Thursday, February 14, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 6 - Bangkok)

4 Januari 2013

Stasiun Hualampong

Penderitaan di kereta terbayar lunas begitu pagi datang, dan di kiri-kanan sudah kelihatan pemukiman. Pemandangannya sih mirip banget dengan Indonesia. Rumah-rumahnya, sawahnya, jalannya, anak sekolahnya,... Cuman bedanya disini sepertinya rakyat cinta sekali sama rajanya, kelihatan dari beberapa rumah yang didepannya dipasangin foto Raja dan isterinya dengan berbagai latar dan pose. Kalau di negara kita, foto presiden paling cuman ada di dinding kelas sekolah-sekolah negeri. 

Menjelang siang kereta akhirnya tiba di stasiun terakhir, Stasiun Hualampong.  Semua penumpang yang tersisa turun, termasuk kami.  Keluar dari platform, kami memasuki lobby stasiun yang cukup besar dan ramai oleh bule-bule. Keenam barudak itu (baca Cerita Sebelumnya) langsung ke loket untuk beli tiket Bangkok-Ayutthaya. Saya sendiri bengong, antara senang dan nggak percaya udah nyampe Bangkok setelah perjalanan panjang, dan bingung mau naik apa ke Hostel. Kalau mau informasi tentang Hualampong Train Station bisa nyari disini
Hualampong Station (source)
Tidak ada peta Bangkok yang disediaan untuk turis di stasiun ini. Saya juga menimbang-beli tiket ke Phuket sekarang nggak ya, mumpung masih di stasiun. Tapi sudahlah, urusan ke Phuket besok aja dipikirin, yang paling penting sekarang gimana caranya sampai ke hostel, narok barang, mandi. Sambil menunggu barudak itu pesen tiket, saya pergi ke bagian informasi nanyain transportasi apa yang bisa mengantar saya ke Mah Bun Krong, mall yang katanya tepat berada di depan hostel tujuan saya. Bapak-bapak informan itu menyarankan saya naik bus no.17 di halte depan stasiun. Oke, baiklah. Bus no.17, depan stasiun.

Setelah urusan pembelian tiket mereka kelar, kami keluar stasiun. Karena tujuan beda, perjalanan bareng ini sampai disini saja. Tanpa bertukar no.hape, alamat email, facebook, atau twitter, kami berpisah. Dan ternyata halte depan stasiun yang dimaksud bapak informan tadi adalah halte yang jauhnya dua ratusan meter, harus nyebrang jalan yang rame banget, dan haltenya berada setelah tikungan. Jauh benerrrrr... Akhirnya saya memutuskan naik taxi aja, tapi taxi yang ada tulisan ‘taxi meter’ di bodinya. Perjuangan menyetop taxi meter ini nggak gampang, karena dari sekian banyak taxi yang saya setop, hanya dua yang berhenti. Yang pertama nggak mau nganter ke tujuan saya, entah kenapa.  Yang kedua, taxi pink centil akhirnya mau nganter setelah tawar-menawar yag cukup alot dan sepakat 150 Baht. Walopun namanya taxi meter (taxi argo), tetep aja meterannya nggak jalan.

Taxi Pink centil
Di taxi ini saya baru sadar kalo orang Thailand itu nggak bisa sebut huruf ‘L’ setelah abang taxi, yang mukanya mirip Christian Bautista (sumpah, beneran mirip!) nanya ke saya:

“What hoteo you will stay?"

“sorry?” tanya saya kebingungan.

“hoteo” si abang sopir ngeliat saya nggak kalah bingung. “hoteo” ulangnya sambil naro kedua tangan di samping kepala, peragain orang tidur. Dia sampe ngeberentiin taxinya di tepi jalan demi gerakan ini.

“oooo...Hotel?” tanya saya sambil ngakak. “Lub D Hostel. It’s opposite the National Stadium and MBK” kata saya sambil nunjukin peta di hape.

Dia manggut-manggut dan langsung menjalankan lagi taxinya. Sepertinya dia cukup familiar dengan hostel ini. Di perjalanan, dia nggak berenti ngoceh, nanyain saya dari mana, mau kemana, dan nawarin mau nganterin beli tiket untuk ke Phuket. Saya menolak dengan halus karena takut kalo itu salah satu bentuk scam yang banyak di Thailand.

Lub D Hostel
Akhirnya saya sampai juga di depan LubD Hostel Bangkok. Dan ternyata hostel ini berada tepat di depan pintu BTS (Bangkok Train Skyline), bangunannya tepat di sebelah Ibis Hotel, dan di depannya persis ada National Stadium, MBK, dekat dengan Siam Center, Siam Paragon, Hard Rock Cafe, Jim Thomson House, Bangkok Cultural Centre, dan pusat perbelanjaan lainnya. Strategis sekali!

Lokasi LubD yang stategis sekali

Saya segera check in, tapi karena kamarnya belum siap, saya akhirnya titip barang-barang dan jalan-jalan di MBK. Karena lapar, pilihan makan siang yang paling cepat, terpampang nyata di depan mata adalah McD. Satu paket nasi, cola, dan ayam 69 baht. Oiya, nasi McDnya enakkkkk banget, putih dan pulen. Pantesan aja negara lumbung padi seperti Indonesia masih impor beras dari Thailand. 

Tempat belanja favorit wisatawan Indonesia (katanyaaa)
Perut kenyang, saya menjelajah lebih dalam ke MBK ini. Mall nya luas banget, dan barangnya murah-murah. Saya sempat membeli kartu sim card DTAC Happy seharga 200 Baht, dan isi paket internetan seharga 300 Baht untuk seminggu dan minta di-settingin di hp. Agak mahal sih, mungkin saya dibohongin, tapi apa mau dikata, tulisan di kartunya dan di hp tulisan cacing semua. Bahkan tampilan google di hp juga berubah jadi huruf cacing. Di mall ini juga banyak money changer yang bikin saya mau nangis karna nyesel udah nuker duit di Hatyai. Rate nya disini lebih bagus. Masuk toilet di mall ini harus bayar 2 Baht, dan jangan kaget kalo lagi enak-enakan pipis di dalam bilik tiba-tiba denger suara cowok diluar. Itu ladyboy!

Capek jalan-jalan, saya kembali ke hostel, kali ini udah dibersihin dan udah boleh check in. Saya diberi kartu, yang nantinya bisa dipakai buka pintu kamar dan nyalain lampu tidur. Walaupun untuk kelas backpacker, kamarnya rapi, bersih dan keren. Kamar mandinya juga rapi, cantik, bersih, dan bilik toilet dan showernya banyak. Jadi nggak usah takut ngantri mandi atau pipis. Setelah mandi dan beberes barang, saya baru ingat kalau stok pakaian bersih saya habis. Di hostel ini juga ada fasilitas laundry.

Ladies Dorm
Dan ritual nge-laundry pun dimulai. Di area laundry, selain mesin cuci dan mesin pengering, ada tiga mesin yang nempel di dinding: paling kiri adalah Sanitary Pad dengan harga 10 Baht, tengah adalah detergen dengan harga 20 Baht, dan paling kanan adalah kondom dengan harga 30 baht. Saya penasaran, masukin koin 10baht ke mesin pertama, dan keluarlah pembalut wanita. Biasa. Karena emang tujuannya mau nyuci, saya masukin koin 20baht ke mesin tengah, keluar sabun satu kotak kecil. Biasa. Saya sudah berniat memasukkan koin 30 Baht ke mesin ketiga tapi tiba-tiba ada pegawai hostel yang muncul. Saya segera kembali fokus ke mesin cuci. Setelah semua pakaian dan detergen masuk mesin, saya segera memasukkan koin 30 baht sesuai permintaan. Tapi kok mesinnya nggak nyala ya? Astagaaa...ternyata saya masukin koinnya untuk mesin cuci sebelahnya. Rugi deh 30 Baht. Nggak fokus sih! Setelah memasukkan koin 30 baht lagi ke tempat yang bener, akhirnya mesin cuci bekerja. Tunggu 45 menit.

Mesin yang sangat menarik.hehehe

Madame Tussaud


Sambil menunggu cucian selesai, saya kembali jalan-jalan. Kali ini ke Siam Paragon yang didalamnya ada Madame Tussaud, patung lilin artis-artis yang terkenal itu. Tepatnya di lantai 4. Saya sudah pesan online tiketnya seharga 400 Baht disini. Didalam sini nggak ada yang spektakuler sih, patungnya nggak mirip-mirip banget. Tapi cukup senang juga liat patung Soekarno ada didalam. Di beberapa spot ada petugas yang siap mengambil foto kita dengan idola, dan hasil fotonya bisa dibeli di resepsionis. Nggak beli juga nggak apa-apa kok. Kita juga bisa minta tolong ke petugas ini mengambil foto dengan kamera pribadi kita. Seluruh properti di dalam sini boleh dipegang, didudukin, dipeluk, pokoknya suka-suka deh, asal nggak rusak aja. Bandingkan dengan patung-patung  yang nggak mirip sama sekali dengan artis di transstudio Makassar yang dipagerin, nggak boleh disentuh.



Narsis di Madame Tussaud

Di lantai 2 dan 3 ada satu toko yang jualan pernik-pernik lucu banget, tapi rada mahal sih. Namanya Loft. Ada juga satu toko yang jualan kamera lomo yang koleksinya banyak, lucu-lucu dan murah. Saya jadi ingat cucian saya dan segera kembali ke hostel . Nyampe hostel, cucian saya sudah selesai, tapi kok masih basah? Saya pun masukin lagi koin 30 baht, tapi kok tombol spin-nya nggak ada ya? Saya nanya pegawai hostel yang kebetulan lewat, dan ternyata mesin pengering ada di pojok, bentuknya lebih besar. Koin yang udah masuk nggak bisa dikeluarin lagi. Dengan berat hati saya mindahin pakean ke mesin pengering yang minta koin 40 Baht. Matre! Melayang deh 60 Baht gara-gara nyuci. 30 menit kemudian saya sadar kenapa mesin pengering ini ongkosnya mahal. Ternyata pakean saya bukan hanya kering, bahkan jadi keripik, termasuk celana jeans.



Street Shopping


Urusan cuci-mencuci selesai, parut laper lagi. Saya keluar lagi, jalan-jalan. Ternyata diluar udah banyak penjual yang bertebaran di jalan. Dari penjual makanan, pakean, binatang lucu-lucu, dan barang-barang hasil kreatifitas penjualnya. Yang jualan juga walau di pinggir jalan tetep aja dandanannya keren dan masih muda-muda. Paling banyak jualan makanan, dan rata-rata 100% haram,hehehe.. Saya nggak kehitung berapa kali berhenti nyobain jajanan disini. Pokoknya jalan 10 meter, jajan, jalan lagi 10 meter, jajan lagi, pokoknya begitu terus sampai kenyang.


 Bangkok at Night (source)
Bangkok at night

Mal-mal di daerah sini dihubungkan dengan skyline, jadi nggak perlu repot-repot nyebrang jalan kalau mau pindah ke mall yang lain. Saya lebih memilih jalan di trotoar karena banyak pedagang kaki lima yang keren-keren. Saya sempat kalap ngeliat barang-barang fashion yang dijual. Walaupun jualannya di pinggir jalan, tetapi barangnya banyak yang sama persis dengan yang dijual di MBK dengan harga yang jauh lebih murah tentunya.  Di seberang Siam Paragon ada shophouses yang kalau ditelusuri lebih dalam, ada semacam deretan butik-butik yang barangnya bener-bener bagus. Saya hampir gila berada disini, karena semua yang dijual, mulai dari baju, sepatu, topi, pernik-pernik semua bagus-bagus. Sampai sekarang saya nggak tau apa nama deretan shophouses itu, yang jelas lokasinya berada di Soi Siam Square 1-6.  Saya sempet belanja rok di salah satu butik, dan yang jualan ladyboy yang langsing, cantik, dan modis bak model.  Puas cuci mata, saya kembali ke hostel dan tidur. Hari pertama di Bangkok menyenangkan sekali.





--to be continued--




Pengeluaran 4 Januari 2013:

Taxi                                                        : 150 Baht

Hostel                                                     : 980 Baht (untuk 2 malam)

Sim card + paket internet                         : 500 Baht
Makan siang                                           : 69 Baht
Laundry                                                  : 150 Baht  (Harusnya 90 baht aja T.T)
Makan malam+minum                             : 70 Baht
Total pengeluaran                                   : 1919 Baht = Rp 614.080,00 (1 Baht = Rp 320,-)
Belanja nggak dihitung yaa... 

Cerita Sebelumnya (Day 5 - Hatyai)

No comments :

Post a Comment