Monday, January 28, 2013

Eat, Shoping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 4 - Kuala Lumpur)

2 Januari 2013

Ditengah kebingungan saya dan Summer di trotoar, kami sadar sebagai traveler sejati tidak boleh panik. Wusahhhhh…wusahh….celingukan kiri-kanan. Nggak banyak yang bisa dilihat karena masih jam 3 pagi, sekeliling masih gelap. Tapi setelah meneliti dengan jelas, ternyata kami diturunkan di depan sebuah gedung dengan tulisan TBS. Apa pulak itu TBS? Pasti T-nya terminal, pikir saya. Kami berdua memantapkan hati dan memasuki gedung itu.
Sesampainya di dalam gedung, yang memang terminal, di dalam sudah banyak orang yang tidur di kursi-kursi yang berjejer. Oiya, jangan bayangin terminalnya seperti Kampung Rambutan atau terminal-terminal pada umumnya yaa... Ini terminal, yang ternyata namanya Terminal Berpadu Selatan (BTS) bangunannya gede, modern, bersih dan rapi.  Buat saya, yang selalu memandang sebelah mata negara Malaysia karena suka meng-klaim budaya kita, mata saya  sedikit terbuka dan hati saya tertohok. Dari segi terminal, kita sudah kalah jauh. 
Interior serba modern di TBS
Menurut informasi dari orang-orang sekitar, terminal ini terkoneksi dengan LRT yang beroperasi jam 7 pagi. Karena masih 4 jam lagi, Si Summer langsung ngambil posisi tidur di salah satu kursi panjang yang masih kosong dan langsung tidur. Pules. Saya yang rasa penasarannya mengalahkan kantuk, berjalan-jalan di dalam terminal. Setelah diperhatikan, terminal ini lebih mirip bandara sih. Papan petunjuknya lengkap dengan 3 bahasa (English, Melayu, Indonesia). Sistem pembelian tiket bus juga sudah canggih, menggunakan sistem online. Tapi rute yang dilayani hanya kota-kota di Malaysia. Untuk bus dengan rute negara lain harus ke Terminal Puduraya, yang merupakan tujuan saya sebenarnya. 
TBS menjelang pagi
Fasilitas di dalam terminal juga lengkap. Ada foodcourt di lantai 2, toko-toko yang menjual souvenir, dan yang paling penting toiletnya bersih.  Tapi ada satu yang kurang: Money Changer. Saya yang tidak membawa Ringgit mulai bingung mau nuker duit dimana. Paling nggak buat naik MRT, trus ntar di kota nyari money changer.  Terpaksa saya merogoh dompet, ngambil duit di ATM. Untuk transaksi ini dikenakan biaya 25rb rupiah oleh bank. Setelah ambil duit, saya ke toilet karena kebelet pipis. Masuk ke dalam bilik, saya nemuin duit ringgit, yang terlipat-lipat di lantai kamar mandi. Kalau belum ngambil duit di ATM, udah berpindah ke saku celana saya tuh duit.  Dengan berat hati saya memberikan hasil temuan itu ke satu-satunya orang selain saya di toilet, mbak-mbak yang lagi ngaca di wastafel.  Dia juga sebenarnya nggak yakin kalo itu duitnya, tapi diambilnya juga. yeeeee..!!!

Empat jam yang membosankan berlalu. Akhirnya teman saya yang tukang tidur itu bangun juga. Kami segera ke toilet dan mandi ala backpacker. Seperti apa? ya cuci muka, gosok gigi, dan dandan.  Saya yang merasa tidak perlu berdandan heboh karena belum mandi akhirnya menunggu teman saya itu dandan. Setelah hampir 1 jam, akhirnya dia nongol juga.  Saya agak pangling gitu, karena empat jam yang lalu dia rada-rada kucel, sekarang berubah agak kinclongan dikit, jadi kelihatan Hongkongnya.hahaha.. Oke, The Power of Make-up. 

Kami menuju ke stasiun LRT yang ada di lantai 1, dan bingung dengan rutenya.  Setelah nanya sana-sini, akhirnya kami naik juga jalur yang menuju Masjid Jamak. Tujuan kami adalah Chinatown, gara-gara Summer pengen banget makan bubur.  Sempat turun di stasiun yang salah, akhirnya kami sampai juga di stasion yang benar.  Jalan dari stasiun ke Chinatown agak jauh, dan akhirnya sampai juga kami di kedai tempat jualan bubur. Tiba-tiba Summer jadi serasa di rumah sendiri, langsung akrab dengan ibu-ibu penjual bubur dengan bahasa Mandarin yang nggak sedikitpun saya ngerti.  Tapi intinya, ibu itu agak kaget juga setelah tau kami baru kenal di bus. Tadinya dikira kami sudah kenal lama trus traveling bareng (setelah dijelaskan oleh Summer). Tapi beginilah serunya solo traveling, kita nggak pernah tau bakal bertemu siapa. Oiya, bubur disini enaaaakkkk banget, paling enak yang pernah saya makan. Mungkin karena campuran pork-nya ya,hehehe..
Yummyy... ^,^
Saya dan Bubur Ayam terenak sedunia
Saya dan Summer
Chinatown di KL
Selesai makan, kami mencari lokasi hostel yang sudah di-booking oleh Summer. Lokasi hostelnya masih di Chinatown, persis di depan kuil. Resepsionisnya bule ganteng, yang menjadikan hostel ini akan menjadi tujuan saya kalau ke KL lagi dan butuh nginep. Kami melanjutkan perjalanan. Karena Summer sudah ada janji dengan temannya mau nonton film Hongkong dan saya harus nyari tiket ke Thailand, akhirnya kami harus berpisah, dan nggak lupa tuker email.  Yahh, siapa tau aja nanti bisa ketemu pas main ke Lagoi.
LRT-nya KL
Setelah 2x naik LRT, saya sudah mulai familiar dan nggak nyasar. Memang rutenya agak berbeda dengan MRT Singapore, tapi secara teknis sama.  Tujuan selanjutnya adalah KL Central, yaitu pusatnya stasiun kereta api di KL. KL Central ini gede sekali. Mulai dari kereta ke airport, MRT, monorail, kereta antar negara berhenti disini semua. Saya segera ke lantai 3 membeli tiket KL-Hatyai seharga 26 ringgit. Murah sekali untuk perjalanan lintas negara. Kelas ekonomi. Berangkatnya jam 21:20.
Di KL Central ini ada tempat penitipan tas/luggage, hanya MYR 5 per tas. Masih ada waktu jalan-jalan menjelajahi KL, saya segera Petronas. Untuk sampai kesini harus naik LRT dan turun di KLCC, trus keluarnya di pintu mana aja. Waktu itu saya keluar di sisi yang salah, jadi yang kelihatan itu cuman satu menara. Setelah nanya satpam (yang excited banget begitu tau saya orang Indonesia karena punya teman orang Indonesia) dan ternyata harus masuk ke dalam gedung dan keluar di pintu yang satunya lagi.  KLCC ini kayak mall tapi didalamnya barang-barang branded gitu. Dan sampailah di pintu keluar yang benar, yang didepannya ada kolam dengan air mancur. Jalan sedikit, dan Petronas Tower berada di belakang saya! 

Repotnya traveling sendiri itu adalah susah mencari tukang foto buat narsis.  Jadi saya jalan-jalan aja di taman yang ada di depan KLCC, sambil memperhatikan target yang akan dijadikan tukang foto.  Agak lama, akhirnya target yang ditunggu-tunggu muncul juga. Cowok, masih muda, dan pegang kamera DSLR. Dengan bahasa melayu yang sangat dibuat-buat, saya minta tolong difotoin dengan latar belakang Petronas Tower. Sekali cukup lah. Setelah foto, ngobrol-ngobrol dikit, ternyata dia mahasiswa asli Malaysia yang lagi jalan-jalan aja. 

Saya dan Twin Tower ;)
Setelah puas jalan-jalan di luar, dan panas, saya masuk ke dalam gedung dan cuci mata. Sempet liat-liat sepatu Vincci yang khas oleh-oleh Malaysia, tapi modelnya nggak ada yang lucu. Harganya juga nggak murah-murah banget. Jadi apa yang membuat sepatu ini selalu jadi bahan titipan cewek-cewek tanah air? Bagusan sepatu Charles & Keith (bukan iklan. Sumpah, memang bagus). Saya hanya beli kaos 2 biji di salah satu outlet karena persediaan baju bersih saya sudah habis. Capek jalan-jalan, saya ke foodcourt di lantai 4 (kalo nggak salah inget). Sebelum nyampe foodcourt, saya nyangkut di toko buku Kinokuniya. Woww, buku arsitekturnya bagus-bagus, tapi mahal seperti buku-buku arsitektur pada umumnya. Di foodcourt pilihan makanan sangat banyak, tapi karena persediaan ringgit yang sangat tipis, saya hanya makan nasi goreng kambing. Yaelah, jauh-jauh ke KL hanya makan nasi goreng kambing yang lebih enak di Jalan Gejayan Yogyakarta. 

Nasi Goreng Kambing
Sebenarnya saya masih mau melanjutkan ke Putra Jaya, tapi karena kondisi keuangan yang sangat tidak memungkinkan, akhirnya saya kembali ke KL Central. Baru jam 6 sore sih sebenarnya. Tapi kalau saya jalan-jalan, dan menghabiskan energi dan lapar lagi berarti harus keluar kocek lagi buat beli makan. Sementara perjalanan ke Hatyai 12 jam, dan duit saya hanya cukup untuk beli makan malam dan camilan di kereta. Akhirnya saya hanya mondar-mandir di KL Central, melihat wajah-wajah calon penumpang dan berharap bertemu sesama orang Indonesia di perjalanan. Di stasiun ini ada Shower Room bayar 5 MYR, tapi karena duit saya bener-bener cekak, saya hanya cuci muka di toilet. Grateess!! Terakhir kali mandi kemarin waktu di singapore.hehe..

Selama menunggu kereta berangkat banyak hal menarik yang saya perhatikan. Tidak ada orang yang menunggu di platform, semua di ruang tunggu. Penumpang benar-benar memasuki platform 15 menit sebelum keberangkatan. Selain itu yang menarik perhatian saya adalah pasangan tunanetra. Dua-duanya buta, tapi mereka bertingkah laku seperti orang normal.  Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana caranya mereka keluar dari rumah, naik LRT, membeli tiket kereta dan menemukan ruang tunggu ini. Dan cowoknya bener-bener mesum. Tangannya grepe-grepe ceweknya gitu. Walaupun buta mereka normal juga soal begituan. dipikirnya nggak ada yang liat kali ya?
Tiket Kereta Murah 
Setelah delay 10 menit karena alasan operasional, akhirnya penumpang dipersilahkan naik kereta tujuan Hatyai.  Walaupun kelas ekonomi, tidak seperti kelas ekonomi kereta kita. Kursinya nyaman dan bersih. Tidak ada penjual asongan. Untuk kelas yang lebih tinggi, yaitu Reclining dan Sleeper keretanya jadi satu, tapi berada di gerbong berbeda. Duduk manis, siap untuk perjalanan 12 jam. Bye Kuala Lumpur. 

-- to be continued --


Pengeluaran day 4 Kuala Lumpur:
LRT dari TBS-Chinatown          : MYR 2.70
Sarapan bubur                             : MYR 14
LRT Chinatown - KL Central    : MYR 1.60
KLM KL-Hatyai                             : MYR 26
LRT KL Central - KLCC                : MYR 1.60
Titip tas di KL Central               : MYR 5
LRT KLCC - KL Central                : MYR 1.60

Total pengeluaran : MYR 52.5 = Rp 162.240 (1 MYR = Rp 3120)
Belanja nggak dihitung yaaaa ^__^

Eat, Shoping, Love #Solobackpacker #Trip2013 (Day 3 - Singapore)

Seperti biasa, tidur di negeri orang nggak pernah senyaman di negeri sendiri. Walaupun tidur jam 3pagi, saya tetep bangun jam 07.00. HAPPY NEW YEAR! Setelah update status di twitter dan facebook, ngucapin selamat tahun baru ke kerabat tercinta, pengennya sih bangunin orang-orang hostel satu persatu trus disalamin satu-satu. Tapi kalo saya ngelakuin itu pasti dianggap norak. Dan gila. Jadi lupakan rencana itu, lebih baik mandi.

Setelah mandi, saya ke resepsionis, mencari sesuap roti dan sebutir telur rebus. Sambil sarapan, saya nanyain ibu-ibu resepsionis itu kalo mau ke KL naik bus apa dan dari mana.  Ternyata busnya tiap hari ngetem di Hotel Park Royal, yang letaknya di belakang Mustafa Center, nggak jauh dari hostel tempat saya nginap. Bahkan ibu-ibu itu menawarkan membelikan tiketnya, seharga SGD 40. Wahh, baik sekali ibu ini. Saya jadi terharu. 

Tiket udah ditangan, teman-teman sudah siap, kami pun segera check out.  Karena saya bus nya masih lama, jam 10 malem, backpack saya titipkan di hostel. Nggak kebayang deh jalan-jalan seharian bawa backpack gitu, kayak kura-kura.  Tujuan hari ini adalah Arab Street.  Seperti biasa, saya sebagai pencetus ide ke Arab Street, dengan ke-sok tau -an saya, seolah-olah udah pernah kesana, dua teman saya berhasil diyakinkan.  Untuk sampai kesana naik MRT, turun di Bugis, tapi keluarnya ke arah Rumah Sakit Raffles. Jalan terusss, belok kanan setelah RS, ntar ketemu toko yang jualan barang-barang antik. Bapak yang jualan bisa bahasa melayu. Teman saya naksir kamera antiknya.

Masjid Sultan
Tandanya kita udah dekat Arab Street adalah Masjid Sultan.  Tapi tujuan kami sebenarnya adalah ke Haji Lane. Haji Lane ini adalah gang kecil di sekitar Arab Street yang penuh butik-butik cantik.  Tapi karena hari itu Tahun Baru banyak tokonya yang tutup.  Harga barang-barang di jalan ini juga agak mahal, tapi designnya lebih exclusive dan vintage.  Cocok banget dengan selera saya yang agak-agak jadul.haha

Butik-butik di Haji Lane

Narsis di Haji Lane
Capek foto-foto di Haji Lane, kita ke Bugis. Makan siang, belanja-belanji. Standar.  Menurut saya, belanja di bugis ini mahal, karena harga rata-rata SGD 10 yang paling murah. Dengan kurs rupiah yang 8000/SGD, berarti satu kaos harganya Rp 80.000. Masih murah Tahah Abang sih sebenarnya.

Akhirnya waktu juga yang memisahkan saya dan kedua teman. Mereka harus segera ke Tanah Merah Ferry Terminal untuk ferry jam 05.00, dan saya melanjutkan perjalanan ke Thailand.  Naik MRT kembali ke hostel, mampir dulu di Mustafa Centre. Saya minta ijin numpang mandi di hostel, dan dibolehkan. Gratis! Makin salutlah saya akan kebaikan tante ini. Setelah mandi, re-packing, saya segera ke pool bus di Hotel Park Royal.

Sepertinya saya datangnya kecepetan.  Dengan pedenya saya naik ke bus yang parkir di samping hotel. Wahhh, bus nya lumayan bagus, pikir saya sambil menebar senyum ke kondektur dan menunjukkan tiket.  Dan ternyata saya salah naik! Bus saya parkir di sebelah, yang kondisinya lebih buruk. Oh no! Dengan berat hati saya turun dan celingukan nyari awak bus yang agak bobrok ini. Setelah nanya-nanya, ternyata bus yang ke KL belum datang. Iya sih, baru jam 09.00. Saya segera ke kantor perwakilan bus ini yang letaknya di samping hotel Park Royal.  Sementara menunggu, ada cewek yang membeli tiket ke KL. Nggak sengaja saya denger kalau tiketnya cuman SGD 30. Sial! Ibu hostel banyak bener ambil ntung. 10 SGD! Delapan puluh ribu rupiah! Ini mah lebih parah dari calo. Dan kekaguman dan penghormatan setinggi langit yang saya berikan ke ibu hostel berkurang hingga 89%. Kejujuran ibu mahal, Bu!

Tepat jam 10.00, saya disuruh ngikutin cewek yang beli tiket tadi untuk menuju bus yang ke KL. Dan ternyata, walaupun dari luar busnya nggak sebagus bayangan saya, dalamnya cukup nyaman. Kursinya bisa reclining, ada selimut. 

Sayapun bisa tidur nyenyak di bus. Sekitar jam 12 malam saya dibangunkan kondektur karena semua penumpang harus turun di imigrasi. Saya turun dengan membawa semua barang. Dalam keadaaan ngantuk berat, saya dikagetkan sama cewek yang nanya: 
"Gimana caranya kita nemuin bus kita entar?" (dalam English yang baik dan benar, tentunya)
" Ya liat aja nomernya. Kan di tiket ada" (jawab saya dengan English yang nggak baik dan benar)..

Akhirnya kita kenalan, namanya Summer, dari Hongkong.  Ngobrol-ngobrol sambil ngantri di imigrasi, ternyata dia juga baru akan pertama kali ke KL. Entah karena merasa senasib atau gimana, akhirnya kami cepat akrab dan dia memutuskan pindah di sebelah tempat duduk saya di bus. Dia cerita kalao February nanti dia mau ke Lagoi, Bintan. Setelah saya ngomong kalau saya dari Lagoi, dia makin excited dan agak kaget. hahaha.. Kebetulan yang luar biasa sekali. 

Capek ngobrol, kami pun tidur. Daaaannnn... tepat jam 03.00 pagi kami dibangunkan oleh kondektur. Ternyata busnya udah sampai di Kuala Lumpur. Tapi kok jam 3 pagi ya? udah gitu diluar gelap sekali. Wahh, ada yang nggak beres nih. Si kondektur juga nyuruh turunnya cepet-cepet, kayaknya buru-buru banget. Dengan berat hati akhirnya kami turun. Celingukan di trotoar. 

-- to be continued --


Pengeluaran hari ke3 Singapore:
Makan siang                     : SGD 5
Beli perbekalan              : SGD 10
Makan malam                  : SGD 7
Tiket bus                            : SGD 40 >> harusnya 30 *nggak rela

Total                                     : SGD 62 = Rp 496.000,- (kurs 1 SGD = Rp 8.000)
Belanja tetep nggak dihitung yaaa ;)

  Cerita Sebelumnya (Day 2 - Singapore)