Monday, April 2, 2012

Fighting! Survive di Perantauan

Nggak terasa sudah 11 tahun gw merantau, jauh dari rumah demi menuntut ilmu dan masa depan. Dari seorang bocah perempuan 15 tahun, lulus SMP, dekil, kurus, mendaftar ke SMU favorit dan masuk asrama dengan barang seadanya. Haha, gw ingat banget dihari pertama masuk asrama, semua murid baru dianterin orangtua sampai ke kamar, diberi nasihat-nasihat, diciumin ama orangtua, dan paling penting, diberi duit jajan. Sedangkan gw? Datang dengan angkot reyot yang gw carter sendiri dengan duit jajan gw yang nggak seberapa, sendiri, kewalahan mengangkat tas gede berisi pakaian dan ember hijau berisi peralatan mandi. Itu Juni 2001. 
Sekarang gw wanita dewasa, masih sebagai perantau, di ibukota. Benar kata orang, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Sejak kuliah gw sudah membayangkan suatu saat akan bekerja di Jakarta, karir bagus, apartemen mewah, mobil mewah, baju bagus, perhiasan berkilau. Tapi mewujudkan semua itu tidak gampang. Gw harus mulai dari nol, bahkan dimulai dengan 'dibodohi' orang, gaji super-duper kecil, tinggal di tempat yang nggak layak, sampai akhirnya sekarang mendapatkan pekerjaan yang bisa dibilang layak. 
Ternyata bekerja di tempat ini tidak seindah yang gw bayangkan sebelumnya. Tapi gw berusaha melakukan yang terbaik, karena disinilah tempat menuntut ilmu yang sebenarnya. Kadang-kadang gw pengen balik aja ke masa-masa kejayaan dulu waktu kuliah. 
Mungkin banyak perempuan-perempuan muda yang hidupnya sama seperti gw. Bahkan di tempat tinggal gw ada cewek umur 19 tahun yang gw salut banget ama dia. Sebut saja namanya Mawar. Mawar  memutuskan bekerja di Jakarta setelah lulus SMU di Medan, bukannya melanjutkan kuliah, padahal dia berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi. Dia berusaha mandiri, walaupun sifat kekanak-kanakan masih sesekali nampak. Yaiyalah, 19 tahun gitu loh, umur segitu mah gw mana kepikiran buat kerja. Selain Mawar, ada satu lagi perantau yang tinggal bareng gw. Sebut saja namanya Melati, umurnya 21 tahun. Gw sering membandingkan mereka berdua. Walaupun supel dan menyenangkan, Melati terlalu banyak bergantung sama orang lain. Bahkan untuk makan pun, dia selalu menunggu diberi makan dari orang lain. Gw kadang-kadang geregetan ngeliatnya. Dia sering mengeluhkan kesulitan finansial orangtuanya, tapi tidak ada inisiatif untuk melakukan apa-apa. Bahkan gw dan teman gw udah berusaha mencarikan pekerjaan part time buat dia, tapi dianya yang emang nggak merespon dengan baik. Yang dikerjakan tiap hari hanya nongkrong dengan sesama pengangguran dan bersenang-senang. Siapa yang nggak geregetan coba. 
Tapi yah sudahlah, tiap orang emang beda-beda sifatnya, beda pula nasibnya. Gw nggak bisa memaksakan si Mawar menjadi seperti Melati atau si Melati berubah seperti mawar. Bahkan gw nggak bisa menjamin Mawar yang mandiri bakalan lebih sukses daripada Melati yang malas. Yang gw tau, gw harus survive di ibukota ini, jangan sampai bergantung kepada orang lain. Masih banyak mimpi-mimpi yang harus gw capai, dan gw yakin bisa. 
FIGHTING!


No comments :

Post a Comment