Saturday, December 22, 2012

Trip to Singapore #day2

Bangun pagi mata sepet, kurang tidur. Salahkan laki-laki india di bawah.  Turun dari bunk bed dengan usaha yang cukup keras agar tidak menimbulkan bunyi susah juga. Saya menuju kamar mandi. Di ruangan dengan 10 bunk bed ini hanya ada 1 kamar mandi dengn beberapa bilik untuk shower dan WC di dalamnya. Begitu membuka pintu kamar mandi, saya dikagetkan olah laki-laki gede, hitam, brewokan, dan nggak pake baju! Another India guy. Saya kaget, dia juga kaget. 
Setelah mandi, saya turun ke lantai 1 dan sarapan roti.  Setelah check out dan membayar biaya penginapan, saya keluar membawa semua barang yang beratnya ampun-ampun. Tujuan pertama hari ini adalah Bugis. Setelah berjalan sekitar 30 menit( iya, jalan kaki dari Little India ke Bugis), sampailah di kanopi screen textile merah bertuliskan 'BUGIS STREET'.
Bugis
Disini adalah tempat belanja yang menyenangkan bagi pecinta aksesoris dan pernak-pernik. Belanja oleh-oleh juga bisa disini. Rata-rata barangnya dijual seharga SGD 10/3pcs. Buat yang nyari baju, sepatu dan tas juga bisa disini, harganya murah-murah. Buat yang nggak suka berpanas-panasan, bisa ke Bugis Junction, yaitu pusat perbelanjaan yang cukup besar. 

Bugis Junction
Setelah capek berkeliling Bugis, saya memutuskan makan di salah satu foodcourt, masih di kawasan Bugis juga. 1 porsi nasi ayam dihargai SGD 3. Cukup murah (jangan di kurs kan ke rupiah). Perut kenyang, langsung menuju MRT, mari menuju kawasan wisata fenomenal orang Indonesia, Orchard Road. Orchard Road sama sekali tidak menarik buat saya. Sepanjang jalan hanya ada tempat belanja mewah. 
karena tidak ada yang menarik disini, saya memutuskan untuk ke kawasan Marina Bay, untuk berfoto dengan patung singa. Too bad, begitu nyampe di Marina Bay, patung singanya ketutupan gate Formula 1. Gagal foto dengan singa, foto dengan Gate F1 pun jadi. kan nggak setiap hari kita bisa foto disini.
F1 for Everyone ;)
Puas foto-foto, saya berjalan-jalan di City Square. window shoping. dang adong hepeng. Menjelang sore, kita bisa mendengar suara mobil F1 meraung-raung di jalanan. Tapi hanya bisa denger suaranya, bayangan mobilnya satupun ngggak ada yang kelihatan. 
Setelah kaki pegel, betis rasanya mau pecah, bahu udah miring sebelah gara-gara seharian nyantelin tas, duit di dompet tinggal SGD 40, saya harus mengakhiri penderitaan ini dengan segera kembali ke tanah air. Hanya butuh setengah jam dari City Hall ke Tanah Merah Ferry terminal.  Saya menunggu ferry yang akan berangkat dengan makan malam di salah satu resto di terminal ferry. Saya lupa memesan apa. Satu jam kemudian saya sudah berada di dalam ferry menuju Bintan tercinta. Bye-bye Singapore, i'll be back soon. 
Di dalam Ferry


Sunday, December 16, 2012

Trip to Singapore #day1


Perjalanan ini sebenarnya udah dari beberapa bulan yang lalu, pas hari ulang tahun saya yang ke...hmmm..kasi tau nggak ya? (minta ditabok).  Pokoknya ulang tahun saya yang kesekian, dan saya sudah berjanji  demi langit dan bumi bahwa di hari istimewa itu saya harus sedikit meng-hadiah-i diri sendiri dengan sesuatu yang spesial (dan menguras kantong).

Karena ini perjalanan yang istimewa, persiapan pun harus matang. Pertama-tama adalah mental.  Beberapa hari sebelumnya saya mempersiapkan nyali sambil sesekali melirik dompet. Dompet sendiri, tentunya.  Setelah persiapan pertama cukup,lanjut ke persiapan kedua, yaitu duit.  Setelah berhari-hari mengecek kurs SGD (dolar Singapore) di internet sambil memanjatkan doa agar kursnya menurun, dan ternyata tidak dikabulkan oleh Tuhan YME, akhirnya saya memutuskan untuk memasrahkan rupiah saya dihargai 7700 rupiah per SGD  oleh salah satu pedagang kelontong di deket kantor. Apa? Tuker dollar di pedagang kelontong?? Hahaha...This is Lagoi! Everyone can be money changer. Harga itu 100 perak lebih murah dari yang ditawarkan bank dan money changer.  Lanjut ke persiapan ketiga, yaitu tiket. Sehari sebelumnya saya ke membeli tiket speedboat di Bandar Bintan Telani (BBT), Lagoi, Pulau Bintan. Harganya 64 SGD Pulang-Pergi. 

Dan hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Jam 14.00 saya berangkat ke BBT dan check in. Setelah melalui petugas imigrasi yang mukanya jutek, tanpa senyum (kecuali hari Lebaran dan Tahun Baru), saya pun masuk di ruang tunggu.  Suasana cukup ramai dengan bule-bule Singapore yang mau kembali ke kampung halamannya.  Oiya, FYI, di Lagoi ini banyak orang Singapore yang kerja disini, jadi di weekday mereka ke Lagoi, dan weekend mereka kembali ke negaranya. Phulang Kampong, kata mereka (tentunya diucapkan dengan aksen ala-ala Chinca Laura).

Kurang lebih 30 menit menunggu, penumpang dipersilahkan naik ke speedboad.  Saya pun masuk dan duduk manis di salah satu kursi yang dekat jendela.  Perjalanan kurang lebih 45 menit dan sepanjang perjalanan para penumpang diberi tontonan Tom & Jerry.  Dalam perjalanan saya mengisi form imigrasi yang saya ambil di tempat pembelian tiket, sambil sesekali melirik Tom di layar tv.

Terminal Ferry Tanah Merah
Sampailah kita di Tanah Merah Ferry Terminal, Singapore.  Di bagian imigrasi, salah satu petugasnya, yang rupanya orang melayu menanyakan saya akan tinggal dimana.  Saya yang belum membooking hostel hanya bisa garuk-garuk kepala dan bingung.  Tapi dengan sedikit sepik-sepik dan bantuan dari teman, akhirnya saya bisa lolos juga.  Jadi, penting bagi mereka untuk tau tempat kita menginap, mungkin untuk memastikan bahwa kita tidak luntung-lantung tanpa arah dan tujuan dan berakhir menjai gembel di negerinya.

Saya segera menuju halte untuk menunggu bus, karena satu-satunya transportasi umum dari terminal ini adalah bus. Dan taxi tentunya, tapi tidak disarankan menggunakan taxi di Singapore, karena biayanya yang cukup mahal, apalagi untuk backpacker gagal nan kere seperti saya.  Kurang lebih 30 menit bus yang ditunggu-tunggu dateng, saya pun segera naik dan men-tap-kan EZ-link card punya teman yang saya pinjem.  Penting bagi kita untuk mempersiapkan EZ-link card ini, karena kartu ini terintegrasi dengan berbagai alat transportasi di Singapore.  Kebayang kan, kalau nggak ada kartu ini, si sopir bus bakalan sibuk ngasih kembalian ke penumpangnya. Kartu ini bisa dibeli stasiun MRT dengan harga 15 SGD, dan sudah terisi sebesar 10 SGD. Kita bisa top up di mesin yang ada di stasiun MRT.

Chinatown

Saya turun di bus station Tanah Merah dan segera menuju MRT Tanah Merah.  Saya top up EZ-link sebesar 10 SGD kemudian naik MRT yang menuju ke Joo Koon, turun di Interchange City Hall, kemudian naik MRT yang ke arah Jurong East, turun di Interchange Dhoby Ghaut  dan akhirnya setelah perjalanan panjang saya turun di Chinatown.  Setelah celingak-celinguk beberapa saat menentukan arah tujuan, akhirnya saya mengamnbil salah satu jalan keluar. Dan voila, sampailah saya di Chinatown yang fenomenal itu.  Waktu itu ada entah perayaan apa sehingga lampion warna-warni bergantungan di sepanjang jalan. Cantik sekali.  Chinatown ini cocok untuk orang-orang yang gila aksesories dan pernak-pernik.  Yang mau cari oleh-oleh juga sebaiknya nyari disini karena harganya sangat murah. Sebagian besar barang dibanderol 10SGD/ 3pcs.
Chinatown
Saya mempunyai Shoping Rules sendiri yang sangat fundamental:
1.       Harga di toko sebelah selalu lebih murah
2.       Jika harga di toko sebelah lebih mahal, kembali ke rules nomer 1
3.       Jika harga di toko sebelahnya toko sebelah lebih mahal, kembalilah ke toko nomer 1.

Dan begitulah saya, sepanjang sore itu hanya berjalan keluar-masuk toko membandingkan harga. Tidak ada satupun toko yang terlewat! Jam 8 malam, perburuan saya yang menghasilkan beberapa kalung, cincin, dan baju, berakhir. Saya kembali ke MRT station karena perjalanan akan dilanjutkan ke Little India.  Setelah mengamati peta jalur MRT beberapa saat, saya memutuskan naik yang arah Punggol dan berhenti di Little India.

Little India

Ternyata keputusan saya turun di station Little India salah besar. Kenapa? Karena jalan dari station MRT ke pusat Little India (ditandai dengan Mustafa Centre) sangat jauh dan memutar.  Harusnya saya turun di Ferrer Park. Saya menanyakan arah Mustafa Centre ke beberapa orang India yang saya temui di jalan. Mereka ramah sekali. Dengan sabarnya menjelaskan sambil menggoyang-goyangkan kepala. Sebenarnya saya sudah cukup mengerti dengan penjelasan orang pertama, tapi melihat mereka berbicara sambil kepalanya gerak-gerak itu menyenangkan sekali sehingga saya selalu berhenti dan menanyakan pada orang yang berbeda. Mereka semua sama saja, menjelaskan sambil goyang-ghoyang kepala.

Untunglah di sepanjang jalan dari station ke Mustafa Centre banyak toko di pinggir jalan yang menjual souvenir, saya pun masuk dari toko ke toko membandingkan harga. Ada puluhan toko yang saya masuki tanpa membeli satu barang pun!

Akhirnya tampaklah Mustafa Centre yang saya cari-cari itu. Bangunannya hanya 3 lantai, tapi panjang sekali. Nyari apa aja ada disini, dan buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 356 hari setahun! Saya menitipkan tas di di sebelah pintu masuk, kemudian menjelajah toko lantai per lantai. Kalo di Indonesia, Mustafa Centre ini mungkin mirip ITC Cempaka Mas.  Lantai 1 elektronik, kosmetik dan alat-alat rumah tangga. Lantai 2 makanan, cokelat, dan kebutuhan rumah tangga. Lantai 3 stationery, dan alat-alat elektrikal.  Ternyata masih ada lantai basement yang isinya baju-baju dan alat-alat elektronik.

Puas mengecek harga, akhirnya perut saya menunjukkan sinyal-sinyal minta dikasihani. OMG! Saya baru sadar kalau belum makan. Karena malas jalan, saya akhirnya memutuskan makan di rumah makan India di sebelah Mustafa Centre. Rumah makannya cukup ramai, dan saya memesan nasi dan kare ayam. Saya kaget melihat porsinya. Saya yang biasanya makan di piring diameter 20cm, sekarang dihidangkan makanan dengan baki ukuran 40x60cm! Dan porsinya 3 kali porsi kuli proyek. Puji Tuhan. Saya pun makan dengan beringas.

Setelah makan, kepanikan pun muncul di benak saya. Sudah jam 9 malam dan saya belum memesan tempat tinggal.  Saya pun buru-buru mencari hostel di sekitar Little India.  Karena saya datang bertepatan dengan event tahunan F1, banyak hostel dan hotel yang penuh.  Keluar-masuk beberapa hostel di Jalan Besar dan sempat bertemu 1 orang backpacker Indonesia, akhirnya ada 1 hostel yang kosong dengan harga 40SGD untuk tipe dorm. Mahal sekali, tapi tidak ada pilihan dan sudah terlalu malam untuk mencari yang lain. Hostelnya cukup bagus dan terjangkau, hanya saja saya yang datang disaat peak season. Kalau ada yang tertarik bisa cek rate-nya disini
 
Interior Hostel
Saya cek-in, menyimpan barang-barang di locker, dan mandi.  Badan sudah segar dan wangi, dan masih jam 10 malam.  Ulang tahun saya 2 jam lagi, dan saya nggak rela merayakan ulang tahun di dorm hostel. Saya memutuskan kembali ke Mustafa Centre. Kali ini saya masuk dari bangunannya yang baru, yang secara arsitektural lebih modern. Di lantai 1 saya menyusuri rak kosmetik dan parfum. Cukup lengkap. Untuk harga kosmetik harganya tidak terlalu jauh dengan harga Jakarta. Tetapi untuk parfum, harganya jauh lenih murah dari harga Jakarta. Saya membeli beberapa kuteks seharga 3.88 SGD satunya. Cukup murah.  Saya lanjut ke lantai 2 yang isinya makanan semua.  Banyak cokelat, dan sebagian dari mereka jarang terlihat di Jakarta.  Saya melanjutkan ke lantai 3 dan seterusnya, dan sampailah saya di bagian yang menjual hiasan pesta ulang tahun. Kebetulan sekali, tepat pukul 00.00 saya berfoto dengan topi ulang tahun anak kecil. Perayaan ulang tahun yang aneh dan sedikit norak.  Setelah puas menyusuri lantai per lantai Mustafa Centre, saya kembali ke hostel dan tidur. Tidur saya agak kurang berkualitas karena tidur di bunk bed (ranjang susun) di bagian atas, dengan orang India gede, itam, di bagian bawah yang selalu gerak-gerak. Tapi saya harus tidur karena Singapore hari kedua sudah menanti.
Happy Birthday to me!




Wednesday, December 12, 2012

Ombre Hair

Agak bosen ya, dengan gaya rambut yang begini-begini aja: panjang sebahu, lurus, kaku. Tadinya rambut gue iteemmmm banget kayak arang barbekyu. Untungnya enam bulan yang lalu udah dicat, jadi sekarang warnanya mahogany gitu.. Tapi...karna rambut gue terus tumbuh, sekarang gue punya two  tone hair. Lagi tren lohh, rambut dua warna gitu, namanya OMBRE HAIR. Nggak percaya? Lihat aja Nicky Minac.
Nicky Minaj
Tapi kalo lo cawek-cewek kantoran, gue nggak nyaranin deh gaya rambut seperti ini. Kalo lo bukan cewek kantoran tapi tingkat ke-pedean lo juga belum menyamai Nicky Minaj, jangan coba-coba deh. Pokoknya jangan!
Tapi kalo lo nggak mau ketinggalan mode, dan selalu HARUS menyamai (minimal selangkah dibelakang) artis-artis hollywood, lo kudu harus nyoba gaya ini. Tapi yang Ombre-nya wajar-wajar aja kayak Drew Barrymore, Dakota Fanning, Alexa Chung..
Ini nih Ombre Hair yang wajar. Menurut gue sih ;)
Terus kalo gue mau punya rambut seperti itu gue harus kemana? Ya ke salon lah.. Walaupun lo selama ini mewarnai rambut sendiri dan baik-baik aja (seperti gue), jangan coba-coba membuat ombre hair sendiri di rumah. Lo harus ke salon, tunjukin ke mbak-mbak (atau mas-mas) ombre seperti apa yang lo mau. Sebaiknya minta pendapat si hair-styles juga sih, cocok apa nggak.. 
Biasanya sih warna yang dipilih 1 tone lebih muda atau 1 tone lebih tua, biar tidak terjadi garis tegas dipertemuan dua warnanya. 

Sekarang juga udah ada sih yang jual hair extension untuk ombre hair. Lo bisa cek disini

Balik lagi ke rambut gue. Jadinya mau ombre yang seperti apa? Sebenernya sih gue maunya seperti Drew Barrymore, tapi kayaknya nggak cocok ama bentuk muka gue yang kotak ini. Kayaknya dipanjangin aja deh rambutnya, nggak usah diapa-apain, biar entar jadi natural ombre hair ( I wish :p).

Wednesday, September 19, 2012

Tuesday, September 18, 2012

The Leopard is Coming....

Yesterday I ordered a leopard shoes at Berrybenka. 
original picture at Berrybenka

And after waiting very patiently in this Metropolitan City called Lagoi, tadaaaaaa.... here comes the leopard. Rawwrrrr...
rawwwwwrrr...

The next target is: 
white wedges from UP

Online Shop Fever

Lagoi actually fun. But i'm desperate with no malls and places to hang out. Just forest, construction projects, and boys. I need new shoes, new clothes, new cutie rings, earrings, necklaces :(

Hmm...let's browsing clothes on online shops. First let's find out a dress. 
dress by berrybenka.com
is it good enough? yeah, it's so cute and wearable here. hahaha.. Now looking for shoes. wedges or flat shoes? let's take a look and compare. 
shoes by berrybenka.com
and the bags..
bags 
and of course accessories..
accessories
wooowwww...everything is cute. But thought the shipping cost to get all that cute things here is sooo expensive make me think twice to but it all. What i miss Tana Abang so much :(



Monday, September 17, 2012

Lovely Lagoi

Setelah sekian lama, akhirnya menemukan mood untuk menulis lagi. Oiya, sekarang gue nggak di Jakarta lagi. Jadi mulai sekarang 'gue' diganti 'saya' ya... ;)

Lho, nggak di Jakarta??? Trus dimana?
hehehe..sekarang saya terdampar di Lagoi.

Lagoi? Dimana itu? Nggak pernah denger. 
Sama. Sebelumnya saya juga nggak tau Lagoi itu dimana. Setelah googling di Mbah, ternyata Lagoi itu di Pulau Bintan, salah satu pulau di Kepulauan Riau ;)

Pulau Bintan

Ooo.. ya ampunn, terpencil sekali..
weitsss..jangan salah. kalo ama Jakarta sih Lagoi emang terpencil. Tapi dari sini ke Singapore deket lho, nyebrang pulau cuman 45 menit. Murah lagi.

Wah, enak dong! udah berapa kali ke Singapore selama di Lagoi?
Belom pernah -____-"

Trus di Lagoi ngapain aja? 
Kerja lahh.. Nyari duit, disini kita bangun mall lho, dipinggir pantai.  Pokoknya keren deh mall nya kalo udah jadi. 

Lagoi Bay Mall under construction

Selain mall, kita juga bangun villa. Nama kawasannya Pantai Indah Dream. Rencananya ada 162 unit, tapi sampai tulisan ini dibuat baru jadi 1 unit, hehe..

Villa Pantai Indah

Ada yang berminat dengan villa nya? Harganya 15M keatas.. Woooww mahal ya? Mahal sih relatif ya, yang jelas lokasinya keren banget, persis di pinggir pantai. Kalo berminat, kenalan dulu yuk ama pemiliknya.

Yang punya villa :p

Udah dulu ya interviewnya, mau jalan-jalan ke pantai dulu. Kalo bosen ama pantai di Bali atau pulau-pulau di Kepulauan Seribu, atau ada yang berminat membeli properti di pingir pantai, bolehlah jalan-jalan ke Lagoi. Dijamin semuanya ada disini dan menyenangkan.



Tuesday, June 12, 2012

Awas! Ada Bos Galak!

Kalau bicara soal pekerjaan kantoran, pasti deh nggak lepas dari yang namanya atasan atau BOS [Bekas Orang Sinting]. Tapi yang akan kita bahas sekarang adalah bos beneran. Lupakan sejenak bekas orang sinting.
Sambil menulis ini, gue membayangkan seorang bos yang gondrong, tattooan, kurus, pendek, jidat licin, dan suaranya cempreng. Apakah itu bos gue dikantor? Rahasia ;)

Kalau diadakan survey pada karyawan mengenai Bos nya, pasti sebagian besar akan memberikan penilaian negatif. Pelit lah, bawel lah, galak lah, pilih kasih lah, gondrong lah, eh. Padahal, menurut gue, menjadi pemimpin tuh nggak gampang. Mungkin karena nggak mau dianggap remeh oleh bawahan, serinkali bos bersikap galak. Hasilnya, bukan respek yang didapatkan melainkan omongan negatif. 
Kita yang masih menjadi anak bawang di kantor suatu saat pasti jadi Bos. Jangan sampai kita menjadi Bos yang dibenci oleh bawahan (rok kalee). Menurut yang gue baca di Majalah CC entah edisi kapan, ada trik-trik khusus nih yang perlu dicontek agar menjadi bos yang disegani sekaligus disenangi. 

1. Konsisten
Banyak atasan mendapat label negatif oleh anak buahnya karena bersikap labil dan nggak jelas. Iya, labil seperti ABG yang lagi patah hati. Sekarang ngambil keputusan A, sepuluh menit kemudian berubah jadi B, lma menit kemudian balik lagi ke keputusan A. Kalau ketemu bos yang seperti ini, wassalam deh. Keputusan apapun pasti hasilnya nggaka akan maksimal.

2. Terjun Langsung
Salah satu wujud sikap pemimpin yang baik adalah mau membimbing anak buah. Saat memberikan tugas, jangan asal melimpahkan.  Jangan ragu menawarkan diri untuk menjadi sumber informasi ketika anak buah bingung. Ini adalah salah satu kelebihan yang gue suka dari si Gondrong. Walaupun agak bawel, dia rajin membimbing ke jalan yang [mungkin] benar.  

3. Percaya
Memang sih, bos dianjurkan untuk terjun langsung dalam pekerjaan anak buah, tapi bukanberarti harus mengurusi hal-hal kecil. Coba berikan kepercayaan kepada anak buah untuk mengambil keputusan dan melakukan pekerjaannya. 

4. Tanpa Favorit
Nahhhhh.... ini dia kelemahan terbesar si Gondrong. Seorang bos seharusnya menghindari fokus pada salah satu anak buah tertentu kalau nggak mau dianggap pilih kasih. Be professional, Ndrong! >,<

5. Puji vs Tegur
Jangan ragu memberikan pujian jika hasil kerja anak buah memuaskan. Sebaliknya, tegur dia jika melakukan kesalahan. Kalo poin yang ini sih si Gondrong sudah melakukan dengan sangat baik. 

6. Punya Solusi
Saat anak buah cenderung terlambat memenuhi deadline, sah-sah saja bagi seorang bos menegur mereka. Tapi dengarkan juga alasan keterlambatan mereka. Lalu cari solusi bersama.

7. Berani Mengaku
Pemimpin yang baik harus berani bertanggung jawab meskipun dalam keadaan terburuk sekalipun. Karena bos adalah tameng bagi anak buahnya. Tapi jangan juga habis itu anak buahnya diomelin habis-habisan setelah jadi tameng. 

8. Tempat Menampung
Tempat menampung lho, bukan tempat menumpang. Menampung keluh-kesan anak buahnya. Memang sih masalah pribadi si bos sudah banyak, tapi dengan adanya simpati dari atasan, anak buah akan merasa lebih nyaman bekerja.

9. Selalu Kompak
Banyak cara untuk membuat suasana kantor menjadi kondusif. Nggak hanya di kantor, diluar pun seharusnya bisa menjadi tim yang kompak. Olah karena itu nggak ada salahnya sekali-kali mengadakan piknik bareng, kalau bisa sekalian mengajak anggota keluarga.

10. Selamat yaa..
Cari tau tanggal lahir masing-masing karyawan, lalu berikan ucapan selamat ultah secara personal. Akan lebih baik jika disertakan hadiah (ngarep.com). Nggak perlu mahal, selama itu tulus, anak buah pasti akan sangat menghargainya.

Nahh..itu dia 10 tips buat kita yang kaan menjadi bos agar dicintai anak buah. Terima kasih karena telah membaca hingga selesai. Sampai jumpa di posting berikutnya. Jangan lupa ninggalin jejak (comment) yaa...


Monday, April 9, 2012

Idola Baru Gue: Iko Uwais!

Ada yang udah nonton film The Raid? Kalo bahasa Indonesianya sih Serbuan Maut (kalo gak salah). Gw nonton film itu udah dua minggu yang lalu dan apa yang ada dalam benak gw setelah nonton film itu? This is the best Indonesian movie i ever seen. Bahkan lebih bagus dari kebanyakan film action Hollywood. Lebay nggak sih pendapat gw? Kayaknya sih nggak. Buat yang belum nonton filmnya, liat thrillernya dulu aje ye, cekidot!


Setelah liat thrillernya, gw mau nanya: nggak asing ga sih sama musiknya? Menurut gw musiknya tuh Linkin Park banget. Mungkin karena music scoring nya ditangani oleh Mike Shinoda. Bayangkan, seorang Mike Shinoda menggarap music untuk film Indonesia. Berlebihan nggak sih, kalo gw bilang kita orang Indonesia patut bangga? 

Kalo omongin sinopsis film ini atau penghargaan apa aja yang udah diraih, mungkin agak basi ya, soalnya udah banyak dibahas. Sekarang gw mau kenalan aja dengan para pemainnya nih. 

Iko Uwais
Bintang utama di film ini adalah Rama yang diperankan Iko Uwais. Kalo ada yang pernah nonton film Indonesia 'Merantau' pasti nggak asing lagi dengan tampangnya. Ngemeng-ngemeng soal film Merantau, gw jadi ingat seseorang yang dulu tergila-gila sama film ini, bahkan sempat mengajak gw nonton flmnya di bioskop. Dan apa tanggapan gw? "ah, ngapain nonton film Indonesia di bioskop? 2 bulan lagi paling udah ada di SCTV". Kalau saja waktu itu gw tau kalo pemainnya keren begini, gw gak bakalan nolak. Hai GB, yeah, I'm talked about you (and i hope you read this post). Oke balik lagi ke Iko Uwais.Nama lengkapnya Uwais Qorny,  lahir pada tanggal 21 Februari 1983 di Jakarta. Ternyata dia juga seorang koreografer film dan atlet pencak silat. Pantesan di film ini akting berantemnya kayaknya luwes banget. Mulai saat ini, gw menetapkan diri sebagai Penggemar Iko Uwais Garis Keras. 

Ray Sahetapi
Ray Sahetapi. Beliau adalah salah satu aktor senior idola emak gw. Idola gw juga sih, tapi bukan karna aktingnya di film-film. Gw ingat 8 tahun lalu waktu gw masih unyu-unyu nya di SMU, sekolah gw yang letaknya terpencil di tengah persawahan gempar karena ada artis yang mau datang. Siapa artisnya? Ray Sahetapy! Tapi waktu itu nggak ngerti sih Ray Sahetapi itu siapa, tapi begitu dia benar-benar menyambangi sekolah kami, gw pernah ngeliat mukanya di infotainment. Ray Sahetapy berperan sebagai Tama Riyadi, gembong narkotik kejam, penguasa gedung apartemen yang isinya penjahat semua. Nggak semua juga sih penghuninya penjahat. Kekejaman Tama di film The Raid nggak kalah sama gembong mafia Italy di film hollywood.


Joe Taslim
Joe Taslim. Sekilas mukanya mirip VJ Daniel. Otomatis mirip juga dengan kiper timnas Malaysia. Mungkin mereka tadinya kembar 3 yang terpisah di rumah sakit. Berperan sebagai Sersan Jaka, pemimpin operasi penyerbuan. Waktu pertama kali nonton The Raid, gw pikir dia pemeran utamanya. Dan timbul pertanyaan di benak gw: 'bisa ya chinese jadi polisi? masuk pasukan elite lagi'. Bukannya rasis ya, tapi kenyataannya di negara kita ini konon katanya sulit bagi warga keturunan untuk masuk kepolisian atau semacamnya.
Setelah Iko Uwais, Joe Taslim adalah idola gw di film ini. Muka ganteng, badan tegap, berjiwa pemimpin, tegas, setia kawan, dan bertanggung jawab, dan jago beladiri. Sayangnya dia nggak mau jadi pacar gw.



Donny Alamsyah

Donny Alamsyah. Wajahnya nggak asing lagi, mungkin karena main di banyak film yang sebagian besar udah ditayangkan berulang kali di SCTV. Berperan sebagai Andi, tangan kanan dan otak bisnis narkoba Tama. Siapa sangka kalo dia ternyata kakak kandung Rama, anggota pasukan elit yang melakukan penyergapan? Gw sih dari awal film, yang waktu adegan dia ngeliat Rama di CCTV udah nebak kalo dia ada hubungan dekat dengan Rama, mungkin teman main kelereng waktu kecil. Ternyata lebih dari itu. Aktingnya laga-nya cukup bagus, tapi belum bisa menandingi Iko Uwais. Bahkan gw sempat berpikir mungkin dia dulu pernah belajar ilmu bela diri. 



Yayan Ruhiyan
Yayan Ruhiyan. Sumpah, gw geregetan sekaligus kagum banget sama orang ini disepanjang film. Sakti mandraguna nyaris tak terkalahkan. Berperan Sebagai Mad Dog, kaki tangan Tama dan tukang pukul yang keahlian silatnya sangat tinggi. Dia juga main di film Merantau bareng Iko Uwais. Mungkin mereka sepaket dan saling melengkapi, layaknya batu batere yang ada kutub positif dan negatifnya.hahah. Gw sempat bepikir kalo si gondrong ini pasti guru silat Iko Uwais di kehidupan nyata. Dan ternyata gw nggak salah. Yayan Ruhiyan dalam kehidupan aslinya adalah guru pencak silat. Bahkan dia berperan penting dalam setiap adegan laga di Film The Raid dan Merantau sebagai koreografer. Gw pikir nari doang yang butuh koreografer. Jadi kalau ketemu di jalan dengan orang ini, jangan berani macam-macam,walaupun tubuhnya mungil. Bisa dibanting ntar kayak nangka busuk. 

Pierre Gruno
Pierre Gruno. Wajahnya enggak asing lagi karena sering wara-wiri di tv, walaupun tadinya gw nggak tau pasti namanya. Berperan sebagai Letnan Wahyu, senior kepolisian yang memerintahkan operasi penyerbuan. Seperti layaknya polisi tua yang udah layak pensiun, walaupun kemampuan berlaganya sudah menurun drastis, tapi dia tetap dihormati para anggotanya. Ketepatan menembaknya patut diacungi jempol. Tapi ada satu yang paling gw kagumi dari aktor ini. Walaupun usianya udah nggak muda lagi, udah 53 tahun kalo nggak salah baca di forum sebelah, wajahnya dan tubuhnya tetep kelihatan segar. Badannya masih atletis. Mungkin suatu saat kita perlu menggali lebih dalam apa rahasianya. Apakah karena menikahi cewek yang umurnya lebih muda 18 tahun? aw..aw..aw..


Tegar Satrya
Ganteng ya? Mukanya kayak India campur Arab gitu. Namanya Tegar Satrya. Berperan sebagai anggota pasukan elit penyerbu yang keras kepala. Aktingnya di film ini agak nyolot dan menyebalkan di awal-awal film. Berhubung dia ganteng dan sekarat dari tengah film sampai akhir, maka patut dimaafkan. Sepertinya dia pernah main di beberapa film Indonesia, tapi gw lupa di film apa dan Mbah Gugel juga kurang bisa membantu. Jadi cukup sekian aja ya perkenalan kita dengan si Ganteng dari Arab ini. Biar penasaran gimana gitu.


Setelah berkenalandengan beberapa pemainnya, yuk kita kenalan dengan sutradaranya, yang katanya diimport dari Amrik ini. 
Gareth Evans
"Don't bring your kid to THE RAID then complain about it being too violent. The film is KHUSUS DEWASA, I did not make it for your 5yr old :)"
Itulah peringatan yang ditulis sutradara Gareth Evans mengenai film garapannya, The Raid, dalam akun Twitter @ghuwevans.
Mungkin kalo waktu itu gw jadi followernya, gw pasti mikir kalo film The Raid adalah film yang sadis. Tapi gw sampai saat ini belum jadi followernya sih. 
Gareth Evans juga menyutradarai film Merantau. Jadi kita bisa menyimpulkan kalau Garet Evans, Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan adalah satu paket sinematografi. Eh, denger-denger dia sudah mempersiapkan sekuel The Raid, judulnya 'Berendal'. Berendal? Berandal kali! Apapun judulnya, semoga kualitasnya sebaik The Raid, bahkan lebih baik. Biar produser-produser film ecek-ecek Indonesia membuka mata dan sadar bahwa selama ini mereka berada di jalan yang sesat dan segera kembali ke jalan yang benar. 


Ini adalah scene favorit gw di film The Raid:



Oke. Sebelum berpisah, idola baru gw mau ngasih pesan pesan nih, Bye *kecupbasah



Monday, April 2, 2012

Fighting! Survive di Perantauan

Nggak terasa sudah 11 tahun gw merantau, jauh dari rumah demi menuntut ilmu dan masa depan. Dari seorang bocah perempuan 15 tahun, lulus SMP, dekil, kurus, mendaftar ke SMU favorit dan masuk asrama dengan barang seadanya. Haha, gw ingat banget dihari pertama masuk asrama, semua murid baru dianterin orangtua sampai ke kamar, diberi nasihat-nasihat, diciumin ama orangtua, dan paling penting, diberi duit jajan. Sedangkan gw? Datang dengan angkot reyot yang gw carter sendiri dengan duit jajan gw yang nggak seberapa, sendiri, kewalahan mengangkat tas gede berisi pakaian dan ember hijau berisi peralatan mandi. Itu Juni 2001. 
Sekarang gw wanita dewasa, masih sebagai perantau, di ibukota. Benar kata orang, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Sejak kuliah gw sudah membayangkan suatu saat akan bekerja di Jakarta, karir bagus, apartemen mewah, mobil mewah, baju bagus, perhiasan berkilau. Tapi mewujudkan semua itu tidak gampang. Gw harus mulai dari nol, bahkan dimulai dengan 'dibodohi' orang, gaji super-duper kecil, tinggal di tempat yang nggak layak, sampai akhirnya sekarang mendapatkan pekerjaan yang bisa dibilang layak. 
Ternyata bekerja di tempat ini tidak seindah yang gw bayangkan sebelumnya. Tapi gw berusaha melakukan yang terbaik, karena disinilah tempat menuntut ilmu yang sebenarnya. Kadang-kadang gw pengen balik aja ke masa-masa kejayaan dulu waktu kuliah. 
Mungkin banyak perempuan-perempuan muda yang hidupnya sama seperti gw. Bahkan di tempat tinggal gw ada cewek umur 19 tahun yang gw salut banget ama dia. Sebut saja namanya Mawar. Mawar  memutuskan bekerja di Jakarta setelah lulus SMU di Medan, bukannya melanjutkan kuliah, padahal dia berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi. Dia berusaha mandiri, walaupun sifat kekanak-kanakan masih sesekali nampak. Yaiyalah, 19 tahun gitu loh, umur segitu mah gw mana kepikiran buat kerja. Selain Mawar, ada satu lagi perantau yang tinggal bareng gw. Sebut saja namanya Melati, umurnya 21 tahun. Gw sering membandingkan mereka berdua. Walaupun supel dan menyenangkan, Melati terlalu banyak bergantung sama orang lain. Bahkan untuk makan pun, dia selalu menunggu diberi makan dari orang lain. Gw kadang-kadang geregetan ngeliatnya. Dia sering mengeluhkan kesulitan finansial orangtuanya, tapi tidak ada inisiatif untuk melakukan apa-apa. Bahkan gw dan teman gw udah berusaha mencarikan pekerjaan part time buat dia, tapi dianya yang emang nggak merespon dengan baik. Yang dikerjakan tiap hari hanya nongkrong dengan sesama pengangguran dan bersenang-senang. Siapa yang nggak geregetan coba. 
Tapi yah sudahlah, tiap orang emang beda-beda sifatnya, beda pula nasibnya. Gw nggak bisa memaksakan si Mawar menjadi seperti Melati atau si Melati berubah seperti mawar. Bahkan gw nggak bisa menjamin Mawar yang mandiri bakalan lebih sukses daripada Melati yang malas. Yang gw tau, gw harus survive di ibukota ini, jangan sampai bergantung kepada orang lain. Masih banyak mimpi-mimpi yang harus gw capai, dan gw yakin bisa. 
FIGHTING!


Thursday, March 29, 2012

Everybody Loves Writing

Percaya atau nggak, semua orang senang menulis. Nggak percaya? Gue nggak maksa sih.. Tapi coba pikir: Kalo lagi kesel sama orang dan nggak bisa ungkapin, lo bakal ngapain? Anak gaul pasti langsung update twitter doong. Anak alay langsung update status facebook. Anak mellow lansung ngisi buku diary..."dear diary, hari ini aku keselllll...bgt..." << cuma contoh lho.
Gw juga sering mengalami saat-saat dimana kesel sama seseorang, atau lagi senang, atau lagi pengen berbagi info penting yang sayang banget kalo disimpan sendiri, tapi nggak ada orang yang bisa diajak ngobrol. Tadinya sih gw punya buku diary. Beneran, warnanya kuning, ada gambar sapi-sapi di depannya. Bahkan gw ngasih nama "Milky" buat buku diary sakti itu. Tulisan pertama tertangal 26 November 2007. Yah, tahun segitu gw masih 21 tahun, masih alay-alaynya, jadi dimaafkan. Sekarang, ada perasaan nggak enak tiap mau ngisi buku itu. Bahkan membacanya pun kutak sanggup.
Lama-lama gw mikir: kenapa nggak tulis di blog aja ya? Apalagi gw termasuk orang yang suka nongkrong di depan laptop berjam-jam. Daripada browsing yang enggak-enggak, kan lebih baik menulis yang bermanfaat. Tapi waktu itu gw masih gaptek (sekarag masih sih), nggak tau cara mulainya dan begitu malas untuk cari tau. Akhirnya hari ini, hampir sejam yang lalu gw nggak sengaja baca blog teman kantor dan itu menginspirasi gw. Dan akhirnya tadaaaa..ternyata membuat blog lebih mudah daripada buat thread di kaskus.hahahha..
Jadi buat kawan-kawan yang nggak sengaja nyangkut di blog gw dan membaca tulisan gw yang acak-adut ini, ayo, buat blog! Banyak hal bermanfaat yang bisa di-share, dan siapa tau suatu saat ada penerbit yang membaca isi blog kita dan dijadikan buku.
Tapi bukan berarti gw mengerdilkan arti buku diary. Sometimes kita ingin menuliskan hal-hal yang sangat pribadi dan jangan sampai ada orang yang tau. Untuk hal-hal seperti ini buku diary sangat membantu. dan kadang-kadang kita juga mendapat hiburan tersendiri dari membaca tulisan-tulisan kita yang udah lama banget dan berpikir: "ih, kok gue alay banget ya dulu?"
Sekian perkenalan kita di posting pertama blog gw. Apabila tulisannya berantakan atau tidak berkenan, mohon maaf, itu salah keyboard laptop gw.
Terima Kasih.