket.hehehe

      Delete
    2. dimananya tuh thai girls show???

      Delete
    3. di bar-bar nya itu, tapi saya nggak masuk, ehhehe

      Delete
  3. Lindaaaa... bsk aku berguru padamu ya... cuti kerja dulu nieh

    ReplyDelete