Monday, February 25, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 8 - Bangkok)

6 Januari 2013

Setelah melalui hari yang super-absurd kemarin, hari ini saya mengalami Hectic Day. Saya harus mengulang kembali kunjungan ke Wats (wat – wat) yang gagal kemarin dan harus belanja oleh-oleh sekaligus packing. Pagi-pagi sekali, setelah yakin semua barang sudah diamankan, saya check out dan menitipkan backpack, tripod, dan payung (dua barang terakhir bener-bener merepotkan dan nggak guna) di luggage room. Penitipan barang disini gratis dan bisa ditinggal sampai 3 bulan. Saya titip barangnya nggak selama itu sih, karena bus ke Phuket berangkat malam ini jam 21.30. Menurut perhitungan, saya harus kembali kesini sebelum jam 6 dan berangkat ke terminal sebelum jam 7 malam. Perhitungan jam ini sangat penting untuk para traveler.

Urusan check out selesai, saya segera ke Stasiun BTS National Stadium di depan hostel. Tujuan pertama adalah Grand Palace. Untuk sampai kesana, saya memilih menggunakan transportasi Chao Phraya Express Boat yang berhenti di beberapa dermaga kecil (pier). Dari National Stadium saya menuju Stasiun Sapan Taksin yang terintegrasi dengan Central Pier

Pemandangan dari Central Pier

Chao Phraya Express Boat

Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun lebih mudah dicapai dengan Chao Phraya Express Boat. Central Pier adalah pusatnya dermaga yang dilewati kapal-kapal yang melewati Sungai Chao Phraya. Sebelum naik kapalnya, perhatikan dulu bendera yang berkibar-kibar diatasnya karena nggak semua kapal berhenti di semua dermaga. Benderanya juga kecil, jadi mata harus jeli untuk dapat melihatnya. Untuk sampai ke kawasan Grand Palace, carilah kapal yang benderanya warna orange.

Rute Chao Phraya Express Boat (source)

Grand Palace

Berangkat dari Central Pier, saya turun di Tha Tien Pier. Dari dermaga, harusnya jalan kaki 5 menit udah nyampe di Grand Palace kalau ngikutin petunjuk dengan benar. Tapi dengan bodohnya saya malah ambil jalan ngiterin tembok Grand Palace yang luasnya berhektar-hektar itu untuk sampai di pintu masuknya. Capek? Banget!

Kondisi Jalan di Sekitar Grand Palace
Sampai di dalam, saya langsung bertemu rombongan tour yang sudah bisa dipastikan dari Asia dilihat dari rombongan yang jumlahnya puluhan, 50% udah uzur, dan berfoto dengan spanduk sponsor. Antrian pengunjung di loket tiket nggak banyak. Tiket masuk seharga 500 Baht (sepertinya baru aja naik) satu paket dengan peta dan sejarah singkat Grand Palace serta tiket masuk Dusit Palace.


Bagi turis independen semacam saya, agak kesulitan menjelajahi tempat ini. Alasan pertama, karena sulit nyari tukang foto gratisan. Alasan kedua, orang-orang yang datang kesini rombongan, jadi agak susah mengambil gambar objek-objek wisatanya karna pasti ada aja yang ‘bocor’. Jadi sedikit tips dari saya, datanglah di pagi hari sebelum rombongan tur menyerbu tempat ini. Sebenernya saya nggak begitu tertarik wisata ke tempat ini. Berhubung saya penganut ‘no pic is hoax’, jadi rasanya belum ke Bangkok kalau belum foto di atap kerucut emas. 


Rombongan Turis dan Turis Independen

Puas berkeliling, saya berjalan menuju pintu keluar dan sempat melihat prajurit Thailand baris berbaris. Oiya, untuk masuk ke Grand Palace pengunjung harus berpakaian sopan. Jadi short pants, rok mini, tank top sama bikininya disimpen dulu yaaa...

Tentara Thailand Sedang Latihan Baris-Berbaris
Lokasi Grand Palace bersebelahan dengan Wat Pho sehingga saya memutuskan untuk mencoba masuk (lagi) kesana. Masak sih mereka dua hari nggak punya kembalian? Kan yang datang tiap hari ratusan. Kebetulan hari itu saya nggak membawa pecahan 100 baht. Bukannya banyak duit, tapi demi pengiritan saya nggakHH belanja apa-apa dengan pertimbangan duit pecahan kecil pasti cepat pula habisnya. Di loket penjualan tiket saya ditolak lagi untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama. Terlalu! Bukan hanya saya yang kecewa, dua orang bule di depan saya juga nggak jadi masuk karena si kasir nggak punya kembalian. Buat para pengelola tempat wisata di Indonesia, jangan ditiru ya!

Akhirnya saya kembali ke Tha Tien Pier, karena saya harus berburu oleh-oleh di sekitar Siam Square. Hampir setengah jam menunggu tapi kapal bendera orange tak kunjung datang. Di dermaga sebelah banyak orang yang menunggu kapal untuk menyeberang ke Wat Arun. Saya pindah ke sebelah, ikutan antrian  menyebrang sungai. Hanya dengan 3 Baht, saya sampai ke lokasi Wat Arun.

Dermaga Menuju ke Wat Arun

Wat Arun

Wat Arun atau Temple of The Down tadinya adalah bangunan tertinggi di Bangkok, sebelum gedung-gedung pencakar langit dibangun. Seluruh dindingnya dihiasi patung cantik yang katanya berasal dari pecahan keramik China berwarna-warni. Kata orang-orang, pemandangan dari puncak bangunan sangat indah tetapi harus melewati tangga curam dan membayar tiket masuk. Karena masih trauma dengan kejadian di Wat pho tadi, saya nggak berniat sama sekali untuk masuk. 

Sedang asik foto-foto, saya diajak ngobrol Bahasa Thai oleh ibu-ibu. Lagi-lagi saya disangka orang lokal. Setelah menjelaskan bahwa saya dari Indonesia, ibu ini malah menawarkan berfoto pakai pakaian adat Thai dengan latar candi Wat Arun. Saya terima tawaran Si Ibu untuk menambah bukti otentik saya pernah ke Bangkok.
Pintu Masuk Wat Arun
Pertama-tama, saya dipersilahkan memilih warna baju. Ada shocking pink, soft pink, merah, hijau, orange, kuning, biru. Warnanya bagus-bagus. Bolah nggak bu, saya pakai bajunya pink, kainnya biru, beltnya kuning? Setelah lama memilih warna, saya memutuskan memilih biru karena kontras dengan warna rumput (ilmu warna di bangku kuliah kepake juga. Thanks, Pak Beni). Pakaian adat ini kelihatannya ribet, tapi percayalah, ini gampang banget pakainya. Saya bahkan nggak perlu copot baju. Cukup lilitkan kain, pasang belt, pakai mahkota, pakai gelang, pakai kuku palsu, dan voila! Saya jadi serupa Wolferine tapi lebih feminin. FYI, foto-foto kali ini menggunakan kamera pribadi saya, kalau pakai kamera si penyewa baju mungkin bayar lagi. 


Cocok nggak saya pakai baju Thailand? 

Setelah puas foto-foto dengan pakaian adat Thailand, saya kembali menyeberang sungai ke Tha Thien Pier dengan membayar 3 Baht. Kali ini kapal bendera orange langsung datang dan saya naik. Tujuan selanjutnya adalah belanja oleh-oleh di Siam Square dan sekitarnya. Dari Tha Thien Pier saya turun di Central Pier dan menuju BTS Sapan Taksin. Dengan BTS saya turun di National Stadium yang salah satu pintu keluarnya langsung mengarah ke MBK.


Siam Square


Puas belanja oleh-oleh di MBK, masih banyak waktu sebelum berangkat ke terminal. Ada tempat yang belum saya kunjungi, yaitu Pratunam Market dan Platinum Fashion Mall. Lokasinya masih di sekitar Siam Square yang penuh dengan mal, hotel mewah, dan restoran terkenal. Siam Square inilah kawasan bisnis terbesar di Bangkok yang dulu sempat luluh lantak dibakar demonstran berkaus merah. Sekarang kawasan ini benar-benar pulih dan menjadi surga wisata belanja. FYI, kedutaan Indonesia lokasinya di sekitar kawasan ini lho...

Saya belum yakin benar lokasi Pratunam Market ini. Saya berjalan di skywalk yang menghubungkan berbagai pusat perbelanjaan. Setiap bertanya ke orang-orang, saya selalu diberi petunjuk yang sama: go straight, and turn left. Saya selalu belok kiri setiap skywalk-nya bercabang ke kiri dan selalu berakhir di mall mewah, yaitu Siam Paragon dan Central World.






Central World (source)
Setengah jam kemudian, akhirnya sampailah saya di Platinum Fashion Mall, yaitu salah satu pusat grosir terbesar dan termurah di Bangkok. Lokasinya berada di belakang Central World, dan memang harus belok kiri dan jalan cukup jauh. Masuk ke dalam Platinum ini benar-benar terasa atmosfer belanjanya. Karena harga pakaian disini sangat murah dan bisa ditawar, orang-orang yang datang belanja disini nggak bawa kresek atau tas, tapi travel bag! Jangan heran kalau di sepanjang lorong banyak ibu-ibu dan cewek-cewek yang geret-geret Travel bag raksasa.

Platinum Fashion Mall (source)
Demi alasan penghematan saya hanya membeli beberapa barang dan kembali fokus ke tujuan utama, yaitu Pratunam. Lokasi Pratunam Market berada di seberang Platinum Mall. Bentuknya seperti pasar tradisional dengan tenda-tenda dan pedagang kaki lima. Inilah pasar terlengkap yang ada di Bangkok. Konon katanya kalau mencari barang disini dan nggak ada yang jual, berarti barang tersebut nggak akan didapatkan di seluruh Bangkok. Untuk sampai kesana saya harus lewat skywalk yang bantuknya bagus.

Jembatan Penghubung Platinum Fashion Mall dan Pratunam Market (source)
Menurut survei saya, harga di Pratunam lebih murah dari Platinum, mungkin karena yang belanja kebanyakan orang lokal. Kalau barang belanjaan sangat banyak, bisa menggunakan jasa pengiriman ke hotel tempat menginap atau langsung dikirim ke luar negeri.

Hari sudah semakin sore, saya harus segera mengambil barang di LubD dan menuju terminal. Perjalanan ke hostel benar-benar melelahkan. Sebenarnya saya bisa naik BTS dari Ratchadewi ke National Stadium, tapi lagi-lagi demi penghematan dan kesehatan (kantong) saya memilih jalan kaki.

Southern Bus Terminal


Sampai di hostel saya segera mengambil barang titipan dan melakukan re-packing. Barang-barang dikeluarkan semua dari tas dan disusun kembali dengan barang belanjaan dan oleh-oleh. Setelah beres, saya naik BTS ke Victory Monumen. Karena sudah hapal rutenya, saya dengan mantap menunggu bus no.511.



Agak repot membawa 1 backpack, 2 tas jinjing, 1 payung dan 1 tripod. Di dalam bus saya mengalami kesulitan bergerak karena takut payung saya nyolok mata orang. Ternyata dengan bus ini hanya butuh waktu 20 menit sampai ke Southern Bus Terminal. Masih setengah nggak percaya, saya segera turun dan menuju ke ruang tunggu di lantai 2. Jadi bus yang kemarin itu rutenya muter-muter Bangkok dulu ya?


Suasana di dalam Terminal (source)

Lagi sibuk-sibuknya mengatur barang bawaan, tiba-tiba dari pengeras suara ada lagu lokal berkumandang. Anehnya, orang-orang yang sedang duduk di ruang tunggu segera berdiri. Refleks. Saya hanya bengong, kebingungan dan nggak berani duduk. Menurut info orang lokal, setiap jam tertentu menjelang malam, lagu kebangsaan diperdengarkan dan orang-orang wajib berdiri dan menghentikan kegiatannya. Setiap hari. Amazing Thailand!


Voucher Makanan + Minuman

Karena bus berangkat masih lama, saya menuju foodcourt di tantai 3. Semua makanan ditulis dalam bahasa Thai, jadi saya hanya bisa mengidentifikasi makanan berdasarkan gambar dan memesan salah satu makanan di lapak ibu-ibu. Makanannya siap, dan saya memberi duit 100 Baht. Bukannya diterima, ibu ini malah ngomel-ngomel pake bahasa Thai. Kurang? Saya menambahkan 100 Baht lagi dan omelanya makin menjadi-jadi. Ditengah kebingungan saya, ada pembeli yang ngejelasin bahwa bayarnya pakai voucher elektrik yang dijual di counter khusus. Saya segera ke counter dan membeli voucher seharga 100 Baht. Voucher ini bisa ditukar dengan makanan dan minuman di  dalam area foodcourt. Canggih! Terminal bus lho ini, bukan bandara. Voucher ini bisa di top-up dan kalau ada sisanya bisa ditukar uang senilai sisa voucher.

Sekitar setengah jam sebelum waktu berangkat, saya segera ke platform. Terminal disini sangat teratur. Seperti bandara, ada beberapa platform dan gate yang diberi nomer sesuai dengan rute dan perusahan bus. Ada lebih dari 30 gate. Saya menuju gate 33 seperti yang tertulis di tiket. Wowww, busnya bertingkat, dan setiap bus ada pramugarinya. Keren! Tepat jam 21.30 bus segera berangkat ke Phuket. Saya duduk di lantai 2 bus, sebelahan dengan ibu-ibu lokal. Awalnya dia mengajak saya ngobrol dengan bahasa Thai dan saya hanya bisa menggeleng dan ‘kapunka’.

Bus ini jalannya kencang banget, mungkin sopirnya ex. Sumber Kenco*o. Untung jalanan disini mulus dan nggak ada lubang. Awalnya saya agak ketakutan karena setiap melihat keluar jendela, jalanan rasanya jauh sekali dibawah sana. Lama kelamaan saya terbiasa dan akhirnya tertidur pulas. Bye Bangkok.

Bus Bangkok - Phuket
NB: Dua orang yang tidak sengaja terfoto dalam gambar di atas berperan penting dalam perjalanan saya selanjutnya. 

-- to be continued --




Pengeluaran 6 Januari 2013
BTS National Stadium – Saphan Taksin    :  20 Baht
Central Pier – Tha Thien Pier                    :  15 Baht
Grand Palace                                          : 500 Baht
Seberangin Sungai PP                             :    6 Baht
Sewa baju Thai                                        : 200 baht
Tha Thien Pier – Central Pier                     :  15 Baht
Makan siang (KFC)                                  :   75 Baht
BTS Saphan Taksin – National Stadium     :   20 Baht
BTS National Stadium – Victory                :   40 Baht
Bus 511                                                   :   16 Baht
Makan malam                                          :   80 Baht



Total Pengeluaran 6 Januari 2013              : 987Baht = Rp 315.840,- (kurs 1 Baht = Rp 320)

Cerita Sebelumnya

Tuesday, February 19, 2013

Eat, Shopping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 7 - Bangkok)

5 Januari 2013

Ini adalah hari ter-absurd dalam hidup saya.. Kalo diceritain mungkin agak panjang, bisa satu buku. Tapi kalo ada yang saya lewatin sayang. Jadi jangan bosan ya kalau ceritanya agak panjang,hehehe...

Southern Bus Terminal

Hari ini diawali dengan bangun pagi-pagi sekali, dengan tujuan ke Southern Bus Terminal, beli tiket buat ke Phuket besok. Dari hasil browsing semaleman, ternyata terminal itu letaknya jauh di pinggir kota dan banyak sumber yang bilang terminalnya susah dijangkau dengan transportasi umum. Tapi ada informasi yang nyempil dari salah satu blog bahwa ada bus dari Victoria Monumen yang menuju kesana. Bus nomer 511, warna orange.

BTS National Stadium persis di depan Hostel
Jam 8 pagi, saya ke Stasiun BTS National Stadium yang berada persis di depan hostel. Saking deketnya, saya yakin koprol dari kamar juga nyampe. Ini pertama kalinya saya ke stasiun BTS dan nggak ada kesulitan mempelajari rutenya dan cara mendapatkan tiketnya. Tujuan saya kali ini adalah Stasiun Victory Monumen, harganya 40 baht. Oiya, mesin tiket BTS ini hanya terima uang koin. Tiketnya juga lucu-lucu, tapi sayang nggak bisa dibawa pulang L

15 menit kemudian saya sudah turun di Stasiun Victory Monument. Secara random saya memilih keluar di pintu kiri dan berharap langsung ketemu halte bus. Nggak jauh dari pintu keluar ini ada halte bus, saya segera kesana dan duduk manis menunggu bus nomer 511. Tapi kok insting saya mengatakan bus nya nggak lewat halte ini ya? Akhirnya saya memutuskan bertanya ke salah satu bapak yang lewat. Bertanya kepada orang lokal di Bangkok ini gampang-gampang susah ya, karena jarang yang bisa English. Dan terjadilah percakapan dalam English level rendah saya :

excuse me, do you know how to get to Sai Tai Thaling Can terminal?” tanya saya dengan senyum semanis mungkin. Nama terminalnya udah saya hapalin dari semalem. Sai Tai Thaling Chan itu adalah nama lokalnya Southern Bus Terminal.

Si Bapak menjawab dengan bahasa yang nggak saya ngerti. Sepertinya dia tau maksud saya, tapi agak susah ngomongnya. Akhirnya dia keluarin hp dari sakunya, dan ngetik sesuatu trus diliatin ke saya. Dan tulisan apa itu? Angka 28. Sambil ngeliatin layar hapenya ke saya, bapak itu nunjuk-nunjuk ke seberang jalan, agak jauh. 

Tiket BTS

Bus twenty eight?” tanya saya nggak yakin. Bapak itu ngangguk-ngangguk.

So i have to pass the road?” tanya saya lagi. Bapak itu anggukannya makin kenceng. Sipp. Sebelum menyeberang jalan, saya mengucapkan ‘kapunka’ sambil merapatkan kedua tangan di depan dada, tanda ucapan terima kasih dalam bahasa Thai. Gesture ini menjadi gaya andalan saya selama di Thailand, baik itu kenalan dengan orang baru, minta maaf, terima kasih, flirting terselubung, dan bahkan untuk pesen makanan.

Saya segera menyeberang jalan. Ternyata dari sisi jalan yang ini Monumen Victorianya kelihatan, dengan bus-bus yang ngetem di sekitarnya. Saya berjalan agak cepat dan sampai di depan Victoria Monumen. Disana udah banyak bus dan orang-orang yang sedang menunggu bus. Setelah menunggu agak lama akhirnya dateng juga nih bus no 28. Kondisi busnya mirip kopaja yang udah nggak keurus. Semua bus di Thailand ini pake huruf cacing, jadi saya nggak pernah tahu rutenya kemana aja kalo nggak nanya orang lokal. Saya memastikan dulu ke sopir ini bus bener-bener ke Southern Terminal kemudian duduk cantik. Bus melaju.

Victory Monument (source)
20 menit pertama di dalam bus saya sangat menikmati perjalanan. Melihat secara langsung kondisi kota Bangkok dan tempat wisata mana aja yang dilewatin bus ini. Setelah lewat 20 menit saya mulai gelisah, mata tetep awas mencari-cari terminal dengan atap hijau menjulang seperti yang kelihatan di Google. Makin lama gedung-gedung tinggi makin jarang, sepertinya ini udah jauh banget dari kota. Pasrahlah saya kalo nyasar, tinggal naik taxi ke stasiun BTS terdekat. 40 menit berlalu, dan bus sepertinya makin jauh keluar kota. Hampir 1 jam, akhirnya kelihatan juga si atap hijau. Saya bersiap-siap turun di halte berikutnya, tapi ternyata bus ini masuk ke terminal dan berhenti diantara bus-bus sejenisnya. Jadi rute terakhir bus ini di terminal? Yahhh..tau gitu kan tadi santai-santai aja saya, pak!

Southern Bus Terminal  (source)
Petunjuk di terminal ini sangat jelas. Penjualan tiket ada di lantai 2 gedung. Terminal bus ini ada di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Hebat, nunggu bus bisa sambil shopping,hehe.. Sampai di lantai 2 saya bingung karena yang jualan tiket banyak banget, dengan rute yang berbeda-beda. Saya langsung menuju loket yang ada tulisan PHUKET gede-gede di depannya, dan membeli tiket kelas 1 seharga 794 Baht. Sebenarnya masih ada tiket yang lebih murah, tapi saya mau sedikit memanjakan diri dengan sedikit kenyamanan dalam perjalanan kali ini. Backpacker juga berhak nyaman.

Tiket sudah di tangan, satu beban hilang. Sebelum pulang saya makan di luar terminal. Pork, pork, and pork,hehehe... Setelah makan saya menunggu bus di halte depan stasiun. Tujuan berikutnya Chatucak Market. Nggak nyampe 5 menit, bus no 511 dateng, dan tanpa pikir panjang saya segera naik. Duduk di kursi kosong saya tenang-tenang aja sampai kondekturnya nyamperin.

Bus di Thailand (source)
“Victoria Monumen!” kata saya sambil ngasih duit 20 baht.

Si ibu kondektur ngucapin sesuatu dalam bahasa Thai yang intinya nyuruh saya turun dan menyeberang jalan, naik ke bus dengan nomer sama tapi arah sebaliknya. Oke, saya turun di dekat jembatan penyeberangan dan nggak bayar,hehehe.. Saya turun, menuju halte di seberang jalan. Nggak lama kemudian bus 515 dateng dan saya naik. Bus penuh sesak dan saya berdiri desek-desekan. Karena nggak yakin bayar berapa untuk bus ini, saya nanya ke cewek yang berdiri persis di sebelah saya. 17 Baht, kata dia.

Ditengan perjalanan, bus ngelewatin sebuah kantor pos, dan cewek di sebelah saya nyolek temennya yang duduk sambil ngomong “itu ada kantor pos!"

Apa? Dia bilang kantor pos apa saya yang salah denger ya? Saya makin menajamkan kuping. Nggak lama kemudian mereka ngobrol pake Bahasa Indonesia. Amazing! Coba pikir: ada berapa persen kemungkinan kamu naik bus di Thailand, desek-desekan, dan ngobrol dengan orang asing disebelah kamu, yang ternyata orang Indonesia? Tanpa pikir panjang saya langsung nanya “Indonesia ya? “ dan akhirnya percakapan terjadi.

Kebetulan luar biasa kemudian yang terjadi adalah mereka mau ke Chatucak Market, sama seperti tujuan saya. Mereka adalah saudara sepupuan, yang satu mahasiswa di Bangkok dan satunya lagi sedang liburan. Mereka dateng berempat, dan dua temannya duduk di  bus bagian belakang. Sampai di Victoria Monumen kami segera turun dan saya berkenalan dengan dua orang lainnya. Dari Victoria Monumen kami naik BTS menuju Chatucak Market dan turun di Stasiun Mo Chit. Jalan sedikit, dan sampailah kami di Weekend Market terbesar di Asia. Luasnya aja 18 hektar, dan katanya nyari barang apa aja di pasar ini pasti ada.

Narsis dengan teman-teman baru 

Chatucak Weekend Market

Sesampai di Chatucak, kami nggak langsung belanja karena teman-teman baru saya belum sarapan. Dua orang diantaranya adalah muslim, dan mereka sudah hapal letak warung makan yang ada logo halalnya. Setelah perut kenyang, kami segera masuk kedalam pasar. Barang yang dijual disini bermacam-macam, dan toko-tokonya dikelompokkan berdasarkan jenis barang yang dijual. Biasanya di pintu masuk sudah ada peta yang disediakan buat pengunjung.

Peta Chatucak Weekend Market

Saking asiknya cuci mata, saya kehilangan jejak teman-teman baru ini. Karena belum sempat tuker-tukeran no.hape, nggak banyak yang bisa dilakukan. Saya memutuskan menjelajah pasar sendirian. Kalau jodoh pasti ketemu lagi ama cewek-cewek itu. Karena nggak bawa peta, saya mengalami disorientasi dan hampir frustasi karena udah capek  muter, tapi balik lagi balik lagi ke titik yang udah dilewatin. Saran saya, kalau naksir barang disini, langsung beli aja, karena kemungkinan besar setelah muter-muter tokonya nggak akan ketemu lagi. Nggak usah berharap toko sebelah lebih murah, karena harganya hampir seragam.

Puas belanja, saya membeli jajanan khas Thailand: nasi ketan + mangga. Perpaduan yang aneh ya? Tapi sumpah, ini enak banget. Sambil makan saya ngaso di taman yang ada di lokasi Chatucak. Di taman ini orang-orang cuek aja gelar tiker, piknik. Banyak ibu-ibu yang menawarkan sewa tiker, tapi demi penghematan saya duduk aja diatas rumput, tanpa tiker, sambil menghitung-hitung belanjaan. Walaupun disini banyak yang piknik, duduk-duduk, nggak ada satupun sampah yang bertebaran. Katanya disini banyak scammer yang menawarkan makanan burung. Tapi scammers itu nggak ada yang nyamperin saya, mungkin karena muka saya lokal abis.


Taman Chatucak
Saya meninggalkan Chatucak menuju ke Stasiun MRT yang berada dekat pintu keluar. Tujuan selanjutnya adalah Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun. Saya turun di Stasiun Hualampong dan agak-agak nggak yakin naik bus nomer berapa ke Grand Palace. Setelah nanya orang lokal, saya disarankan naik bus no.25. Bus ini kondisinya kira-kira seperti Kopaja di Jakarta. Bus ini berhenti persis di depan Wat Pho. Grand Palace dan Wat Arun ada disekitarnya. 

Karena lalu lintas yang padat, mungkin karena lewat Chinatown yang rame banget dan adanya konstruksi jalur skytrain yang baru, perjalanan ke Wat Pho memakan waktu lebih dari 1 jam. Sesampainya di Wat Pho saya nggak bisa masuk karena biaya masuknya 100 Baht, dan saya ngasih duit pecahan 500 Baht, dan mereka NGGAK ADA KEMBALIAN! What??? Saya nggak jadi masuk. Kebetulan sudah sore dan Grand Palace juga udah tutup, jadi saya berniat kembali ke Stasiun Hualampong dan naik tuk-tuk ke Khaosan Road. Ada apa disana? Nggak ada apa-apa sih, tapi konon katanya jangan mengaku bakpacker kalo ke Bangkok dan nggak menginjakkan kaki di Khaosan.

Chao Praya Pier

Saya kebingungan nyari halte bus deket kawasan Wat Pho karena di Bangkok kita nggak bisa menyetop bus sembarangan. Nggak jauh dari pintu keluar Wat Pho, saya ngelewatin papan petunjuk Chao Praya Pier. Pier adalah alat transportasi di Bangkok yang melalui sungai, Chao Praya adalah nama sungainya, kondisinya nggak bersih-bersih amat, tapi lebih baik lah dari Sungai Ciliwung. Karena penasaran, saya belok dan mengikutin papan petunjuknya dan sampailah di dermaga. Nggak lama menunggu, ada satu kapal kecil yang berhenti. Saya naik aja, dan nggak kebayang mau turun dimana nanti. Kalau nyasar paling naik taxi ke MBK, pikir saya waktu itu. Tapi Tuhan selalu beserta orang-orang nekad. Pier ini berhenti di beberapa titik, dan di titik entah keberapa, ibu-ibu kondekturnya teriak nyaring: Khaosan, Khaosan! Saya dan sebagian besar penumpang kapal turun disini.

Chao Praya River

Khaosan Road

Setelah nanya beberapa orang, akhirnya sampailah saya di Khaosan Road yang terkenal itu. Jaraknya cukup jauh dari dermaga pier. Saya membeli tiket Siam Niramit di salah satu tur agen yang saya lewati. Saya juga sempat makan Thai Pad, makanan khas Thailand yang kalau di Jawa mungkin sejenis lotek.

Khaosan Road
Udah sore banget, saya nggak lama-lama di Khaosan karena jam 8 show Siam Niramit dimulai. Dari Khaosan Road, saya jalan agak jauh ke Democracy Monument, dan setelah nanya orang-orang saya disarankan naik bus no. 35 ke Stasiun Hualampong. Di perjalanan menuju Hualampong jalanan macet parah. Lebih parah dari Jakarta, mungkin karena jam pulang kerja dan pembangunan skytrain. Lewat jam 7 dan bus masih stuck di jalan entah dimana, akhirnya saya turun dan mencari ojek. Tukang ojek disini gampang dikenali karena pakai rompi kuning. Saya menyetop salah satu rompi kuning ini, dan saya diantarkan ke stasiun Hualampong dengan 50 Baht. Menyetop ojek ini adalah pilihan yang tepat, karena jarak dari tempat stuck bus tadi dengan Hualampong masih jauh banget.

Siam Niramit

Dari Hualampong saya naik MRT ke Stasiun BTS Thailand Cultural Center. Keluar melalui Pintu 1, di depan stasiun sudah ada shuttle Siam Niramit yang akan mengantar kita ke lokasi show, gratis. Sesampainya di lokasi show saya menukar tiket di pintu masuk, kemudian saya diberi bros bunga, stiker nama, dan foto dengan resepsionis. Hasil fotonya bisa dibawa pulang dengan membayar 200 baht.

Show Siam Niramit ini adalah pertunjukan teater terbesar di dunia, dengan 1200 performer dan teknologi canggih, berlangsung setiap malam jam 8, tujuh hari seminggu, dan tercatat di Guinness Record.

Siam Niramit
Menurut saya, shownya emang sangat menarik, teknologinya juga canggih, ceritanya tentang kehidupan masyarakat Thailand. Ditengah-tengah pertunjukan bahkan ada gajah Thailand yang fashion show diantara penonton. Kebayang nggak, lagi duduk-duduk nonton pertunjukan tiba-tiba ada gajah yang lewat disebelah? Perasaan saya agak tergelitik ketika para performer menampilkan permainan angklung. Iya, angklung yang khas Indonesia ada dipertunjukan ini, seakan-akan angklung adalah berasal dari Thailand, dan kita, rakyat Indonesia malah membenci Malaysia karena mau mengklaim si angklung ini. Maksud saya, kenapa kita nggak meributkan Thailand, kan secara nggak langsung mereka sudah mengklaim angklung ini? Ah sudahlah...

Semua tentang Siam Niramit ini sangat menarik, kecuali satu hal: pertunjukannya lama banget, 90 menit! Saya sempat tidur di setengah jam terakhir pertunjukan saking ngantuk dan capeknya dan kebangun pas show angklung itu. Setelah pertunjukan benar-benar berakhir, saya kembali naik shuttle bus ke Stasiun BTS ... dan melanjutkan ke Stasiun National Stadium dan membeli jajanan untuk makan malam. Sesampainya di Lub D Hostel saya langsung tidur, tanpa ganti baju dan cuci muka.

-- to be continued --


Pengeluaran 5 Januari 2013:

BTS National Stadium – Victoria Monument         :  40 Baht
Bus 28                                                                                    :    6 Baht
Tiket Bangkok – Phuket                                                 : 794 Baht
Makan + mineral water                                                 : 122 Baht
Bus 515                                                                                 :   17 Baht
BTS Victoria Monumen – Mo Chit                             :   25 Baht
Makan siang                                                                       :   60 Baht
MRT Mo Chit – Hualampong                                       :   40 Baht
Bus 25                                                                                   :     6 Baht
Pier                                                                                        :   10 Baht
Siam Niramit                                                                      : 1000 Baht
Bus 35                                                                                   :    14 Baht
Ojek                                                                                      :    50 Baht
MRT Hualampong – BTS Mo Chit                               :    34 Baht
BTS Mo Chit - Thailand Cultural Center                  :    20 Baht
BTS Thai Cultural Centre – National Stadium       :    20 Baht
Makan malam                                                                   :    30 Baht

Total pengeluaran                                              : 2288 Baht = Rp 732.160,- (1 Baht = Rp 320,-)
Belanja nggak dihitung yaa...