Sunday, December 16, 2012

Trip to Singapore #day1


Perjalanan ini sebenarnya udah dari beberapa bulan yang lalu, pas hari ulang tahun saya yang ke...hmmm..kasi tau nggak ya? (minta ditabok).  Pokoknya ulang tahun saya yang kesekian, dan saya sudah berjanji  demi langit dan bumi bahwa di hari istimewa itu saya harus sedikit meng-hadiah-i diri sendiri dengan sesuatu yang spesial (dan menguras kantong).

Karena ini perjalanan yang istimewa, persiapan pun harus matang. Pertama-tama adalah mental.  Beberapa hari sebelumnya saya mempersiapkan nyali sambil sesekali melirik dompet. Dompet sendiri, tentunya.  Setelah persiapan pertama cukup,lanjut ke persiapan kedua, yaitu duit.  Setelah berhari-hari mengecek kurs SGD (dolar Singapore) di internet sambil memanjatkan doa agar kursnya menurun, dan ternyata tidak dikabulkan oleh Tuhan YME, akhirnya saya memutuskan untuk memasrahkan rupiah saya dihargai 7700 rupiah per SGD  oleh salah satu pedagang kelontong di deket kantor. Apa? Tuker dollar di pedagang kelontong?? Hahaha...This is Lagoi! Everyone can be money changer. Harga itu 100 perak lebih murah dari yang ditawarkan bank dan money changer.  Lanjut ke persiapan ketiga, yaitu tiket. Sehari sebelumnya saya ke membeli tiket speedboat di Bandar Bintan Telani (BBT), Lagoi, Pulau Bintan. Harganya 64 SGD Pulang-Pergi. 

Dan hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Jam 14.00 saya berangkat ke BBT dan check in. Setelah melalui petugas imigrasi yang mukanya jutek, tanpa senyum (kecuali hari Lebaran dan Tahun Baru), saya pun masuk di ruang tunggu.  Suasana cukup ramai dengan bule-bule Singapore yang mau kembali ke kampung halamannya.  Oiya, FYI, di Lagoi ini banyak orang Singapore yang kerja disini, jadi di weekday mereka ke Lagoi, dan weekend mereka kembali ke negaranya. Phulang Kampong, kata mereka (tentunya diucapkan dengan aksen ala-ala Chinca Laura).

Kurang lebih 30 menit menunggu, penumpang dipersilahkan naik ke speedboad.  Saya pun masuk dan duduk manis di salah satu kursi yang dekat jendela.  Perjalanan kurang lebih 45 menit dan sepanjang perjalanan para penumpang diberi tontonan Tom & Jerry.  Dalam perjalanan saya mengisi form imigrasi yang saya ambil di tempat pembelian tiket, sambil sesekali melirik Tom di layar tv.

Terminal Ferry Tanah Merah
Sampailah kita di Tanah Merah Ferry Terminal, Singapore.  Di bagian imigrasi, salah satu petugasnya, yang rupanya orang melayu menanyakan saya akan tinggal dimana.  Saya yang belum membooking hostel hanya bisa garuk-garuk kepala dan bingung.  Tapi dengan sedikit sepik-sepik dan bantuan dari teman, akhirnya saya bisa lolos juga.  Jadi, penting bagi mereka untuk tau tempat kita menginap, mungkin untuk memastikan bahwa kita tidak luntung-lantung tanpa arah dan tujuan dan berakhir menjai gembel di negerinya.

Saya segera menuju halte untuk menunggu bus, karena satu-satunya transportasi umum dari terminal ini adalah bus. Dan taxi tentunya, tapi tidak disarankan menggunakan taxi di Singapore, karena biayanya yang cukup mahal, apalagi untuk backpacker gagal nan kere seperti saya.  Kurang lebih 30 menit bus yang ditunggu-tunggu dateng, saya pun segera naik dan men-tap-kan EZ-link card punya teman yang saya pinjem.  Penting bagi kita untuk mempersiapkan EZ-link card ini, karena kartu ini terintegrasi dengan berbagai alat transportasi di Singapore.  Kebayang kan, kalau nggak ada kartu ini, si sopir bus bakalan sibuk ngasih kembalian ke penumpangnya. Kartu ini bisa dibeli stasiun MRT dengan harga 15 SGD, dan sudah terisi sebesar 10 SGD. Kita bisa top up di mesin yang ada di stasiun MRT.

Chinatown

Saya turun di bus station Tanah Merah dan segera menuju MRT Tanah Merah.  Saya top up EZ-link sebesar 10 SGD kemudian naik MRT yang menuju ke Joo Koon, turun di Interchange City Hall, kemudian naik MRT yang ke arah Jurong East, turun di Interchange Dhoby Ghaut  dan akhirnya setelah perjalanan panjang saya turun di Chinatown.  Setelah celingak-celinguk beberapa saat menentukan arah tujuan, akhirnya saya mengamnbil salah satu jalan keluar. Dan voila, sampailah saya di Chinatown yang fenomenal itu.  Waktu itu ada entah perayaan apa sehingga lampion warna-warni bergantungan di sepanjang jalan. Cantik sekali.  Chinatown ini cocok untuk orang-orang yang gila aksesories dan pernak-pernik.  Yang mau cari oleh-oleh juga sebaiknya nyari disini karena harganya sangat murah. Sebagian besar barang dibanderol 10SGD/ 3pcs.
Chinatown
Saya mempunyai Shoping Rules sendiri yang sangat fundamental:
1.       Harga di toko sebelah selalu lebih murah
2.       Jika harga di toko sebelah lebih mahal, kembali ke rules nomer 1
3.       Jika harga di toko sebelahnya toko sebelah lebih mahal, kembalilah ke toko nomer 1.

Dan begitulah saya, sepanjang sore itu hanya berjalan keluar-masuk toko membandingkan harga. Tidak ada satupun toko yang terlewat! Jam 8 malam, perburuan saya yang menghasilkan beberapa kalung, cincin, dan baju, berakhir. Saya kembali ke MRT station karena perjalanan akan dilanjutkan ke Little India.  Setelah mengamati peta jalur MRT beberapa saat, saya memutuskan naik yang arah Punggol dan berhenti di Little India.

Little India

Ternyata keputusan saya turun di station Little India salah besar. Kenapa? Karena jalan dari station MRT ke pusat Little India (ditandai dengan Mustafa Centre) sangat jauh dan memutar.  Harusnya saya turun di Ferrer Park. Saya menanyakan arah Mustafa Centre ke beberapa orang India yang saya temui di jalan. Mereka ramah sekali. Dengan sabarnya menjelaskan sambil menggoyang-goyangkan kepala. Sebenarnya saya sudah cukup mengerti dengan penjelasan orang pertama, tapi melihat mereka berbicara sambil kepalanya gerak-gerak itu menyenangkan sekali sehingga saya selalu berhenti dan menanyakan pada orang yang berbeda. Mereka semua sama saja, menjelaskan sambil goyang-ghoyang kepala.

Untunglah di sepanjang jalan dari station ke Mustafa Centre banyak toko di pinggir jalan yang menjual souvenir, saya pun masuk dari toko ke toko membandingkan harga. Ada puluhan toko yang saya masuki tanpa membeli satu barang pun!

Akhirnya tampaklah Mustafa Centre yang saya cari-cari itu. Bangunannya hanya 3 lantai, tapi panjang sekali. Nyari apa aja ada disini, dan buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 356 hari setahun! Saya menitipkan tas di di sebelah pintu masuk, kemudian menjelajah toko lantai per lantai. Kalo di Indonesia, Mustafa Centre ini mungkin mirip ITC Cempaka Mas.  Lantai 1 elektronik, kosmetik dan alat-alat rumah tangga. Lantai 2 makanan, cokelat, dan kebutuhan rumah tangga. Lantai 3 stationery, dan alat-alat elektrikal.  Ternyata masih ada lantai basement yang isinya baju-baju dan alat-alat elektronik.

Puas mengecek harga, akhirnya perut saya menunjukkan sinyal-sinyal minta dikasihani. OMG! Saya baru sadar kalau belum makan. Karena malas jalan, saya akhirnya memutuskan makan di rumah makan India di sebelah Mustafa Centre. Rumah makannya cukup ramai, dan saya memesan nasi dan kare ayam. Saya kaget melihat porsinya. Saya yang biasanya makan di piring diameter 20cm, sekarang dihidangkan makanan dengan baki ukuran 40x60cm! Dan porsinya 3 kali porsi kuli proyek. Puji Tuhan. Saya pun makan dengan beringas.

Setelah makan, kepanikan pun muncul di benak saya. Sudah jam 9 malam dan saya belum memesan tempat tinggal.  Saya pun buru-buru mencari hostel di sekitar Little India.  Karena saya datang bertepatan dengan event tahunan F1, banyak hostel dan hotel yang penuh.  Keluar-masuk beberapa hostel di Jalan Besar dan sempat bertemu 1 orang backpacker Indonesia, akhirnya ada 1 hostel yang kosong dengan harga 40SGD untuk tipe dorm. Mahal sekali, tapi tidak ada pilihan dan sudah terlalu malam untuk mencari yang lain. Hostelnya cukup bagus dan terjangkau, hanya saja saya yang datang disaat peak season. Kalau ada yang tertarik bisa cek rate-nya disini
 
Interior Hostel
Saya cek-in, menyimpan barang-barang di locker, dan mandi.  Badan sudah segar dan wangi, dan masih jam 10 malam.  Ulang tahun saya 2 jam lagi, dan saya nggak rela merayakan ulang tahun di dorm hostel. Saya memutuskan kembali ke Mustafa Centre. Kali ini saya masuk dari bangunannya yang baru, yang secara arsitektural lebih modern. Di lantai 1 saya menyusuri rak kosmetik dan parfum. Cukup lengkap. Untuk harga kosmetik harganya tidak terlalu jauh dengan harga Jakarta. Tetapi untuk parfum, harganya jauh lenih murah dari harga Jakarta. Saya membeli beberapa kuteks seharga 3.88 SGD satunya. Cukup murah.  Saya lanjut ke lantai 2 yang isinya makanan semua.  Banyak cokelat, dan sebagian dari mereka jarang terlihat di Jakarta.  Saya melanjutkan ke lantai 3 dan seterusnya, dan sampailah saya di bagian yang menjual hiasan pesta ulang tahun. Kebetulan sekali, tepat pukul 00.00 saya berfoto dengan topi ulang tahun anak kecil. Perayaan ulang tahun yang aneh dan sedikit norak.  Setelah puas menyusuri lantai per lantai Mustafa Centre, saya kembali ke hostel dan tidur. Tidur saya agak kurang berkualitas karena tidur di bunk bed (ranjang susun) di bagian atas, dengan orang India gede, itam, di bagian bawah yang selalu gerak-gerak. Tapi saya harus tidur karena Singapore hari kedua sudah menanti.
Happy Birthday to me!




No comments :

Post a Comment