Friday, February 8, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 5 - Hatyai)

2 January 2013...

Perpaduan antara badan remuk karena seharian jalan, kursi kelas ekonomi yang lumayan nyaman, dan nggak ada pedagang yang lalu lalang terbukti ampuh membuat saya tidur pulas di kereta. Jam 6 pagi saya bangun dan dari jendela kereta udah kelihatan sawah dan perkampungan. Ini saya di perjalanan KL-Hatyai atau Jakarta-Jogja sih? Pemandangannya sama persis.


Semakin dekat perbatasan Malaysia-Thailand, gerbong yang tadinya penuh semakin kosong. Jam 08.30 kereta berhenti di sebuah stasiun kecil. Semua orang turun membawa barang bawaannya. Sepertinya ini stasiun yang ada imigrasinya. Saya ikut-ikutan turun dengan semua barang bawaan. Yang tersisa di gerbong selain saya waktu itu tinggal 6 orang cowok. Mungkin karena ngeliat saya turun, keenam orang itu juga ikut-ikutan turun. Newbie!


Setelah ngecap-ngecap di bagian imigrasi Malaysia, saya nyebrang ke Imigrasi Thailand. Ini artinya, saya udah nyampe Thailand! Tapi karena saya masuk melalui jalur darat, cap di paspor saya hanya memperbolehkan tinggal selama 15 hari. Pelit amat! Kalo di imigrasi bandara sih 30 hari.


Urusan imigrasi kelar, saya dan penumpang lain segera ke platform untuk menunggu kereta. Lapeeerrrrr...tapi saya belum nukerin duit Baht. Udahlah ya, puasa aja. Paling setengah jam lagi nyampe. Ternyata keretanya lama, setengah jam baru dateng. Saya segera naik di gerbong yang sama, begitu juga keenam cowok tadi.  Saya sempet ngeliat ransel salah satu dari mereka, yang digantungin kertas dengan tulisan nama serta alamat lengkapnya. Di Bandung.  Dan saya baru ngeh kalo mereka dari tadi tuh ngomong pake bahasa Sunda, bukan Bahasa Thai. Tapi saya nggak langsung nyapa karena bingung mulainya gimana. Ah, entar juga kenal.

Ditengah perjalanan salah satu dari enam orang itu deketin saya sambil bawa kamera. Dan terjadilah percakapan dalam English level rendah:

“Mam, would you like to take our picture, please?” tanya cowoknya yang paling ganteng nomer dua (Karena mereka berenam, saya ngurutin yang paling ganteng dari satu sampai enam. Dan hanya sanggup mengingat nama salah satu dari mereka, yang ganteng nomer 1 tentunya)

“Sure. Gue juga orang Indonesia, ” kata saya sambil ngakak. Dan mereka semua cuma bisa senyum-senyum.

Setelah kenal, mulai deh ngobrol-ngobrol.  Mereka berenam asli Bandung, dan masih kuliah, dan kebetulan sama-sama mau ke Bangkok. Gila, anak kuliah jaman sekarang backpackingnya ke Thailand. Saya dulu waktu masih kuliah paling jauh cuman sampe Karimun Jawa. Itupun hasil korup duit SPP -___-.  Mereka berenam orangnya asik-asik dan baik.

Jam 11 siang akhirnya sampailah kereta ini di Hatyai Junction. Kondisinya mirip-miriplah sama Stasiun Lempuyangan, tapi ini sedikit lebih jorok. Dikit. Begitu turun, kami langsung ke loket untuk pesan tiket ke Bangkok. Beli tiket disini adalah perjuangan berat karena yang jual Englishnya aneh karena pake logat Thai, dan kami juga nggak lebih baik. Akhirnya kebeli juga tiket kereta ekonomi tujuan Bangkok seharga 265 Baht, berangkat jam 15.30. Sebelumnya saya tuker duit di salah satu agen tour di sekitar stasiun, 1 USD dihargai 29 Baht. Tukar seperlunya aja, ntar di Bangkok nyari lagi.
Di Hatyai Junction, lagi ada syuting ;D
Waktunya makan siang, kami bertujuh mulai lapar dan memutuskan makan di sekitar stasiun sambil jalan-jalan.  Lima dari mereka muslim, dan semua penjual makanan yang kami lihat menggantung daging babi di depan tokonya. Akhirnya ketemu juga rumah makan yang ada label halalnya. Dan itu rasanya seperti menemukan segalon es teh ditengah gurun tandus di musim kemarau panjang.

Ternyata perjuangan mengisi perut masih panjang. Ibu-ibu yang jualan nggak bisa English, dan gambar makanan semuanya pake huruf Thai yang kayak cacing. Terpaksa kami menggunakan bahasa internasional: Bahasa Tarzan. Bagaimana caranya? Jadi kami bertujuh diwakili oleh satu orang bertugas memesan makanan. Dengan gagah berani dia berdiri di depan gambar daftar menu yang digantung di dinding. Ibu penjual makanan bersiap menyimak dengan kertas dan pena di tangan.

Teman kami : “hmmm” sambil tangannya nunjuk gambar paling atas, kemudian “hmmmm” sambil nunjukin dua jarinya.

Ibu penjual makanan : nyatet dengan huruf cacing.

Teman kami : “hmmmm” sambil tangannya nunjuk gambar yang sepertinya Tom Yum, “hhmmm” sambil nunjukin dua jarinya. “hmmm” sambil nunjuk gambar yang jelas-jelas nasi goreng “hmmm” sambil nungjukin tiga jarinya.

Ibu penjual makanan : mencatat. Kemudian “hmmmm?” sambil menirukan orang minum.

Teman kami: “hmmm” menunjuk air mineral di meja.

Ibu itu segera menyiapkan makanan kami. Rumah makan itu cukup ramai karena dekat dengan salah satu bank Islam. Harganya juga cukup murah. Satu porsi nasi goreng dan air mineral 50 Baht. Selesai makan, kami melihat-lihat tour apa aja yang ditawarkan agen yang bertebaran di sekitar stasiun.

Nggak banyak yang bisa dilihat di sekitar stasiun. Kami segera kembali kedalam stasiun dan menungu kereta berangkat. Karena kereta masih lama, saya memutuskan mandi. Masih ingat terakhir kali saya mandi? Tanggal 1 Januari di Singapore! Kebetulan di stasiun ini ada fasilitas shower room seharga 15 Baht. Kamar mandinya cukup bersih.

Jam 15.30 kereta Hatyai – Bangkok datang dan kami segera naik. Ternyata kondisinya beda 180 dengan kereta dari KL walaupun sama-sama kelas ekonomi. Ini seperti kereta ekonomi di negara kita dua tahun lalu. Kursinya keras seperti batu. Posisi kami dekat toilet yang bau pesing dan pintunya susah ditutup. Suram. Dan perjalanan ke Bangkok 12 jam, bisa lebih. Kami pun pasrah menelan kenyataan pahit ini. Nggak ada pilihan lain. Namanya juga backpacker.
Dalam gerbong kereta ekonomi yang menyedihkan ;(
Baru duduk, tiba-tiba datang pedagang makanan dengan bahasa Thai yang teriak nyaring banget. Kami langsung ngakak, karena salah satu temen kami  teriak “Mijon, Mijon!”. Dan pedagang ini datang silih berganti nggak henti-henti sampai tengah malam. Kami nggak pernah tau apa aja yang mereka jual.

Kereta segera melaju. Di salah satu stasiun, naiklah salah satu pemuda lokal ganteng, mukanya mirip Wentworth Miller (yang main di Prison Break). Sayang sekali, dia sama monyetnya (baca: cewenya).
Wentworth Miller
Malam hari, waktunya makan malam dan kami bingung yang mana dari penjual itu yang jualan nasi. Saya sempat nanya ke salah satu penumpang Thai di sebelah saya, tapi dia sama sekali nggak tau saya ngomong apa. Dengan penuh modus saya nanya ke pemuda Prison Break yang duduk di belakang saya. Dannn..ternyata dia nggak bisa English sama sekali. Padahal saya nanyanya udah standar banget lho, dan pelan-pelan. Kegantengannya langsung pudar.

Akhirnya muncul juga penjual nasi yang dikemas dengan tutup transparan, jadi kami tau kalau itu nasi. Penjualnya juga lumayan bisa ngucapin “polti baht” (40 baht) untuk satu kotak nasinya. Setelah makan, perut kenyang, dan kereta terus melaju. Pedagang juga sudah agak berkurang, dan nggak ada lagi yang bisa ditertawakan. Kami pun tidur. Bye Hatyai...

--to be continued--

Pengeluaran 3 Januari :
Tiket kereta Hatyai-Bangkok           265 Baht
Makan                                                   50 Baht
Mandi                                                    15 Baht
Makan di kereta                                  40 Baht
Total pengeluaran                             370 Baht = Rp 118.400,- (kurs 1 Baht = Rp 320)

Cerita Sebelumnya ( Day 4 - Kuala Lumpur)

No comments :

Post a Comment